Bersendiri di Rinjani (bagian 1)

I. Yang Terjadi Selama Perjalanan Tadi.

Kalau ia adalah manusia seperti kita, Kota Mataram tampaknya sudah bangun dan mengawali aktivitasnya hari itu ketika mobil yang kami tumpangi mulai menyusuri jalan raya.

Pada pagi itu, di sepanjang jalan, kau bisa melihat rumah-rumah–tempat dimana orang-orang menyembunyikan dirinya dari kegelapan malam–membuka matanya kembali lewat pintu pagar yang digeser atau tirai gorden yang tidak lagi menutup jendela; dan satu dua manusia yang terlihat hadir di depannya, menyapu halaman atau sekedar berdiri saja–mungkin sedang memperhatikan sesuatu.

Lampu-lampu penerang yang terpasang di tiang sepanjang jalanan pun telah dipadamkan–matahari perlahan bersinar semakin terang–dan selama setengah hari ke depan, manusia tak lagi membutuhkan mereka untuk bercahaya.

Dari jendela mobil yang terbuka separuh aku bisa melihat berbagai macam kendaraan yang berlalu lalang; mobil, sepeda motor, dokar yang ditarik oleh seekor kuda dan kereta angin yang melaju pelan di bagian paling kiri lajur kendaraan–yang terakhir ini sedikit mengingatkanku pada kota asalku, Jogjakarta, dan membuatku tiba-tiba terpikir bagaimana kabar para pesepeda yang ada di sana sekarang.

Hari ini hari Senin dan upacara bendera terlihat di halaman sekolah yang telah dipenuhi murid-muridnya.

Pak Haji, begitu laki-laki yang usianya kutaksir berkisar antara empat hingga lima puluhan tahun itu membawa mobil yang kami tumpangi dengan santai. Tidak kencang. Tidak pula terlalu pelan sampai-sampai sopir mobil di belakang kami harus membunyikan klakson bilamana ingin mendahului.

Seingatku, butuh waktu tiga jam lebih dari Kota Mataram menuju ke Desa Sembalun, titik awal pendakian yang akan kulakukan selama beberapa hari ke depan.

Sambil menikmati pemandangan yang tergelar sepanjang jalan, aku mengeluarkan pena dan buku kecil dari dalam tas pinggang. Aku mulai mencatat dan mengecek ulang daftar peralatan dan logistik yang kubawa di lembar kertas yang berbeda. Sekedar berjaga-jaga kalau nantinya ada apa-apa.

Mendaki sendiri membuatku merasa harus lebih berhati-hati.

Ciit! Ciiitt!!!

Decit rem terdengar begitu dekat dan seketika memberi efek kejut pada kedua telinga. Seorang pengendara motor baru saja menyeberang dan menerabas keramaian jalan raya. Memotong jalur mobil kami dengan seenak hati sendiri.

Seperti tidak memberi pilihan lain, mobil kami pun berhenti dan membiarkannya lewat terlebih dahulu.

Kulihat ia, pengendara motor yang mengagetkan kami itu, memakai kemeja putih dan celana panjang yang berwarna abu-abu. Sudah lewat pukul setengah delapan pagi saat itu. Kupikir ia lebih takut terhadap teguran guru di sekolahnya daripada harus kehilangan nyawa yang cuma satu-satunya ia punya. Kecuali jika ternyata ia siluman kucing yang punya tujuh nyawa.

Pak Haji sebentar kemudian menengok ke kursi belakang sambil menunjukkan gelagat ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Aku diam dan menunggu apa yang bisa jadi akan segera ia ucapkan.

“Anak muda jaman sekarang memang banyak yang tidak sabaran ya. Selalu ingin cepat-cepat saja.”

Aku mengangguk, mengiyakan. Tidak bisa tidak, karena kupikir memang begitu.

Sudah lebih dari dua jam mobil meninggalkan wilayah kota. Rumah-rumah di pinggir jalan sudah jarang, berganti dengan ladang atau tanah kosong yang terlihat belum mulai digarap. Lamat-lamat barisan pegunungan di latar kejauhan. Sinyal di handphone pun mulai timbul-tenggelam.

