Telpon Aku, Kau Kuderek

Rono duduk dengan gelagat yang tidak anteng. Sebentar-sebentar ia berganti posisi, sembari melirik ke arah layar ponselnya, Nokia tipe kuno yang layarnya masih monochrom itu. Sesekali diraihnya lembaran kertas tipis berwarna merah muda dari atas dashboard. Di depan mukanya, ia menatap kertas tersebut lekat-lekat. Tertera beberapa baris nomor telepon di atas sana.

Karena cuaca cukup terik, tak cukup hanya dengan membuka satu pintu, jendela sebelah kanan mobilnya pun Rono buka lebar-lebar. Dari situ angin yang terbawa dari jalan raya melesak masuk ke dalam mobilnya, truk derek berkelir putih yang sedang ia parkir di dekat Polsek Latuharhari.

Processed with VSCOcam with hb2 preset

“Nggak tau nih orangnya kok belum telpon ke saya lagi,” ujarnya sambil memasukkan lagi ponsel ke saku kemejanya.

Rono berprofesi sebagai seorang sopir mobil derek. Sore itu ia sedang beristirahat sembari menunggu konfirmasi dari calon pelanggannya. “Tadi pagi udah nanya nanya, katanya sore mau telpon lagi buat gimana pastinya.”

Meski sudah melakoni pekerjaan itu cukup lama, mobil derek yang Rono operasikan bukanlah miliknya sendiri. Satu bulan sekali ia harus menyetor sejumlah uang kepada bosnya. “Ya adalah duitnya,” ujarnya terkekeh ketika ditanya berapa jumlahnya.

Pendapatannya sehari-hari tidak pasti. Kalau sedang beruntung, dalam sehari ia bisa menderek mobil hingga tiga kali, meski akhir-akhir ini hal itu semakin jarang terjadi.

“Tahu sendiri kalau jalanan sedang macet, bisa sampai berjam-jam cuman derek satu mobil aja sampai ke bengkel,” keluhnya.

Rono bekerja berdasarkan panggilan. Nomor teleponnya banyak tersebar di antara pemilik bengkel dan perusahaan asuransi. Dari yang kedua itu ia paling sering mendapat job. Meski memiliki mobil derek operasional sendiri, perusahaan asuransi sering mengalami kekurangan mobil derek. Asuransi punya promo gratis derek mobil untuk para nasabahnya.

Wilayah operasionalnya luas, tidak terbatas hanya wilayah Jakarta saja. Beberapa kali ia harus menderek mobil dari daerah Sentul sampai ke bengkel di tengah Jakarta. Jam kerjanya pun 24 jam, tujuh hari dalam seminggu. Seringkali ia mendapat panggilan untuk menderek mobil ketika waktu sudah masuk dini hari.

Rono pun tak pernah memilih-milih pelanggan, dari korban kecelakaan sampai mobil mogok ia sanggupi semua.”Pokoknya selama mobilnya masih kuat mah kita tarik aja dah.”

Mobil derek yang ia operasikan adalah tipe lama, derek roda angkat. Menggunakan semacam pengait dan rantai besi, bagian depan mobil yang akan diderek disambung sedemikian rupa, kemudian baru bagian depannya ditarik sedikit ke atas. Menurutnya mobil derek seperti ini membutuhkan keahlian khusus untuk dikemudikan. Misal ketika sedang berbelok. Mobil yang diderek harus bisa bergerak searah dengan mobil pendereknya.

Umumnya, pelanggan yang mobilnya tiba-tiba macet di jalan raya adalah pelanggan yang paling rewel. Sering marah-marah. “Kita sudah jalan juga dikit-dikit ditelpon. Padahal lagi macet. Tapi ya kita ngerti lah ya. Namanya nunggu di jalanan kan bikin eneg,” ujarnya kemudian tertawa.

Ketika berbicara, Rono jarang menggunakan kata ganti orang pertama tunggal. Ia lebih sering menyebut “kita”, alih-alih “saya” atau “aku”.

Rono berasal dari Wonosobo. Pertama merantau di Jakarta, ia bekerja sebagai sopir metromini. Ketika ada yang menawarinya untuk membawa mobil derek, ia mengiyakan saja. Hingga keterusan sampai kini.

“Kalau buat badan, juga enakan kerja yang sekarang. Nggak terlalu ngoyo. Kalau dulu pas narik metromini, sebelum subuh kita musti udah berangkat. Meriksa ini itu lah. Ya namanya kita nyewa kan pengennya udah beres semua sebelum narik, mobilnya sehat buat jalan,” ujarnya membandingkan denga pekerjaannya yang dulu.

“Narik metromini sekarang setorannya juga berat. Apalagi ada Gojek. Denger-denger makin susah itu buat dapet penumpang,” tambahnya lagi.

Rono bersyukur dengan pekerjaannya yang sekarang. Meski pendapatannya kadang tak menentu, ia bisa menyekolahkan ketiga orang anaknya sampai dengan lulus SMA.

Bagi Rono, peristiwa kecelakaan atau mobil yang mogok adalah peluang pemasukan buatnya. Tapi Rono tak pernah punya pengharapan terhadap kejadian tersebut. Ia hanya berharap ada panggilan masuk ke dalam ponselnya. Seperti halnya sore itu.

Jakarta, November 2015.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.