Kandas di Kapal Rafelia II

Barangkali, ketika musibah sudah di depan mata dan seperti tak bisa terhindarkan lagi, seketika itu manusia lantas berubah 180 derajat dari perilaku kesehariannya. Atau setidaknya, begitulah yang kebetulan saya saksikan lewat mata kepala sendiri sore itu.

Sesaat setelah sirine bahaya dibunyikan, dari pengeras suara yang ada di beberapa sudut kapal, terdengar instruksi agar semua penumpang berkumpul di dek utama.

Luap emosi pun pecah.

5a24f-rafelia

4a9e3-dsc08252

55ca6-dsc08253

Penumpang yang tadinya terlihat sabar sekarang jadi blingsatan. Yang seharian tadi cuek jadi penuh perhatian. Ada pula yang sebelumnya ramah, mendadak kok jadi pemarah. Seorang laki-laki bertopi hitam–sebetulnya kami sudah berkenalan tapi saya lupa namanya–yang tadinya banyak sekali berbicara, mulutnya lantas seperti terkunci dan hanya terbuka untuk beberapa kata saja, hanya seperlunya.

Dramatis. Persis seperti penggambaran para sineas di film-film produksi Hollywood itu.

***

Seorang pria paruh baya langsung menghampiri saya di depan pelabuhan. Berlari penuh semangat dia menyambut kedatangan angkot putih trayek Pelabuhan Lembar – Terminal Mandalika yang tengah menurunkan para penumpang ini.

Sebetulnya saya sudah kapok berurusan dengan para calo pelabuhan. Terlampau banyak pengalaman buruk yang saya alami. Bahkan belum ada 2×24 jam sejak saya kena tipu harga, tiket bus Langsung Indah–inilah the worst transportation versi ebook legendaris Alone Longway From Home–terpaksa saya beli lima puluh ribu rupiah lebih mahal dari yang seharusnya. Tak ayal saya pun memilih untuk mengacuhkan beberapa orang yang sedang berbusa busa berbasa basi di depan saya ini, melengos begitu saja menuju loket resmi penjualan tiket kapal.

Tapi rupanya para calo ini tak patah arang. Entah bagaimana ceritanya, hanya beberapa meter menjelang loket, laki-laki yang tadi berjalan di samping saya gegas berlari-lari kecil mendahului dan lantas berbisik-bisik dengan petugas yang sedang berdiri di samping loket. Dan coba tebak apa yang ia lakukan?

Mentransaksikan pembelian tiket saya. Gila juga sampai segitunya, ya, strategi mereka.

Maka ketika pria tersebut merangkulkan tangannya ke punggung seraya mengangsurkan lembaran tiket kapal yang barusan ia dapatkan, saya tak punya pilihan lain selain menerima dan membayarnya saja. Malas kalau ujungnya harus adu urat dengan mereka. Lagipula, harganya sama dengan yang tertera di tiket. Walau saya jelas ragu kalau tiket itu didapatkan dengan cara legal.

“Kapal yang akan menyeberang sebentar lagi paling bagus, Rafelia II. Itu lihat yang mau bersandar,” ucapnya sok akrab.

Memang ya, kalau ada mau dan sudah terpenuhi kemauannya, orang bisa jadi pintar sekali bermulut manis berbicara.

***

Bahkan sebelum kapal mengangkat jangkar dan mulai berlayar, sudah ada perasaan tak enak yang menghinggapi. Rasanya ada yang mengganjal di Jumat pagi itu. Apa karena keputusan untuk menyeberang pagi hari dan melewatkan sholat Jumat adalah penyebabnya? Rasanya tidak juga. Setauku ada keringanan mengenai hal tersebut bila sedang dalam perjalanan.

Guna melenyapkan perasaan tak enak yang mengusik, saya pun memutuskan untuk berkeliling kapal. Siapa tahu bisa sedikit berpengaruh. Siapa tahu, bukan?

Dan memang benar, sekilas berkeliling, kapal Rafelia ini termasuk bagus, setidaknya dari segi interior paling bagus diantara kapal penyeberangan Bali Lombok yang pernah saya naiki sebelumnya. Beberapa bagian terlihat masih baru, jok kursi dan kasur di dek yang terbungkus plastik. Layar televisinya lumayan besar, ada dua buah. Bar yang menjual snack dan minuman ringan pun terlihat rapi penataannya.

