Serigala Menyeringai di AtAmerica

Saya keluar dari kerumunan, menepi ke pinggir panggung di sebelah kiri yang sedikit lebih renggang, melegakan nafas yang terasa sesak. Sekujur badan terasa begitu gerah, kombinasi hoodie dan kemeja yang berwarna hitam membuat keringat mengucur menjadi lebih deras. Hawa pendingin udara yang keluar dari atap ruangan pun seperti sudah kehilangan efeknya. Kalah oleh amukan segerombolan serigala di sekeliling saya.

Di dekat pintu masuk yang dijaga beberapa orang berbadan tegap, berpotongan cepak dan berseragam hitam-hitam, sesosok perempuan berambut panjang yang tadi membuka acara terlihat memegang plakat lebar bertuliskan “@america”. Ahh, ini tanda bahwa penghujung acara tampaknya memang sudah tidak lama lagi.

Saya pun merapat lagi ke dalam kerumunan yang terlihat masih bersemangat itu; kau bisa melihat tangan-tangan yang mengepal dan tatapan mata yang dipenuhi gejolak emosi. Gerombolan generasi menolak tua. Persis seperti kelakuan empat orang yang sedang berada di depan sana itu.

Dan ternyata benar dugaan saya. Dari atas panggung yang sebagian sisinya dibiarkan gelap, terdengar Arian13 berkata bahwa lagu yang akan segera dimainkan adalah lagu terakhir untuk malam ini.

Tapi sebelum itu, ia meminta kami yang berdiri tepat di depannya untuk duduk berjongkok. Iya, berjongkok dalam posisi yang itu.

“Wahh, mau ngapain lagi ya?” Batin saya dalam hati.

***

Dua tahun saya tinggal di Jakarta, rasanya ada puluhan pertunjukan musik yang sudah saya saksikan. Dan dari sekian puluh itu, ada satu tempat yang jika diadakan pertunjukkan musik di sana, kalau diingat-ingat, rasanya paling rajin saya datangi.

AtAmerica memang tempat yang oke untuk menikmati sebuah pertunjukan musik. Selain kualitas tata suaranya yang menurut saya lumayan jempolan, posisi penontonnya pun diatur dengan sangat nyaman, tempat duduknya disusun bertingkat seperti sebuah amphiteater.

Jadwal pertunjukkan di AtAmerica pun tepat waktu sesuai publikasi acara. Ini tentu menyenangkan karena untuk sebagian orang, jadwal yang ngaret sepertinya menyebalkan dan bisa merusak mood.

Namun karena ruangannya yang memang relatif kecil, pada setiap pertunjukan jumlah penontonnya dibatasi. Sekitar 300an orang saja yang bisa masuk. Selebihnya ya terpaksa harus gigit jari dan menikmati pertunjukan lewat layar proyektor yang disediakan di luar ruangan.

Di AtAmerica, sepanjang pengalaman saya nonton di sana, penonton dikondisikan untuk duduk dengan tertib, dan bahkan duduk lesehan di depan panggung jika tempat duduk sudah terisi. Kecuali sangat penuh seperti ketika konser The SIGIT tahun 2014 lalu, saya dan seorang kawan berdiri di bagian atas belakang (yang tumben waktu itu saya masih dikasih masuk).

Jika ada gelagat sedikit keriuhan yang di luar kendali–sedikit saja–pihak keamanan akan segera ikut campur tangan dan tak segan-segan mengeluarkan penonton dari dalam ruangan. Entah apa parameternya itu. Saya sudah pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Pendek kata, jika kau memang benar-benar ingin menikmati pertunjukkan musik tanpa banyak gangguan di sekitar, rasanya AtAmerica adalah salah satu tempat yang bisa kau datangi. AtAmerica akan memenuhi rasa kesenanganmu.

Bagaimana jika band metal? Sik bentar tunggu dulu.

Saya kok selalu terbayang betapa tidak asyik jika itu digelar di AtAmerica. Bayangkan jika kau mendengar jenis musik seperti itu dan kau hanya bisa duduk tanpa ikut menggerakan badan.

Menonton musik metal tanpa ikut menggerakan badan itu rasanya mungkin seperti ada segelas es kelapa muda di depanmu, pada siang hari ketika panasnya matahari sedang di ubun-ubun, dan kau tak boleh meminumnya karena rasa hausmu akan hilang begitu kau meminumnya. Duh, suramnya maksimal sekali bukan?

***

Sekira belasan Januari 2015 saya membaca publikasi itu. Tanggal 30 Januari 2015 akan ada konser Seringai di AtAmerica. Ini bukanlah yang pertama kali mereka menggelar konser di sana karena pada tahun 2013 Seringai sudah pernah melakukannya.

Diterpa rasa penasaran, saya pun mencari tahu bagaimana jalannya konser Seringai saat itu. Yang saya dapatkan kemudian adalah cuplikan video Arian13 yang seperti sedang ber-stand up comedy. Ia dengan mic di atas panggung dan Serigala Militia, begitu fans Seringai biasa disebut, hanya duduk-duduk saja melihatnya di dalam venue yang terlihat penuh itu.

Tidak saya lihat aksi headbang, moshing atau stage-diving yang biasa ditemui di konser-konser mereka. Entahlah itu berjalan selama keseluruhan konser dari awal hingga akhir atau tidak, saya tidak menyimak keseluruhan videonya. Kalau ternyata memang iya, betapa tidak asyik betul ya.

Maka sebelum berangkat ke sana pada Jumat sore itu, saya lebih dulu membuang ekspektasi tentang apa pun yang bisa jadi akan saya temui di AtAmerica malam nanti. Hajar bae lah, kalau kata orang Bandung mah. Hehe..

