Mari Sejenak Membicarakan The Old Man and The Sea

“Dia menangkapnya?”

Malam sudah larut, tidak banyak tersisa pengunjung di Bridge Diner. Teri baru saja datang dan langsung saja duduk di kursi yang sudah biasa ia duduki.

“Ikannya? Ya, ya. Dia berhasil.”

Robert mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca. Ia menolehkan kepalanya ke arah Teri. Ini adalah kedua kalinya mereka berdua berbicara mengenai buku yang sedang dibaca oleh Robert.

“Akhir yang bahagia.”

Teri sedikit menyunggingkan senyum ketika mengatakannya. Senyum yang sekejap.

“Tidak juga. Si orang tua mengikat ikannya di pinggir perahu, menuju darat. Ikannya berdarah dalam air. Hiu datang dan memakannya hingga tak ada lagi yang tersisa.”

“Sia-sia, kan?”

Robert duduk di pojokan. Di depannya tersusun sendok dan garpu yang tertata dengan rapih. Sebelah tangannya mengetuk-ngetuk pada meja ketika ia menjawab pertanyaan dari Teri.

“Tergantung sudut pandangmu. Orang tua itu bertemu lawan saat dia merasa hidupnya sudah berakhir. Dia melihat dirinya dalam ikan itu. Menghargainya semakin ikan itu berupaya melawan.”

“Kenapa tidak dilepas saja ikannya?”

“Orang tua tetaplah orang tua. Ikan tetaplah ikan. Harus jadi diri sendiri di dunia ini, kan? Apapun yang terjadi.”

The Equalizer (2014).

Bisa jadi salah satu parameter yang bisa menandakan bahwa sebuah karya bisa dianggap klasik adalah ketika berpuluh-puluh tahun sesudah karya itu diterbitkan, orang-orang masih saja membicarakannya seperti ketika karya tersebut baru saja diterbitkan kemarin lusa.

Atau lebih sederhananya mungkin, orang masih bisa menikmati karya-karya tersebut tanpa terbatas oleh waktu. Relevan untuk dinikmati kapan saja.

Setidaknya dalam rentang sebulan terakhir, saya menemukan sebuah film dan novel yang di dalamnya membicarakan tentang salah satu karya klasik milik Ernest Hemingway. Apalagi kalau bukan The Old Man and The Sea. Sebuah novel (atau ada juga yang menyebutnya sebagai novela–novel pendek) yang mengantarkan Ernest Hemingway untuk meraih Nobel Sastra tahun 1954.

IMG_20140419_181527

Continue reading “Mari Sejenak Membicarakan The Old Man and The Sea”

Lima Buku Terbaik Yang Saya Baca di Tahun 2014

Bulan-bulan belakangan, dalam beberapa kali kesempatan, terutama ketika sedang malas untuk makan siang, saya biasa menghabiskan waktu istirahat di kantor dengan membaca buku-buku yang memang dengan sengaja saya bawa dari kost-an. Oleh sebab hampir sebagian besar rekan kerja yang lain menghilang dari meja kerjanya, satu jam waktu istirahat kerja tersebut menjadi momen yang lumayan menyenangkan untuk membaca. Karena sepinya.

Pada sebuah siang dimana hujan lagi deras-derasnya turun mengguyur kota Jakarta, saya sedang membaca laki-laki pemanggul goni (Cerpen Pilihan Kompas 2012) ketika rekan kerja sedivisi saya datang menghampiri dan bertanya mengenai judul buku yang sedang saya baca tersebut.

Ketika kemudian dia bertanya bagus atau tidak bukunya, saya, secara luar-biasa-bodoh-yang-tidak-pada-tempatnya, malah berucap seperti berikut : “Sastra sih, Buk. Ya begitu, bahasa plus ceritanya muter-muter bikin bingung.”

Luar biasa bodoh karena kalimat tersebut telah membikin jarak yang seperti mengaminkan pendapat kebanyakan orang bahwa sastra adalah sesuatu yang sulit untuk dinikmati.

Tapi ya sudahlah. Tahun ini adalah tahun yang lumayan seru buat saya perihal kegiatan baca-membaca. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya kebanyaan buku yang saya baca genre-nya adalah fantasi, tahun 2014 menjadi sedikit lebih beragam. Pun beruntung tahun 2014 ini alokasi dana untuk menambah perbendaharaan jumlah buku mendapatkan jatah lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.