Ada beberapa sekoci yang diletakkan di dek paling atas, terkait rapi di pinggiran kapal. Juga tabung-tabung putih berbentuk seperti tangki bahan bakar minyak yang berukuran sekitar dua meteran. Catnya terlihat masih bagus, belum ada bagian yang nampak mengelupas.

Lalu kapal pun akhirnya berangkat. Saya bersandar di pagar buritan kapal, menatap Pulau Lombok yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan.

***

Hampir tiga jam terakhir kapal tak beranjak dari posisinya. Padahal Pelabuhan Padangbai jelas sudah terlihat. Mengantri. Lonjakan penumpang karena masa liburan menyebabkan kapal yang beroperasi lebih banyak dari biasanya. Efeknya, terkadang akan ada penumpukan kapal yang keluar masuk untuk merapat di dermaga. Seperti sore ini.

Sudah tak terhitung berapa kali saya berkeliling, hampir bosan. Mau tidur juga sudah tak bisa, perut lapar. Uang jajan sudah tak ada. Biasanya penyeberangan Lombok Bali berkisar antara 4-5 jam perjalanan. Tadi pagi kapal berangkat pukul delapan, sekarang hampir pukul empat sore.

Penumpang lain pun merasakan hal yang sama. Muka-muka yang jenuh menunggu. Televisi yang sedang memutar film klasik Bruce Lee, Enter The Dragon, pun tak digubris lagi. Barangkali mau bercakap-cakap pun sudah hampir habis bahasan.

Hingga akhirnya lantai kapal terasa sedikit bergetar, menandakan mesin yang mulai bekerja kembali. Dan kapal pun mulai bergerak.

Rencana perjalanan pulang saya sebetulnya sudah berantakan. Sore begini pasti bus yang ke arah Denpasar sudah tak ada. Transportasi yang tersedia tinggal mobil L300, harganya pun lebih mahal. Saya mengeluarkan dompet lagi, menghitung-hitungnya dengan cermat. Jangan sampai kurang. Tak mungkin saya minta kiriman uang dari rumah.

Sekitar tiga ratusan meter dari dermaga kapal mulai melambatkan lajunya. Dan mendadak kemudian terhenti. Terdengar bunyi mesin yang menderu sedikit lebih keras. Kapal tak beranjak dari posisinya. Hanya buih kecoklatan yang muncul dari bawah air di sekeliling kapal.

“Wahh, wes meh tekan kok malah kandas.” Laki-laki yang berdiri di dekat saya bergumam cukup kencang hingga saya bisa mendengarnya. Laki-laki itu adalah sopir bus pariwisata yang sedang disewa sebuah sekolah menengah atas di daerah Surabaya.

“Emang pernah ngalamin kejadian kayak gini, Pak? Terus gimana?” tanya saya kemudian.

“Pernah. Malah masih agak jauh dari dermaga. Ya kalau dulu nunggu sampe agak malam. Pas malam kan air lautnya pasang, kapalnya ngangkat. Bisa jalan lagi.” Saya pun tenang mendengar jawaban tersebut.

Dari dek atas tempat saya berdiri, terlihat keramaian dari para kru. Rupanya mereka sedang mengupayakan agar kapal bisa bergerak lagi. Bagaimanapun juga posisi kandasnya kapal akan mengganggu arus keluar masuk pelabuhan. Tadi saja antri apalagi dengan adanya kejadian ini.

Mulanya mereka mengulur tali yang ada di belakang kapal, kemudian ditarik sebuah boat kecil hingga ke dermaga. Lantas ditambatkan di sana. Dari yang saya lihat, tali itu akan digunakan sebagai tambahan tenaga guna memindahkan posisi kapal. Tali akan digulung kembali menggunakan katrol kapal. Kemudian kapal akan coba dijalankan kembali. Rencana yang sepertinya akan membuahkan hasil.

Nyatanya, gagal. Kapal tetap tak beranjak.

Senja mulai menjelang. Angin laut mulai terasa lebih kencang. Begitupun ombak yang deburnya makin nyaring di telinga. Detik demi detik berlalu, kapal terasa mulai miring. Di saat itulah kemudian sirine panjang berbunyi.

