Melintas Di Bawah Hujan Hutan Ciwidey

Sambil membetulkan ikatan penguat daypack di punggung, saya melepas pandang dan mengamati kondisi sekitar. Awan mendung tampak menggantung, menghias langit yang terlihat sedang murung. Sementara di kejauhan samar asap tipis terlihat terbang ke angkasa, di antara dua bukit kecil yang gelap menghijau oleh rimbun pepohonan. Terasa rambut di belakang leher mulai berjengit, udara dingin khas pegunungan tak mau alpa ikut menyapa.

Dengan meniti rangkaian pematang yang membagi hamparan lembahan luas ini menjadi puluhan petak sawah, kami pun perlahan berlalu menjauh dari Desa Alamendah. Sesekali berselisih jalan dengan penduduk yang baru kembali dari tempat mereka bekerja.

Pada akhirnya, tetes hujan mulai merintik, membasuh setiap jengkal dengan luruh kesegaran. Dimulai dari pucuk pucuk daun pada dahan pohon yang paling atas, dan lalu pada permukaan tanah di bawahnya, mengalir dan sebagian tertinggal menggenang di permukaan tanah yang tidak rata. Berikut juga pakaian yang membungkus tubuh kami, pun ikut basah, diikuti dengan sensasi dingin yang terasa mulai menyiksa. Sejurus pikiran muncul untuk sejenak menghentikan perjalanan.

Walau begitu, kami semua tahu dengan pasti. Yang harus dilakukan ketika berada di bawah deras hujan seperti ini adalah dengan tetap bergerak dan terus melangkahkan kaki. Dalam kondisi yang basah, berhenti beraktivitas memang akan menimbulkan rasa nyaman pada tubuh, terasa begitu menyenangkan. Namun hal ini tak ubahnya seperti saat mengkonsumsi candu, pada akhirnya akan berakhir menyedihkan. Dalam tempo yang cepat, suhu tubuh akan turun dengan drastis tanpa bisa kita sadari, dapat berujung pada hypothermia yang menjadi salah satu momok paling dihindari dalam berkegiatan di alam bebas.


***
Mendengar kata Ciwidey, yang banyak terlintas di pikiran orang adalah mengenai pesona keindahan alamnya. Anggapan yang sudah sewajarnya mengingat Ciwidey memiliki banyak lokasi wisata alam yang terkenal. Kawah Putih, Situ Patenggang, Ranca Upas, Mata Air Panas Cimangu atau Kawah Cibuni merupakan kawasan yang sudah sejak lama menjadi destinasi favorit para wisatawan.

Tetapi bagi saya, yang selalu terbayang dari Ciwidey adalah tentang gunung gunungnya. Dari sepanjang jalan raya, begitu menolehkan kepala ke samping, deretan pegunungan dengan beberapa puncakan yang menyembul ke atas seolah mampu menarik keluar rasa ingin mengunjunginya, ada semacam memori yang selalu terbuncah keluar begitu melihat satu dua puncakan tersebut.

Di Ciwidey lah saya memperoleh banyak kesempatan untuk belajar dari alam. Dari pertama kali menginjakkan kaki sekitar lima tahun silam, dan bahkan hingga saat ini pun, ada saja hal baru yang saya dapatkan dari tempat ini. Bahwa ada kalimat bijak yang mengatakan “Alam adalah sebaik baiknya guru.”, barangkali tepat sekali sebagai penggambaran Ciwidey bagi saya.

Kawasan pegunungan Ciwidey ini kondisinya masih cukup alami, diselimuti oleh hutan hujan tropis yang dipenuhi berbagai macam jenis tumbuhan. Dan seperti kebanyakan kawasan pegunungan lain di daerah Jawa Barat, keadaan hutan di Ciwidey secara umum lembab, terlebih ketika sudah memasuki musim penghujan, hujan bisa turun sepanjang hari.

Usai menitipkan motor di rumah Pak Apud yang merupakan Ketua RT setempat, kami berenam memulai perjalanan dalam menelusuri kawasan hutan gunung daerah Ciwidey. Berdasarkan rencana operasional yang telah disusun, titik awal perjalanan adalah Desa Alamendah dan berakhir di kawasan Rancaupas, dengan rute perjalanan melalui daerah Bendungan, Puncakan 2002 dan Leuwengjero.

