Nostalgia di Toserba Rahayu, Toko Kaset di Pasar Prambanan

Sejujurnya saya agak lupa mana di antara dua album ini yang lebih awal saya beli; Sheila On 7 atau Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Kalau dari urutan rilis sih seharusnya Sheila On 7 yang lebih awal, tapi kok dulu rasanya saya baru bisa membeli kaset sendiri ketika album Kisah Klasik Untuk Masa Depan sudah dirilis.

Meski begitu, saya masih ingat betul dimana dulu membeli kedua album yang masing-masingnya terjual lebih dari satu juta kopi itu. Saya membeli keduanya di Toserba Rahayu.

IMG_20150219_202917

Semua ini bermula dari tulisan yang beberapa minggu silam diunggah oleh Mas Nuran di laman blognya. Mas Nuran bercerita tentang dua toko kaset terakhir yang saat ini masih tersisa di Kota Jember. Cerita yang sedih sebetulnya. Kalau misalnya penasaran, kamu bisa menemukan tulisan lengkapnya di tautan ini.

Membaca tulisan tersebut, saya pun jadi terpikir dengan nasib toko kaset yang menjadi langganan saya dulu. Apakah masih eksis bertahan atau tidak hingga sekarang ini.

Maka tersusunlah rencana berikut: begitu saya sempat mudik ke Jogjakarta, saya akan berkunjung ke Toserba Rahayu, nama toko kaset yang saya maksud barusan itu.

Sesuai dengan namanya “toserba”, toko serba ada, Toserba Rahayu sebetulnya bukan toko yang dikhususkan untuk menjual kaset. Ini adalah toko kelontong yang menjual berbagai macam perkakas dan alat-alat kebutuhan rumah tangga. Dari peralatan elektronik, memasak, olahraga dan masih banyak yang lainnya.

Toko ini terletak di bagian selatan Pasar Prambanan, tepat di pinggir jalan raya yang menuju ke arah Kecamatan Piyungan. Dari rumah saya, jaraknya tidak terlampau jauh, sekitar enam kilometer saja.

Pada masa itu, belasan tahun yang lalu ketika populasi waralaba minimarket belum sebanyak sekarang, toko ini menjadi jujukan bagi masyarakat yang kebetulan tidak memperoleh barang yang sedang dicarinya di dalam pasar. Seingat saya dulu hanya ada dua toserba semacam ini di sekitar Pasar Prambanan, Toserba Rahayu dan Toserba WS.

Karena ibu saya hampir selalu mampir di toko ini jika sedang belanja di pasar, saya pun tahu bahwa di toko ini juga menjual kaset-kaset musik.

Menjelang siang di hari Jumat yang tak biasanya berhawa teduh, saya duduk di bawah pohon kersen yang tumbuh di depan rumah. Menunggu kendaraan umum yang lewat. Berhubung selo dan sedang malas naik motor, dari rumah saya berencana ke Pasar Prambanan menggunakan kendaraan umum. Mau naik bus. Biar sekalian saja nostalgia nyari kasetnya gitu. Anggap saja napak tilas.

Dulu waktu masih kecil membeli kaset ya karena pingin-pinginan saja. Ada teman sekelas yang lebih duluan suka membeli kaset. Suatu hari, sewaktu saya dan beberapa teman yang lain sedang bermain di rumahnya, teman saya itu memutar sebuah kaset dengan lagu-lagu yang tak pernah kami dengar sebelumnya. Dan enak buat didengarkan.

Teman saya memutar kaset album perdana Sheila On 7. Iya kaset bersampul hijau yang legendaris itu.

Karena belum bisa membeli sendiri, kaset itu jadinya sering berpindah tangan karena banyak yang ingin meminjam. Sampai jelek sekali bunyinya saking seringnya diputar.

