Yang Mungkin Tak Pernah Didengar, dan Mungkin Tak Perlu Didengar Juga

Tadi pagi saya kebetulan sarapan di warung masakan Padang dekat kostan. Selain karena jaraknya yang hanya sepelemparan batu, harganya pun cukup bersaing. Untuk setiap lauk, seperti ayam bakar, ikan laut atau rendang dihargai sepuluh ribu rupiah saja, sudah termasuk setangkup nasi putih tentunya.

Saya perhatikan, hampir tiap kesempatan sarapan ke sini, Si Uda pemilik warung gemar sekali menonton acara musik pagi televisi. Tak perlulah saya sebut merk, kurasa kita sudah tau sama tau apa saja nama  nama acara tersebut. Jari tangan Si Uda ini lihai dan sigap sekali bergerak di atas remote, gegas memindahkan channel ketika waktu iklan tiba, ke channel lain yang punya acara serupa. Iya, serupa.

Dan karena sudah berbulan bulan menyingkirkan televisi dari kamar saya, dalam kesempatan kesempatan kecil seperti inilah saya mengetahui perkembangan musik populer di Indonesia, atau lebih enak sebut saja musik produk industri. Sesuatu yang akhirnya menjadi candu, disuguhkan dalam repetitif yang tiada habisnya, menyusup hingga alam bawah sadar paling dalam, mengendap sedemikian rupa, hingga akhirnya kita terbiasa dan menerimanya sebagai suatu kewajaran, tanpa ada celah lagi untuk mempertanyakan. Tapi sudahlah, barangkali ini pilihan yang tak banyak dari kita bisa menolaknya.

Namun apa yang saya lihat dan dengar pagi ini sungguhlah membuat saya mengelus dada. Belum habis gempuran boyband dan girlband yang bersaing ketat dengan artis pengusung irama mendayu melayu, kali ini giliran biduan “dangdut koplo” yang hilir mudik di sana.

Hei, jam tayangnya itu, lho. Ini kan masih pagi, hari minggu pula. Banyak anak kecil yang nonton tivi. Apa ya ndak gila kalau mereka disuguhi tayangan seperti itu, nyanyi nyanyi sambil goyang A, B, C dan segala macam nama goyang lainnya, pun ditimpali koor massal “buka sithik joss!“.

Duhh, Pak Cawapres, piye je karepmu ki.

***

Kalau anda termasuk yang berpendapat bahwa musik Indonesia sekarang kualitasnya jauh menurun dari beberapa tahun silam, barangkali saya sependapat, walau tak sepenuhnya. Di luar pemahaman “beberapa tahun silam” anda dengan saya yang mungkin berbeda, mengacu pada generalisasi di atas, sebenarnya pun masih ada karya karya luar biasa yang dilahirkan musisi Indonesia belakangan ini.

Hingga bulan kesebelas tahun ini saja, sudah banyak rilisan luar biasa bagus yang dilepas ke khalayak. Bagi penggemar rock, The S.I.G.I.T dengan Detourn nya tentu merupakan sebuah capaian luar biasa. Atau Pandai Besi sebagai side project Efek Rumah Kaca yang merilis Daur Baur, album berisikan aransemen ulang lagu lagu ER-K di dua album terdahulu, direkam di Studio Lokananta, salah satu studio rekaman bersejarah di Indonesia.

Lalu ada juga Frau, solois yang album pertamanya, Starlit Carousel, banyak dianggap sebagai rilisan terbaik tahun 2010, bulan Agustus lalu melepas album terbarunya, Happy Coda. Tak ketinggalan, akhir September, trio folk asal Bandung, Tigapagi, merilis debut album yang sesungguhnya bisa dibilang terlambat mengingat unit ini sudah terbentuk sejak 2006 silam, Roukmana’s Repertoire, sebuah medley berdurasi 1:05:03 yang memberikan pengalaman lain dalam menikmati sebuah album bagi para pendengarnya.

Duhh, saya hampir lupa menyebut Aurette And The Polska Seeking Carnival dengan album selftitled nya, rilisan yang menghebohkan dunia per-vinyl-an di skena lokal.