Dari Alamendah mencapai Bendungan memakan waktu sekitar dua jam perjalanan. Selepas ladang strawberry, jalan setapak mengular menembus rimbun kebun kopi hingga mencapai bibir hutan. Batas hutan kelihatan dengan jelas, dari tumbuhan budidaya yang secara mendadak berubah ke pepohonan besar yang tumbuh lebat, dengan sulur sulur yang tergerai dan menjuntai ke tanah, menimbulkan kesan yang belum terjamah.

Salah satu momen krusial dalam penelusuran daerah hutan adalah saat kali pertama memasukinya, harus diketahui dan dipastikan dimana letak posisi koordinatnya. Karena ketika sudah berada di tengah hutan, mengoreksi jalur yang salah bukanlah perkara yang mudah. Kemungkinan untuk tersesat begitu terbuka.

Orientasi pun dilakukan. Lembaran peta dibuka, jarum kompas mulai mencari sasaran tembak. Kepala sibuk menengok kiri dan kanan mengamati kontur daerah sekitar, membandingkannya dengan gambaran yang ada di peta. Sedikit diskusi muncul, urun pendapat hasil pengamatan masing masing.

Setelah menuruni punggungan kecil yang ada di pinggir hutan, sampailah kami ke sebuah sungai buatan, saluran irigasi yang dibuat dari lembaran seng yang dibengkokkan membentuk setengah lingkaran ke dalam tanah. Sungai inilah yang menjadi patokan kami menuju Bendungan, mengikuti alirannya hingga ke daerah hulu.

Yang dinamakan Bendungan sendiri adalah berupa sebuah cekungan yang cukup luas, kurang lebih sekitar dua ratus meter persegi. Dari tempat inilah mengalir saluran irigasi yang pada awal pembangunannya dahulu dirancang untuk mengalirkan air hingga ke Desa Lebakmuncang. Karena daerahnya yang sarat air, di sekitar Bendungan banyak tumbuh pohon pisang dan pakis hutan. Ada pula tumbuhan arbei hutan yang bila sedang berbuah, bisa dinikmati dengan rasanya yang cukup lezat.

Berjalan di daerah Bendungan ini sedikit membutuhkan kehatia-hatian. Di sekitar kaki melangkah banyak “bahaya” yang mengintai, mulai dari semak merambat yang berduri, racun snip-snap yang menyakitkan hingga vampire pengisap darah dunia nyata, pacet. Apalagi di saat musim penghujan seperti ini, populasi pacet akan semakin meningkat, mengincar darah segar para pelintas daerah kekuasaannya.

Begitu sampai di lokasi camp, hujan kembali turun. Makin deras saja kali ini.

Seperti biasa, bukan Bendungan namanya kalau tidak ada hujan,” gumam saya dalam hati.


***

Malam sudah hampir mencapai titik akhirnya ketika tiba tiba saya terjaga, gelap sekali. Api unggun terlihat sudah padam, hanya tersisa beberapa potong kayu yang masih membara. Cahaya bintang dan bulan pun hilang disaput langit yang kelam. Sunyi sekali malam itu, tak ada denging serangga atau desiran angin yang biasa terdengar.

Sambil menyalakan beberapa potong ranting kecil, rerasa ada sedikit kenangan bernostalgia. Pada dinginnya air hujan, panasnya perapian, kering ternggorokan, perut yang keroncongan, jari jemari kuning yang membengkak, juga kaki kaki luka yang membusuk. Memori tentang perjuangan, tentang ketabahan dan tentang kuatnya tekad untuk terus bertahan.

Tentang hidup dan pembelajaran dari alam.

***

Perjalanan menuju Puncakan 2002 sebagai checkpoint selanjutnya berjalan cukup lancar. Dari Bendungan mengikuti jalan setapak yang sudah ada. Jalan setapak ini bersisian dengan pipa air yang ditanam di dalam tanah, di beberapa titik mencuat dan terlihat dengan jelas. Pipa ini terbuat dari besi dengan diameter yang lumayan besar, sekitar 30cm. Fungsinya untuk mengalirkan air menuju daerah pemukiman penduduk.

Daerah pegunungan memang dikenal sebagai sumber mata air alami yang baik kualitasnya. Sumber mata air ini dapat terus menerus mengalir karena di daerah pegunungan yang masih alami umumnya merupakan daerah basah dengan intensitas curah hujan tinggi dan masih memiliki daerah tangkapan air yang relatif baik. Maka penting bagi kita untuk terus menjaga kelestarian lingkungan di daerah pegunungan agar kelangsungan dan ketersediaan air bersih ini tetap terjaga.

