Mendengarkan Musik di Kereta

Ia berdiri di dekat pintu. Tangan kirinya berpegangan pada gelang plastik berwarna kuning yang menggantung dari atap kereta. Satu tangan yang lain, ia menggunakannya untuk memegang sebuah buku; jempol dan jemari telunjuknya diregangkan guna menyangga halaman buku yang terbuka seperti sayap kupu-kupu tersebut.

Jika kau ada di dekatnya, kau bisa melihat ia membaca dengan kecepatan yang tinggi, matanya bergerak cekat sekali. Seperti melompat-lompat dari satu kata langsung ke beberapa kata di depannya.

Kau tentu paham bagaimana ramainya kereta pagi-pagi di Jakarta. Apalagi pada hari Senin seperti ini. Orang-orang yang berjejalan di dalam gerbong, dengan tatapan mata kosong seperti tak punya semangat hidup, mirip dengan para Yahudi yang hendak dibawa ke Auschwitz oleh Pemerintah NAZI.

Omong-omong tentang NAZI dan Jakarta, barangkali kau masih ingat pada tulisan Andre Vltcek tempo hari. Andre, penulis cum jurnalis asal Amerika Serikat yang sempat tinggal di Indonesia itu, dalam tulisannya yang menghebohkan tersebut, menuliskan Jakarta sebagai kota yang fasis; bahkan, fasis yang sempurna, “The Perfect Fascist City”, ujarnya.

Ia memulai tulisannya dengan perihal yang sudah menjadi rutinitas biasa yang terjadi sehari-hari, tentang berperjalanan dengan kereta api di Jakarta. Sebelum kemudian menjabarkan dalam paragraf-paragraf selanjutnya mengenai satu demi satu kengerian luar biasa yang telihat oleh pengamatannya.

Kupikir kengerian yang disebutkan Andre adalah sesuatu yang sudah terlihat biasa saja oleh kita. Mata kita sudah akrab melihatnya.

Tulisan yang tajam, bernas dan layaknya memang harus diperhatikan. Tapi tentu saja, lebih banyak orang mempermasalahkan kewarganegaraan penulisnya ketimbang isi dari tulisannya tersebut. Seperti biasanya.

Ahh sudahlah, baiknya saya kembali saja kepada pemuda kita tadi.

Setiap hari ia berangkat dari rumah sebelum pukul setengah enam pagi. Rumahnya tak terlampau jauh dari stasiun, ia sudah hampir pasti berada di dalam kereta sebelum pukul enam kurang sepuluh menit. Kecuali tentu saja jika kereta datang terlambat karena hari itu kedapatan jadwal untuk pergi ke Hogwarts mengantarkan murid-murid barunya Profesor Dumbledore.

Menaiki kereta pada waktu-waktu tersebut, kadang-kadang ia mendapatkan tempat untuk duduk karena stasiun tempatnya berangkat adalah stasiun pemberangkatan yang pertama. Ya meski tak lama kemudian ia harus menyerahkan kursinya pada orang-orang yang lebih membutuhkan; perempuan hamil, ibu yang menggendong anak, para difabel, orang lanjut usia dan emak-emak riweuh yang omongannya seperti kaktus di Gurun Atacama; ia sempat memasang earphone dan mengeluarkan buku dari dalam tasnya.

Seperti pagi ini misalnya. Ia sempat duduk dan membaca tiga halaman buku Lokasi Tidak Ditemukan milik Taufiq Rahman sebelum masuk di gerbongnya Mbak-mbak rok span yang membuatnya tiba-tiba merasa harus jadi seorang gentleman. Lagipula, kau tentu tak bisa berpura-pura tidur sambil membaca buku bukan?

Sambil berdiri dan membaca, terkadang ia mengangguk-anggukkan kepalanya, mengikuti irama musik yang terdengar dari pemutar musik di handphone-nya. Pagi ini paylist-nya tersusun atas Daft Punk, Skrillex, Aphex Twin, M83 dan Neon Indian. Belakangan ia memang sedang gandrung pada musik elektronik. Membuatnya lebih bersemangat, setidak-tidaknya hingga sampai di depan pintu kantor.

Setiap pagi ia mengorbankan beberapa menit waktu tidurnya untuk menyusun playlist yang akan menemani perjalanannya. Ini bukan perkara yang sederhana buatnya. Menyusun playlist adalah kegiatan yang membutuhkan kejelian, dan terutama kemampuan untuk mengira-ngira suasana seperti apa yang nantinya sedang dan akan terjadi ketika playlist tersebut dimainkan.

Atau pada kesempatan yang lain, sekedar mampir ke Pitchfork dan NME untuk mencari-cari sekumpulan lagu milik band-band yang barangkali hanya Dewa Thoth saja yang tahu eksistensinya. Ia merasa lebih keren karena itu.

Di sebuah stasiun, kereta yang ia tumpangi berhenti. Antara penumpang yang turun dan yang naik hampir sama banyaknya. Pun sama-sama tak mau mengalah terlebih dahulu. Aksi dorong terjadi tepat di samping pemuda kita ini, di pintu sebelah kanan tempat ia berdiri.

Tapi toh ia tak terlampau hirau pada apa yang terjadi di sekelilingnya tersebut. Lebih tepatnya, memilih untuk tak mau hirau. Sudah lama ia memutuskan untuk tak lagi terlibat di Kementrian Urusan Orang lain.

“Robot Rock” terdengar rancak di dalam kepalanya. Pandangan pemuda kita pun tetap tertuju pada buku yang ada di tangan kanannya.

Sejurus kemudian, setelah dua kali gagal dicoba, pintu kereta akhirnya menutup. Gerbong makin sesak karena pergerakan penumpang dari gerbong depan yang pindah ke gerbong belakangnya melalui pintu bordes yang sengaja dibuka.

Kereta terasa bergetar, perlahan mengumpulkan tenaganya untuk bergerak kembali. Saat itulah ia mulai tersadar bahwa bunyi di dalam kepalanya mulai memelan, lantas menghilang. Cepat ia melepaskan tangannya dari gelang pegangan kereta dan tergesa membuka ritsleting kantung kecil di bagian depan tasnya. Sudah tak ada apapun di dalamnya.

Kereta bergerak menuju stasiun pemberhentian selanjutnya. Dalam hati ia menyumpahi toko jual beli online yang kemarin lusa memasang iklan earphone wireless dengan diskon harga hingga 50%. Juga teman sekantornya yang minggu lalu menawarkan kenaikan batas pagu kartu kredit miliknya.

Sambil menyumpah, mendadak ia teringat sesuatu yang membuat nafasnya tercekat.

Suara penyiar Liputan 6 pada video klip “Kenakalan Remaja di Era Informatika”-nya Efek Rumah Kaca terdengar menggaung dan bergema berulang kali di dalam kepalanya.

Jakarta, Juni 2015.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.