Sesuai instruksi dari kru kapal, para penumpang dikumpulkan di dek utama. Hanya butuh beberapa menit hingga semua penumpang berkumpul di sana. Seorang petugas–sepertinya nakhoda kapal ini–memberikan instruksi singkat; penumpang akan dibagikan pelampung satu persatu, semua akan kebagian, tidak perlu berebut, kapal evakuasi sudah disiapkan, wanita dan anak-anak yang akan dievakuasi lebih dahulu. Begitu inti penjelasannya

Kondisinya? Para penumpang panik, pembagian pelampung agak kacau walau tak sampai ricuh. Ada beberapa titik pembagian pelampung sehingga penumpang tidak menumpuk pada satu titik.

Tapi kepanikan tidak berhenti sampai di situ saja. Adalah mengenai urutan evakuasi, semua ingin duluan. Ditambah lagi kapal yang digunakan untuk evakuasi hanya dua buah, itu pun ukurannya kecil. Tak banyak penumpang yang terangkut dalam sekali jalan.

“Kenapa evakuasinya terlalu lambat? Kapalnya hanya dua saja? Saya akan lapor ke teman-teman media saya. Teman saya ada yang kerja BBC. Kamu  kerjanya lambat tidak profesional sekali.” Seorang ekspatriat berseru keras di atara kerumunan orang yang menunggu antrian evakuasi. Mukanya merah pada karena kemarahan. Seharian tadi dia sangat ramah pada penumpang lain, saya melihat dia mengobrol dengan hampir semua penumpang yang berada di dek paling atas, termasuk dengan saya juga tentunya.

Penumpang lain terlihat sibuk dengan handphone-nya. Tak sedikit yang terlihat meneteskan air mata, isaknya terdengar menyayat. Ada yang meminta doakan agar selamat, ada pula yang terdengar meminta maaf, sebegitu curi dengar yang sampai ke telinga saya.

Saya berkeliling, dari satu kerumunan ke kerumunan yang lain. Sesekali mengambil gambar. Bukannya tidak panik, tapi sudah tak ada hal lain yang bisa dilakukan memang. Instruksi sudah dilaksanakan, pelampung sudah terpasang dan tinggal menunggu giliran untuk dievakuasi.

Ohh, saya juga sudah mengirim pesan perihal kejadian ini pada Oca, kawan saya yang jadi tempat saya meng-update informasi selama perjalanan ke Flores. Hal ini memang telah menjadi semacam kebiasaan; ketika beperjalanan, pasti ada salah seorang kawan dimana saya akan mengupdate kondisi selama perjalanan kepadanya. Sebagai bentuk jaga-jaga kalau misal terjadi apa-apa.

Akhirnya giliran saya dievakuasi pun tiba. Rombongan terakhir. Bersama si bapak sopir bus pariwisata yang tadi. “Ayo, Mas. Gelem ditinggal nang njero kapal po?” Saya hanya tertawa mendengarnya. Kerier saya tenteng, kemudian melompat ke boat kecil kapal evakuasi.

***

Begitu sampai dermaga, kami segera dihampiri oleh petugas pelabuhan, juga polisi. Mereka sedang melakukan pendataan terhadap para penumpang dari kapal Rafelia II. Beberapa pertanyaan standar seperti nama, usia dan alamat segera kami jawab kepada mereka.

Di ruang tunggu pelabuhan, para penumpang lain terlihat masih berkumpul. “Yang baru datang silahkan ada nasi bungkus bisa diambil di meja dekat pintu,” suara petugas menyambut rombongan evakuasi terakhir yang datang. Saya berseri-seri mendengarnya, perut sudah keroncongan dengan kencangnya.

Saya bergegas menuju meja dimana kardus nasi bungkus berada. Jumlahnya masih banyak, jelas lebih dari jumlah rombongan evakuasi terakhir. Tanpa pikir panjang, saya ambil dua bungkus sekaligus. Lumayanlah untuk menghemat pengeluaran, dapat makan malam gratis.

Ada untungnya juga kapalnya kandas. Hehehe..

Bali, September 2012.

PS: Ketika iseng mencari di internet, saya menemukan arsip berita mengenai peristiwa di atas. Berikut pranalanya dari situs antaranews dan BaliPost.

Tulisan sebelumnya :

1. Melangkah ke Timur, Melangkah ke Flores.

2. Titik Singgah Itu Bernama Labuan Bajo.

3. Bermalam di Bajawa.

4. Tercekam Sunyi di Moni.

5. Satu Pagi di Gunung Kelimutu.

6. Ende, Kota Lahirnya Pancasila.

7. Berkeliling di Kampung Bena.

8. Parade Senja Pulau Rinca.

9. Mampir Ngobrol di Desa Rinca.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.