Kandas di Kapal Rafelia II

Barangkali, ketika musibah sudah di depan mata dan seperti tak bisa terhindarkan lagi, seketika itu manusia lantas berubah 180 derajat dari perilaku kesehariannya. Atau setidaknya, begitulah yang kebetulan saya saksikan lewat mata kepala sendiri sore itu.

Sesaat setelah sirine bahaya dibunyikan, dari pengeras suara yang ada di beberapa sudut kapal, terdengar instruksi agar semua penumpang berkumpul di dek utama.

Luap emosi pun pecah.

5a24f-rafelia

4a9e3-dsc08252

55ca6-dsc08253

Penumpang yang tadinya terlihat sabar sekarang jadi blingsatan. Yang seharian tadi cuek jadi penuh perhatian. Ada pula yang sebelumnya ramah, mendadak kok jadi pemarah. Seorang laki-laki bertopi hitam–sebetulnya kami sudah berkenalan tapi saya lupa namanya–yang tadinya banyak sekali berbicara, mulutnya lantas seperti terkunci dan hanya terbuka untuk beberapa kata saja, hanya seperlunya.

Dramatis. Persis seperti penggambaran para sineas di film-film produksi Hollywood itu. Continue reading “Kandas di Kapal Rafelia II”

Mampir Ngobrol di Desa Rinca

Empat gelas kopi terhidang di meja, kesemuanya masih isi lebih dari separuh. Dua buah kursi plastik, dan sebuah bangku panjang ada di dekat meja kecil yang  terbuat dari kayu tersebut. Gumpalan asap putih, asap dari rokok kretek beterbangan dan menyesap pada udara sekitar. Sepoi angin darat terasa di kaki kaki kami, bersamanya samar samar tercium bau laut yang ikut terbawa. Di atas ubun ubun, matahari belum lepas jauh dari kulminasi, panasnya masih terik terasa.

“Kalau memang rakyat sudah memilih, mau dijahati seperti apapun ya tetap akan terpilih,” tukas Pak Ibrahim.

Saya mengangguk kepala dengan pelan, bersepakat dengan yang baru saja diucapnya. Percakapan di siang jelang sore ini masih akan berlangsung dengan seru; dan menyenangkan, tentunya. Continue reading “Mampir Ngobrol di Desa Rinca”

Berkeliling di Kampung Bena

Perkampungan itu terletak setelah jalanan menurun yang bercabang dua; satu  tetap menurun, satu lainya mendatar dan berujung pada kompleks kecil yang membuat saya tiba tiba merasa keheranan, dan kemudian takjub. Hanya kurang dari setengah jam meninggalkan Kota Bajawa dan rasanya saya telah bepergian jauh, melintasi lorong waktu, ratusan tahun sebelum hari ini.

Bagaimana tidak, yang terlihat di depan saya adalah imaji nyata terhadap apa yang sering kita, atau saya bayangkan dalam pelajaran sejarah di sekolah. Oke, terlampau jauh bila saya menyebut budaya megalithikum, tapi susunan batu batu yang begitu mencolok, lalu rumah dengan atap alang alang yang meninggi itu, jelaslah membawa angan saya kepada masa yang telah lampau.

805e2-1

Belum lagi keindahan latar pemandangan di belakangnya, kerucut Gunung Inerie yang berdiri gagah, dan alami, dengan lereng yang bergradasikan warna coklat kekuningan dari semak belukar, garis garis hijau gelap pepohonan dan bagian puncak berpasir yang tampak menghitam muda. Warna biru langit tepat ada di belakangnya. Continue reading “Berkeliling di Kampung Bena”

Ende, Kota Lahirnya Pancasila

Saya sampai di Terminal Ende hampir tengah hari. Ketika itu matahari sedang bersinar dengan teriknya. Ditambah dengan posisi kotanya yang memang berada di pinggir laut, hawa panas siang itu terasa benar benar menyengat. Keringat mengalir deras membasahi pakaian yang saya pakai.

Kota Ende yang sedang saya kunjungi ini merupakan ibukota dari Kabupaten Ende. Letak geografis kotanya terbilang strategis, berada di bagian tengah Pulau Flores. Tak heran, sepanjang perjalanan saya sering berpapasan dengan truk-truk fuso besar yang membawa berbagai macam barang kebutuhan pokok masyarakat.

Kotanya cukup ramai, dihuni beberapa etnis penduduk. Saya sempat bercakap dengan seorang warga asal Sumatera Barat yang saya temui di dekat pelabuhan. Darinya saya tau banyak pula pendatang dari berbagai daerah lain yang mengadu nasib hingga ke kota ini.

Ende, punya satu tempat penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Di kota inilah presiden pertama kita, Sukarno, merumuskan cikal bakal dasar negara Indonesia yang sekarang ini kita kenal sebagai Pancasila.

e194a-ende5

*** Continue reading “Ende, Kota Lahirnya Pancasila”