Tahun segitu harga kaset masih lumayan mahal untuk uang saku anak SD. Kalau mau membeli ya mau tak mau harus menabung dulu. Tidak enak kalau harus meminta uang pada orang tua. Apalagi jika tujuannya adalah untuk membeli kaset–yang orang dewasa di sekitar saya sering menyebutnya–cinta-cintaan. Pasti dibilang belum cukup umur.

IMG_20150219_203012

Sudah lama menunggu, tak ada juga bus yang lewat. Dari dalam rumah, adik saya keluar dan menyebut kalau saya orang yang kurang kerjaan. Adik perempuan saya yang satu ini kadang-kadang memang brutal sekali kalau mengomentari sesuatu.

“A3 sudah nggak jalan lagi. Bangkrut.”

Antara kaget tapi juga sudah pernah menduga sebelumnya bahwa suatu saat kejadian ini pasti akan terjadi. Setahu saya beberapa tahun ini jumlah penumpang bus jalur A3 memang menurun dengan drastis.

Kebetulan salah seorang kerabat jauh ada yang bekerja sebagai sopir bus A3. Pakdhe Gombloh namanya. Kami sempat mengobrol sewaktu saya kebetulan naik busnya sekitar tiga tahunan yang lalu.

Waktu itu Pakdhe Gombloh bercerita kalau penumpang bus sudah susah. Orang-orang lebih memilih naik sepeda motor untuk berpergian. Dan hampir semua orang sudah punya sepeda motor.

Padahal dulu bus jalur A3 ini primadona sekali. Trayeknya luar biasa panjang, dari Terminal Turi, Jombor, Bulaksumur, Maguwoharjo, Purwomartani dan berakhir di Terminal Prambanan. Mau jam berapa saja, hampir selalu dipenuhi penumpang. Susah sekali dapat tempat duduk.

Pakdhe Gombloh cerita kalau dalam sehari bisa menutup biaya operasional saja sudah bagus. Pun itu ia menarik busnya sendiri. Tidak lagi memakai kernet. Terbayang tentu sedikit sekali pemasukan dari penumpang yang ia terima.

Ya sudah, saya pun beranjak ke rumah tetangga di sebelah rumah. Meminjam sepeda angin. Namanya juga selo.

Sesampainya di Toserba Rahayu, dari parkiran tampak etalase yang menjual kaset masih ada. Posisinya pun masih sama, di bagian kiri depan toko.

Namun begitu saya sampai di depan rak, ternyata koleksi kasetnya sudah tak sebanyak dulu lagi. Sudah jauh berkurang. Album musisi dalam negeri hanya tinggal beberapa keping saja, itu pun bukan rilisan baru. Setidaknya ada Andra And The Backbone, Matta Band, Repvblik dan Naif. Warna sampul yang sudah kusam hanya di satu bagian menunjukan bahwa kaset-kaset ini tak pernah lagi dijamah.

Sedang album musisi luar praktis tak ada lagi. Padahal dulu ada banyak. Saya ingat kalau membeli album Hybrid Theory dan Meteora kepunyaan Linkin Park di toko ini. Album wajib remaja circa 2000an awal. Karena sering sekali diputar di MTV. Haha..

Yang masih banyak saya lihat adalah kaset campur sari dan wayangan. Bisa jadi karena pembelinya memang masih banyak, kalangan berumur tentu lebih akrab mendengarkan musik lewat kaset daripada CD atau MP3.

Di belakang etalase, seorang pramuniaga datang menghampiri dan bertanya apa gerangan barang yang sedang saya cari. Ia masih mengenakan seragam pramuka, sepertinya siswa sekolah yang sedang PKL.

Saya bilang bahwa saya sedang melihat-lihat koleksi kaset sambil menanyakan padanya dimana si bapak pemilik toko. Ia memberitahu bahwa pemilik toko baru saja keluar. Namanya ya sedang selo, saya pun memutuskan untuk menunggu.

“Kalau pas saya jaga sih gak pernah ada yang beli kaset lagi,” katanya sembari mempersilahkan saya untuk melanjutkan melihat-lihat kaset.

