South Celebes Overland: Sebuah Pembuka

Aku melewati berjam-jam di depan monitor komputer kantor dengan rasa tidak tenang. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai dan tampaknya tak akan bisa terselesaikan hingga beberapa jam ke depan. Berdasarkan jadwal, pesawat yang akan membawaku ke Makassar berangkat pada pukul 21.30. Ini berarti aku harus meninggalkan kantor lebih cepat dari biasanya.

Hari ini hari Jumat, dan kita semua tahu, akses ke bandara nanti sore pasti akan padat-padatnya.

page_

Kuingat, aku juga belum packing. Beberapa perjalanan terakhir, kebiasaan lamaku kambuh; aku jadi suka menunda-nunda untuk packing. Pun kali ini. Belum ada barang-barang yang sudah kumasukkan ke dalam tas. Tadi malam aku hanya memastikan barang yang akan kubawa sudah jelas keberadaannya; terutama pakaian. Hari-hari belakangan, hujan makin rajin mengguyur Jakarta, jemuran pun jadi lebih lama keringnya.

Untungnya, di antara beberapa hal yang mengganggu pikiran, ada satu yang cukup melegakan: aku sudah memesan tiket travel ke bandara. Sebelumnya hal ini cukup mengkhawatirkan juga. Dari kemarin sore aku sudah berusaha menelpon salah satu agen travel yang ada di dekat tempat tinggalku. Tapi hanya dering nada sambung saja yang terdengar, telponku tak pernah ada yang mengangkat. Maka tadi pagi kuputuskanlah untuk datang ke kantor perwakilan agen travel tersebut sebelum berangkat ke kantor.

Di sana aku mendapati hal yang mungkin menjadi penjelasan kenapa kemarin telponku tak pernah diangkat. Sekitar lima belas menit menunggu, di meja resepsionis hanya ada satu orang petugas. Dia melayani pelanggan yang datang, menjawab telpon yang berdering, juga mengurusi tetek bengek keperluan sopir-sopir dari mobil perusahaan travelnya.

Kupikir beruntung sekali perusahaan travel ini bisa mempekerjakan pegawai tersebut. Bayangkan saja, pekerjaan yang harusnya dikerjakan beberapa orang musti ditanganinya sendirian. Agak keterlaluan juga sih, sebenarnya.

Tapi aku tak bertanya dan memastikannya lebih lanjut, apakah benar ia hanya bertugas sendiri atau hanya kebetulan saja rekan kerjanya yang lain sedang tak kelihatan batang hidungnya. Rasanya tak bijak banyak bercakap dengan petugas tersebut, ada penumpang lain yang tengah menunggu pelayanan.

Begitu mendapat kepastian kursi, aku pun meninggalkan tempat tersebut dan berangkat ke kantor.

***

Aku terbangun dari tidur yang tak pulas. Kulihat jam di tangan, beberapa menit lagi menjelang tengah malam. Sejurus kemudian, dalam kondisi yang belum sadar sepenuhnya, terdengar instruksi dari pramugari untuk mengencangkan sabuk pengaman. Rupanya sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Hasanuddin.

Persis dengan perkiraan yang tadi telah disampaikan oleh pramugari, cuaca selama penerbangan memang tak bagus. Mulai dari Jakarta, hujan sudah lebat dan di jendela, kilatan cahaya sesekali muncul dari gulungan awan-awan hitam.

Beberapa kali pula terasa olehku pesawat seperti bergetar hebat. Rasanya mirip dengan naik angkot di jalanan yang berlubang di sana sini. Ngeri juga sebetulnya. Maka dari pada dirundung perasaan yang tak enak, aku pun memaksakan diri untuk memejamkan mata: tidur.

Ternyata, begitu bangun, rasanya sungguh tak nyaman. Kepalaku justru terasa pusing, mata berkunang-kunang, pun badan menjadi pegal. Aku sendiri tak paham betul apa pasti penyebabnya.

