Di Sekitar Tugu Monas

12234931_10207318171185416_1331867356383236961_n___

Saya sedang terpekur dengan khusyu’ ketika seseorang yang entah dari mana datangnya tiba-tiba menghampir ke tempat saya duduk, sebuah bangku besi dengan cat mengelupas yang berada di atas trotoar. Sudah hampir tengah malam saat itu, meski kendaraan masih saja ramai berlalu-lalang. Mungkin karena besok adalah hari Minggu.

Ia bilang kalau hendak pergi menemui salah seorang kawannya di daerah Kampung Melayu, tetapi tidak tahu apa kendaraan umum yang harus dinaikinya. Saya bilang kepadanya, jika sudah larut malam begini, hampir mustahil kalau ada kendaraan umum yang masih beroperasi. Mungkin taksi, lanjut saya kepadanya.

Ia diam sejenak, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu yang entah itu.

Tak disangka, ia justru kemudian meminta permisi untuk duduk di sebelah saya, seraya menawarkan sebungkus rokok yang baru saja ia keluarkan dari dalam kantung saku jaketnya yang berwarna hitam.

Tentu saja saya mempersilahkan ia untuk melakukan apa yang ia inginkan tersebut.

Begitu duduk, ia menarik sebatang rokok dari dalam kotak, menggeret korek api; api menyala, rokok menyala; lantas menghembuskan dari dalam mulutnya asap rokok yang pertama.

Buuul, kepulan berwarna putih melayang-layang di udara.

Ke arah jalan raya ia melemparkan tatapannya. Tatapan yang kosong. Seperti melayang di awang-awang. Itu adalah jenis tatapan yang saya kenal betul. Tatapan orang yang kesepian. Tatapan orang yang ditikam kesepian.

Sesaat kemudian, berawal dari satu perkataan, ia pun mulai bercerita. Saya tahu saya harus mendengarkannya. Mungkin sesekali juga menanggapi. Kau tahu, berlagak seperti layaknya seorang kawan yang lama tak dijumpa. Meski mengenal siapa orang ini sebelumnya saja saya tidak.

Ia, begitu juga saya, barangkali tak lebih dari sesama orang asing di belantara Kota Jakarta. Setidaknya, begitulah pada mulanya.

Jakarta, November 2015.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.