Singgah di Stasiun Banyuwangi Baru

Beberapa menit lewat pukul dua malam, usai kapal ferry merapat, saya pun segera mengangkat kerier dan melangkahkan kaki ke Stasiun Banyuwangi Baru. Tak jauh memang jarak antara pelabuhan dengan stasiun, hanya sekitar 100 meter saja.

Tak banyak yang berbeda dari apa yang terekam di ingatan dengan apa yang pagi ini kembali saya temui di sana; orang-orang yang terbaring begitu saja di depan pintu-pintu kaca stasiun yang telah terkunci rapat.

Kesekian kalinya saya ke sini, hampir selalu ada sosok-sosok mereka itu. Dengan tas punggung dan kerier yang mereka letakkan bersisian atau dijadikan tempat untuk menyandarkan kepala, para pejalan itu terlihat kelelahan dan tak lelap tidurnya, beberapa diantaranya sesekali terbangun.

Kupikir, sama sepertiku, mereka ini menunggu jadwal kereta yang baru akan berangkat pada pagi hari nanti.

Stasiun Banyuwangi Baru memang menjadi salah satu stasiun yang namanya sohor di kalangan pejalan. Untuk menuju ke pulau pulau yang ada di sebelah timur Pulau Jawa, pejalan yang memilih jalan darat hampir pasti singgah di tempat ini.

Coba saja ketikan kata “bacpacking” dan “Bali” di mesin pencari. Niscaya kau akan menemukan nama stasiun ini di hasil pencarianmu.

Ada lima kereta yang mengambil titik mula dan titik akhir di stasiun ini : Sri Tanjung, Mutiara Timur, Pandanwangi, Tawang Alun dan Probowangi. Sri Tanjung adalah yang paling favorit, jaraknya paling jauh dengan harga yang terhitung cukup murah.

Dulunya Stasiun Banyuwangi tidak berada di lokasi ini, melainkan lebih dekat ke arah pusat kota Banyuwangi. Tapi semenjak tahun 1985, agar lebih terintegrasi dengan moda penyeberangan laut, stasiun pun dipindahkan berdekatan dengan Pelabuhan Ketapang. Maka sering pula ada yang menyebut stasiun ini sebagai Stasiun Ketapang.

Saya sendiri pertama kali singgah di Stasiun Banyuwangi Baru pada pertengahan tahun 2009. Menumpang Sri Tanjung, pagi berangkat dari Jogja, sampai Banyuwangi hampir tengah malam. Saya menyusul kawan-kawan yang sedang PKL (baca : liburan berkedok kuliah) di Pulau Bali.

Kalau dipikir-pikir, sudah lama juga ternyata saya suka jalan-jalan sendiri. Hampir lima tahun. Suram.

“Kopinya mau? Biar ga masuk angin perutnya diisi dulu. Ini ada jahe anget juga kalau mau.”

Seorang pedagang asongan menyambut kedatangan saya. Kabar burung yang beredar, katanya sering ada peristiwa kejahatan di sini. Saya sedang sendiri, membeli jajan dari pedagang jelas pilihan yang bijak. Lumayan, ada teman bercakap untuk menunggu pagi.

Lagipula, secangkir kopi jam segini jelas nikmat sekali.

***

Pukul setengah lima, petugas berbaju biru–kau bisa melihat kantung matanya yang menebal dan agak berwarna hitam–datang dan membuka kunci pintu. Saya pun menegakkan badan, sedikit meregangkan tangan, lantas berdiri dan beranjak masuk menuju satu-satunya loket yang sudah¬† dibuka.

Mas, tiket kereta Sri Tanjung yang ke Jogja masih ada ndak, ya?”

Petugas yang saya tanya kemudian mengetikkan sesuatu di papan ketik komputernya. Saya berharap-harap cemas menanti apa yang akan dikatakannya.

“Habis,” ujarnya pendek saja.

Saya menghela nafas, dan kupikir, tanpa sadar pula juga tersenyum. Bukan karena kesal atau kecewa, tapi karena perjalanan saya hari ini ternyata masih akan sangat panjang.

Terbayang beberapa stasiun dan terminal yang harus disinggahi terlebih dahulu sebelum sampai ke tujuan akhir saya hari ini. Yah, lumayan juga jarak antara Banyuwangi sampai Jogja.

Tapi toh tak mengapa, karena justru ini salah satu letak serunya berperjalanan, bukan? Bagaimana cara kita menemukan jalan lain untuk mencapai tempat tujuan.

“Kalau yang Tawang Alun ada kan, Mas? Satu tiket sampai Bangil ya.”

Dia mengangguk, saya pun mengangsurkan beberapa lembar uang.

Banyuwangi, Juni 2014.

PS : Gara-gara keabisan tiket Sri Tanjung, saya justru bisa merasakan soto daging yang lumayan enak rasanya di dekat Stasiun Bangil.

Mendaki Gunung Lewati Lembah, Bukan Entah

Mendaki gunung lewati lembah.

Sungai mengalir indah ke samudera.

Bersama teman bertualang.