***

Desember ini, akhirnya aku punya kesempatan untuk mengadakan perjalanan ke Pulau Sulawesi. Sudah sejak lama aku ingin pergi ke sana. Kebetulan kali ini aku punya libur yang cukup panjang, 13 hari. Rasanya akan ada banyak tempat yang nantinya bisa aku kunjungi.

Semasa kuliah, aku punya banyak kawan baik yang berasal dari Sulawesi. Mulai dari kawan sekelas hingga saudara satu organisasi di mapala. Pada tahun terakhirku kuliah, aku bahkan sempat diajak untuk menjadi kiper tim futsal Sulawesi di kejuaraan kampus.

Ini stereotip memang, atau anggap saja hipotesis ngawurku saja, tapi mereka yang berasal dari Sulawesi umumnya punya korsa dan rasa setia kawan yang luar biasa. Aku punya banyak pengalaman yang menunjukkan hal itu. Ini sedikit menjelaskan juga sih kenapa ada banyak berita tawuran yang sering sekali kita dengar dari pulau alfabet K tersebut.

Adalah saat yang menyenangkan ketika menyimak kawan-kawanku dari Sulawesi sedang mengobrol. Logatnya seru. Nada bicara mereka seperti bertangga nada. Pun ada suku kata tertentu yang seringkali mereka tambahkan pada ujung kalimat: “ji”, “mi”, “pi”, “ki”, “to” dan rasanya masih ada banyak lagi lainnya. Oh iya, jangan lupakan “kodong”. Aku sering menahan senyum kalau ada kawan yang bilang gitu. Rasanya geli begitu di telinga. Hehehe…

Di luar alasan kedekatan personal, memangnya, ada apa saja di Sulawesi? Wah, ini pertanyaan yang keterlaluan sekali rasanya.

Sulawesi adalah pulau tempat Alfred Russel Wallace, si bapak biogeografi itu, mendapatkan banyak pencerahan terkait teori seleksi alam yang sedang ditelitinya. Banyak fauna ajaib yang ada di sini dan hanya ada di sini.

Sulawesi adalah pulau dimana kapal layar yang legendaris itu dibuat dan dilayarkan ke segenap penjuru lautan. Iya, aku sedang menyebut Phinisi, si cantik dua tiang tujuh layar.

Lalu, ini adalah pulau dimana ada tempat yang kehidupan tidak akan berakhir setelah kematian datang. Bahkan kabarnya, di tempat itu, pada momen-momen tertentu, kamu bisa melihat orang mati bisa berjalan kaki seperti manusia hidup pada umumnya.

Dan aku yakin masih banyak hal menarik lainnya di luar tiga hal utama yang menjadi perhatianku itu.

Oh satu lagi, Sulawesi adalah tempat dimana berperjalanan darat akan menjadi sangat menyenangkan. Di sana ada jalan raya Trans Sulawesi yang kesohor itu. Juga bus malam yang kabarnya luar biasa keren dan jauh sekali bandingannya dengan bus malam yang beroperasi di pulau Jawa.

Aku juga ingin sekali mampir ke Poso. Yang ini absurd memang.

***

Jauh hari sebelumnya, aku sudah mengirim pesan pendek perihal rencana perjalananku ke Sulawesi kepada Oca. Aku berencana mengajaknya untuk turut ikut serta dalam perjalanan ini. Kalaupun ia tidak bisa ikut, setidaknya bertemu dengannya berarti ada tempat buatku menginap selama beberapa hari singgah di Kota Makassar.

Tidak begitu juga sih sebetulnya, alasan utama dan yang paling utama, sudah lama nian kami tidak berjumpa. Aku penasaran betul bagaimana kabarnya sekarang.

Pagi di hari keberangkatanku ke Makassar, aku mengirim pesan pendek kepadanya. Berisi jadwal kedatangan pesawat yang nanti akan kutumpangi. Sampai aku masuk ke dalam pesawat, tak ada balasan pesanku yang datang darinya.