Begitu melewati Puncakan 2002, jalur menuju Leuwengjero cukup tricky. Mengikuti jalan setapak yang menurun di atas punggungan, akan bertemu dengan perempatan jalur. Kemudian mengambil jalur yang ke kiri, melipir punggungan yang cukup panjang, kita dapat mengikuti jalan setapak ini hingga mencapai jalur menurun yang nantinya akan bertemu dengan Leuwengjero. Jalur ini kabarnya merupakan bekas jalur pergerakan logistik tentara di zaman perang kemerdekaan dulu.

Leuwengjero sendiri merupakan sebuah lembahan datar yang diapit oleh dua punggungan panjang yang ada di kiri dan kanannya. Leuwengjero sudah tersambung oleh jalan setapak menuju Rancaupas. Lokasi ini sudah sering dijadikan sebagai tempat outbond dan camping, bisa dilihat dengan banyaknya papan dan tali rafia sebagai penanda rute jalurnya.

Leuwengjero memang tempat yang menarik, dibelah oleh sebuah sungai kecil yang mengalir hampir sepanjang tahun. Tampak pula puluhan pohon besar menjulang dengan gagah, diameternya yang cukup besar menandakan bahwa usia pohon ini telah mencapai puluhan tahun. Sayang, sepanjang perjalanan menuju Rancaupas, terlihat beberapa pohon yang sudah tumbang oleh tajamnya kapak pembalak liar.

Sebentar saja kami beristirahat di sana, menikmati snack ringan sambil melempar kenangan masing masing mengenai tempat ini. Memang tahun lalu kami berenam sempat berada di tempat ini bersama sama, walau tentu kenangan yang kami miliki akan berbeda beda.

Menjelang pukul empat sore, kami pun sampai di titik akhir perjalanan, Rancaupas. Daerah yang sudah terkenal sebagai tujuan wisata ini merupakan daerah yang berawa-rawa, pada beberapa titik jika salah melangkah maka kaki bisa terpelosok hingga sedalam satu meter. Sebagai daerah wisata, objek yang dijual selain keindahan alamnya adalah penangkaran rusa dan wahana air (water boom) yang masih dalam masa pembangunan.

Begitu keluar dari hutan, hujan kembali turun, maka kami pun mempercepat langkah dalam melintasi lapangan luas yang ada di tengah tengah Rancaupas. Pada warung warung yang berjejer di sisi selatan itulah kami berlari, perut keroncongan dan rasa haus yang menggelegak adalah pemicunya.

Buk, minta kopi hitamnya satu ya…” ujar saya tanpa pikir panjang sesampainya disana.


***

Saya yakin hampir semua orang memiliki satu tempat dimana di sana tertinggal kenangan personal yang begitu berpengaruh dalam perjalanan hidup orang tersebut. Sebuah milestone dalam satu masa hidupnya. Entah itu berupa kenangan manis atau kenangan pahit. Lagipula, melihat kenangan adalah perkara sudut pandang saja bukan?

Bandung, Oktober 2012.

Sebatas Memori Di Mahameru

Dalam sebuah hikayat, tersebutlah satu tempat dengan keindahan menakjubkan yang tersembunyi di balik kesunyian pegunungan Himalaya. Dikabarkan bahwa tempat tersebut merupakan secuil surga yang tercecer di bumi manusia. Shangri-la namanya. Tanah yang menghijau indah, air sungai yang mengalir jernih, tak ada kejahatan, hanya ada kedamaian dan kebajikan, kehidupan pun abadi dan kekal selamanya. Ada yang berkata bahwa Shangri-la memang benar adanya. Ada pula yang berkata bahwa Shangri-la tak lebih hanyalah sebuah simbolisasi belaka, sesuatu yang bisa ditemukan dari dalam hati manusia. 
Bagi saya, Shangri-la adalah sebuah rumusan unik mengenai apa yang saya sebut sebagai keindahan yang hakiki. Dan hal itulah yang benar saya alami kala merasakan magisnya pendakian Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa. Semeru adalah wujudan dari kedua konsep Shangri-la yang saya impikan, keindahan yang tak hanya bisa dilihat oleh mata, tapi juga dirasakan lewat hati. 
***

Entah mulai kapan tepatnya Gunung Semeru meraih popularisme dan menjadi idaman di kalangan para pendaki gunung di Indonesia. Mungkin bermula dari pendakian terakhir Soe Hok Gie pada tahun 1969 atau semenjak Ari Lasso menyanyikan syair puitis karya Ahmad Dhani lewat Dewa 19 nya.

