Early Years Playlist

The Trees and The Wild pada “Saija” memaklumatkan satu kenyataan yang teramat nyata, bahwa yang tak diam kepada kita hanyalah waktu. Sama seperti tahun ini, sulit untuk menyadari bahwa kita sudah meninggalkan lembar penanggalan yang kedua, beberapa hari lagi bahkan la luna akan berpurnama untuk kali ketiga.

Pada tahun ini pula saya akhirnya mulai ikut meramaikan ruwetnya ibu kota. Menjadi kaum urban, mengadu nasib di kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. Meninggalkan ritme kehidupan yang sungguh selo beberapa bulan sebelumnya, membaur pada rutinitas keseharian masyarakat metropolitan.

Satu hal mengenai rutinitas, bahwa mau tidak mau kita harus menghadapi hal yang sama dalam rentang waktu yang seolah tanpa batas itu, dari hal menyenangkan dan terutama yang mengesalkan. Maka salah satu hal yang terkadang membuat saya malas dalam memulai hari adalah membayangkan bahwa selama beberapa belas jam ke depan akan terpenjara dalam rekursif yang itu itu saja.

Oh iya, akhir akhir ini saya punya beberapa lagu yang menjadi heavy rotation dalam playlist saya tiap harinya, terutama ketika berada di ruangan kantor. Kata seorang kawan, hidup tanpa musik yang terngiang di kepala itu seperti film tanpa soundtrack, sepi kali ya rasanya.

1. Efek Rumah Kaca – Menjadi Indonesia

Beberapa saat setelah kau terbangun dari mimpimu, diantara kesadaran yang sewajarnya belum penuh terkumpulkan, coba paksakan dirimu untuk sejenak mendengarkan lagu ini, maka aku yakin kau akan lekas melepas selimut yang masih menghangatkan badanmu dan kemudian segera beranjak dari tempatmu tidur malam tadi.

Dimulai intro yang begitu catchy, dengan bebunyian drum yang mantap, disambung petikan lembut gitar yang mengalun dengan jernih, mengalirlah suara Cholil Machmud yang menerawang.

Terlepas dari musiknya yang “getir”, Menjadi Indonesia menurut saya adalah salah satu lagu paling keren yang dimiliki oleh trio indie pop asal Jakarta ini. Menjadi Indonesia mampu mengajak kita untuk memaknai (makna) nasionalisme dalam kontekstual yang berbeda, bukan sebagai jargon kosong yang pada tahun tahun belakangan sering diejawantahkan secara serampangan dalam bentuk “Ganyang Malaysia, dll”.

Lagu ini menohok ketidakacuhan yang mungkin kita miliki, bahwa masih banyak sekali hal yang harus dilakukan di luar sana. Pas sekali didengarkan sebelum memulai aktivitas.

2. Libertines – Don’t Look Back Into The Sun

Meski sering diperbandingkan (dipersamakan), Libertines memiliki nasib yang berbeda jauh dengan The Strokes, dua band yang sering dianggap sebagai revivalist musik rock di awal medio 2000an. Ketika The Strokes terus bertahan dan mengalami perkembangan yang signifikan (baca mengerikan, saya sampai sekarang masih merasa tidak nyaman dengan rilisan single album terbaru mereka), Libertines akhirnya bubar di tengah jalan, bisa dibilang ketika berada di masa keemasannya.

Dari umurnya yang tak lama tersebut, “Don’t Look Back Into The Sun” adalah lagu yang paling saya suka. Sebenarnya sudah lumayan lama saya tidak mendengarkan Libertines, tapi secara kebetulan saya menemukan video di youtube ketika mereka reunian di Reading dan menyanyikan lagu ini. Dan versi live ini lah yang banyak saya dengarkan.

Selalu menyenangkan mendengar kedua sahabat yang membidani lahirnya (juga bubarnya) Libertines, Pete Doherty dan Carl Barat saling menimpali suara, bersahut sahutan sepanjang lagu. Tak banyak yang lebih indah dari perkawanan dua orang sahabat bukan?

