Barbel Ebol

Ebol duduk di bangku panjang belakang sekre. Tangannya memegang sebatang rokok yang tinggal separuh. Mulutnya tak berhenti mengoceh, lagaknya mencandai setiap orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Pada dasarnya ia memang tak bisa diam, isengnya tak kepalang lagi.

Karena sudah memasuki masa-masa Pendidikan Dasar, hampir di setiap minggu ada anggota yang berangkat ke lapangan. Macam-macam keperluannya, mulai dari survei jalur hingga sekedar mengurus perijinan untuk tempat penutupan.

Rencananya hari ini Arnan, Rendy dan Ebol akan berangkat untuk melakukan survei jalur di daerah Pegunungan Ciwidey. Di dalam ROP (Rencana Operasional Perjalanan) tertulis bahwa mereka akan mengadakan perjalanan selama dua hari, bermalam satu kali saja di dalam hutan.

Dasarnya sudah sering atau karena memang tak terlalu banyak yang harus dibawa, ketika saya datang siang itu, tiga buah tas sudah terkumpul jadi satu di pojok ruangan sekre.

Saya lihat Ebol sudah memakai setelan gunung andalannya; gerimis-coat abu-abu merah, celana panjang parasit yang entah milik siapa dan sebuah topi baseball yang jika diputar ke belakang akan membuat penampilannya jadi mirip dengan Fred Dust. KW Thailand.

Lesehan di dalam sekre, Arnan sedang mengeplot jalur di lembaran peta. Menorehkan pena membelah garis-garis kontur yang melingkar-lingkar seperti ular.

Satu personel yang lain, Rendy, tak jelas batang hidungnya. Kemungkinan besar ia sedang mempersiapkan stok persediaan curahan hatinya. Kau tahu, ia punya banyak sekali kisah yang tak akan habis-habis ia bagikan kepada kawan-kawannya. Arnan dan Ebol akan kebagian jatahnya malam ini. Menjadi pendengar yang terpaksa.

Sebentar duduk di belakang, saya pun masuk ke dalam sekre, menyimpan beberapa lembar kertas di dalam laci Badan Pendidikan. Hasil bimbingan Tugas Akhir yang membuat pening kepala beberapa minggu belakangan.

Terdengar Ebol memanggil nama saya. Tampaknya ada yang hendak ia tanyakan. Barangkali tentang jalur survei yang akan ia datangi sebentar lagi. Saya pun mengiyakan panggilannya, namun tak langsung menyambangi tempatnya berada. Ada sesuatu yang tiba-tiba menarik perhatian saya.

“Tumben packingnya cepet lu, Bol? Udah rapi aja tas di dalem.”

Ia menjawab sambil tertawa. Dalam hati saya sedikit kaget. Tumben sekali ia tidak sedikit pun menaruh curiga dengan maksud pertanyaan saya tersebut.

Sore menjelang. Arnan, Rendy dan Ebol sudah sampai di titik camp malam ini. Perjalanan dari kampung terakhir mereka tempuh kira-kira dalam dua jam saja. Track-nya memang tidak terlampau menanjak. Cukup mengikuti jalan setapak yang melintasi ladang penduduk hingga memasuki kawasan hutan.

Tiga buah tas yang menempel di punggung sudah diletakkan di atas permukaan tanah. Sambil menyulut rokok, satu per satu packingan di dalam tas mereka bongkar. Mereka bertiga harus sudah selesai mendirikan camp sebelum waktu malam tiba.

Tanpa diduga, tiba-tiba Ebol tertawa keras sekali. Sambil memaki-maki, ia mengeluarkan barbel warna silver berbobot lima kilogram dari dalam tasnya. Mendadak ia sadar kenapa barusan tadi tasnya terasa lebih berat daripada yang seharusnya.

Berpuluh-puluh kilometer dari tempat tersebut, berbaring dengan nyaman di dalam sekre, kuping saya tiba-tiba terasa gatal. Tampaknya ada yang sedang menyebut-nyebut nama saya. Rasanya saya tahu siapa orangnya.

1982004_10203091334917151_2006093035_n

Jakarta, Juni 2015.

PS : Diunggah ulang dari blog alpakamerah.tumblr.com.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.