Di luar nama nama tersebut, saya yakin sebenarnya masih banyak rilisan bergizi tinggi lain yang mungkin saja tidak banyak terdeteksi, tak banyak terbincangkan pun terpublikasikan secara luas. Berikut saya uraikan lima buah diantaranya. Lima album (LP/EP) yang selama seminggu terakhir menjadi menu wajib yang saya putar tiap harinya di playlist saya.

Dan sesuai dengan judul postingan ini, beberapa nama di bawah mungkin tak pernah didengar, dan mungkin tak perlu didengarkan juga.

1. Woodcabin – selftitled.

Sebuah album (atau malah demo) yang hanya terdiri dari dua buah lagu saja. Pun dengan durasi yang teramat pendek, keduanya kalau ditotal pun tak lebih dari lima menit. Tapi coba dengarkan, ada energi jiwa muda yang meluap luap terpancar di sana.

Pada lagu pertama, “People”, dibuka dengan intro bass yang terdengar tebal, lalu disambut detak drum rapat yang semakin lama terdengar semakin menhentak hentak. Pada satu momen yang tak lama kemudian, solo gitar yang kental dengan regresi math rock nya mulai terdengar. Oiya, saya belum menyebut keriuhan suara orang bergumam dan berteriak teriak, ya?

Lagu kedua berjudul “Hipotesa”, terasa sekali nuansa melodic – punk nya. Naik turun tempo yang terdengar acak acakan, pun dengan gaya bernyanyi yang tak merdu merdu amat. Lahh, memang sejak kapan bernyanyi harus merdu?

Dalam kacamata sebuah album, bila kita harus menyebut sebuah nomor sebagai track unggulan, tentu “Hipotesa” ini adalah yang tersebut untuk album singkat ini. Perpaduan yang penuh citarasa antara punk, bumbu rock dan secuil nuansa emo di sana.

Woodcabin adalah tiga orang pemuda asal Jatinangor yang bernama Brian Wok, Farass Fauzi dan Prabu Pramayougha. Album yang dirilis oleh Tsefula/Tsefuelha Records ini bisa kalian unduh di pranala ini. Jangan khawatir, legal kok.

2. Costwold – seftitled.

Anda menggemari shoegaze? Apa preferensi anda terhadapnya? Sepertinya tidak jauh dari beberapa frasa berikut: gelap, murung, atau suram? Kalau iya, masukkan Costwold dalam playlist yang anda punya. Album mereka ini sakses merepresentasikan hal hal tersebut.

Cotswolds adalah Windrata Faizal, Farras Fauzi, Dwiki Putra dan Wing Wisesa (kalau anda jeli, ada satu nama yang pernah saya sebut sebelumnya). Album selftitled yang berisi empat buah lagu ini telah dirilis sejak bulan Mei 2013, lewat situ yesnowave.com. Silahkan cek website tersebut untuk mengunduh.

Headline dalam album ini adalah “Fire”, rekat dengan ambience dan delay yang berpadu dalam takaran pas. Lalu vokal mengawang yang terdengar dengan megah, dan penuh kuasa. Bunyi kocokan gitar electric di seperlima akhir durasi adalah salah satu bagian paling keren yang ingin saya putar ulang berkali kali.

3. Taman Nada – seftitled.

Album yang begitu sederhana, namun luar biasa mengena. Mendengarkannya tak rumit, menikmatinya pun tak sulit. Tiga buah lagu yang cocok didengarkan dalam suasana apa saja; teman bersantai, teman mengerjakan tugas, teman dalam perjalanan, terlebih teman menghabiskan waktu bersama teman, memainkan dan menyanyikannya bersama sama.

“Penggunaan nama Taman Nada mengacu pada taman sendiri dengan fungsinya sebagai tempat berkumpulnya segala penyampaian ekspresi masyarakat di tengah hilir mudik rutinitasnya dan di antara beragam kesibukan yang menumpuk itu berkumpul dan bermusik adalah kesempatan yang juga sungguh sama berharganya seperti sebuah taman di perkotaan.” – Taman Nada.

Taman Nada adalah Atthur Razaki, Salman Muhiddin, Zaki Rifian, Nandiwardhana, Dwiki Putra R dan Arya Pratyaksha. Terbentuk di Surabaya pada tahun 2011 silam. Dimulai dengan format akustik hingga menjadi full band menjelang rilisnya EP selftitled bulan Agustus lalu.