Seringai sendiri adalah salah satu band metal paling panas di Indonesia saat ini. Terbentuk pada tahun 2002, band yang beranggotakan Arian Arifin, Bramantyo Hernomo, Ricardo Siahaan dan Edy Susanto ini sudah malang-melintang di berbagai panggung dan festival musik keras di Indonesia. Salah satu yang paling terkenal tentu saja ketika mereka menjadi band pembuka di konser Metallica beberapa bulan silam.

Konser mereka di AtAmerica kali ini pun masih berkaitan dengan hal tersebut. Setidaknya di poster publikasi, tertulis bahwa Seringai akan berbagi mengenai pengalamannya pernah sepanggung dengan Metallica.

***

Pukul tujuh lewat empat menit di layar handphone saya, lagu latar yang sedari tadi diperdengarkan melalui pengeras suara sudah tak terdengar lagi. Satu dua orang terlihat masih memasuki ruangan melalui tirai berwarna gelap yang tergantung di pintu.

Di layar berukuran sekitar lima meter di belakang panggung yang menampilkan sorot cahaya dari perangkat proyektor dari sisi seberang ruangan, film dengan nuansa tempo dulu mulai diputar. Adegan yang menggambarkan beberapa orang pemuda berkonvoi dengan sepeda motor; berlenggak-lenggok seperti penguasa jalanan.

Satu demi satu nama personel dari band Seringai ditampilkan mengikuti alur berjalannya cuplikan film tersebut: Arian, Edy, Ricky dan Sammy. Lantas ditutup dengan sebuah kalimat yang sekaligus juga merupakan salah satu slogan dari band rock oktan tinggi ini, “Generasi Menolak Tua”.

Tahun 2010 lalu, Seringai merilis DVD berisi video dokumenter mengenai perjalanan mereka. Disutradai sendiri oleh Sammy Bramantyo, sang bassist. Isinya kacau balau namun sangat-sangat seru untuk ditonton berulang-ulang. Menghibur sekali.

Seringai juga mempunyai fans base yang bisa dibilang sudah solid. Mereka biasa dikenal sebagai Serigala Militia. Kehadiran Serigala Militia mudah dikenali dengan atribut khas berupa gambar tengkorak yang mereka pakai. Seringai memang akrab dengan gambar ini. Lihat saja logo band mereka, tengkorak serigala yang sedang menyeringai.

IMG_20150130_192601

Sekejap suara denging dari amplifier yang muncul ketika kabel gitar dicolokkan terdengar nyaring. Edy Khemod, drummer bertubuh tambun baru saja duduk di singgasanya di balik set drum. Terlihat Sammy berdiri di sisi kanan panggung memegang stang bass miliknya. Sementara itu Ricky masih membelakangi penonton, menghadap amplifier berwarna hitam yang ada di sebelah kiri. Arian13 sedang melepas mic dari mic stand yang berdiri di tengah-tengah panggung.

Seperti tidak mau mengulangi kejadian pada konsernya yang terdahulu, apa yang mula-mula diucapkan oleh Arian13 begitu ia memegang mic adalah mengajak para penonton yang sudah berada di dalam ruangan untuk berdiri dan mendekat ke arah panggung. Saya pun berdiri dan mendekat kepada kerumunan penonton yang lain, gerombolan Serigala Militia itu.

Sebagai orang yang berdiri paling depan, Arian13 memang punya kharisma yang luar biasa. Apa yang ia ucap bisa terdengar serius dan lucu dalam waktu yang bersamaan. Gaya bicaranya sarkas, tajam dan lugas. Ia bisa membuat orang menolehkan kepala ke arahnya begitu mendengar ia berbicara di atas panggung. Arian13 adalah orang yang berada di balik lirik-lirik kritis yang muncul di lagu-lagu Seringai.

Dari atas panggung, ia beberapa kali sukses membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan ceritanya. Dari pengalamannya mengerjakan PR sebelum tampil membuka konser Metallica, sesi wawancaranya dengan vokalis The Cranberries hingga kasus kaus lencana yang menyebabkan Seringai sempat berurusan dengan pihak Kepolisian.

IMG_20150130_204237

Di luar sesi stand up Arian13, Seringai tampil gahar sekali malam itu. Mereka berempat memainkan nomor-nomor andalannya seperti “Berhenti di 15”, “Program Party Seringai”, “Tragedi”, “Serigala Militia”, “Kilometer Terakhir”, “Psikedelia Diskodom”, “Mengadili Persepsi”, “Mengibarkan Perang”, “Dilarang di Bandung” serta dua nomor cover dari KISS dan satu lagi band metal yang saya lupa namanya (mohon dimaklumi pengetahuan musik metal saya yang nyaris nol, TT).

Konser musik di AtAmerica yang biasanya berjalan penuh ketertiban, hilang sudah malam itu. Gerombolan Serigala Militia berdesakan dalam moshing di ruang sempit di antara panggung dan barisan tempat duduk. Beberapa kali aksi stage-diving tercipta. Pihak keamanan terlihat berjaga seperti orang bingung, sesekali menampakan muka tegang, beberapa di antaranya berdiri di dalam kerumunan.

Puncaknya tentu saja di nomor terakhir, “Dilarang di Bandung”. Dari posisi jongkok–seperti siswa sekolah yang terkena razia polisi–Serigala Militia menghambur dan melompatkan tubuhnya ke atas mengikuti sabetan stick drum Khemod, cabikan gitar Ricky, dentuman bass Sammy dan vokal Arian13 yang menggeram seperti seekor serigala yang bersiap menghadapi terjangan dari musuh-musuhnya.

Jumat malam di akhir bulan Januari, ada serigala menyeringai di AtAmerica. Dan sejenak mereka mengacaukan keteraturan yang lazimnya selalu termanifestasikan di sana.

Jakarta, Januari 2015.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.