Hampir setiap tahun, ribuan pendaki mencoba menggapai puncaknya yang legendaris, Puncak Mahameru. Sama seperti pagi itu, di tengah gempuran angin yang terasa menyayat tulang, kami bersepuluh pun tengah menapak jalan yang sama. Pada sebuah rekahan kecil di tengah tanjakan berpasir yang licin, saya berhenti sejenak, menghela nafas yang terengah. Terpisah oleh jarak, kami bertarung dengan diri kami sendiri. Berhenti dan menyerah atau memaksa tubuh kami untuk tetap berjalan dan menapak ke atas.

Ini adalah rute terberat sepanjang jalur pendakian, Arcopodo menuju puncak Mahameru. Medan yang berpasir membuat langkah kami sangat lambat, jarak yang harusnya bisa kami tempuh hanya dengan 1 langkah, harus kami tempuh dengan 5 langkah. Angin gunung yang kadang berhembus sangat kencang, suhu udara yang sangat dingin (di bawah 10 derajat Celcius), dan track ini sangat panjang dengan kemiringan hingga 50-60 derajat dari garis horizontal. Merangkak adalah yang harus dilakukan. Akhirnya kondisi fisik menentukan jarak antara kami.” Yoga Hanggara

Dan sesampainya di puncak, barulah saya menyadari sesuatu. Terlepas dari Ranu Kumbolo yang selalu tampak mempesona, mitos romantis di Tanjakan Cinta, padang ilalang Oro-oro Ombo yang nostalgic dan atau bahkan nikmatnya semangkuk bakso warung Ranu Pane, Mahameru telah mengajarkan kepada saya satu keindahan yang lain. Sisi keindahan dari sebuah perjuangan.

Di Mahameru lah saya merasa takjub oleh perjuangan seorang kawan. Bagaimana dia mampu melawan seluruh sugesti negatif yang muncul dari dalam dirinya, untuk terus melangkahkan kaki yang mungkin sudah kebas karena rasa lelah. Dan lalu oleh butir air mata penuh haru yang menetes di mukanya begitu menjejak kaki di ketinggian 3676 meter. Bukan perjuangan yang mudah mengingat pengalamannya yang baru seumur jagung perihal dunia pendakian gunung.

Salut.

***

Dan hari ini, tepat dua tahun yang lalu, bersama kita mengukir cerita di sana, sebagai bekal dalam menghadapi kerasnya dunia, atau sekedar kisah kenangan di masa tua. Cukuplah bagiku untuk sekedar melempar tanya, masih ingatkah kalian semua kawan ???

Bandung, September 2012.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=DTNZ_n3_z0A]

Untuk foto dan cerita lain klik ini.

Apakah Aku Berada di Mars?

Tanggal 4 Januari 2004 wahana antariksa milik NASA, Spirit, mendarat dengan sukses di permukaan Planet Mars. Selama hampir 90 hari kemudian, robot beroda enam itu mengirimkan ratusan foto beresolusi tinggi mengenai planet yang oleh masyarakat Yunani kuno diberi nama dengan nama dewa perang sesembahan mereka. Dalam beberapa foto tersebut, dengan berlatarkan langit yang terang, permukaan Mars tampak sepi, hanya dipenuhi oleh pasir dan bongkahan batu yang berserakan. Malam ini–saya tidak sedang berada di Planet Mars tentunya, saya sedang terpesona oleh lanskap pemandangan yang tiada jauh berbeda dengan gambar yang diambil oleh proyek seharga ratusan juta dolar tersebut. Terbentang di hadapan saya, tepat di bawah puncak Gunung Merapi, Pasar Bubrah menampilkan kesan dan nuansa yang sama, misterius nan menggoda.

Merapi dan Mistisme Pendakian 

Ketika akhirnya langkah kaki saya terhenti pada sebuah titik, bukit kecil yang ditandai dengan bangunan monumen–in memoriam, tiada terlihat ada satu orang pun yang berada di dataran luas di bawah sana. Hanya bunyi angin yang berdesir kencang, membawa serta udara bertemperatur rendah menyaput kawasan puncak Merapi sore itu. Saya berhenti sejenak, bagaimanapun juga dibutuhkan keberanian yang ekstra untuk bermalam sendirian saja di ketinggian seperti ini. Apalagi dengan reputasi Pasar Bubrah yang sedemikian terkenal akan status mistisnya, jelas membuat nyali saya mendadak menjadi ciut.

