Jakarta – Bandung – Garut, Hingga ke Gunung Papandayan

Saya terkesiap, kepala saya tiba tiba terantuk jok kursi yang ada di depan muka ini. Dalam sepersekian detik yang lalu rupanya saya terlelap, tak sengaja tertidur.

Padahal kondisi di dalam mobil ini pengap betul. Saya, juga para penumpang yang lain, tak ubahnya seperti ikan sarden yang dipaksakan masuk ke dalam wadah kalengan oleh bapak sopir angkot, berhimpit tak keruan. Dua orang duduk di samping sopir, di jok tengah ada empat orang, sedang di bagian belakang lima orang berdesakan dengan rapatnya.

Meski begitu, ini bukan hal yang terlalu merisaukan tentu saja, karena toh perjalanan yang harus kami tempuh pun tak terlampau jauh, hanya berkisar satu jam kurang.

Siang itu, pada Sabtu yang cerah di penghujung bulan Agustus, saya bersama enam orang kawan sedang dalam perjalanan menuju Gunung Papandayan. Kami hendak berkemah di sana malam nanti.

Bagian 1 – Jakarta.

Jumat malam saya berangkat dari Jakarta. Sebentar..
Jumat malam.
Jakarta.

Misalkan setiap orang diminta untuk menyebutkan tiga buah kata yang bisa menggambarkan tentang Jumat malam di kota Jakarta, saya kira mereka  semua akan bersepakat pada tiga buah kata yang sama.

Macet, macet dan macet.

(Maaf, empat kata ternyata. Atau kalau anda mau, anda boleh melenyapkan kata “dan” diantara macet, macet, dan macet itu, dan menganggapnya tidak pernah ada. Seperti misalnya pada sebahagian dana Proyek Hambalang yang raib entah kemana, menghilangkan sesuatu bukanlah sebuah hal yang aneh di negara ini. )

Klise memang. Tapi bukankah kebenaran seringnya tersusun atas klise klise yang semua orang pun sebetulnya tahu. Begitu pula dengan kemacetan di kota ini. Lambat laun, kemacetan telah berubah menjadi kebenaran, sebuah keniscayaan yang tak perlu diperdebatkan lagi.

Lha bagaimana tidak, kalau solusi terbaik untuk mengurangi kemacetan menurut Tuan Menteri yang terhormat adalah dengan mengeluarkan kebijakan tentang mobil murah yang harganya mahal, dan bukannya menyediakan transportasi  umum yang bagus, atau setidaknya, mencukupi jumlahnya.

Beruntung, tempo hari masyarakat ibu kota, dalam Pilkada Gubernur DKI periode 2012-2017, sepertinya telah memberikan hak suaranya kepada pilihan yang tepat.

Pada pasangan Pak Jokowi dan Pak Ahok, kurasa kita bisa berharap besar pada pembenahan kota yang pada masa lampau sering disebut sebagai “Mutiara dari Timur” dan disandingkan keindahannya dengan kota Amsterdam ini, bergerak menuju ke arah yang lebih baik.

Sungguh masih terlalu dini memang, belum setahun juga mereka duduk di kursi panas itu. Tapi bahkan dalam waktu yang belum lama tersebut, ada beberapa permasalahan yang notabene sudah berlarut larut tanpa ada ujung pangkal penyelesaiannya, bisa diselesaikan dengan baik oleh mereka. Dari problematika PKL di Tanah Abang, revitalisasi Waduk Pluit hingga perihal megaproyek monorel Jakarta itu.

Dari halte busway Tanah Kusir, saya bergerak menuju ke Terminal Lebak Bulus. Di sana rencananya saya akan bertemu seorang kawan terlebih dahulu, untuk kemudian berangkat bersama sama menuju ke Bandung.

Waduhh, itu kenapa pula ada mobil di depan bus Transjakarta. Satu, dua, tiga, banyak juga rupanya. Kelak, meski sistem transportasi massal sudah dibenahi, armada diperbanyak, pelayanan ditingkatkan, kalau etika berkendara sebagai buah kesadaran pribadi tidak diperbaiki, rasa rasanya potensi terjadinya kemacetan akan tetap ada.

Beberapa menit menjelang pukul sembilan malam. Terminal Lebak Bulus tampak ramai. Langit masih tampak terang, antara cahaya dari bulan yang hampir purnama atau memang begini adanya lah warna langit malam di Jakarta.

Di dekat pintu masuk terminal, satu dua sosok laki laki bergerak penuh semangat mendekati sosok sosok lain yang hendak masuk ke dalam terminal, beberapa sambil menenteng kardus mie instan yang terpegang erat oleh sebelah tangannya. Seperti juga di kebanyakan terminal lain, para kernet bus, atau agen PO, atau malah calo ilegal, selalu sigap untuk menawarkan tiket kepada setiap orang yang terlihat akan memulai perjalanannya meninggalkan Jakarta dari terminal ini.