***

Sudah lewat pukul sebelas malam, sebetulnya saya masih belum bisa beranjak ke tempat tidur dulu. Masih ada perlengkapan yang harus dimasukkan ke dalam kerier, pula diatur sedemikian rupa agar muat pas dan nyaman ketika menempel di atas punggung.

Ohh iya, saya hampir lupa dengan daftar logistik dan perlengkapan yang harus saya tulis dan rapikan lagi. Untung teringat, sekalian memeriksa ulang, kalau-kalau ada yang terluput.

Tapi mata saya sudah mengantuk. Dan obatnya yang paling manjur adalah tidur.

Besok pagi-pagi sekali saya akan berangkat mendaki gunung. Sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan sebetulnya, setidaknya hingga kemarin siang. Karena satu dan lain hal, dari Bali saya batal pergi ke Sumba dan justru menyeberang ke Lombok.

Tapi tak apa, dari awal berangkat saya sudah bersiap untuk menerima ketidakpastian yang mungkin terjadi dalam perjananan kali ini. Barangkali yang kemarin adalah satu di antaranya.

Lagipula, hidup memang dipenuhi hal-hal yang tidak pasti, bukan? Di situ lah sisi menariknya.

f6f31-p1020456

Mataram, Juni 2014.

PS : Tiga kalimat paling atas adalah lirik lagu Ninja Hattori. Tiba-tiba terlintas begitu saja di kepala. Lagunya riang sekali. Dan saya ngantuk sekali, packing pun tertunda esok pagi. Dasar pemalas.

Bogor, Es Krim Durian dan Titik Singgah di Akhir Perjalanan

Bayangkan ini, kamu berada di tempat yang sama ketika tiba-tiba suara-suara yang pernah bergaung di masa-masa lampau, terdengar lekat sekali. Lantas kamu akan sadar, bahwa ingatan adalah sesuatu yang kekal, dan barangkali lupa adalah perkara yang hanya sementara.

Hari ini, dari pagi hingga siang tadi saya berada di Kota Bogor. Tak ada keperluan atau tujuan khusus tertentu sebetulnya, hanya sekedar ingin berjalan-jalan dan melihat-lihat sekitar saja.

Dari tempat tinggal saya, Bintaro, saya memulai perjalanan dengan naik komuter. Transit sebentar di Stasiun Tanah Abang, lantas berganti komuter lain yang tujuan akhir Stasiun Bogor. Tak kurang sekitar dua jam kemudian, sampailah saya di kota yang seringkali dikenal sebagai kota hujan ini.

Kalau tak salah ingat, dalam tiga tahun terakhir, ini adalah kali keenam saya pergi ke Kota Bogor. Lumayan jarang memang. Beberapa di antaranya malahan hanya sekedar singgah saja. Dan kali ini pun, hal-hal yang saya ingat tentang kota ini masih sama seperti sebelumnya; hawanya yang sejuk, mobil angkot yang seperti ada dimana-mana, dan ya, buah durian. Yang terakhir itu tidak nyambung memang.

Dari stasiun saya berjalan kaki ke arah Kebun Raya. Sesampainya di sana, di depan loket tampak antrian pengunjung yang akan membeli tiket. Namun karena bukan tujuan perjalanan kali ini, saya pun berlalu begitu saja, Melangkahkan kaki ke arah yang entah mana.

Di sebuah jembatan saya berhenti, berdiri menyandar pada sebaris pagar, memandang ke arah sungai yang mengalir ricik di bawah sana. Senyampang kemudian, sebuah gerobak es krim durian lewat di depan saya berdiri. Pelan saja pemiliknya mengayuh gerobak tersebut. Barangkali dia lelah. Atau memang menyengaja agar banyak orang bisa lebih lama menyadari kehadirannya.

Perihal-perihal inilah yang lantas secara tiba tiba dan tak diduga menarik ingatan akan kejadian, rangkaian dan urut-urutan peristiwa yang saya alami beberapa tahun silam. Continue reading “Bogor, Es Krim Durian dan Titik Singgah di Akhir Perjalanan”

Mampir Ngobrol di Desa Rinca

Empat gelas kopi terhidang di meja, kesemuanya masih isi lebih dari separuh. Dua buah kursi plastik, dan sebuah bangku panjang ada di dekat meja kecil yang  terbuat dari kayu tersebut. Gumpalan asap putih, asap dari rokok kretek beterbangan dan menyesap pada udara sekitar. Sepoi angin darat terasa di kaki kaki kami, bersamanya samar samar tercium bau laut yang ikut terbawa. Di atas ubun ubun, matahari belum lepas jauh dari kulminasi, panasnya masih terik terasa.

“Kalau memang rakyat sudah memilih, mau dijahati seperti apapun ya tetap akan terpilih,” tukas Pak Ibrahim.

Saya mengangguk kepala dengan pelan, bersepakat dengan yang baru saja diucapnya. Percakapan di siang jelang sore ini masih akan berlangsung dengan seru; dan menyenangkan, tentunya. Continue reading “Mampir Ngobrol di Desa Rinca”