Album ini sudah menjadi terlalu personal bagi saya untuk dituliskan dalam tiga, empat paragraf saja. Lain waktu saya akan menuliskan review panjangnya, terlalu singkat jika dipaksakan menuliskannya di postingan ini. Oiya, kalian bisa mengunduhnya di pranala ini.

4. Rayhan Sudrajat – Find Yourself

Salah satu musisi paling produktif dalam beberapa tahun terakhir, baik melalui proyek solo atau lewat beberapa band dimana ia juga tergabung, Vickyvette dan Slylab. Terhitung sejak 2008, Rayhan Sudrajat sudah melepas lebih dari tujuh buah album (EP dan LP).

Di luar rilisan Vickyvette dan Slylab yang segmented sekali, Find Yourself lebih nyaman dan sepertinya gampang disukai. Beberapa nomor terdengar sangat melankoli, dengan nada nada pop yang akan terdengar lebih akrab di telinga. “Broken Mirror” dan “You Are My Horcrux” adalah dua di antaranya. Ada pula sebuah cover dari Coldplay, “The Hardest Part” yang dimainkan dengan ciamik sekali.

Namun begitu, pada satu nomor, “Out of Service”, Rayhan Sudrajat seperti melepas keliarannya, progresi rock yang kasar dengan sound yang lumayan garagey (saya masih rada aneh melihat track ini dijadikan lagu pembuka, mengingat lagu ini sangat tidak merepresentasikan isi albumnya sendiri).

RS banyak mengambil sample dialog yang entah darimana diambilnya pada album ini. Dikomposisikan dengan petikan string gitar yang mengalun jernih, dengan ketekunan yang begitu teliti.

Seperti album album sebelumnya, RS membagikan Find Yourself secara bebas. Cek pranala berikut.

5. Autumn Ode.

Teman saya, Yudith, ketika saya menyerahkan earphone padanya dan kemudian memutar sebuah lagu dari player yang saya punya berujar, “Ini rasanya Explosions in The Sky banget, ya.”

Saya hanya mengangguk-anggukan kepala menyetujui pendapatnya yang menyebut salah satu band postrock paling panas saat ini.

Lagu yang saat itu saya putar adalah “They Asked Me to Run, Follow The Sun.” Sebuah komposisi nir lirik sepanjang 08:48 yang sarat pengalaman transedental. Coba pasang earphone di telingamu, putar dengan volume paling kencang, lalu tutup mata dan nikmati lagu ini hingga detik terakhir, baru kau boleh buka matamu. Apa yang kau lihat? Ceritakan padaku kalau kau mau.

Biasanya, dalam sebuah lakon cerita kita mengenal pembabakan sebagai berikut; dimulai dengan prolog, intro permulaan, lalu perlahan menaik, dari rendah, sedang, hingga mencapai klimaks, satu titik dimana emosi semua yang terlibat berada dalam posisi tertinggi, diaduk dengan segala bumbu konflik yang menyerta. Lalu perlahan turun hingga akhirnya berada titik akhir, epilog, penutup cerita.

Tapi rupanya rumusan tersebut tidak termaktub dalam lagu ini. Ada beberapa titik klimaks yang akan ditemui berulang, disusun dengan rapih dan kurang ajar sekali. Kita ditipu mentah mentah. Saat kita mengira bahwa klimaks sudah usai, ditandai dengan tempo yang mulai menurun, lantas emosi dibawa naik kembali, menciptakan klimaks yang lain, kita dihajar habis habisan oleh bebunyian yang meraung raung memekakkan telinga.

Sebetulnya, mereka belum merilis album, hanya sebuah single saja. Pun sudah dirilis semenjak tahun 2012 lalu. Tapi entah mengapa selalu ingin menuliskan sesuatu berkaitan dengan single ini, berharap semakin banyak orang yang mendengarkannya.

Ahh, semoga saja full album Autumn Ode lekas keluar. Saya sudah tak sabar lagi ingin mendengarkan.

Bintaro, November 2013.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

5 thoughts on “Yang Mungkin Tak Pernah Didengar, dan Mungkin Tak Perlu Didengar Juga”

Leave a Reply

Your email address will not be published.