Coba Cari Nama Saya: Suryadi Square

Ia melihat sebuah mobil perlahan memelankan lajunya, bergerak melambat di bahu jalan sebelah kiri. Hingga sesaat kemudian mobil tersebut berhenti di dekat lapak yang sedang ia jaga.

Begitu mesin mobil dimatikan, dari balik kemudi, seorang laki-laki keluar dari pintu depan dan bergegas untuk membukakan pintu belakang mobil. Seorang perempuan kemudian beranjak meninggalkan tempat duduknya  dan berjalan menuju ke arah Suryadi.

Suryadi menyambut perempuan itu seperti pelanggannya yang lain. Menyapa dengan hangat seraya menawarkan lukisan-lukisan yang ia pampang di lapaknya.

“Yang itu berapa harganya?” tanya perempuan tersebut sambil menunjuk ke sebuah lukisan.

Suryadi menyebutkan sebuah angka. Perempuan itu terlihat sedikit kaget dan menyahutkan sesuatu kepada Suryadi.

“Kok mahal sekali ya?”

Suryadi hanya tertawa sambil menjelaskan bahwa memang sekitar jumlah itulah harga sebuah lukisan.

_P1060805_

Tidak seberapa lama kemudian, mobil yang membawa sopir dan majikan perempuannya itu meninggalkan lapak Suryadi. Membawa rasa kaget, alih-alih sebuah lukisan buah karya dari Suryadi.

***

Siang itu suasana Blok M Square cukup ramai. Selain karena akhir pekan, sedang diadakan pula festival buah durian di tempat tersebut. Pengunjung festival membeludak, suara panitia terdengar melalui pengeras, saling bersahutan seperti tak mau ketinggalan ikut menambah semarak. Aroma durian menguar ke mana-mana.

Di bagian lain, agak menjauh dari keramaian, seorang laki-laki duduk dengan tenang di atas sebuah bangku kecil. Orang-orang yang sedari tadi berlalu lalang tak terlampau dihiraukannya. Sesekali ia meletakkan tangan kanannya ke depan dagu, seperti sedang merenungkan sesuatu.

Di samping belakang ia duduk, terlihat beberapa buah lukisan disandarkan begitu saja di pinggir pagar besi. Kebanyakan adalah gambar wajah seseorang. Ada yang bergaya realis, ada pula yang dilukis dengan gaya karikatur.

Namanya Suryadi. Ia adalah salah satu pelukis yang biasa mangkal di pelataran Blok M Square. Suryadi berasal dari Pacitan. Secara umur, ia termasuk pelukis yang senior. Tahun ini usianya sudah lewat 64 tahun.

Lapak yang ditunggui oleh Suryadi ini sedikit terpisah dari kawan-kawan seprofesinya yang lain, dipisahkan oleh salah satu pintu masuk gedung Blok M Square.

Sebetulnya, lapak itu bukanlah miliknya sendiri. Ia berbagi lapak bersama salah seorang temannya. Hari itu temannya sedang tidak bekerja. Kata Suryadi, temannya yang berasal dari Wonogiri itu sedang sibuk untuk mengerjakan pesanan gambar karikatur di rumahnya.

Suryadi  merantau ke Jakarta sejak tahun 1977. Pertama kali merantau, ia tidak langsung menjadi seorang pelukis. Awalnya ia bekerja di pabrik. Sempat keluar untuk mencoba hidup sebagai pelukis, namun hasilnya tidak sesuai yang ia bayangkan.

“Ternyata dari gambar ga bisa hidup, terus saya ikut proyek,” ujarnya yang diikuti oleh derai tawa.

Ia tidak bekerja penuh waktu sebagai pelukis. Sehari-harinya ia bekerja di proyek. Seringnya mendapat porsi kerja di bagian interior.

“Saya ikut bikin lapangan terbang Kemayoran. Kemudian pindah ke Halim, di sana membuat bangunan untuk para perwiranya. Sempet juga ditawarin ke Biak, tapi sayanya nggak mau. Terus sempat kerja di pertamanan. Sekarang balik lagi proyek sambil menggambar.”

Bakat melukis yang ia miliki sudah Suryadi sadari sejak masih kecil. Masa kecilnya di Pacitan memang tidak jauh dari hal-hal yang berbau kesenian. Tentang pewayangan misalnya, Suryadi gemar dengan cerita dari Epos Ramayana.

Dulu ia sempat berkuliah Seni Rupa di ISI Solo. Tetapi karena satu dan lain hal, ia tidak menyelesaikan kuliahnya. Ia mengasah kemampuan melukisnya tidak hanya dari bangku sekolah. Ia senang mengunjungi pameran dan galeri lukisan.

Suryadi termasuk generasi awal pelukis di Blok M Square. Sebelumnya, bersama beberapa kawannya yang lain, Suryadi menjajakan keahlian melukisnya di seputaran daerah Melawai. Pada tahun 2008, sewaktu Blok M Square dibuka, mereka ditarik pindah oleh pihak pengelola untuk ikut meramaikan pasar.

Blok M Square yang dibuka pada bulan Juni 2008 ini sejatinya adalah versi modern dari Pasar Blok M yang ludes terbakar pada 29 Agustus 2005.