Usai membayar tiket masuk terminal kepada petugas, kami berdua pun segera bergegas menuju bagian kanan terminal, tempat dimana barisan bus Primajasa berada. Beberapa tahun terakhir, PO inilah yang menguasai trayek Jakarta – Bandung, Jakarta – Garut dan Jakarta – Tasikmalaya. Pelayanan yang prima dan kondisi bus yang oke membuatnya menjadi favorit para penumpang.

Lima belas menit berselang, bus pun melaju meninggalkan keramaian ibu kota.

Bagian 2 – Dayeuholot, Bandung.

Lewat tengah malam, sekitar pukul setengah satu, saya sampai di Bandung, di pinggiran Bandung tepatnya, Dayeuhkolot. “Kota Tua”, seperti itulah bila nama Dayeuhkolot diartikan per kata. Dalam bahasa Sunda, “dayeuh” berarti “kota” dan “kolot” berarti “lama/tua”.

Bagi para penggemar sejarah, desa ini tentu tak asing. Dayeuhkolot punya satu peran penting di masa kemerdekaan dulu.

Yang pertama, dari tempat inilah berita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus disiarkan. Awalnya, Pemerintah Hindia Belanda lewat perusahaan Post, Telegraf en Telefoon Dienst (PTT) membangun Stasiun Radio Pemancar PTT yang berkedudukan di sini. Mereka pulalah yang membangun sebanyak 13 tower pemancar berketinggian 100 meter lebih, dua di ataranya masih berdiri tegak hingga sekarang.

Sewaktu Pemerintah Jepang berkuasa, kegiatan sehari di tempat ini tetap berjalan seperti biasa, hanya saja pegawai pegawai Belanda sudah disingkirkan dan diganti dengan pegawai Jepang. Tanggal 17 Agustus 1945, begitu berita proklamasi diterima, pada hari itu juga kabar gembira tersebut segera diteruskan lewat tower-tower pemancar ke seluruh dunia.

Yang kedua, di sini lah tempat gugurnya M. Toha dan M.Ramdan dalam masa perlawanan terhadap angkatan bersenjata Belanda pada tahun 1946. Mereka berdua berhasil meledakkan gudang mesiu yang menurut Jend. AH Nasution, jumlahnya mencapai 1.100 ton. Ledakan yang kabarnya bahkan hingga terdengar sampai 70 km jauhnya.

Begitu turun dari bus, kami berdua pun segera menuju ke kampus tempat dimana kami dulu pernah berkuliah, IT Telkom. Tampak beberapa motor masih berlalu lalang. Di warung warung kopi sepanjang jalan menuju kampus, masih ramai oleh pengunjung; kukira mereka adalah para mahasiswa.

Lima setengah tahun lebih saya tinggal di Bandung, merantau dari kota asal guna berkuliah di sana. Dan dalam setengah tahun terakhir tersebut, di ruangan sederhana inilah saya tinggal, Sekretariat PMPA Astacala. Sekre, begitu kami biasa menyebutnya, menjadi rumah dalam artiannya yang harfiah bagi sebagian dari kami, anggota Astacala. Selain kegiatan kegiatan organisasi, di sini pula kami mandi, makan, tidur, hingga mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk itu.

Pagi harinya, persiapan segera dilakukan dalam tempo yang sesingkat singkatnya. Tentu saja tetap berpegang pada safety procedure yang ada. Bagi tugas menyusun dan melengkapi Rencana Operasional Perjalanan, mempersiapkan item perlengkapan yang akan dibawa, hingga berbelanja logistik untuk perbekalan selama sehari ke depan. Barangkali karena peserta perjananan kali ini tergolong telah “berumur”, semua persiapan berjalan dengan cepat dan lancar lancar saja.

Sekitar pukul sebelas, dalam terik yang lagi hebat hebatnya, kami bertujuh meninggalkan area kampus dan bergerak untuk mencari transportasi yang akan membawa kami ke Garut, kota dimana Gunung Papandayan berada.

Beberapa bus jurusan Garut berlalu begitu saja, atau lebih tepatnya kami biarkan berlalu karena terlihat penuh sesak oleh penumpang. Tapi semakin lama semakin tak sabaran saja rasanya, apalagi tengah hari yang semakin panas.

Maka ketika sebuah minibus berhenti di depan kami, sepertinya tak ada pilihan lain selain memasukinya. Meski kecil dan agak kurang nyaman dibandingkan dengan bus, moda transportasi ini dapat pula membawa kami menuju Garut.

Begitu kami bertujuh duduk, belum juga mobil berangkat, sekonyong konyong kemudian, bus jurusan Garut ternyata lewat di tempat kami tadi menunggu. Terlihat beberapa baris kursi yang kosong. Sesuatu yang sebetulnya kami tunggu tunggu sejak tadi.

Barangkali ini serupa seperti dengan alur kehidupan. Karena kurang sabar, kita terkadang mengambil pilihan dengan tergesa. Sedang ternyata, hanya beberapa saat kemudian mungkin saja pilihan yang lebih baik, mungkin saja hadir untuk kita.

