Bersendiri di Rinjani (bagian 2)

IV. Melalui Malam yang Gigil.

Karena siang tadi tak banyak pendaki lain yang kutemui, kupikir tidak akan terlampau ramai pendaki yang hari ini akan bermalam di Pelawangan Sembalun. Nyatanya dugaanku salah besar. Begitu sampai di Pelawangan Sembalun, tenda-tenda dengan berbagai macam warna terlihat sudah berdiri dan berjejeran dengan rapi.

Toh begitu, ketika aku melewati barisan tenda-tenda tersebut, tetap saja tak banyak sosok yang aku temui. Hanya satu dua porter saja yang kulihat masih berada di luar, mengelilingi api unggun kecil di depan tenda mereka yang berbahankan kain terpal itu.

Padahal malam belum larut terlampau jauh. Bulan dan bintang saja masih belum terlihat di atas langit sana. Hawanya juga masih cukup nyaman, tidak terlampau dingin rasanya dibandingkan ketika tiga tahun lalu aku bermalam di sini.

Di bawah sebuah pohon pinus aku mendirikan tenda tempatku bermalam nanti, sebuah dome kecil berkapasitas dua orang yang kondisinya sudah agak menyedihkan. Lantas memasang kayu pasak kuat-kuat di keempat sisinya, menguatkan posisinya agar tak bergerak kemana-mana.

Berdasarkan pengalamanku dulu, terjangan angin di Pelawangan Sembalun akan semakin hebat-hebatnya menjelang waktu tengah malam.

Kau tahu, bagian yang paling menyenangkan dan barangkali akan selalu kau rindukan dalam sebuah pendakian adalah apa yang terjadi ketika waktu malam sudah tiba.

Salah satunya adalah ketika kau dan kawan-kawan sependakianmu sedang berkumpul mengelilingi tumpukan kayu bakar yang apinya menjilat-jilat ke atas itu. Dengan lembaran matras atau potongan kayu yang kalian jadikan alas untuk duduk, gelas-gelas plastik berisi kopi hitam atau teh manis yang diangsurkan dari satu tangan ke tangan yang lainnya, dan tentu saja, obrolan ringan mengenai kejadian-kejadian menggelikan yang barangkali terjadi selama perjalanan siang tadi.

Detik demi detik yang kemudian berlalu tanpa terasa, rasa kantuk yang seakan tertunda karena suara gelak oleh sebab kisah konyol yang bisa jadi diceritakan oleh salah seorang kawanmu. Suasana malam yang penuh kehangatan dan kau menjadi tak ingin segera mengakhirinya dengan terlelap begitu saja.

Malam ini, terpikirkan hal barusan membuatku berharap agar rasa kantuk segera datang, dan memutuskan untuk buru-buru menutup pintu dome saja. Kupikir segera tertidur adalah pilihan yang masuk akal karena tak ada hal lain lagi yang bisa kulakukan seorang diri di sini.

Sekitar pukul sebelas malam, aku tiba-tiba terbangun karena sebuah hempasan keras menyebabkan tenda dome-ku bergoncang dengan hebat. Aku pun beringsut keluar dari dome dan menemukan sebuah pasak yang terlepas dari tempatnya. Lain dari itu, kulihat kondisi dome masih baik-baik saja.

Meski rasa kantuk masih sangat terasa, aku sadar tak boleh begitu saja melanjutkan tidurku. Begitu terbangun barusan tadi, aku merasakan hawa dingin yang seperti lepas di luar kendali; ujung jari tangan yang kebas, geraham yang saling bergemeretakan, juga tubuh yang bergetar dan menggigil tak henti-hentinya.

Di luar, hembusan angin yang seperti menampar-nampar terdengar begitu jelas di ruang telinga. Bunyi tiang-tiang frame yang saling berdecit pun tak mau ketinggalan ikut menimpali.

