Warung Ayam Bewok

Barangkali kita bisa bersepakat dengan hal ini–kalaupun menurutmu tidak, aku rasa itu tak akan menjadi soal yang teramat penting sampai harus diperdebatkan–bahwa tak banyak hal yang lebih menyenangkan daripada bertemu dengan kawan lama yang sudah jarang untuk dijumpa.

Bersama mereka, ada banyak hal yang lantas bisa dibicarakan dengan bebas, baku sapa tanpa perlu mengikutsertakan prasangka, hubungan imbal balik atau perhitungan untung rugi laiknya sebuah proses transaksi–saya menjual dan kamu membeli.

Bertemu kawan lama adalah saat untuk mengingat kembali perihal remeh yang terjadi di masa dulu, seperti kisah-kisah lucu yang tak usang diceritakan ulang. Seraya menertawainya dengan perasaan yang selepas-lepasnya.

Atau di lain waktu, adalah saat dimana kita bisa saling berbagi tanya. Tentang segepok kecemasan-kecemasan yang kita rasakan. Seperti masa depan yang makin terentang dan kian bercabang-cabang. Apa yang barangkali kita sama-sama tak pahami dengan benar

Saya meraih segelas besar kopi es yang tadi saya pesan. Meneguknya dalam-dalam sembari mengingat-ingat sudah berapa gelas kopi yang saya minum hari ini. Empat atau lima saya tak ingat dengan pasti.

Di samping depan saya, Rendy duduk bersandar di punggung sofa. Sebatang rokok terselip di antara jari jemari tangannya. Sudah beberapa menit berlalu sejak ia terakhir menghirup rokok di tangannya tersebut; ujungnya terlihat memuntung sebagian, menunggu untuk patah dan jatuh menjadi abu.

Duduk di kursi sebelahnya, Anul menopangkan sebelah tangannya pada pinggiran kursi. Pandangan matanya tertuju pada layar smartphone yang ia pegang, jarinya naik turun seperti sedang men-scroll sesuatu.

Pada momen yang singkat itu, kami bertiga seperti sedang bersepakat untuk mengambil jeda sebentar, usai beberapa menit yang menyenangkan bertukar cerita. Malam itu, Rendy jadi bintang tamu utamanya.

Suasana di Bakoel Koffie, tempat dimana kami berada, lumayan ramai. Susunan meja dan kursi sudah terisi hampir seluruhnya. Terlihat satu dua orang pramuniaga yang berhilir mudik membawakan pesanan para pengunjung. Beberapa diantaranya sedang bergurau di dekat meja bartender.

Dari pengeras suara yang ditaruh di beberapa titik, terdengar tembang-tembang populer yang disuka banyak orang. Coldplay, The Script, Katy Perry dan Elly Goulding adalah sedikit nama yang saya ingat di antaranya. Sesekali mulut tanpa sadar bergerak mengikuti lirik lagu yang sedang diputar.

Saya melihat jam di layar handphone. Masih ada beberapa jam yang panjang hingga menutup hari. Di luar, orang-orang masih ramai berlalu lalang ke tempat-tempat yang mereka ingin didatangi. Deru mesin dan dering klakson kendaraan yang sayup-sayup terdengar dari jalan raya di seberang kafe adalah salah satu penandanya.

Rendy terlihat sedikit berbeda. Raut mukanya memancar lebih cerah. Suara tawanya pun terdengar dengan lepas. Ia tampak jauh lebih berbahagia dibanding tiga bulan yang lalu ketika saya terakhir kali bertemu dengannya.

Selepas mengambil keputusan untuk tidak memperpanjang kontraknya sebagai pegawai di kantornya dulu, ia berubah suram. Karismanya sebagai laki-laki terganteng nomor dua di sekre pun seakan melenyap begitu saja.

Hari-hari tersebut, boleh dikata Rendy seperti tak bersemangat menjalani hidup. Persis seperti samurai Jepang yang baru kehilangan tuannya di medan perang. Ronin yang keberadaannya tidak dihiraukan.

Saya ingat saat itu Rendy bercerita bahwa ia bercita-cita untuk memiliki usaha sendiri. Ia mengungkapkan rencananya untuk membuka sebuah warung makanan. Saya tergelak mendengar rencananya tersebut, sembari menyangsikan kemampuannya dalam memasak.

