Malam Terang di Student Centre

Tentu saja berjalan dengan gerak tubuh yang seperti siput tak akan membuang waktu; begitu bola mati, waktu pertandingan otomatis akan diberhentikan.

Tapi ya ndak masalah, toh saya hanya ingin memperlambat tempo permainan, itu saja. Kami butuh sedikit jeda, sekedar menghela nafas akibat serangan beruntun yang mengalir seperti tak habis-habis.

Saat itu, aslinya ya saya ndak menyangka kami bisa bertahan sampai sejauh ini: skor masih imbang, dan bahkan, kami masih punya peluang untuk menang. Lawan kami adalah sang juara bertahan. Sementara tim kami, sampai final pun rasanya sama sekali tak ada yang menduganya. Jelaslah kami dalam posisi yang tak diunggulkan di final ini.

7944d-dsc_2952-644x430

Di dinding yang jauh, terlihat 4 dijit angka yang disorotkan oleh mesin proyektor. Waktu pertandingan tinggal bersisa 2 menit sekian detik. Papan skor menunjukan kedudukan sama kuat, 2-2.

Suara penonton yang sedari awal terdengah riuh betul, rasanya terdengar sedikit berkurang. Cenderung menyenyap. Mungkin terbawa suasana yang mulai tegang.

Sebelum memulai pertandingan, kalau tak salah ingat, saya hanya bilang kepada teman-teman satu tim untuk menikmati pertandingan dan bermain dengan cara main yang seperti biasanya. Saya yang awalnya mau ngomong panjang-lebar kok ya mendadak jadi nggak bisa, pikiran seperti buntu. Dan sepertinya teman yang lain juga sama, raut wajah mereka menyiratkan hal itu.

***

Saya memungut bola dan membawanya ke depan gawang, sembari melihat kondisi di atas lapangan. Kresna sudah berada di posisinya, sebelah kanan depan dekat garis lingkaran penalti. Seperti biasa, kepadanyalah bola saya gulirkan.

Kresna menahan bola selama sepersekian detik sebelum ia melepas umpan ke Kansul yang berdiri di sisi sebelah. Ini adalah pola memulai serangan yang sudah kami lakukan ratusan kali, sejak tim ini bermula dulu.

Dari lini tengah sisi sebelah kiri, Kansul mulai bergerak dan menggiring bola dengan gaya khasnya yang lentur itu. Ia berlari menyirip ke arah kanan. Orang pertama lewat. Begitu pun orang kedua yang berjaga di dekat lingkaran tengah.

Dalam sekejap Kansul sudah berada di sebelah kanan dengan ruang tembak yang lumayan terbuka.

Memberi Kansul keleluasaan gerak seperti barusan agaknya adalah sebuah bencana. Dan ketika tim lawan menyadari hal itu, saat Kansul sudah di posisi dimana sekarang ia berada, semua sudah amat sangat terlambat. Dari depan gawang, dada saya berdegup kencang. Ini adalah momen yang sudah entah berapa kali saya lihat.

Daaashh!!!

Tendangan datar menyusur lapangan Kansul lepaskan ke sisi kanan kiper lawan. Bola melaju kencang. Kiper pun bereaksi, menjatuhkan badan mencegah bola melewati garis gawang.

Kali ini usahanya tak berhasil. Jaring gawang bergetar dan seketika itu pula penonton bertempik-sorak. Suara nyanyian dan gelotak tetabuhan yang entah darimana Muron pungut itu kembali terdengar dengan ramai. Di dalam lapangan kami berangkulan, sembari saling mengingatkan bahwa pertandingan belum usai.

Tinggal dua menit sekian detik lagi. Dada saya berdegup makin kencang. Kencang sekali.

Jakarta, Maret 2016.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.