Kontur jalanan semakin menanjak. Bunyi mesin mobil terdengar menderu. Beberapa kali Pak Haji harus menurunkan gigi untuk memperoleh tenaga yang lebih kuat guna melibas tanjakan yang memanjang seperti perosotan.

Jendela kubuka lebar. Bersama angin, rasa kantuk pun datang menyerbu. Seperti tanpa ba-bi-bu, hawa tidur menguar jelas tepat di depan batang hidungku.

II. Hujan yang Turun dan Menghidupkan.

Baru beberapa saat yang lalu sejak aku berjalan melewati kawasan hutan yang berpohon jarang-jarang tak jauh dari Desa Sembalun. Di depanku, sejauh mata memandang, savana terhampar luas dan menghijau di banyak sisinya.

Aku berhenti sejenak, lantas menarik bagian bawah bajuku untuk menyeka air hujan yang membasahi kedua lensa kacamata. Sebenarnya percuma saja karena kau tahu, air belum juga berhenti jatuh dari atas sana.

Siang itu, hujan turun deras sekali. Awan mendung terlihat bergulung-gulung di atas langit seperti deburan ombak yang akan menghantam dinding tebing di pinggir Laut Selatan.

Di kawasan hutan yang baru saja kutinggalkan, hembusan angin menggoyangkan dahan-dahan pohon, menggugurkan daun-daun tua yang sudah berwarna coklat ke atas tanah. Kau tahu, hanya masalah waktu saja sampai daun-daun tersebut akan membusuk dan berubah menjadi hara, lantas diserap oleh bulu akar dan dicerna pepohonan yang ada di atasnya.

Kulihat pula tadi satu dua ekor burung yang berloncatan dari satu rimbunan pohon ke rimbunan lainnya. Mereka yang tak pernah menyadari bahwa mereka nantinya akan ikut menyebarkan biji-biji tumbuhan yang telah mereka makan tersebut. Benih-benih tumbuhan yang terbawa sejauh mana burung-burung itu terbang dan berpetualang.

Dalam imajinasiku, barangkali inilah cara Tuhan–Ia yang dari arsy-nya memperhatikan segala sesuatunya terjadi–untuk berkebun di halaman rumah yang sendirinya ia ciptakan dari masa-masa jauh yang telah silam.

Kupikir mungkin, bisa jadi Tuhan sedang ingin bersenang hati di siang hari yang sebetulnya tampak muram bagiku itu.

Setidaknya begitulah yang pernah ibuku katakan sewaktu aku bertanya kepadanya mengapa ia suka berkebun di halaman rumah kami yang padahal luasnya tidak seberapa. Berkebun, kata ibuku, tak pernah gagal untuk menyenangkan hatinya.

Duh, tampaknya berjalan sendirian membuatku berpikir macam-macam.

Di depan sebuah pondokan kecil ia berhenti. Berdiri dengan agak sempoyongan. Kamu bisa melihat sebelah lututnya yang bergetar-getar seperti knalpot mobil tua yang sedang dipanaskan di depan rumah.

Dengan jarak tempuh yang sama, dibandingkan tiga tahun silam ketika ia mendaki bersama kawan-kawannya, baru saja bisa ia tempuh dalam waktu yang kurang dari separuhnya.

Masih di posisi yang sama, ia lantas melepas tali pengait tas ransel yang sejak tadi melekat erat di belakang punggungnya. Kemudian menjatuhkan begitu saja ransel berwarna biru-hitam itu di dekat sepatunya yang mulai dipenuhi bercak-bercak lumpur.

Menjelang sore hari, hujan masih juga turun. Semakin lebat justru daripada beberapa jam yang telah berlalu.

Ia melihat ke sekitar sembari kedua tangannya mengusap-usap rambut di kepalanya yang lepek karena kebasahan. Ada beberapa orang di dalam pondokan. Mereka berdiri berdesakan di bawah atap pondok yang terbuat dari lembaran seng itu.

