Sepasang Sarung Tangan Tua

“Ini sarung tangannya emang masih bisa dipakai? Udah bolong bolong begini.”

c4edd-196254_1706981431933_7436434_n

Jujur saya paling tidak nyaman (sebal) jika harus mendengar pertanyaan tersebut, terlebih bila harus menjawabnya. Maka jalan keluar yang paling sering saya ambil adalah menyunggingkan senyum lalu beranjak pergi sejauh mungkin dari si empunya pertanyaan.

Rasanya akan membuang waktu dengan percuma untuk menjabarkan jawaban yang selalu ada di benak saya. Bahwa terkadang sesuatu yang sifatnya immaterial bisa mengalahkan nilai material suatu benda, ada yang lebih penting dari sekedar ujudan bentuk.

***

Kamis pagi 2 Agustus 2012. Tak ada kejadian yang terlalu istimewa pagi itu. Ruang utama sekretariat yang masih gelap temaram, sepasang burung merpati yang mulai berisik di halaman belakang dan tentu beberapa sosok yang terbaring di bawah dekapan selimut tebal. (Ahh baru beberapa saat di kampung halaman, sudah terasakan sensasi merindu pada suasana ini).

Ada beberapa list penting yang harus saya selesaikan dalam hari itu. Meminta tanda tangan dosen pembimbing, mengurus perihal revisi ke admin fakultas, membereskan barang barang yang masih tersisa di kamar kost dan lalu malamnya mempergunakan tiket kereta api yang sudah dibeli dengan sebagaimana mestinya. Apa yang sudah tertunda selama setahun belakangan.

Dan pagi itu, di antara mata yang masih terkantuk, tanpa sengaja tertarik keluar bungkusan hitam dari dalam loker lemari. Sepasang sarung tangan yang sudah teramat lusuh, warna hitam yang mulai pudar berpadu dengan corak putih yang mengeruh. Seberkas memori mau tak mau terlintas, ada haru yang perlahan menyeruak. Rasanya lima tahun belakangan akan terasa hambar tanpa keberadaan benda ini.

Masih jelas dalam ingatan, ketika pertama kali menebusnya dari etalase salah satu toko olahraga ternama. Dengan rasa puas ketika pertama kali mendekap bola, lesakan pertama yang terlewat darinya, pahitnya menerima kekalahan dan tentu betapa membagiakan sebuah kemenangan.

Dan walau berulangkali tercampakkan begitu saja, pun dengan kondisi yang makin tercabik seiring waktu yang berjalan, selalu saja ada ketenangan tersendiri ketika berada di bawah mistar sambil memakainya, kepercayaan diri yang entah berasal dari mana, padanya yang terpasang dengan kedodoran di kedua belah tangan.

Sayang waktu tak pernah berdusta. Tak bisa dipungkiri pada akhirnya datang satu ketika di mana masa beristirahat tiba. Kala purna tugas telah hadir pada saatnya.

Maka seperti layaknya pusaka yang dijamas dengan tirta suci bersemerbak wangi melati, sebagai penghormatan terakhir saya pun membasuh sahabat setia saya di lini paling belakang lapangan ini dengan guyuran air segar dan detergen paling wangi yang bisa ditemui. Menjemur dan lalu menyimpan dengan sebaik baiknya, seraya memori yang terlebih dahulu telah tersimpan baik baik dalam kepala.

Duh, betapa absurd-nya.

Bandung, Agustus 2012.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

3 thoughts on “Sepasang Sarung Tangan Tua”

Leave a Reply

Your email address will not be published.