Norwegian Wood, dan Satu Sore di Senja Jakarta

Laju kereta mulai melambat, ditandai dengan decitan rem yang lamat lamat terdengar di telinga. Para penumpang mulai berdiri dari kursinya, bersiap untuk turun. Stasiun di depan adalah pemberhentian paling akhir dari kereta tersebut.

Di belakang kereta, senja menyeruak. Matahari tenggelam di langit sebelah timur, bulatan kecil yang menyelinap diantara arak arakan awan di langit. Di latarnya, ada warna yang bergradasi, perpaduan antara biru langit dan  berkas berkas lembayung senja. Sore di Jakarta terasa lebih indah ketika itu.

Di stasiun, begitu kereta datang, kerumunan pecah. Para penumpang berebut masuk, para penumpang berebut turun, beradu tepat di depan pintu kereta. Para petugas sudah tak bisa berbuat apa apa, kukira mereka sudah kewalahan untuk mengingatkan. Ataukah memang sudah bosan?

Seorang lelaki, kemejanya berkelebat karena tak dikancingkan, berjalan cepat menyelinap diantara keramaian. Sambil berjalan, sesekali ia mengambil ponsel-pintarnya dari kantung celana. Mukanya terlihat semakin tegang selepas itu.

Harusnya ia sudah sampai di stasiun tersebut puluhan menit sebelumnya. Ia punya janji dengan seorang perempuan. Namun seperti pada waktu waktu yang sebelumnya, ia selalu datang terlambat dari janji yang telah diucapkannya pada si perempuan. Apakah semesta berkomplot? Tentu tidak. Si lelaki itu, hanya terlalu canggung untuk datang dan bertemu si perempuan tepat waktu.

Menuliskan tingkahnya ini, aku hanya bisa tersenyum kecil dan susah payah menahan diri untuk tak tertawa.

Usai menaiki tangga, di depan antrian loket ia kemudian berhenti. Matanya berkeliling, mencari sesuatu. Tak menemukan apa yang dicari, ia kembali menengok layar ponsel-pintarnya.

“Aku di jalur dua, di kursi nomor tiga setelah turun tangga.”

Si lelaki menarik nafas panjang. Bukan karena lega. Tapi karena seperti sebelum sebelumnya, beberapa saat ke depan adalah saat yang tak akan pernah jadi mudah untuknya.

***

Saya pertama tahu nama Haruki Murakami dari sebuah foto yang ada di laman blog seorang kawan. Membaca namanya tertulis di sebuah buku yang sampul depannya terlihat muram sekali, sebuah buku berjudul Norwegian Wood. Beberapa minggu setelahnya, ketika sedang berbelanja buku di salah satu  toko buku langganan di Bandung, tanpa pikir panjang saya pun membelinya.

Di dalamnya, saya menemukan salah satu cerita paling menyedihkan yang pernah kubaca. Mengenai seorang laki laki bernama Watanabe, yang mencintai seorang perempuan, Naoko, yang sayangnya ia pun sudah tahu bahwa tak akan bisa pernah mencintai dirinya. Naoko adalah kekasih dari sahabat Watanabe sendiri, Kizuki, yang telah bunuh diri beberapa tahun sebelumnya.

Lantas, apakah Watanabe akan berhenti mencintai Naoko?

Watanabe dan Naoko tak sengaja bertemu di tempat dimana mereka berdua sebetulnya ingin memulai hidup dari awal lagi, meninggalkan kenangan kelam yang pada kenyataanya bermuara pada alasan yang sama, kematian Kizuki.

Hal yang menjadi rumit terjadi ketika Midori mendadak hadir dalam kelindan hidup Watanabe yang ketika itu pun situasinya sudah rumit. Naoko pergi dan menghilang begitu saja dari kehidupan sehari harinya.

Dari mulai bab pertama hingga bab terakhir, Murakami menuliskan kemuraman demi kemuraman. Hampir tak ada sesuatu yang betul betul menyenangkan ia ceriterakan. Ada pun, misalnya saja petualangan “malam” Watanabe dan Nagasawa, sang mahasiswa idola, salah satu kawan se-asramanya, pada dasarnya hanyalah bentuk kemuraman yang lain, sebuah upaya pelarian dari kenyataan pahit yang terjadi.

Sampai akhirnya, Naoko pun mati. Bunuh diri. Menyusul cinta pertamanya, Kizuki. Maka, kini Watanabe pun bisa merasakan apa yang dulu Naoko rasakan, cinta mati, ehh cinta kepada orang yang sudah mati.

Norwegian Wood, memang, kalau saya boleh bilang, adalah sebuah antologi tentang kehilangan.

Yang saya suka dari beberapa buku karya Haruki Murakami adalah kemampuanya dalam menyusun percakapan para tokoh dalam bukunya. Percakapan percakapan panjang yang kadang hanya membicarakan remeh temeh yang tak ada hubungan dengan isi bukunya. Norwegian Wood pun begitu.

Oiya, bagaimana kabar Midori ya?

***

Di ujung tangga ia berhenti. Pada sebuah bangku besi di peron stasiun, dilihatnya si perempuan, duduk di antara penumpang lain yang sedang menunggu datangnya kereta. Ia, sore itu, masih saja terlihat sama seperti ketika ia pertama mengenalnya beberapa tahun yang lalu.

Ia berjalan pelan, lantas berhenti di depan si perempuan. Ia sudah memutuskan untuk menyapa si perempuan duluan. Kali ini, ia berhasil melakukannya,

Ah, ada pengumuman dari pengeras suara stasiun. Berisik sekali suaranya. Aku tak bisa mendengar apa yang mereka berdua obrolkan.

Hanya kulihat si lelaki menyerahkannya sebuah bungkusan dengan warna yang norak. Saking banyak hal tak penting yang ia pikirkan untuk saat ini, pada akhirnya si lelaki memilih secara acak saja semuanya dari sebuah toko, kertas pembungkus itu salah satunya.

Pengumuan berhenti di saat yang tepat. Aku bisa menguping meraka berdua kembali.

“Makasih, lho. Jadi ngerepotin,” ucap si perempuan sambil tersenyum.

Pada sebuah bungkusan itu, ada Norwegian Wood  di dalamnya.

***

Senja mulai memudar, matahari sudah tak terlihat lagi. Sebentar lagi gelap akan datang. Pertemuan singkat itu pun berakhir. Keduanya berpisah jalan. Si perempuan dengan hidupnya sendiri, pun si lelaki dengan hidupnya sendiri. Barangkali benar, memang tak akan pernah ada simpul diantara keduanya.

Peluit dibunyikan, pintu pintu kereta ditutup. Seraya tertatih dan mengumpulkan tenaga, lokomotif yang berada paling depan mulai bergerak, menarik delapan gerbong di belakangnya. Kereta pun meninggalkan stasiun.

Saya? Saya duduk di peron dan memilih untuk menuliskan cerita barusan saja.

Bintaro, 16 November 2013.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

4 thoughts on “Norwegian Wood, dan Satu Sore di Senja Jakarta”

Leave a Reply

Your email address will not be published.