Processed with VSCOcam with hb1 preset

Di antara kawan-kawan yang lain, sepengetahuan saya, Rendy jarang terlihat sedang bersibuk-sibuk di dalam dapur. Sukar kemudian membayangkannya sedang berdiri di belakang kompor, atau duduk di depan cobek untuk meracik bumbu-bumbu. He he he…

Di sekre kami, laki-laki yang punya kemampuan untuk memasak sebetulnya adalah hal yang biasa. Apalagi yang jam terbang berkegiatannya lumayan tinggi. Biasanya, kemampuan mereka dalam masak-memasak pun akan berbanding lurus dengan jam terbangnya di lapangan.

Salah satu hal yang sering disepelekan ketika seseorang berkegiatan di alam bebas adalah mengenai makanan. Sering kali, bahan makanan yang dibawa berkegiatan tidaklah memadai, bahkan terkesan seadanya saja. Bahan makanan yang dibawa biasanya tidak jauh-jauh dari mie instan, sarden atau roti.

Padahal idealnya makanan yang kita konsumsi selama di lapangan dengan apa yang sehari-hari kita makan haruslah sebanding. Terutama dari segi kalori dan asupan gizinya. Komposisi dan pemilihannya harus diperhatikan betul karena menyangkut keselamatan dan keamanan diri.

….

Sekira tiga bulan yang lalu, bersama dengan Ebol, kawan satu angkatannya di sekre, Rendy me-launching usaha warung makannya yang diberi nama Ayam Bewok. Belakangan ikut pula bergabung satu kawan seangkatan mereka yang lain, Ilfan.

Sesuai namanya, menu utama yang mereka jual berbahan dasar daging ayam. Mulai dari ayam penyet, ayam jambang, ayam jenggot hingga ayam kumis.

“Semua punya rasa khas masing-masing, Nuk,” begitu penjelasan Rendy kepada saya malam itu.

Selain menu ayam, mereka menjual pula beberapa menu sayuran seperti tumis kangkung, tumis toge dan sayur asem.

Malam itu, Rendy mengungkapkan pula rencananya untuk membuka warung di salah satu kawasan yang terbilang ramai di Kota Bandung.

Selama ini, Ayam Bewok memang masih terbatas pada layanan delivery order. Cakupannya pun belum terlalu luas, hanya di sekitaran kawasan Kampus Telkom saja. Pelanggan tinggal memesan dan makanannya akan segera diantarkan.

Membuka warung betulan tentunya memiliki tantangan tersendiri. Variabel-variabelnya menjadi semakin kompleks. Butuh strategi dan langkah-langkah jitu untuk meraih hasil yang diinginkan.

Dari segi keuangan saja, mereka kini harus memperhitungkan pula biaya sewa tempat, listrik, pajak hingga membayar uang keamanan. Pun cara-cara marketing yang harus mereka pilih untuk mempopulerkan warungnya hingga ramai didatangi pembeli.

Tapi sebanding dengan resiko yang menjadi semakin besar, begitu pula dengan potensi keuntungan yang bisa mereka didapatkan.

Apakah kelak Ayam Bewok akan berkokok makin kencang atau justru dipotong dan dijadikan gulai ayam, tak ada yang bisa memastikan itu hal itu sekarang.

Toh Rendy, kawan saya ini, sudah pernah membuktikan bahwa selama ada niat dan tekad, selama itu pula keinginan dan cita-cita pasti bisa diusahakan.

Ia adalah siswa Pendidikan Dasar yang tersebab kecerobohannya yang begitu legendaris, eksistensinya “diabaikan” selama hampir dua per tiga akhir masa pendidikan. Dan ia tetap sukses bertahan hingga hari penutupan. Kisah klasik yang hingga puluhan tahun kelak barangkali akan selalu kami ceritakan-ulang jika sedang bersua. Tak lain dan tak bukan untuk mengejek ia tentu saja. Ha ha ha…

Yang jelas, selamat memasak, ehh berjuang, Bung! Jangan lupa traktir untuk saya satu porsi.

Jakarta, Agustus 2015.

PS : Diunggah ulang dari blog alpakamerah.tumblr.com. Sekadar informasi, mulai bulan September lalu, Warung Ayam Bewok bisa kamu kunjungi di Jalan Terusan Buah Batu, Kabupaten Bandung. Lokasinya tak jauh dari pintu gerbang Kawasan Kampus Universitas Telkom. Mampirlah, yang jualan kece-kece lho.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

2 thoughts on “Warung Ayam Bewok”

Leave a Reply

Your email address will not be published.