Dataran yang dulunya merupakan bekas kawah purba gunung Merapi ini sering dianggap sebagai salah satu tempat yang angker. Kabarnya tempat ini merupakan lokasi transaksi jual beli (pasar) makhluk ghaib sekitar gunung, dimana bongkahan batu yang berserakan tersebut adalah meja dan kursi bagi warung warung tak terlihat mereka. Pendaki yang beruntung seringkali bertemu dengan aktivitas ganjil seperti adanya suara riuh tidak jelas ataupun bunyi gamelan yang entah dari mana asal muasalnya. Lokasi sejenis–Pasar Setan, juga tercatat ada di Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Memang dalam hampir semua peradaban di dunia, gunung selalu terkait dengan kepercayaan terhadap keberadaan alam lain, hingga pada akhirnya gunung berubah menjadi lokasi yang disakralkan. Dalam mitologi Yunani, para dewa yang dipimpin oleh Zeus bersemayam dengan tenang di puncak gunung Olimpia. Puncak tertinggi di dunia, Mount Everest, oleh warga Nepal diberikan nama Sagarmatha, berarti  Bunda Semesta, mengacu pada kepercayaan yang menganggap bahwa Mount Everest adalah tempat suci bagi mereka. Di masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, hampir semua gunung memiliki kisah dan legendanya masing masing, terceritakan secara turun menurun hingga saat ini. Beberapa bahkan mengandung muatan kearifan lokal yang berperan besar pada kelestarian lingkungan di sekitar gunung.
Oleh para pendaki yang akan menuju puncak Merapi, Pasar Bubrah sendiri merupakan tempat yang favorit. Lokasinya yang tepat berada di bawah puncak sering menjadi spot untuk mendirikan kemah atau sekedar transit beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum summit attack. Pasca erupsi dua tahun silam, tidak begitu banyak terjadi perubahan di tempat ini. Erupsi 2010 lebih banyak meninggalkan jejak akibatnya di bagian selatan gunung, dan tentu saja di puncak Merapi itu sendiri.

Setelah hampir tiga setengah jam meninggalkan Basecamp Pendakian New Selo, akhirnya saya tiba di Pasar Bubrah. Kali ini tak ada satu pun teman yang menjadi rekan perjalanan, atas satu dan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk mendaki Gunung Merapi secara solo. Perasaan agak mendebar hati mengingat ini adalah pengalaman pertama bagi saya.
Secara umum, tidak banyak perubahan yang terjadi pada rute pendakian via Selo. Para pendaki langsung dihajar dengan trek yang terus terusan menanjak ke atas. Jalan setapaknya pun terlihat makin jelas. Di masa liburan seperti ini, hampir setiap hari ada saja pendaki yang melakukan pendakian ke Puncak Merapi, sehingga pada akhirnya jalurnya pun makin terlihat. Tidak banyak pendaki yang saya temui siang itu, hanya dua rombongan saja, berasal dari Jakarta dan Solo. Dari mereka saya mendapat kabar bahwa cuaca Merapi selama dua hari ini sangat cerah.
***

Beberapa saat berdiam diri, tiba tiba dari kejauhan terlihat dua sosok yang sedang bergerak. Saya menghela nafas, seperti mendapatkan keberuntungan karena saya tidak akan bermalam sendirian di Pasar Bubrah. Setelah saling memperkenalkan diri, keduanya berasal dari Kota Ambarawa, kami pun menuju sebuah batu besar di tengah Pasar Bubrah. Di situlah kemah kami akan dirikan. Permukaan di sekitarnya cukup rata, lumayan bersih dari bebatuan.

Tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan sore itu. Sambil menunggu momen matahari terbenam, kami hanya bercakap dan bertukar pengalaman saja. Di kalangan pendaki, gunung bukanlah hanya sebagai media tempat berpetualang saja, namun juga tempat untuk memupuk persaudaraan. Meskipun baru saja berkenalan, keakraban langsung tercipta, tidak terhalang oleh rasa canggung yang biasanya akan mengganggu.