Berkomunikasi dengan Oca memang lumayan susah, seperti undian saja. Kalau cukup beruntung, dia akan membalas pesan yang kita kirim. Kebanyakan sih berujung pada tepuk sebelah tangan, tak ada balasan yang akan datang. Begitu juga aduan beberapa kawan yang sering mampir ke telingaku.

Oca kawan perjalanan yang menyenangkan. Orangnya santai, tak banyak mengeluh. Berkali-kali aku berperjalanan dengannya, hampir tak pernah kudengar ada gerutuan yang keluar dari mulutnya.

Banyak kawan yang merasa kehilangan dirinya semenjak ia pulang kampung. Apalagi ia menghilangkan diri dengan cara yang dramatis: suatu hari ia tak ada begitu saja, seperti tanpa pemberitahuan, kecuali sepucuk surat buat Muron yang secara khusus ia tinggalkan.

Nama terakhir ini sempat mengajakku untuk mengadakan “Ekspedisi Pencarian Kautsar”. Tentu saja ini hanya bercanda, namun aku yakin itu dilandasi dengan niat yang setulus-tulusnya.

***

Malam ini aku memutuskan untuk tidur di bandara saja. Perjalanan ke Kota Makassar akan aku lakukan pada esok hari. Aku memang tidak terburu-buru untuk memulai perjalanan. Lagipula, kupikir sayang menghabiskan uang untuk membayar penginapan yang hanya ditinggali beberapa jam saja.

Bandara Hasanuddin letaknya di luar kota. Ada beberapa moda transportasi yang bisa dipilih untuk menuju Kota Makassar. Yang pertama adalah bus Damri. Ini adalah moda favorit untuk para pejalan. Tiketnya murah. Sayangnya, bus Damri memiliki jadwal yang terbatas.

Yang kedua adalah taksi. Kebanyakan taksi yang mangkal di sekitar bandara menerapkan sistem tembak. Kamu musti pintar bernegosiasi untuk mendapatkan harga yang sama-sama enak untuk kedua belah pihak. Enaknya taksi, ketersediaannya adalah dua puluh empat jam. Kamu tak perlu takut kehabisan.

Selain dua itu, kabarnya ada pula pengendara ojek. Yang terakhir ini aku tak begitu tahu pastinya.

Begitu menemukan deretan kursi panjang yang kosong, aku pun segera merebahkan badan, berharap agar bisa segera terlelap dan mengenyahkan pusing yang masih hinggap di kepala. Sejak sampai tadi, dari pengamatanku Bandara Hasanuddin terlihat cukup rapih. Nyaman. Tidur di tempat ini rasanya tak akan buruk-buruk amat.

Di dekatku, ada pula penumpang lain yang juga memilih untuk menginap di bandara. Ini membuatku sedikit merasa tenang. Kalau pun sewaktu tertidur nanti ada gangguan, apapun itu, setidaknya aku punya banyak teman senasib sepenanggungan.

***

Baru sebentar terlelap, telpon genggamku bergetar. Aku melihat ke layar dan mendadak merasa gembira. Sangat gembira. Panggilan aku angkat dan di seberang sana, Oca berbicara dengan nada bergumamnya yang tak jelas itu. Lama tak jumpa, masih saja ia sulit bicara.

“Gue udah di luar, Muth. Lu dimana?”

Kawanku yang satu ini memang benar tiada dua kelakuannya. Kau tak akan pernah bisa menduganya sama sekali. Malam ini, ia dengan gemilangnya membuatku ketawa bahagia.

Makassar, Desember 2013.

Author: anggafirdy

Orang-orang kebanyakan saja. Suka melamun, dan melantur sesudahnya. Sedikit membaca, dan lebih sedikit lagi menulis. Sebelum di sini, dulu berumah maya di menarakayu.blogspot.com. Barangkali kita pernah bersitatap di pojok gigs band-band tak terkenal, atau bertemu punggung ketika sedang mengantri di toilet terminal. Oh iya, saya bisa ditemui pula di akun twitter @anggafirdy.

1 thought on “South Celebes Overland: Sebuah Pembuka”

Leave a Reply

Your email address will not be published.