South Celebes Overland: Sebuah Pembuka

Aku melewati berjam-jam di depan monitor komputer kantor dengan rasa tidak tenang. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai dan tampaknya tak akan bisa terselesaikan hingga beberapa jam ke depan. Berdasarkan jadwal, pesawat yang akan membawaku ke Makassar berangkat pada pukul 21.30. Ini berarti aku harus meninggalkan kantor lebih cepat dari biasanya.

Hari ini hari Jumat, dan kita semua tahu, akses ke bandara nanti sore pasti akan padat-padatnya.

page_

Kuingat, aku juga belum packing. Beberapa perjalanan terakhir, kebiasaan lamaku kambuh; aku jadi suka menunda-nunda untuk packing. Pun kali ini. Belum ada barang-barang yang sudah kumasukkan ke dalam tas. Tadi malam aku hanya memastikan barang yang akan kubawa sudah jelas keberadaannya; terutama pakaian. Hari-hari belakangan, hujan makin rajin mengguyur Jakarta, jemuran pun jadi lebih lama keringnya. Continue reading “South Celebes Overland: Sebuah Pembuka”

Bersendiri di Rinjani (bagian 2)

IV. Melalui Malam yang Gigil.

Karena siang tadi tak banyak pendaki lain yang kutemui, kupikir tidak akan terlampau ramai pendaki yang hari ini akan bermalam di Pelawangan Sembalun. Nyatanya dugaanku salah besar. Begitu sampai di Pelawangan Sembalun, tenda-tenda dengan berbagai macam warna terlihat sudah berdiri dan berjejeran dengan rapi.

Toh begitu, ketika aku melewati barisan tenda-tenda tersebut, tetap saja tak banyak sosok yang aku temui. Hanya satu dua porter saja yang kulihat masih berada di luar, mengelilingi api unggun kecil di depan tenda mereka yang berbahankan kain terpal itu.

Padahal malam belum larut terlampau jauh. Bulan dan bintang saja masih belum terlihat di atas langit sana. Hawanya juga masih cukup nyaman, tidak terlampau dingin rasanya dibandingkan ketika tiga tahun lalu aku bermalam di sini.

Di bawah sebuah pohon pinus aku mendirikan tenda tempatku bermalam nanti, sebuah dome kecil berkapasitas dua orang yang kondisinya sudah agak menyedihkan. Lantas memasang kayu pasak kuat-kuat di keempat sisinya, menguatkan posisinya agar tak bergerak kemana-mana.

Berdasarkan pengalamanku dulu, terjangan angin di Pelawangan Sembalun akan semakin hebat-hebatnya menjelang waktu tengah malam. Continue reading “Bersendiri di Rinjani (bagian 2)”

Bersendiri di Rinjani (bagian 1)

I. Yang Terjadi Selama Perjalanan Tadi.

Kalau ia adalah manusia seperti kita, Kota Mataram tampaknya sudah bangun dan mengawali aktivitasnya hari itu ketika mobil yang kami tumpangi mulai menyusuri jalan raya.

Pada pagi itu, di sepanjang jalan, kau bisa melihat rumah-rumah–tempat dimana orang-orang menyembunyikan dirinya dari kegelapan malam–membuka matanya kembali lewat pintu pagar yang digeser atau tirai gorden yang tidak lagi menutup jendela; dan satu dua manusia yang terlihat hadir di depannya, menyapu halaman atau sekedar berdiri saja–mungkin sedang memperhatikan sesuatu.

Lampu-lampu penerang yang terpasang di tiang sepanjang jalanan pun telah dipadamkan–matahari perlahan bersinar semakin terang–dan selama setengah hari ke depan, manusia tak lagi membutuhkan mereka untuk bercahaya.

Dari jendela mobil yang terbuka separuh aku bisa melihat berbagai macam kendaraan yang berlalu lalang; mobil, sepeda motor, dokar yang ditarik oleh seekor kuda dan kereta angin yang melaju pelan di bagian paling kiri lajur kendaraan–yang terakhir ini sedikit mengingatkanku pada kota asalku, Jogjakarta, dan membuatku tiba-tiba terpikir bagaimana kabar para pesepeda yang ada di sana sekarang.

Hari ini hari Senin dan upacara bendera terlihat di halaman sekolah yang telah dipenuhi murid-muridnya. Continue reading “Bersendiri di Rinjani (bagian 1)”

Kandas di Kapal Rafelia II

Barangkali, ketika musibah sudah di depan mata dan seperti tak bisa terhindarkan lagi, seketika itu manusia lantas berubah 180 derajat dari perilaku kesehariannya. Atau setidaknya, begitulah yang kebetulan saya saksikan lewat mata kepala sendiri sore itu.

Sesaat setelah sirine bahaya dibunyikan, dari pengeras suara yang ada di beberapa sudut kapal, terdengar instruksi agar semua penumpang berkumpul di dek utama.

Luap emosi pun pecah.

5a24f-rafelia

4a9e3-dsc08252

55ca6-dsc08253

Penumpang yang tadinya terlihat sabar sekarang jadi blingsatan. Yang seharian tadi cuek jadi penuh perhatian. Ada pula yang sebelumnya ramah, mendadak kok jadi pemarah. Seorang laki-laki bertopi hitam–sebetulnya kami sudah berkenalan tapi saya lupa namanya–yang tadinya banyak sekali berbicara, mulutnya lantas seperti terkunci dan hanya terbuka untuk beberapa kata saja, hanya seperlunya.

Dramatis. Persis seperti penggambaran para sineas di film-film produksi Hollywood itu. Continue reading “Kandas di Kapal Rafelia II”