Malam Cerah di Pasar Bubrah


“Ggubraaakkkkk!!!!” tenda dome saya berguncang dengan keras, angin berhembus tanpa ampun menghajarnya. Saya pun terjaga dari tidur. Saat itu sudah pukul sepuluh malam. Bulu kuduk terasa merinding, hawa dingin begitu menusuk tulang. Walau diselimuti rasa takut, saya terpaksa memberanikan diri keluar dari dome, berniat mengecek kondisinya setelah kejadian barusan. Tak disangka, saya justru melihat pemandangan yang begitu memanjakan mata.
Di depan pintu dome saya tertegun, takjub. Malam itu, pada awal bulan Juli yang cerah, muncul dari ufuk timur, hampir membentuk bulat yang sempurna, rembulan bersinar dengan terang. Sementara di bagian latar, langit malam tampak bersih tanpa sedikitpun kehadiran awan. Ribuan, atau bahkan jutaan bintang terlihat gemerlap bertaburan di cakrawala. Saking terangnya, bahkan tanpa bantuan dari senter, kondisi sekeliling terlihat dengan jelas. Bagai terbius, usai mengambil kamera di dalam dome, saya pun memutuskan untuk berkeliling kawasan Pasar Bubrah.
Perlahan saya menuju ke timur, ke arah puncakan di atas Kawah Mati. Angin berhembus cukup kencang, walau sudah memakai hampir semua pakaian yang saya bawa, terkadang tangan masih bergetar menggigil. Dari tempat saya berdiri, walau samar terselimuti oleh kabut, jauh di sebelah timur, siluet Gunung Lawu terlihat dengan gagah. Di bawahnya, tampak gelap menganga jurang yang berkedalaman ratusan meter ke bawah.
Beranjak ke instrumen pendeteksi gempa di sisi utara Pasar Bubrah, permukaan datar dari sel surya bangunan tersebut menjadi tripod dadakan bagi kamera DSLR, panorama malam ini terlalu sayang jika dilewatkan dalam ingatan kolektif pribadi saja. Dalam waktu singkat, puluhan frame foto telah mengisi memory card yang terpasang pada Nikon D5100, selaras dengan kedua belah tangan yang mulai terasa kebas oleh hawa dingin yang makin menggigit.
Dari banyak pekerjaan yang bisa digeluti, rasa rasanya fotografer alam bebas adalah salah satu yang paling ekstrim. Saya teringat pada Paul Nicklen, salah seorang fotografer senior National Geographic, bagaimana dalam salah satu penugasannya, dengan mengenakan berlapis jaket tebal dan balaclava melingkari kepalanya, dia harus berhadapan dengan badai salju yang mengamuk demi menunggu datangnya beruang Svalbard yang sedang menjadi objek penugasannya. Selama tiga jam Nicklen duduk terdiam dengan tangan yang hampir membeku, bahkan bulu matanya sampai membeku oleh ktistal es karena suhu yang teramat dingin. Namun bagi seorang fotografer, sepertinya tiap penderitaan akan berbanding lurus dengan kepuasan yang dicapai. Hasil pemotretan mereka telah memberikan khasanah pengetahuan yang luas kepada masyarakat mengenai kondisi alam dan lingkungan.

