Sebuah Foto dan Ingatan Tentang Kawan Baik

Karena membaca tulisan Yasser siang tadi, malam ini saya jadi kepingin melihat lagi foto-foto pendakian gunung yang saya lakukan semasa duduk di bangku SMA. Album foto yang pernah saya unggah di laman Facebook pun segera jadi jujukan.

Pada sebuah foto, tiba-tiba keasyikan saya malam ini terhenti. Sekejap kemudian perca-perca itu seperti hadir di dalam kepala dan mulai menyusun detil-detil peristiwa yang dulu pernah terjadi.

Saya pun menutup mata dan membiarkan momen ini bekerja dengan sendirinya.

Barangkali ini serupa dengan kejadian yang pernah ditulis oleh Zen RS dalam salah satu esainya, Madelaine. Mengenai “involuntary memory” : kenangan yang muncul tiba-tiba karena dipicu suatu hal yang dengan serta merta membangun kembali satu bagian atau totalitas dari masa lalu.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Foto itu, kau bisa melihatnya di atas, membawa saya kembali ke pertengahan tahun 2006. Dan seperti baru terjadi kemarin lusa, ingatan tentang peristiwa tersebut malam ini tergambar begitu jelas di dalam kepala saya.

Kala itu, bersama dua orang kawan baik, saya melakukan pendakian ke Gunung Merbabu. Namun bukan jalannya pendakian itu yang hendak saya ceritakan kali ini.

Semua dimulai pada sebuah hari yang cerah di pertengahan bulan Juli tahun 2006. Beberapa minggu setelah gempa besar yang mengguncang Yogyakarta, suasana sekolah yang biasanya ramai hingga sore hari terasa lebih cepat sepinya. Praktis tak banyak kegiatan ekstra sekolah yang bisa dilakukan, suasana pasca bencana masih lekat-lekat.

Berawal dari obrolan ngalor-ngidul di samping lapangan basket, saya dan Yanuar membikin rencana untuk melakukan pendakian ke Gunung Merbabu. Yanuar adalah adik kelas yang sekaligus juga adik angkatan saya di THA, organisasi pencinta alam di SMA kami. Lain kali saya akan menuliskan cerita tersendiri tentangnya.

Berdua, kami pun berbagi tugas untuk menyiapkan perlengkapan dan logistik yang akan digunakan. Tas carier, tenda dome, panci nesting, kompor parafin bisa kami dapat dengan cepat dari ruang sekretariat THA.

Sebetulnya agak was-was juga rasanya mengingat kami hanya berdua saja dalam pendakian kali ini. Terlebih kami berdua sama-sama belum pernah mendaki melalui rute yang kami rencanakan, Jalur Selo.

Sore sebelum keberangkatan, tiba-tiba Yusrin datang dan menghampiri kami yang hampir selesai beberes packing. Entah darimana ia mendapat kabar bahwa kami hendak mendaki Gunung Merbabu.

“Mosok iyo kowe tak jarke munggah dhewe, Wizz.”

Masa iya aku membiarkanmu naik gunung sendiri, Wis.

Itu adalah jenis kalimat yang jika kau mendengarnya dari kawan baikmu, tidak akan mungkin bisa kau lupakan sepanjang hidupmu. Kau bisa mengingatnya kapan saja, dan kau akan selalu merasa gembira karena pernah mendengarkannya.

Jadi begini, meskipun itu adalah pendakian saya yang kesekian kalinya, pendakian ke Gunung Merbabu saat itu mulanya akan menjadi pendakian pertama saya tanpa kawan-kawan satu angkatan.

Pada masa-masa SMA, saya punya riwayat kesehatan yang buruk sekali jika sedang mendaki gunung. Saya hampir tak pernah melewati satu pun pendakian tanpa terserang penyakit.

Begitu meninggalkan basecamp, inilah yang kemudian akan saya rasakan : kepala berkunang-kunang, nafas tersengal-sengal dan dada yang berdebar tak keruan. Sebelum kemudian diakhiri dengan rasa mual yang sangat dan memuntahkan sesuatu dari dalam perut.

Kawan-kawan saya hafal betul dengan kebiasaan saya ini. Dan Yusrin, adalah kawan saya yang paling sering berada di situasi tersebut.

Belakangan saya tahu bahwa ini merupakan gejala AMS, Acute Mountain Sickness. Penyakit yang disebabkan oleh perubahan ketinggian yang cepat dan mendadak sehingga menyebabkan berkurangnya kadar oksigen yang bisa diserap oleh tubuh manusia.

Menyadari bahwa dalam sebuah perjalanan akan ada kawan baik yang berada di sekitarmu tentu saja merupakan hal yang menyenangkan. Tetapi yang jauh lebih menyenangkan lagi adalah ketika kau menyadari bahwa dalam hidupmu kau tidaklah berjalan sendirian, kau punya banyak sekali kawan-kawan baik di luar sana.

Dan sore itu, kata-kata yang Yusrin ucapkan menyadarkan saya kepada hal tersebut.

Pada pendakian yang kami lakukan keesokan harinya, tentu saja saya masih muntah-muntah. Pun seperti kata Yasser, masih saja sok-sokan untuk meminta kawan-kawan saya berjalan duluan.

Dan saat itu terjadi, seperti biasanya, Yusrin berada beberapa meter di depan saya. Hanya diam tanpa berkata apa-apa. Entah apa yang dipikirkannya.

Jakarta, Oktober 2015.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.