“Berteduhlah kemari dulu, Nak. Kau kehujanan di luar sana.”

Pria tua yang berdiri paling depan dan mengenakan topi bundar serupa koboi itu meneriakkan sesuatu kepadanya. Tangannya melambai seperti hendak menggapai dan menariknya ke dalam jangkauan.

“Tidak apa-apa, Pak. Aku baik-baik saja di sini.”

Pak tua itu bisa melihat badannya yang sedikit-sedikit menggigil. Tapi toh percuma ajakannya barusan, ia tetap kukuh tak mau beranjak dari tempatnya berdiri. Malahan kemudian, menengadahkan kepalanya seraya menggumamkan sesuatu. Atau barangkali kata-kata yang hanya di dalam hati saja. Aku tak bisa mendengarnya.

“Bukankah hujan ini menghidupkan?”

III. Perihal Penyesalan dan Atau Penyiksaan yang Harus Kau Lalui.

“That which does not kill us makes us stronger.” — Friedrich Nietzsche.

Barangkali kau pun tahu klise ini, bahwa dalam hidup, akan ada banyak hal yang terjadi di luar rencana yang telah kita susun. Atau lebihnya lagi, ada kejadian-kejadian yang sama sekali tidak pernah kita duga akan bisa terjadi pada hidup kita.

Seringnya, kita hanya mempersiapkan diri kita untuk apa yang kita inginkan, tapi alpa untuk perihal-perihal yang tidak kita inginkan.

Kau tahu, akan ada kejadian yang membuatmu merasa menderita sedemikian rupa. Ada pula sesuatu yang terjadi di luar kuasamu dan akan membuatmu menyesal begitu dalam karena kau tak mampu lagi melakukan sesuatu terhadapnya.

Tapi yah, mau itu penderitaan atau penyesalan, rasanya akan sama saja. Ada waktu dimana kau memang harus mampu untuk melalui keduanya, suka atau tidak suka. Karena jika hidup itu seperti roda, kau harus terus mengayuh pedal sepedamu agar roda itu terus berputar.

Jikalau kau sedang mendaki ke Gunung Rinjani melalui jalur Sembalun, Penderitaan atau Penyesalan, entah yang mana diantara kedua nama itu yang kau pilih, adalah nama dari deretan bukit-bukit yang harus mampu kau lewati dalam perjalananmu menuju ke Puncak Rinjani.

Deretan bukit-bukit yang jika kau telah memulainya, akan memaksamu untuk terus berjalan ke depan. Hanya ke depan saja. Tidak ke ke kanan, tidak pula ke kiri. Ada jurang-jurang dalam yang akan menyambutmu di kedua sisinya.

Di sebuah pohon yang sudah tumbang aku berhenti. Duduk sejenak sembari mengatur nafas yang sudah terengah. Hujan sudah tak lagi turun, walau awan mendung masih terlihat menggantung. Tapi biarlah, mau hujan lagi pun tak apa, toh badan sudah basah sepenuhnya.

Aku menengadahkan kepala ke arah atas, lantas menengokkan pula ke arah bawah sana. Yang kulihat sama saja. Tak ada penampakan manusia-manusia yang lain di sekitar sini. Mungkin karena memang bukan musimnya liburan, tidak banyak pendaki lain yang aku temui sepanjang perjalanan tadi.

Menemani sepi yang terasa semakin menyayat, aku pun mengambil pemutar musik dari dalam tas. Dan entah kebetulan atau tidak, yang pertama terputar adalah Society-nya Eddie Vedder. Wah, sial sekali. Hahaha..

Bersambung…

Rinjani, Juni 2014.

Tulisan sebelumnya : “Mendaki Gunung Lewati Lembah, Bukan Entah“.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

5 thoughts on “Bersendiri di Rinjani (bagian 1)”

  1. “Seringnya, kita hanya mempersiapkan diri kita untuk apa yang kita inginkan, tapi alpa untuk perihal-perihal yang tidak kita inginkan.” Nice!
    Tapi kadang bahkan sering juga yang tidak terduga itu ternyata kejutan yang membahagiakan 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.