Summit Attack dan Seluncuran Berkecepatan Tinggi

Di antara mata yang masih berkunang kunang karena istirahat yang tidak nyenyak, saya merapikan dome sekaligus mempacking snack dan air minum ke dalam sebuah tas kecil yang akan saya bawa trekking menuju Puncak Merapi. Beberapa saat yang lalu, tepat ketika adzan subuh masih sayup sayup terdengar, saya terbangun oleh dering alarm handphone yang memekakkan telinga. Pukul lima pagi, ketika langit masih bernuansakan gelap, bergegaslah ke luar dari tempat peraduan tadi malam.
Dari sisi utara, terdengar suasana yang cukup ramai. Para pendaki terlihat mulai berdatangan. Rupanya mayoritas dari mereka adalah wisatawan luar negeri yang bertujuan mendaki untuk menikmati momen sunrise Merapi. Bergabung bersama mereka, saya menangguhkan rencana summit attack terlebih dahulu.
Sesaat kemudian, di ufuk timur langit mulai merekah. Seberkas sinar terang mulai terpancarkan, pekat malam mulai bergradasi menjadi kemerahan. Dari batas horizon, perlahan kirana mulai menampakkan ujudnya, tinggi dan makin tinggi. Lalu akhirnya membulat dengan sempurna.
Pemandangannya indah, ya.” kata salah seorang mereka kepada saya dengan terbata. Agak kaget juga mendengarnya berbicara dengan bahasa Indonesia.
Can you speak Indonesia?” tanya saya kepadanya.
Just a little, sedikit sedikit bisa.” tukasnya sambil tertawa.
Dari percakapan kami kemudian, rupanya dia memang sudah sering ke Indonesia. Berulang kali berwisata kali ke Pulau Bali, namun baru pertama kali ke Jogjakarta. Di tempat asalnya, Perancis, Indonesia memang sangat terkenal dengan keindahan Pulau Dewata nya.
Ketika matahari tampak sudah mulai meninggi, saya pun meninggalkan tempat tersebut menuju sisi kiri dari bagian kaki kerucut puncak merapi. Dari hasil survey dan pengamatan kemarin sore, disitulah trekking menuju puncak akan saya mulai.
Sebenarnya tidak ada petunjuk terhadap rute trekking menuju puncak. Kerucut dari kubah puncak Merapi terlihat curam dan sangat rapuh–sedikit guncangan dari dalam gunung dan sepertinya bisa menyebabkan terjadinya longsoran. Patokan yang bisa diambil adalah melalui bebatuan yang terlihat besar dan sudah menguat. Bagaimanapun juga, salah memilih pijakan dapat berakibat fatal. Merayap pada bebatuan dengan perlahan, rute pendakian ke puncak terasa mengerikan.
Sekitar empat puluh menit kemudian, sampai juga saya di bagian terakhir etape pendakian Merapi. Puncak Merapi sungguh berbeda bila dibandingkan sebelum Erupsi 2010. Tak ada lagi tanah lapang yang dulu bisa digunakan sebagai upacara bendera, pun dengan Puncak Garuda yang telah runtuh. Hanya seujung tanah sebagai tempat berpijak di pinggiran kawah yang menganga lebar, lebih lebar daripada kawah yang sebelumnya. Asap belerang yang kuning terlihat mengepul ke atas, jauh di bawah sana, gunung ini masih beraktivitas, sejenak beristirahat dan menghimpun tenaga.
Melihat ke bawah, para pendaki mulai tampak berbaris bergerak menuju puncak. Berlawanan dengan mereka, saya justru sedang memilih jalur turun mana yang akan dilalui. Mengambil jalur yang berbeda dari rute naik, saya bergerak ke arah timur, pada bagian berpasir yang tidak terdapat pendaki yang melintas.

“Srooooooookkkkkkkkkk”, suara sepatu bergesekan dengan permukaan pasir terdengar nyaring di telinga. Adrenalin mulai pekat mendominasi rasa. Dengan kecepatan yang lumayan tinggi saya merosot dalam seluncuran pasir yang berpuluh puluh meter tingginya, meninggalkan kepulan debu yang tertinggal di belakang. Seperti peluncur salju, saya bergerak zig-zag kiri dan ke kanan, mengendalikan laju badan yang semakin kencang saja. Lima menit kemudian, dengan nafas yang masih terengah, saya telah sampai di Pasar Bubrah kembali.

***
My Favourite

Sinar matahari mulai terasa membakar kulit, udara terasa panas tanpa angin yang berhembus. Saya berhenti sejenak, menolehkan kepala untuk yang terakhir kali. Batu batu besar berserakan terpapar jelas, dengan jurang yang dalam di kedua bagian sisi, bersanding dengan kerucut curam yang terpasang dengan megah di belakangnya. Pasar Bubrah masih saja tampak penuh misteri. 

Jogjakarta, Juli 2012.

Tegal Panjang, Sabana Cantik di Balik Gunung Papandayan

Sunyi dan menenangkan. Itulah yang saya rasakan begitu sampai di daerah yang terletak di pedalaman Bandung bagian selatan ini. Rasa lelah yang terakumulasi selama perjalanan panjang kemarin rasanya terbayar tuntas dengan apa yang terlihat di depan mata, hamparan padang rumput berlatarkan beberapa puncakan yang menjulang dengan gagah di belakangnya. Dengan meniti jalan setapak yang berlanjut dari tempat saya berdiri saat itu, kami berjalan melintasi areal tersebut untuk mencari tempat mendirikan kemah. 
Pada akhir bulan Oktober yang masih basah, rumput ilalang belum tumbuh terlalu dewasa, kurang lebih baru sekitar setengah hasta saja tingginya. Sementara permukaan tanah tampak menghitam oleh bekas abu sisa hasil pembakaran. Di tengahnya, terdapat cekungan sedalam lima meter yang dialiri sebuah sungai kecil, berkelak kelok mengular membelah dari utara ke selatan. 