Tiba-tiba terlintas di benakku akan serangan hypothermia yang mungkin terjadi jika aku tertidur dengan kondisi badan yang seperti ini. Dan semakin membuatku merasa ngeri karena tak ada orang lain yang akan menyadarkanku bilamana itu benar-benar terjadi.

Aku pun menuang cairan spiritus ke dalam kompor trangia, menyalakannya untuk menjerang air panas. Sebatang lilin tak ketinggalan ikut pula kunyalakan. Meski tidak seberapa, setidak-tidaknya ada sumber panas yang akan menghangatkan tubuhku hingga beberapa jam ke depan.

Berlapiskan kantung tidur, aku meringkuk seperti anak beruang di dalam dekapan induknya. Sambil memandangi pijarnya api lilin yang bergoyang goyang di depanku itu, aku memikirkan apa saja yang mungkin bisa membuatku tetap terjaga. Sialnya, hanya pikiran tentang hypothermia saja yang sedari tadi berkutat di dalam kepala. Duh.

V. Peniti Puncak yang Perlahan. 

Ketika itu, nafasnya terdengar memburu. Dadanya terasa lebih sesak. Sekat yang memisahkan bilik-bilik di dalam paru-parunya seperti menyempit dengan kemauannya sendiri. Ia pun berdiri menegakkan badannya, sebentar kemudian berusaha mengatur tempo nafasnya menjadi lebih perlahan.

Ia harus menghirup udara dalam tempo yang lebih panjang dari biasanya. Dan sebaiknya tidak tergesa. Sekira sudah separuh jalan menuju puncak ia berlalu dari tempatnya bermalam tadi. Semakin tinggi ia mendaki, semakin tipis udara yang bisa ia konsumsi. Seharusnya ia tahu betul hal itu. Ini bukan pertama kalinya ia mendaki.

Ia menengokkan kepalanya ke atas. Sekumpulan titik-titik cahaya berurutan seperti barisan semut yang mencium aroma manis makanan. Ia melihat titik-titik cahaya tersebut, cahaya yang bersumber dari alat penerangan yang dibawa oleh para pendaki, perlahan-lahan bergerak menjauh darinya, bergerak semakin tinggi, dan semakin tinggi lagi. Barangkali, menggapai Puncak Rinjani sebelum terbitnya matahari adalah tujuan mereka.

Di samping ia berdiri, sedikit ke depan arah kanan, beberapa orang lain sedang duduk di bawah naungan batu yang cukup besar. Seperti berlindung dari terpaan angin yang sesekali masih menyambar-nyambar. Tak lagi melihat ke atas, ia pun memutuskan untuk berisitirahat terlebih dahulu.

“Puncaknya masih jauh. Kalau sudah tak kuat, berhenti saja. Turun, sudah siang.”

Laki-laki yang berkalungkan kain sarung itu menyarankan hal tersebut kepadaku yang sedang berdiri seperti kepayahan. Aku hanya tersenyum dan tidak menanggapinya lebih lanjut. Mungkin di matanya, aku sudah terlihat tak akan sanggup lagi mendaki hingga Puncak Rinjani. Padahal barusan tadi aku hanya bertanya, sekadar ingin tahu, masih ramaikah pendaki lain yang ada di puncak sana.

Laki-laki itu lantas bergerak turun dan berlalu begitu saja melewatiku. Asap dan debu yang muncul dari jejak langkahnya yang bergerak turun mengepul dengan jelas di dekat  tempatku berdiri. Kurasa aku akan terbatuk-batuk dengan hebat seandainya tidak segera memasang kain penutup mulut kembali.

Pagi sudah lewat sejak beberapa jam yang lalu. Matahari tak hanya hangat, tetapi sudah terik bersinar di atas langit. Di bawah tadi aku tertidur cukup lama, berkawan dengan beberapa porter yang berhenti untuk menemani pendaki mereka yang tak melanjutkan perjalanan hingga ke puncak.