IMG_20141020_225812

Namun begitu–ini adalah cliche yang sudah kita dengar berulangkali–kecepatan saya dalam menambah jumlah perbendaharaan buku ini jauh melebihi kemampuan (atau kemauan sebetulnya) saya untuk membaca kesemua-muanya. Yang mlangkrak dan tak tersentuh, atau yang nasibnya sedikit lebih baik, sudah tersentuh namun gagal ditamatkan, proporsinya menjadi jauh lebih banyak dari yang terbeli dan terbaca hingga selesai.

Dari proporsi yang sedikit itu, ada beberapa buku yang lumayan berkesan begitu saya membacanya hingga saya baca berulang kali. Ada juga buku yang saya baca dengan kecepatan yang sedemikian lambat karena kemampuan otak yang tidak mampu mencernanya isinya dengan tepat. Duh.

Berikut adalah lima di antara nya : Continue reading “Lima Buku Terbaik Yang Saya Baca di Tahun 2014”

Norwegian Wood, dan Satu Sore di Senja Jakarta

Laju kereta mulai melambat, ditandai dengan decitan rem yang lamat lamat terdengar di telinga. Para penumpang mulai berdiri dari kursinya, bersiap untuk turun. Stasiun di depan adalah pemberhentian paling akhir dari kereta tersebut.

Di belakang kereta, senja menyeruak. Matahari tenggelam di langit sebelah timur, bulatan kecil yang menyelinap diantara arak arakan awan di langit. Di latarnya, ada warna yang bergradasi, perpaduan antara biru langit dan  berkas berkas lembayung senja. Sore di Jakarta terasa lebih indah ketika itu.

Di stasiun, begitu kereta datang, kerumunan pecah. Para penumpang berebut masuk, para penumpang berebut turun, beradu tepat di depan pintu kereta. Para petugas sudah tak bisa berbuat apa apa, kukira mereka sudah kewalahan untuk mengingatkan. Ataukah memang sudah bosan?

Seorang lelaki, kemejanya berkelebat karena tak dikancingkan, berjalan cepat menyelinap diantara keramaian. Sambil berjalan, sesekali ia mengambil ponsel-pintarnya dari kantung celana. Mukanya terlihat semakin tegang selepas itu. Continue reading “Norwegian Wood, dan Satu Sore di Senja Jakarta”

Dan Kemudian, Meraba Indonesia

Apa yang akan terjadi bila dua orang wartawan senior melakukan petualangan selama hampir setahun lebih, bersepeda motor berkeliling Indonesia? Tentu kita bisa berharap akan terbit rangkaian cerita yang merekam setiap detil keindahan yang mereka saksikan. Atau justru sebuah observasi lengkap mengenai ketidakadialn yang masih banyak dialami masyarakat di setiap penjuru negeri?

Tahun 2009 hingga 2010, Ahmad Yunus dan Farid Gaban menjalani hampir setahun penuh ekspedisi keliling Indonesia, ekspedisi bertajuk “Ekspedisi Zamrut Khatulistiwa.” Tujuan utama ekpedisi ini adalah mengagumi dan menyelami Indonesia sebagai negeri bahari. Di atas semua itu, mereka mencatat keseharian masyarakat yang mereka lewati. Mencatat dari dekat, sedekat mungkin.

Dengan Honda Win bekas yang dimodifikasi menjadi motor semi trail itu, mereka berdua melahap perjalanan darat dan laut, berkeliling Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Tidak hanya pulau besar, beberapa gugus pulau pulau terdepan yang namanya jarang kita dengar pun mereka datangi.

Gaya penulisan jurnalisme sastrawi membuat setiap kisah dalam buku ini mengalir lancar. Membacanya seakan menyimak dengan khidmat keindahan negara Indonesia, pun juga nya kegetirannya. Bagai dua koin yang tak bisa dilepaskan. Ada bopeng bopeng yang tidak bisa dilihat karena disilaukan oleh cahaya keindahan, sesuatu yang tak akan bisa terlihat dengan dekat, kecuali kita lebih mendekatkan diri dalam melihatnya.

Bintaro 15 November 2013.