Jatuh dan Tertawa

Sudah jatuh, tertimpa tangga.

Sering sekali saya mendengar orang menggunakan peribahasa barusan untuk menggambarkan nasib sial yang datang beruntun. Belakangan, entah kenapa, begitu mendengar atau membaca peribahasa tersebut, sosok yang kemudian terlintas di benak saya adalah seorang tukang bangunan dari kampung saya dulu.

Di kampung saya, sudah jamak jika orang pergi merantau. Tidak terkecuali tukang bangunan yang baru saja saya sebutkan itu. Maka pada suatu hari yang cerah selepas Lebaran, atas ajakan beberapa tetangganya, pergilah ia merantau ke kota. Melempar harap, mengadu nasib, atas kehidupan yang lebih baik.

Untitled

Lagipula, jika hanya bertahan di kampung, penghasilannya tidak pernah menentu. Kebutuhan terhadap pekerja bangunan tidak selalu ada setiap harinya.

Lain di kota, pembuatan bangunan fisik berjalan seperti tanpa itikad mencapai titik berhenti. Hampir setiap saat terdengar proyek-proyek yang diresmikan, entah memang kebutuhan atau sekadar diada-adakan seakan kehadirannya betul diperlukan. Tentu mengekor di belakangnya, anggaran yang menggelembung, bilangan uang yang menguap tanpa jelas juntrungan.

Kamu bisa melihatnya sendiri, di kota kota, rumah-rumah kumuh disingkirkan, apartemen megah ganti didirikan. Bantaran sungai disterilkan, dan ribuan ton sampah masih giat adu cepat dengan datangnya banjir di musim penghujan. Ruas jalan dilebarkan, trotoar dibongkar, namun kemacetan tetap saja tak terobati.

Kota sudah didogma jadi indikator utama pembangunan negara. Tanpa terpengaruh rezim yang sudah berganti-ganti. Seperti tak ada celah untuk dilakukan revisi. Suram.

Pada suatu ketika, si tukang bangunan bersama kawan-kawannya mendapat pekerjaan di sebuah perumahan di pinggiran kota. Ia kedapatan tugas untuk mengecat bagian luar balkon di lantai dua.

Siang itu, oleh sebab tangan kirinya membawa peralatan yang kelewat banyak atau kedua matanya meleng karena anak perempuan si pemilik rumah tiba-tiba melintas, ia yang sedang mendaki sebuah tangga dari besi, selip sebelah kakinya. Maka jatuhlah ia dari tangga. Terpeleset. Merosot ke bawah, mencium tanah.

Dan ketika mengaduh saja belum sempat ia lakukan, tangga di depannya ikut bergoyang, lantas menjatuhinya pula, tanpa mengucap permisi.

“Braakkk…. Praaangg…..”

Membayangkannya saja terasa sangat menyakitkan. Barangkali ada satu-dua luka di tubuhnya, itu adalah sebuah keniscayaan. Badannya yang terbanting, telapak tangannya yang bisa jadi terkilir, atau dahinya yang benjol karena terantuk tiang tangga besi yang jatuh dengan keras.

Teman-temannya berhenti bekerja, meletakkan peralatan dan beranjak untuk menghampir. Mereka mengerubunginya dengan tatapan yang mengiba.

Tapi toh ia lantas tertawa. Teman-temannya pun ikut tertawa, sembari mengulurkan tangan menolongnya. Membantunya berdiri, memapahnya menyingkir dari keriuhan cat, kuas, ember dan tangga besi setinggi tiga meteran yang berantakan tersebut.

Ia tertawa. Melawan rasa sakitnya. Teman-temannya tertawa. Membantu ia melawan rasa sakitnya. Dengan tertawa, mereka semua melewati peristiwa barusan.

Sudah jatuh, tertimpa tangga, kemudian tertawa.

Dalam bayangan saya, hidup seperti telah mengajarkan pada mereka bagaimana caranya menghadapi derita. Barangkali memang begitu. Atau mungkin tak lebih hanya sekadar dugaan di dalam kepala saya saja.

Jakarta, Juli 2015.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.