Bedchamber dan Pagi yang Melangut

Pada sebuah pagi, saya terbangun dari tidur untuk yang kedua kalinya ketika suara knalpot dari sepeda motor dengan berbagai merk yang lewat di seberang kamar sudah terdengar begitu semarak. Lamat-lamat terdengar pula suara dari penjual sayur yang berteriak menjajakan barang dagangannya kepada para penghuni kompleks.

Saya meraih handphone yang ada di samping tempat tidur. Sudah lewat beberapa belas menit dari pukul delapan rupanya.

Kau tahu, ini adalah hari yang begitu sempurna untuk bermalas-malasan jika kau tidak harus pergi kemana-mana. Hujan yang turun menjelang subuh tadi membuat suasana pagi ini terasa begitu nyaman. Ada hawa melangut yang teruar di setiap sudut dalam kamar.

Saya menyalakan koneksi internet di handphone, yang segera saja diikuti oleh datangnya notifikasi pesan dari beberapa aplikasi yang tertera di pojokan layar. Barangkali kau pernah mengalaminya pula, ketika kau baru saja menyalakan handphone sekembalinya kau dari pedalaman rimba hutan dan pesan-pesan itu kemudian datang dengan gaduh meminta untuk segera diacuhkan.

Sayangnya bukan untuk alasan itu saya harus merusak kenyamanan meringkuk di dalam selimut hanya untuk memegang handphone–yang makin lama rasanya semakin menunjukan peranannya sebagai piranti pendistraksi alam pikiran manusia. Begitu terbangun beberapa menit yang lalu, tiba-tiba saja ada band yang lagu-lagunya ingin saya dengarkan, bedchamber.

Mereka, kalau-kalau kau belum pernah mendengarnya, adalah sebuah indie pop band yang masih muda. Muda usia sebagai sebuah band karena bedchamber baru berdiri pada tahun 2013 lalu dan muda usia karena para personelnya yang masih berada di rentang belasan akhir–atau dua puluhan awal saat ini, ya sekitar-sekitar itulah.

Indie pop-nya bedchamber terdengar begitu menyenangkan. Tidak terasa pretensi menjadi aneh atau berbeda. Apa yang mereka mainkan berada dalam porsi yang asyik, komposisi pop yang sedap betul. Petikan gitar yang jangly, vokal yang terkesan dreamy serta barisan lirik yang dituliskan dengan jujur.

Album debut mereka, Perennial E.P, barangkali seperti jaket parka yang dipakai penduduk Bristol ketika musim dingin tiba, atau kain selimut tebal saat hujan deras turun di malam-malam yang sunyi di kaki Pegunungan Ciwidey. Kau tahu, seperti memberikan rasa nyaman yang sekiranya memang kau butuhkan.

Dan pagi ini, “Departure”, favorit saya dari lima buah track yang ada di album Perrenial, rasanya adalah teman yang pas buat saya menikmati rasa malas.

Saya pun memutar “Departure” berkali-kali. Mendengarkannya seraya mengingat kembali bagaimana cara yang menyenangkan untuk memulai hari pada bertahun-tahun yang telah silam. Sembari melupakan kenyataan bahwa dalam lima belas menit ke depan saya seharusnya sudah berada di dalam kantor karena ada user yang ingin melakukan pengetesan aplikasi.

The past they guide the time to feel
you close your eyes and win your fears.
The skies are grey it’s filled with dreams
when it’s time to rain you’re soaked in vain.

Departure – bedchamber.

perennial

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.