Di batas hutan sejauh terlihat oleh mata, jejeran batang pohon berdiri tegak, dengan dahan yang dipenuhi oleh batang tumbuhan menjalar. Di salah satu sisi yang lain, sebatang pohon pakis dengan anggun berdiri sendirian. Tersembunyi di antara beberapa punggungan, Tegal Panjang menyajikan kecantikan yang mempesona, sebuah padang rumput berketinggian 2052 meter yang berada di kawasan Gunung Papandayan. 

*** 
Minggu pagi yang berhiaskan mendung, dengan mengendarai dua buah sepeda motor, kami berangkat dari Bandung melalui daerah Ciparay menuju Desa Cibatarua sebagai titik awal perjalanan kami menuju Tegal Panjang. Berkendara menembus deras hujan dan jalan raya yang kondisi mengenaskan, kami membutuhkan waktu hampir empat jam untuk mencapai Desa Cibatarua. Dari informasi warga setempat, ternyata untuk menuju Desa Cibatarua, dapat pula ditempuh melalui daerah Pengalengan, yang kondisi jalannya lebih bagus dan terawat.
Lewat tengah hari, seusai meminta izin dan menitipkan motor di kediaman Pak RT, kami pun memulai perjalanan menuju Tegal Panjang. Dari pintu desa kami berjalan melintasi jalur setapak yang ada di antara perkebunan teh. Sejauh mata memandang, tampak tanaman teh ada dimana mana. Satu dua orang  penduduk, dengan tenggok bambu tergendong di belakang punggung berlalu lalang sekitar kami lewat. Beberapa saat berjalan melewati ladang penduduk, dengan mengikuti sebuah punggungan kami pun memasuki daerah hutan. Kondisi hutan terlihat cukup lebat, dan terutama basah, khas hutan di daerah Jawa Barat. 
Pukul lima sore, kami berhenti dan mendirikan kemah untuk hari itu. Perjalanan masih lumayan jauh dan kami tidak ingin mengambil resiko dengan pergerakan malam hari. Sewaktu sedang mendirikan kemah, kami bertemu dengan beberapa warga yang sedang berburu. Menurut mereka, di hutan sekitar memang masih sering ditemui beberapa hewan liar seperti rusa dan babi hutan. Tidak begitu jauh dari lokasi kami bermalam mengalir sebuah sungai kecil. Airnya sangat jernih dan belum tercemar. Menyegarkan.
Keesokan harinya, setelah menembus semak belukar hutan kami pun sampai di Tegal Panjang. Dahulu, jalur Tegal Panjang ini sering dilalui warga masyarakat untuk menuju daerah Garut atau sebaliknya. Namun seiring berlalunya waktu, sudah jarang ada penduduk yang melalui tempat ini sehingga jalurnya sedikit tertutup oleh rimbunnya pepohonan.
Di atas bukit, sejenak kami berhenti untuk menikmati pemandangan yang begitu menyejukkan mata. Tempat pertama yang terlintas di pikiran saya ketika melihat Tegal Panjang, adalah Oro Oro Ombo, sebuah padang rumput di Gunung Semeru. Beberapa padang rumput serupa yang terkenal di Indonesia antara lain adalah Lembah Cikasur dan Gunung Rinjani. Keindahan alam Indonesia yang kelestariannya wajib kita jaga bersama.


Untuk mencegah kebakaran, setiap beberapa waktu, terutama pada musim kemarau, rumput rumput di Tegal Panjang yang sudah tinggi dan mulai mengering akan dibakar oleh warga. Tak heran kami banyak menemui abu bekas bekas pembakaran di sepanjang tempat ini.
Menjelang sore hari, kabut perlahan mulai turun. Mendung mulai menyaput birunya langit, perlahan tetes hujan pun turun kembali. Di bawah naungan fly sheet dan tenda dome, kami pun melawatkan dinginnya malam Tegal Panjang kala itu.
***
Sekitar satu bulan berselang, saya kembali mengunjungi Tegal Panjang. Kali ini melalui jalur Gunung Papandayan. Dari area parkir kawasan wisata Gunung Papandayan, kita berjalan melewati Kawah Papandayan menuju Pintu Angin (Lawang Angin). Tidak jauh dari Pintu Angin, mengambil jalan ke arah kanan, menembus kawasan hutan menuju ke lokasi Tegal Panjang.
Dari area parkir, kami membutuhkan waktu kurang dari lima jam untuk sampai di Tegal Panjang. Relatif lebih dekat dan cepat bila dibandingkan melalui Desa Cibatarua sehingga bisa menjadi salah satu pilihan bagi anda yang memiliki waktu berkegiatan lebih singkat.
Bandung, Akhir Tahun  2011