Untuk penyewaan lapak, setiap bulan mereka harus membayar iuran sebesar Rp 250 ribu. Pada area seluas 2 meter persegi itulah setiap harinya para pelukis bekerja dan men-display karya-karya mereka.

Seiring berjalannya waktu, seniman-seniman jalanan tersebut membentuk sebuah komunitas yang mereka beri nama Komunitas Seniman Blok M Square. Hanya mereka-mereka yang tergabung sebagai anggota saja lah yang diijinkan menggelar lapaknya di area Blok M Square.

Berbeda dengan Suryadi, kebanyakan kawan-kawan pelukisnya benar-benar menggantungkan mata pencahariannya pada melukis. “Kalau pas ga ada yang dilukis ya nggak makan,” kata Suryadi tentang kawan-kawannya itu.

Siang itu, terlihat bahwa yang banyak dikerjakan oleh para pelukis jalanan di area Blok M Plaza adalah lukisan karikatur. Harga yang dipasang untuk sebuah karikatur tergantung dari besar ukuran dan pemakaian warna. Misalkan untuk karikatur hitam putih yang paling murah 30×20 cm harganya Rp 300 ribu. Sedangkan yang paling mahal, berukuran sekitar 55×75 cm harganya samapi Rp 900 ribu.

Untuk waktu pengerjaan bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Biasanya berkisar antara 1 sampai 2 hari.

“Mereka itu mungkin tidak ada pemikiran lain ya. Harusnya pindah dari galeri ke galeri, museum ke museum, pameran ke pameran. Pelukis seharusnya begitu. Kalau mereka belum nyampe. Apa adanya. Kalau orang Jawa bilang nerima ing pandum.”

Menurutnya ada banyak hal yang bisa dilukis, tidak hanya terbatas dari gambar foto.

“Kalau temanya budaya misalnya Jogja itu budayanya apa, Bali budayanya apa. Dari makanannya, tari-tariannya. Pelukis kan seharusnya sudah tahu. Tidak usah harus dipotret.”

Suryadi tinggal seorang diri di daerah Cipete. Istrinya ia tinggalkan di Pacitan. Sesekali ia pulang ke kampung untuk mengunjungi istrinya.

Suryadi punya empat orang anak. Keempatnya sudah bekerja dan kini tinggal di Surabaya. Darah seni yang ia miliki mengalir ke salah satu anaknya. “Jadi arsitek. Itu kan ya nggambar-nggambar juga,” ujarnya. Ada nada kebanggaan yang bisa dirasakan dari kata-katanya.

Seorang pengunjung menyela obrolan saya dengan Suryadi. Ia menanyakan arah menuju salah satu pintu masuk Blok M Square.

Meskipun sedari awal saya sudah bilang kepadanya akan menuliskan obrolan yang kami lakukan, ia tidak terkesan menutup diri. Setiap apa yang saya tanyakan, ia jawab dengan berpanjang lebar. Tidak tampak rasa canggung.

“Coba cari di internet nama saya, Suryadi Square. Saya pernah diwawancara juga oleh wartawan. Nggak sadar juga saya malah jadi ngomongin tentang politik.”

Saya mematikan perekam di handphone, kemudian membuka aplikasi perambah. Suryadi ikut mengamati hasil pencarian. Saya memilih sebuah pranala dari sebuah media online yang cukup ternama.

“Nahh itu lukisan yang tadi saya ceritakan.”

Dalam foto yang dipasang di berita tersebut, tampak Suryadi di depan sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah keramaian pasar. Lukisan tersebut berukuran cukup besar, agak timpang dengan beberapa lukisan yang saat ini ia tampilkan di lapaknya.

Menurutnya orang Indonesia belum terlalu bisa menghargai sebuah lukisan. Mereka gampang kaget dengan harga sebuah lukisan.

Ia kemudian menceritakan salah satu pengalamannya dulu. Satu kali, lapaknya didatangi seorang calon pembeli yang menurutnya, dari penampilan terlihat sebagai orang yang kaya. Namun begitu mengetahui kisaran harga lukisan yang ia jual, calon pembeli tersebut mengurungkan niatnya. Tak jadi beli.

Suryadi suka menggambar realis, tapi seiring waktu, ia tidak ingin terlalu terfokus pada satu aliran. Apa yang ada di depan kanvas, ia akan menjadikannya sebuah lukisan.

Ia punya keinginan untuk membuat lelang karya-karya lukisannya, tapi terkendala dengan biaya. Untuk mengadakan sebuah acara lelang, dibutuhkan anggaran sampai puluhan juta. Ia menyebut pengeluaran untuk penyewaan hotel, membuat publikasi sampai membeli makanan untuk konsumsi pengunjung lelang. “Mahal biayanya.”

Sementara ini, lukisan-lukisan yang ia bikin hanya ia simpan. Tapi ada juga lukisan yang ia berikan cuma-cuma kepada orang lain. Sekedar untuk menyenangkan orang lain katanya.

“Gambar itu kan gak harus dijual, demi hubungan sosial juga bisa,” ujarnya seraya menopangkan kembali tangan kanannya di depan dagu. Saya mengangguk-angguk, menyetujui apa yang ia ucapkan barusan.

Jakarta, Februari 2016.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.