Mendengarkan Musik di Kereta

Ia berdiri di dekat pintu. Tangan kirinya berpegangan pada gelang plastik berwarna kuning yang menggantung dari atap kereta. Satu tangan yang lain, ia menggunakannya untuk memegang sebuah buku; jempol dan jemari telunjuknya diregangkan guna menyangga halaman buku yang terbuka seperti sayap kupu-kupu tersebut.

Jika kau ada di dekatnya, kau bisa melihat ia membaca dengan kecepatan yang tinggi, matanya bergerak cekat sekali. Seperti melompat-lompat dari satu kata langsung ke beberapa kata di depannya.

Kau tentu paham bagaimana ramainya kereta pagi-pagi di Jakarta. Apalagi pada hari Senin seperti ini. Orang-orang yang berjejalan di dalam gerbong, dengan tatapan mata kosong seperti tak punya semangat hidup, mirip dengan para Yahudi yang hendak dibawa ke Auschwitz oleh Pemerintah NAZI. Continue reading “Mendengarkan Musik di Kereta”

Jatuh dan Tertawa

Sudah jatuh, tertimpa tangga.

Sering sekali saya mendengar orang menggunakan peribahasa barusan untuk menggambarkan nasib sial yang datang beruntun. Belakangan, entah kenapa, begitu mendengar atau membaca peribahasa tersebut, sosok yang kemudian terlintas di benak saya adalah seorang tukang bangunan dari kampung saya dulu.

Di kampung saya, sudah jamak jika orang pergi merantau. Tidak terkecuali tukang bangunan yang baru saja saya sebutkan itu. Maka pada suatu hari yang cerah selepas Lebaran, atas ajakan beberapa tetangganya, pergilah ia merantau ke kota. Melempar harap, mengadu nasib, atas kehidupan yang lebih baik.

Untitled

Lagipula, jika hanya bertahan di kampung, penghasilannya tidak pernah menentu. Kebutuhan terhadap pekerja bangunan tidak selalu ada setiap harinya. Continue reading “Jatuh dan Tertawa”

Sudahkah Kamu Minum Obat?

Joni datang lagi ke pangkalan dengan wajah yang kemrungsung–yang tak enak betul dilihat. Sebelah tangannya memegangi bagian samping kepalanya yang peyang seperti telur asin. Sweater pudar yang tadi dipakainya kini ia lingkarkan di leher.

Sekira satu jam yang lalu ia bilang kepadaku kalau sudah dua malam terakhir ini badannya terasa menggigil. Seperti disiram air es, katanya.

“Mendingan kau ke klinik saja. Kau cobalah itu kartu yang bulan lalu dibagikan oleh Pak Narmo. Katanya kan gratis buat berobat.” Sesungguhnya aku menyarankan hal tersebut karena penasaran ingin tahu apakah kartu-kartu itu betulan bisa gunakan. Continue reading “Sudahkah Kamu Minum Obat?”

Mendidihkan Air

Dalam sebuah ceruk kecil ia bersembunyi. Menyamarkan tubuhnya dengan kegelapan.

Darah segar masih mengucur dari paha sebelah kirinya. Pecahan mortir bersarang seperti ikan candiru. Ia mafhum harus segera menyingkirkannya.

Ia membuka tas punggungnya dengan perlahan, mengeluarkan survival kit dan misting kecil. Pisau tergenggam erat di tangan kirinya. Meski gelap, ia masih bisa melihat sekilas kilatan tajamnya. Juga sebungkus rokok yang menyelinap dari dalam saku kiri di depan. Rokok kretek, mengikuti kebiasaan ayah dan kakeknya dulu.

“Wahh, jangan salah. Ini bukan rokok biasa, obat ini obat,” kata kakeknya dulu suatu kali di masa yang sudah lampau. Continue reading “Mendidihkan Air”