Di Depan Mistar Gawang

Kalau harus menyebut kawan yang paling sering kena omel saya, bisa jadi Kresna adalah orangnya. Bukan, ini tidak seperti jenis omelan yang bisa jadi sudah sering kamu alami sebelumnya, seperti ketika bos mengomel pada karyawan, misalnya.

Kresna adalah kawan sepermainan futsal sewaktu kuliah dulu. Kami berdua berada dalam satu tim yang sama, sejak awal mahasiswa hingga lulus jadi sarjana. Saya berposisi sebagai kiper, dan Kresna bermain sebagai bek–posisi yang persis berada di depan saya.

Meskipun hanya tim futsal kelas kambing, tim kami tentu punya strategi ketika sedang mengikuti kompetisi. Tim kami biasa menggunakan pola 1-3, satu pemain belakang dan tiga pemain menyerang. Peran Kresna amat sentral dalam formasi ini. Dia adalah lini pertahanan terakhir, dan sekaligus titik awal dalam memulai serangan.

Untuk yang pertama, saya sama sekali tak ragu dengan kemampuan kawan saya ini. Kresna punya tipikal pemain bertahan asal Indonesia: lugas dan keras–versi abal-abal tentunya. Nahh, untuk yang kedua inilah yang seringkali bikin saya harus teriak teriak seperti orang parno dalam sebuah pertandingan. Atau kalau celetukan penonton yang sering tak sengaja saya dengar, seperti tukang parkir atau kernet kendaraan umum. Haha.

Selain karena gemar coba-coba menggocek bola, Kresna punya kebiasaan untuk melepas umpan terobosan mendatar yang melipat garis lapangan menjadi lebih pendek. Kalau berhasil, memang sangat mematikan. Tapi kalau gagal, justru tim kami yang akan berada dalam jurang bahaya yang sangat besar.

IMG_20150208_170652

Bayangkan saja, jika umpan itu terpotong di tengah jalan, maka tim lawan bisa melakukan serangan balik dengan cepat dan hanya tinggal menghadapi satu bek saja. Sebagai kiper, tentu keamanan di lini belakang adalah hal yang lebih utama. Memulai serangan dengan umpan macam tersebut buat saya teramat riskan. Pertaruhannya besar. Terlalu berisiko. Bikin cemas.

Tapi sejujurnya, kalau diingat-ingat, saya toh menikmati momen-momen seperti itu.

Ada selang yang cukup panjang semenjak terakhir saya bermain futsal sebagai seorang kiper. Terakhir pada bulan Desember 2012. Sudah lebih dari dua tahun ternyata.

Selepas lulus dan hijrah ke Jakarta, praktis saya terpisah dengan kawan-kawan satu tim semasa kuliah. Meski telat, saya beruntung lulus lebih dulu dari mereka. Sementara kebanyakan kawan saya masih harus menyelesaikan masa kuliahnya. Agaknya kami memang mahasiswa yang betul-betul, tak ada dari kami yang lulus tepat pada waktunya.

Di Jakarta saya masih rutin bermain futsal bersama teman-teman satu kantor. Tentu saja ada rasa yang berbeda. Ada satu dua hal yang harus disesuaikan ketika bermain. Pun saya tak pernah lagi bermain sebagai kiper. Tidak seru lagi. Haha..

Bermain sebagai pemain lapangan bukan hal yang baru juga sebetulnya. Dulu pun sering, tapi tak pernah dalam situasi kompetisi yang betulan, paling hanya main-main saja.

Minggu-minggu ini pun saya masih berada dalam sebuah kompetisi futsal bersama teman-teman satu kantor. Tim kami sudah main satu kali. Pertandingan perdana yang berakhir dengan hasil seri.

Terbiasa menjadi pemain lapangan, sedikit banyak saya mulai memahami kenapa disiplin strategi adalah sesuatu yang susah sekali dilakukan kawan-kawan saya semasa kuliah dulu. Ketika sedang membawa bola, hasrat untuk coba-coba berimprovisasi kadang-kadang sangat menggoda buat dilakukan. Umpan terobosan atau gocek-gocek bola terlihat sangat menyenangkan. Aslinya ya tidak jago juga padahal.

Apalagi menjelang waktu berakhir pertandingan, ketika titik lelah sudah sampai di ujung, berat sekali kaki dibawa balik kembali ke posisi guna bertahan di lapangan sendiri. Malas pula rasanya untuk track back jika serangan gagal dan musuh ganti menyerang balik.

Saya ingat dulu ketika jadi kiper, gemas sekali bila melihat kawan yang tidak segera kembali ke posisinya jika tim kami sedang diserang. Jadinya ya teriak-teriak itu tadi untuk mengingatkan mereka agar segera kembali ke posisinya.

Menjadi kiper memberi kesempatan saya untuk melihat secara luas bagaimana permainan tim berjalan, mana yang kurang dan misalnya harus diperbaiki. Tapi terkadang melihat saja memang tidaklah cukup, rasanya sekali-sekali harus ikut melakukan juga. Ada hal lain yang hanya bisa didapat dengan merasakan sendiri.

Perihal barusan tidak hanya berlaku buat futsal saja sih.

Seharusnya besok pagi saya main futsal bersama Kresna dan beberapa kawan dari tim semasa kuliah dulu. Forum alumni kampus mengadakan kompetisi futsal antar alumni. Hadiahnya besar, gratis pula pendaftarannya. Walau kecil sekali kemungkinan untuk menang.

Yah setidaknya, akhirnya saya bisa bermain sebagai kiper lagi. Semoga tidak lupa saja cara untuk menepis dan menangkap bola. Kalau rasanya lupa ya tinggal ngomel-ngomel biar beknya lebih ketat menjaga supaya tidak ada bola tendangan ke arah gawang yang saya jaga. Haha..

Jakarta, Februari 2014.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.