Di Depan Mistar Gawang, Lagi

Begitu terbangun di dalam komuter, badan saya langsung terasa remuk. Pegalnya tidak karuan, sendi-sendi tulang seperti dilolosi. Plus kantuk yang masih mengetuk-ngetuk ingin menyelinap lagi masuk ke dalam kelopak mata. Praktis saya tidur kurang dari satu jam selama tiga puluh delapan jam terakhir ini. Maka ketika petang itu saya bisa duduk nyaman di dalam komuter, tanpa sadar saya tertidur. Dan terbangun ketika seseorang tak sengaja terantuk pada kaki saya.

Saya melihat ke arah luar. Stasiun Serpong. Saya terlewat sampai stasiun paling ujung dari komuter yang saya naiki. Sial. Haha..

Sambil menunggu komuter berangkat kembali ke arah sebaliknya, saya menyalakan handphone. Ada pesan masuk, kiriman beberapa foto dari seorang kawan. Banyak muka-muka yang berseri tergambar dalam foto-foto tersebut.

Hari ini sungguh berjalan tak terduga sekali.

IMG-20150215-WA0040

Beberapa hari terakhir, setidaknya selama dua minggu ini, teman-teman saya terlihat sangat bersemangat untuk segera memulai kompetisi. Obrolan di grup whatsapp tak pernah jauh-jauh dari itu. Mulai dari pendaftaran pemain hingga pemilihan desain seragam tim, selalu menimbulkan perdebatan yang seru.

Pun tim ini membawa nama Astacala. Hasil yang baik tentu dinanti. Main-main menjadi haram hukumnya.

Namun ketika melihat daftar pemain dari tim yang menjadi lawan di pertandingan pertama, rasanya seperti mimpi buruk yang datang terlambat. Ini nama-nama yang tidak asing di telinga. Isinya para jagoan di kompetisi futsal di kampus dulu.

Harapan saya sederhana: jangan kalah terlalu banyak. Kalah dengan marjin skor yang besar tentu akan jadi kenangan buruk yang tak akan habis-habis diceritakan hingga masa yang kelak. Suram.

Tiba waktu pertandingan pertama, saya memasuki lapangan dengan rasa gugup dan sedikit cemas. Belum juga main dan kaki sudah gontai rasanya untuk melangkah ke arah gawang. Teman-teman yang lain melakukan pemanasan dan saya hanya berdiri di dekat gawang sembari berusaha mengingat-ingat lagi bagaimana rasanya bermain di posisi kiper.

Semalam, di kereta yang membawa saya dari Jogja hingga Jakarta, saya terjaga dan tak bisa tidur. Alasannya simpel. Beberapa jam lagi saya akan bertanding. Bermain sebagai kiper lagi. Padahal saya sudah lama tidak bermain di posisi tersebut. Lama sekali.

Dalam sebuah tim, kiper adalah posisi tidak penting sekaligus penting. Agak janggal. Tapi memang begitu adanya.

Berada di posisi paling belakang, sejatinya kiper tidak terlalu banyak terlibat dalam permainan tim. Tugas pokoknya sederhana, menjaga gawang agar tidak kebobolan. Ketika ia berhasil menunaikan tugasnya dengan baik, tidak lantas berarti timnya meraih kemenangan. Permainan sepakbola, kau tahu, dimenangkan oleh siapa yang mencetak gol lebih banyak.

Tetapi satu kesalahan saja diperbuat oleh seorang kiper, ia akan menjadi tokoh penting yang kemudian paling banyak diingat oleh orang-orang. Ia yang membuat timnya kebobolan. Ia akan dicap sebagai biang kekalahan. Sesederhana itu.

Perihal ini pernah dituliskan dengan sangat baik oleh Eduardo Galeano, penulis cum jurnalis kenamaan asal Uruguay itu.

“Pemain lain dapat saja melakukan kesalahan fatal, suatu kali. Tetapi kemudian, mereka dapat menebus kesalahan dengan melewati lawan secara brilian, memberi umpan terobosan menggiurkan, atau tendangan voli mematikan. Tapi itu bukanlah jatahnya. Kerumunan penonton tak akan pernah memaafkan hari buruk si penunggu sarang yang lagi terpuruk.”  Si Kiper – Eduardo Galeano.

Oh iya, kalian bisa membaca lengkap tulisannya di pranala ini.

IMG_20150216_203333

Total enam pertandingan kami jalani hari itu. Sukar dibayangkan karena saya pikir cukup satu pertandingan saja dan nasib tim kami segera berakhir. Tapi, barangkali Tuhan memang selalu punya skenario yang aneh.

Seperti Yunani di Piala Eropa 2004, tim kami justru keluar sebagai pemenang kompetisi. Tipikal yang sama sebagai tim yang lebih banyak bermain bertahan, hampir di setiap pertandingan kami selalu dalam posisi tertekan. Wajar karena kami memang tidak punya banyak opsi untuk melakukan penyerangan. Jangankan menyerang, memegang bola terlalu lama saja membuat banyak pemain kami menjadi kebingungan.

Tapi semangat, daya juang dan tekad pantang menyerah memang dimiliki oleh tim ini. Para pemain bergantian jatuh bangun untuk menahan tendangan lawan. Kartu kuning dan/atau merah pun tidak ragu untuk diterima. Bergesekan badan dengan pemain lawan justru dirayakan dengan riang dan gembira.

Dan di bawah mistar gawang, pada momen itu, saya seperti sedang menemukan kebahagiaan yang barangkali cuma bisa saya rasakan sendiri. Area sempit ini punya sesuatu yang terasa dekat dengan saya. Rasanay seperti ketika berjumpa dengan kawan yang sudah lama tidak pernah disua; hari itu kami seperti sedang merajut ulang tentang ingatan-ingatan yang dulu sempat terlupa.

Kedua tiang yang berdiri sejajar di kiri dan kanan, sebilah mistar yang melintang di atasnya, tali jaring-jaring yang terikat erat, dan garis putih yang ditorehkan lurus dari satu tiang ke tiang lainnya, mereka adalah karib seorang kiper dalam kesunyian garis belakang pertahanan.

Hari ini, saya berkawan lagi bersama mereka. Mereka membuat saya mengingat lagi bagaimana caranya bergembira bermain bola.

Jakarta, Februari 2015.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.