Di Dalam Hutan Tjiwidej

I.

Pada mulanya adalah tanah, lantas hujan membuatnya menjadi basah. Angin mengalir dan sesekali terbawa bersamanya serbuk-serbuk tetumbuhan; menyebar tak tentu arah, berterbangan tak tentu ke mana tempat tujuan. Pada satu waktu nasib menghendaki perjalanan mereka berakhir dan di atas tanah basah itulah mereka berjatuhan. Lalu bertumbuh menjadi benih, menjadi bibit, menjadi tunas. Semakin tinggi, semakin besar, semakin luas. Demikian berlalu mengikuti lajunya sang waktu.

1

Di atas tanah, berserakan daun-daun yang berguguran, ranting kering yang patah, kulit kayu yang terkelupas, akar menjalar dan satu dua batang pepohonan yang tumbang atas sebab yang entah. Tahun demi tahun berlalu mengubah rupa mereka menjadi seresah, membuatnya hancur, mengubahnya menjadi hara, menyuburkan tanah, bekal untuk yang bertumbuh setelah mereka.

Dari waktu itu, kelak, di sana, di tempat itu, barangkali kau akan menemukan tiga ekor serangga sedang bergerak di bawah kakimu, mendengarkan kicau burung yang sedang bernyanyi, atau tergelak pada serombongan monyet-monyet yang memandangmu dengan tatapan mata mereka yang penuh rasa ingin tahu itu.

Kau tahu, hutan adalah rumah, hutan adalah ruang hidup, hutan adalah tempat dimana banyak hal dahulu barangkali pernah bermu…

“Yuk! Jalan!”

Saya belum selesai melamunkan beberapa hal di atas ketika waktu istirahat kami dirasa sudah cukup dan kami harus melanjutkan perjalanan kembali. Belum ada separuh jarak yang kami tempuh menuju Leuweng Jero; Puncakan 2002 pun belum. Sebagai tim pendarat mestinya kami harus bergerak secepat mungkin menuju titik camp yang telah ditentukan. Ada banyak tugas yang harus diselesaikan. Continue reading “Di Dalam Hutan Tjiwidej”

Sebagai Pengingat

P1020419_

Yang mengecewakan adalah beberapa bulan selepas kursus narasi di Pantau, saya malah tak menyelesaikan satu pun tulisan. Ada sih keinginan menulis ini-itu, atau corat-coret paragraf pembukaan yang sudah bejibun, tapi toh tak ada satu pun yang mewujud menjadi sebuah tulisan yang rampung. Ndak perlu pikir panjang pun saya sudah menemukan alasannya. Malas. Tak ada disiplin. Juga komitmen. Walaupun buat saya menulis bukan suatu kewajiban yang musti dilakukan, tetap saja ini suram. Karena saya suka menulis. Karena menulis itu menyenangkan (meskipun ini bukan perkara yang gampang tentu saja). Oh, dan satu hal lagi, yang terpenting malah, rasanya menulis menjadikan saya tetap waras. Setidak-tidaknya selama beberapa tahun belakangan ini. Oleh sebab itulah maka, huh, tempo hari saya mencoba memaksa diri untuk menulis lagi. Kebetulan, memang ada yang sedang ingin dituliskan sih: cerita perjalanan ke India Utara. Lah eh, kok ternyata itu pun mentok, rasanya kehabisan suara; kata-kata. Bunyinya itu-itu saja. Monoton. Membosankan. Ya. Sebabnya jelas. Selain menulis, rupanya saya juga sedang kurang membaca. Kau tahu, Bung dan Nona, hampir mustahil kau bisa menulis bagus jikalau kau tak banyak membaca. Begitulah. Buku terakhir yang saya baca, yang mana itu sudah sebulan yang lalu, adalah Mati Bahagia-nya Albert Camus. Saya tamatkan sewaktu terkapar di ranjang hostel karena kena AMS. Suram. Hehehe. Lalu apa pasal saya malah menuliskan ini? Tak ada alasan khusus sebetulnya, sekedar ikhtiar pengingat diri saja, supaya bisa menulis dan membaca lagi, serta tidak banyak buang-buang waktu untuk “hal-hal kecil” yang rasanya kurang penting. Perihal terakhir inilah yang coba dijelaskan oleh penulis idola kita semua, Eka Kurniawan, di posting termutakhir blog-nya: “10.000 Jam Latihan (dan Mungkin Ketololan)”. Saya merasa tercubit setelah membaca tulisan tersebut. Ehh bukan, tertoyor sih lebih tepatnya. Di kepala. Dari belakang. Oleh tangan tak terlihat. Atau ya seperti itulah kira-kiranya. Ada juga sih rencana buat mencetak tulisan ini di beberapa lembar kertas dan memasangnya di dinding kamar. Saya sedang senang memasang berbagai macam hal yang musti saya kerjakan di dinding kamar. Biar gampang dilihat dan bisa menghantui pikiran. Seperti mimpi buruk yang datang sesuka hati. Oh iya, foto di atas adalah Dengarlah Nyanyian Angin-nya Haruki Murakami. Diambil pada sebuah sore yang hangat di Danau Segara Anak, sekitar awal Juni 2014. Novela bagus. Entahlah buku itu sekarang ada di tangan siapa.

Malam Terang di Student Centre

Tentu saja berjalan dengan gerak tubuh yang seperti siput tak akan membuang waktu; begitu bola mati, waktu pertandingan otomatis akan diberhentikan.

Tapi ya ndak masalah, toh saya hanya ingin memperlambat tempo permainan, itu saja. Kami butuh sedikit jeda, sekedar menghela nafas akibat serangan beruntun yang mengalir seperti tak habis-habis.

Saat itu, aslinya ya saya ndak menyangka kami bisa bertahan sampai sejauh ini: skor masih imbang, dan bahkan, kami masih punya peluang untuk menang. Lawan kami adalah sang juara bertahan. Sementara tim kami, sampai final pun rasanya sama sekali tak ada yang menduganya. Jelaslah kami dalam posisi yang tak diunggulkan di final ini.

7944d-dsc_2952-644x430 Continue reading “Malam Terang di Student Centre”

Coba Cari Nama Saya: Suryadi Square

Ia melihat sebuah mobil perlahan memelankan lajunya, bergerak melambat di bahu jalan sebelah kiri. Hingga sesaat kemudian mobil tersebut berhenti di dekat lapak yang sedang ia jaga.

Begitu mesin mobil dimatikan, dari balik kemudi, seorang laki-laki keluar dari pintu depan dan bergegas untuk membukakan pintu belakang mobil. Seorang perempuan kemudian beranjak meninggalkan tempat duduknya  dan berjalan menuju ke arah Suryadi.

Suryadi menyambut perempuan itu seperti pelanggannya yang lain. Menyapa dengan hangat seraya menawarkan lukisan-lukisan yang ia pampang di lapaknya.

“Yang itu berapa harganya?” tanya perempuan tersebut sambil menunjuk ke sebuah lukisan.

Suryadi menyebutkan sebuah angka. Perempuan itu terlihat sedikit kaget dan menyahutkan sesuatu kepada Suryadi.

“Kok mahal sekali ya?”

Suryadi hanya tertawa sambil menjelaskan bahwa memang sekitar jumlah itulah harga sebuah lukisan.

_P1060805_

Tidak seberapa lama kemudian, mobil yang membawa sopir dan majikan perempuannya itu meninggalkan lapak Suryadi. Membawa rasa kaget, alih-alih sebuah lukisan buah karya dari Suryadi. Continue reading “Coba Cari Nama Saya: Suryadi Square”