Tak hirau dengan kata-kata yang barusan kuterima, aku pun bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan kembali. Seperti kata Melancholic Bitch, ikuti saja jalannya. Ikuti saja jalannya.

Ada banyak hal yang barangkali kau inginkan dalam hidupmu. Mungkin sebuah pencapaian. Mungkin pula juga ribuan tujuan. Perihal-perihal yang ingin bisa kau raih, untuk alasan yang entah apa itu.

Barangkali kau bisa menggapainya dengan mudah. Barangkali pula, kau harus berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkannya. Ada banyak rute, ada banyak pilihan jalan, dari yang lurus-lurus saja, hingga penuh liku seperti labirin di dalam bangunan piramida.

Bisa jadi kau putus asa, berhenti berusaha guna mendapatkannya. Bisa jadi pula kau akan tetap berkeras kepala, semustahil apapun kelihatannya. Dari titik akhirmu, bisa jadi kau hanya tinggal satu langkah, bisa jadi pula masih jutaan langkah lagi hingga akhirnya kau tak tahan dan memilih untuk menyerah saja.

Kau tahu, bagaimana hasil akhirnya nanti, kau akan melihatnya dalam dirimu sendiri, pada prosesnya, kau akan melihatnya dalam dirimu sendiri. Selalu dalam dirimu sendiri. Kau pun tahu itu.

IMG_20140603_080243

VI. Pada Puncak yang Diselimuti Sunyi. 

Akhirnya pendakianku pagi ini mencapai titik akhirnya juga, dengan rasa lelah yang hampir purna terengah.

Aku pun menelantangkan begitu saja badanku di dekat gundukan batu-batu yang di sela-selanya terpasang tiang kecil dengan bendera merah putih yang berkibar-kibar oleh angin itu, bersemangat seperti genderang yang akan maju menuju medan perang.

Setelah pada jam-jam terakhir menapak pasir yang seakan tak mau dipijak terlalu lama, menemukan diri bisa terbaring dengan nyaman terasa amat melegakan. Pun ketika menatap lekat-lekat pada langit biru yang seperti tanpa batas itu. Kau tahu, rasanya menyenangkan betul, seperti tak ada beban lagi yang harus disunggi. Seperti hilang, terlepas begitu saja.

Suasana puncak lengang. Tak terlihat lagi ada pendaki lainnya. Hanya ada aku saja di sana. Begitu sunyi. Sunyi sekali. Dan ya, aku tahu aku harus bersyukur ketika berkesempatan merasakannya kembali. Menikmatinya kembali seperti pertemuan dengan kawan lama yang lama tak dijumpa. Iya sunyi itu. Kesunyian yang kau dambakan itu.

Kesepian, dalam keramaian yang paling gaduh pun kau bisa merasakannya. Ia akan menembus pori-pori dan mengalir ke sekujur tubuhmu lewat pembuluh darah yang mengalir tanpa henti hingga saat kematianmu tiba.

Tapi sunyi, kau tahu sunyi, bahkan dalam kesepian yang paling menyayat pun kau tak selalu bisa menemukannya. Ini, kau tahu, bukan perkara yang terlihat secara kasat mata. Adalah bagaimana caranya kau merasakan dirimu sendiri, dan menemukannya dengan apa yang ada di sekitarmu.

Barangkali sepi bisa membunuhmu. Barangkali sunyi akan menguatkanmu. Barangkali memang begitu. Atau barangkali tidak harus seperti itu? Entahlah.

Bersambung…

Rinjani, Juni 2014.

Tulisan sebelumnya : “Bersendiri di Rinjani (bagian 1)“.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

2 thoughts on “Bersendiri di Rinjani (bagian 2)”

  1. Wah luar biasa berani naik sendiri gini Nu. Aku cuma berani solo di kota negara tetangga, heuheu. Nah klo aku emang butuh menyendiri once in a while, pas menyendiri jarang kesepian :p

Leave a Reply

Your email address will not be published.