Di dekat Toserba Rahayu, dulu ada beberapa kios yang menjual kaset-kaset bajakan, pedagang kaki lima. Kalau sedang pasaran, pasti ramai sekali pembelinya. Bagi yang belum akrab dengan istilah pasaran, intinya begini, di masyarakat Suku Jawa, dikenal yang namanya hari pasaran. Ada lima hari, wage, legi, pahing, pon dan kliwon. Nah, untuk pasar tradisional, ada hari pasaran tertentu yang menjadi puncak transaksi antara penjual dan pembeli. Pokoknya jika pasaran-nya tiba, maka keramaian di pasar tersebut akan lebih dari biasanya. Kalau tidak salah ingat, hari pasaran di Pasar Prambanan adalah legi.

Dulu saya pun sempat membeli beberapa kaset bajakan. Harganya kan memang jauh lebih murah. Ketika harga kaset asli 9000, harga kaset bajakan hanya 4000. Itu pun masih bisa ditawar lagi hingga seharga 2500. Plihannya juga lebih banyak daripada yang di toko.

Kekurangan kaset bajakan mungkin karena sleeve cover yang seadanya. Hanya sampul dan daftar lagu. Tidak ada liriknya. Dulu teks lirik ini kan jadi bagian yang lumayan penting. Saat itu akses internet belum semudah sekarang, untuk mendapatkan lirik lagu sumbernya hanya ada tiga : kaset, majalah MBS atau mencatat sendiri dengan mendengarkan lagunya. Yang terakhir niat memang.

Kalau masalah suara, karena tape-nya juga ndak bagus-bagus amat, tidak begitu jauh keluaran suaranya.

Satu jam lebih menunggu, lama-lama ya bosan juga. Dari kejauhan, sayup-sayup bunyi taddaruz Al Quran sudah mulai terdengar. Waktu shalat Jumat akan tiba sebentar lagi.

Rasanya tidaak afdhol jika pulang tanpa membawa sesuatu. Saya pun memanggil pramuniaga yang tadi menghampiri dan menunjuk pada sebuah kaset, album Televisi kepunyaan Naif. Album yang cukup tua usianya, sudah dirilis delapan tahun lalu pada tahun 2007. Ada dua single yang lumayan populer dari album ini, “Televisi” dan “Dimana Aku Di Sini”. Harganya dua puluh ribu, sesuai dengan yang tertera di sleeve covernya.

Saya ingat seorang kawan yang sangat menggemari Naif. Pun ia masih memiliki alat yang bisa dipakai untuk memutar kaset. Tempo hari ia mengunggah foto walkman miliknya di laman instagram. Saya kira kaset ini bisa jadi oleh-oleh yang cocok buatnya nanti.

IMG_20150219_203251

Begitu kaset berpindah tangan, saya berhenti sebentar. Saya keluarkan handphone dari kantong celana. Lantas mengabadikan etalase kaset di Toserba Rahayu dengan kamera. Sebagai kenang-kenangan. Sebelum ia mungkin saja punah, dan hilang begitu saja seperti bus A3 yang kini tak lagi beroperasi di jalan raya depan rumah.

Tak ada penumpang, tak ada pembeli. Akhirnya sama saja. Laju zaman menggerusnya.

Jogjakarta, Februari 2015.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

4 thoughts on “Nostalgia di Toserba Rahayu, Toko Kaset di Pasar Prambanan”

  1. Ketoke A3 iseh ono.soale tonggoku tekan saiki iseh numpak nek arep dodolan neng pasar.btw biyen kan kita sering bareng numpak A3 trus pas SMA tetep ora kenal.haha..

  2. Ahh, betul. Kemarin ini balik ke Terminal Prambanan masih nemu ternyata. Tapi tinggal sithik armada yang masih jalan.
    Omong-omong, iki sopo ya? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.