Aduh kenapa malah jadi terdengar nggilani. Hahhaa.

3. MGMT – Time To Pretend

Ada satu adegan di serial Skins yang selalu saya stop dan saya ulang berkali kali ketika menontonnya. Pada ending season kedua yang sekaligus menjadi akhir dari Skins generasi pertama, ketika Sid berangkat ke New York untuk mencari Cassie, backsound yang dipilih oleh Bryan Elsey sungguh sempurna, “Time To Pretend”.

“Time to Pretend” pertama kali dirilis pada tahun 2008, masuk pada EP pertama MGMT, Time To Pretend EP. Lagu ini mendapat banyak review yang bagus dari para kritikus, pun diterima dengan mudah oleh masyarakat luas. Oleh majalah Rolling Stone, lagu ini dimasukkan dalam jajaran Rolling Stone’s 500 Greatest Songs of All Time, tercantum pada urutan 493.

Ini adalah lagu yang secara telak menyindir gaya hidup kaum metropolitan. MGMT secara cerdas dan bernas mampu bercerita dalam lagu yang berdurasi sekitar empat menit ini. Bahwa hidup bukan saja perihal mencari ketenaran, mengumpulkan banyak uang dan menghabiskannya untuk bersenang senang. Pada akhirnya ada banyak hal yang jauh lebih esensial dari itu semua.

Work hard, play hard? Yang benar saja, Bung.

4. The Clash – London Calling

Intro lagu ini terdengar sangat mengerikan, cabikan bass dan dentuman drum yang seolah siap menyambut peperangan, tepat di garis paling depan. Cocok sebagai original sountrack sebuah kerusuhan besar, seperti dalam salah satu adegan Billy Elliot misalnya. Liriknya pun garang, sadis dan mematikan. Bayangkan saja, siapa penggemar Beatles yang tidak akan tertohok mendengar bait kalimat ini.

“London calling, now don’t look to us. Phoney Beatlemania has bitten the dust.”

Lagu ini masuk dalam album London Calling yang dirilis sekitar tahun 1979-1980. Sebagai sebuah band punk yang lekat dengan tradisi anti kemapanan, album ini terhitung cukup laku, kabarnya omzet penjualan mencapai dua juta kopi.

Entah kenapa, setiap mendengarkan lagu ini ada semacam semangat (kemarahan) yang meluap luap yang saya rasakan. Terpengaruh liriknya yang provokatif mungkin.

5. The Trees and The Wild – Verdure

Ketika mayoritas masyarakat Indonesia sedang dan masih saja terus berharap bahwa pada akhirnya nanti Agnes Monica akan sukses menuju panggung internasional, sayup sayup dan jauh dari pemberitaan, The Trees and The Wild jauh hari telah berhasil melakukannya. Berkali kali mereka diundang sebagai penampil di festival festival musik luar negeri sana. Debut album mereka, Rasuk, bahkan membuat majalah TIME menobatkan mereka sebagai Five New Band to Watch.

“Verdure” adalah lagu pembuka dalam album Rasuk.  Intronya keren, liukan solo gitar dan backsound megah di belakangnya, yang kemudian langsung bertransisi dengan dramatis, turun ketika masuk ke sesi vokal.

“Hush now, the morning’s is too dark
High as a kite, as blue as your eyes
I’m putting out reasons, and see how far it’ll go
Go waste your time, with those heart.”

“Verdure” adalah lagu yang paling tidak saya inginkan ada di playlist ini sebenarnya. Bukan karena saya tidak suka, tapi mendengarkan lagu ini terasa begitu menyiksa, liriknya nggerus banget. Atau mungkin benar manusia memang aneh, bisa menikmati rasa sakit sebagai candu yang menyenangkan. Hahaha.

Jakarta, Maret 2013.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

3 thoughts on “Early Years Playlist”

Leave a Reply

Your email address will not be published.