Teman Saya Menonton Temennya Teteh

Berada di dalam Halte Dukuh Atas I, di atas bangku yang tersusun dari empat buah pipa besi yang disusun sedemikian rupa, Yudha duduk termenung sendiri. Di dekatnya, dalam kerumunan yang terbaris tidak teratur, para penumpang yang lain sedang menunggu kedatangan armada bus Transjakarta. Ada suara-suara percakapan yang terdengar dari sana. Sesekali juga gelak dan tawa yang kemudian mengikuti.

Memandang ke arah luar, mobil-mobil dan satu-dua sepeda motor melaju dengan kecepatan yang sedang. Terlihat jejak-jejak air di beberapa bagian jalanan. Pada Minggu siang yang beratap langit mendung itu, ruas Jalan Jendral Sudirman tampak padat oleh arus kendaraan.

Sekira lewat setengah jam Yudha berada di situ. Beberapa bus Transjakarta yang datang dibiarkannya lewat begitu saja. Ia masih menunggu kedatangan dua orang kawannya; seorang masih menunggu kereta di Stasiun Tanah Abang, sementara yang seorang lagi sedang berada di dalam bus yang bergerak dari daerah Pasar Senen menuju ke Harmoni.

Sebetulnya hari itu ia sudah punya rencana lain yang akan ia lakukan. Yudha hendak datang berkunjung ke sebuah pameran IT yang diadakan di salah satu gedung pertemuan di Jakarta. Hingga pada pagi tadi Yasser Nurhuda, kawannya dari SMA, mengirim pesan lewat Whatsapp dan mengajaknya untuk menghadiri diskusi dan peluncuran buku di Pasar Santa.

Processed with VSCOcam with f2 preset

“Yudh, mari jalan-jalan. Biar jiwamu lebih sehat. Aku dan Wisnu berencana datang ke peluncuran buku,” begitu pesan dari Yasser sembari menyebutkan Halte Dukuh Atas sebagai titik pertemuan.

Continue reading “Teman Saya Menonton Temennya Teteh”

Tiga Setengah Inci

Suatu hari, muncul keriuhan di linimasa Twitter yang menarik perhatian saya. Pemicunya adalah perilisan album (single/maxi-single?) dari sebuah band independen lokal asal Bandung.

Keriuhan muncul bukan karena band atau musik yang dibawakan, tetapi lebih kepada format rilisan yang dipakai. Bayangkan saja, format yang dipakai bukanlah CD, kaset atau vinyl (piringan hitam), melainkan 3½” floppy-disk.

Ohh, tidak pernah dengar apa itu 3½” floppy-disk? Disket, Bung, disket. Itu lho yang bentuknya tipis, hampir persegi dan terkadang punya warna-warna yang mencerahkan mata. Luar biasa cult memang.

 

swells-banal-foppy-disk

Swells, band yang dimaksud di atas, melepas rilisan bertitel Banal di bawah naungan label rekaman independen lokal yang belakangan punya beberapa rilisan maut, Wasted Rockers Recordings.

Continue reading “Tiga Setengah Inci”

Tenggelamnya Jeff Buckley

Dari yang pernah kudengar, tenggelam adalah salah satu cara kematian yang paling menyakitkan. Jika kau tenggelam, kematian tidak akan datang padamu dalam masa yang seketika itu juga. Selama beberapa waktu, sampai akhirnya malaikat maut datang menjemputmu, kau terlebih dahulu harus merasakan penderitaan yang begitu mengerikan.

Apalagi jika tenggelam yang kau alami bukanlah tenggelam yang sengaja kau persiapkan.

Bayangkan jika kau sedang berenang dengan asyik di pantai dan sebuah ombak besar tak kau duga menggulungmu ke perairan yang lebih dalam, sejumlah besar air akan membanjiri paru-parumu secara tiba-tiba. Secara refleks, tubuhmu yang tidak siap akan terbatuk-batuk karena hal itu. Udara yang sebelumnya tersimpan di dalam paru-parumu pun hilang sudah.

Kau dilanda kepanikan dan mekanisme alami dalam tubuhmu pun kemudian bekerja tanpa kau minta; sebisanya menghirup udara lain sebagai gantinya. Hidungmu menarik nafas dan mulutmu megap-megap seperti ketika kau sedang berlari mengejar bus kota; lantas air semakin membanjir masuk ke dalam tubuhmu, mengalir deras seperti bah di musim penghujan.

Begitu berulang-ulang kali sampai akhirnya lampu bioskop dimatikan dan tirai di depan panggung teater menutup episode kehidupanmu kali ini. Continue reading “Tenggelamnya Jeff Buckley”