Bagian 3 – Papandayan, Garut.

Dan di sini lah kami sekarang, dalam sebuah mobil angkot yang melaju terengah meniti kelokan dan tanjakan yang hadir berselang seling. Dari Terminal Garut untuk menuju Gunung Papandayan, kita dapat memilih antara naik angkot atau naik minibus trayek Garut – Pamengpeuk, untuk kemudian turun di Pertigaan Cisurupan.

f1173-1

Dari titik tersebut sampai lokasi awal pendakian, biasanya ada ojek atau pick up yang memang sudah menunggu para pengunjung yang hendak mendaki gunung bertinggi 2665 mdpl ini.

Kami sampai Pertigaan Cisurupan menjelang ashar. Di pinggir jalan aspal yang tak lebar itu, pada cabang jalur masuk yang menanjak ke atas, sebuah mobil pick up terparkir dengan rapih. Di dekatnya, terlihat ada empat orang pendaki yang sudah terlebih dahulu ada di sana. Lumayan juga ada kalau ada barengan. Dalam hal carter mencarter, tentu semakin banyak jumlah orang, semakin minimal pula uang yang harus dibayarkan.

Cuaca cerah, langit biru seluas mata menengadah ke atas, tak ada gerombolan awan putih yang melintas. Di atas bak mobil yang sedang melaju, angin menerpa kami yang duduk di belakang, menyibak rambut, melambai lambaikan ujung kemeja flanel yang berkelebat tak dikancingkan. Dalam hati saya merasakan kegirangan yang luar biasa. Meskipun tidak benar benar mendaki, inilah perjalanan ke gunung pertama saya tahun ini.

Gunung Papandayan terkenal sebagai gunung dengan tingkat aktivitas yang lumayan tinggi. Sejarah mencatat bahwa selama kurun waktu tiga abad terakhir, telah terjadi lima kali letusan; tahun 1773, 1923, 1942, 1993, dan terakhir pada 2003 lalu. Bulan Oktober 2010, status Gunung Papandayan bahkan sempat ditingkatkan menjadi level 2, kawasan wisata ini ditutup untuk umum.

Dari tempat parkir, asap tebal berwarna putih, senyawa belerang kukira, terlihat mengepul dan membumbung tinggi ke angkasa. Ada beberapa kawah yang masih aktif memang, di antaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak dan Kawah Manuk. Kawah kawah tersebut mengeluarkan uap dari dapur magma yang menembus rekahan rekahan kecil di atas permukaan tanah.

Karena larut akan datang dengan segera, kami pun segera bergegas. Lawang Angin adalah titik akhir perjalanan sore ini.

Dari tempat parkir, kami meniti jalan setapak berbatu batu yang memang sengaja dibuat sebagai jalur perlintasan. Tak kurang lima belas menit kemudian, usai melewati kerindangan pepohonan, sampailah kami di areal kawah. Bau belerang, bebauan yang khas dari gunung yang masih aktif, tercium dengan tajam.

Sampai di atas, Lawang Angin sudah terlihat, berupa ceruk kecil di antara bukit bukit. Melempar pandang ke kiri, terlihat jalan setapak yang terputus karena longsoran. Kabarnya dahulu jalan tersebut bisa dilewati oleh mobil, menghubungkan wilayah Garut dengan Pengalengan. Akhir tahun 2010, saya sempat mendaki Papandayan lewat Pengalengan, yang jarak tempuhnya lebih jauh daripada jika kita mengambil titik start dari Garut seperti yang sore ini saya lakukan.

Ditemani api unggun, kami melewati malam yang begitu cerah. Langit bertabur bintang, sinar terang bulan purnama. Ditemani bergelas gelas kopi, bahan obrolan seolah tak ada habisnya; sampai akhirnya, kelopak mata ini terpejam dengan sendirinya.

Ada banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi di Gunung Papandayan ini; Tegal Alun, Pondok Salada, Kawah Mati, hingga yang lumayan jauh seperti Sabana Tegal Panjang. Seperti siang itu, lima orang dari kami melanjutkan perjalanan untuk menengok Pondok Salada. Sedang saya sendiri hanya berdiam di camp, menggelar matras di bawah pohon, sambil memandangi barisan awan awan yang berarak.

Buat saya, inilah salah satu hal yang paling saya rindukan, sebuah kenikmatan yang tak banyak duanya. Sejenak berbaring begitu saja, tanpa berpikir apa apa. Menyelaraskan diri dengan entitas alam sekitar, berserah dan menerima begitu saja.

***

Sesungguhnya kegiatan dua hari ini terjadi insidentil sekali. Tanpa perencanaan yang teramat muluk, dan bukan keinginan keinginan yang terlalu susah diwujudkan. Sebuah perjalanan kukira, terkadang hanya butuh langkah kaki pertama saja untuk memulainya.

Papandayan, Agustus 2013.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

2 thoughts on “Jakarta – Bandung – Garut, Hingga ke Gunung Papandayan”

Leave a Reply

Your email address will not be published.