Barbel Ebol

Ebol duduk di bangku panjang belakang sekre. Tangannya memegang sebatang rokok yang tinggal separuh. Mulutnya tak berhenti mengoceh, lagaknya mencandai setiap orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Pada dasarnya ia memang tak bisa diam, isengnya tak kepalang lagi.

Karena sudah memasuki masa-masa Pendidikan Dasar, hampir di setiap minggu ada anggota yang berangkat ke lapangan. Macam-macam keperluannya, mulai dari survei jalur hingga sekedar mengurus perijinan untuk tempat penutupan.

Rencananya hari ini Arnan, Rendy dan Ebol akan berangkat untuk melakukan survei jalur di daerah Pegunungan Ciwidey. Di dalam ROP (Rencana Operasional Perjalanan) tertulis bahwa mereka akan mengadakan perjalanan selama dua hari, bermalam satu kali saja di dalam hutan. Continue reading “Barbel Ebol”

Warung Ayam Bewok

Barangkali kita bisa bersepakat dengan hal ini–kalaupun menurutmu tidak, aku rasa itu tak akan menjadi soal yang teramat penting sampai harus diperdebatkan–bahwa tak banyak hal yang lebih menyenangkan daripada bertemu dengan kawan lama yang sudah jarang untuk dijumpa.

Bersama mereka, ada banyak hal yang lantas bisa dibicarakan dengan bebas, baku sapa tanpa perlu mengikutsertakan prasangka, hubungan imbal balik atau perhitungan untung rugi laiknya sebuah proses transaksi–saya menjual dan kamu membeli.

Bertemu kawan lama adalah saat untuk mengingat kembali perihal remeh yang terjadi di masa dulu, seperti kisah-kisah lucu yang tak usang diceritakan ulang. Seraya menertawainya dengan perasaan yang selepas-lepasnya.

Atau di lain waktu, adalah saat dimana kita bisa saling berbagi tanya. Tentang segepok kecemasan-kecemasan yang kita rasakan. Seperti masa depan yang makin terentang dan kian bercabang-cabang. Apa yang barangkali kita sama-sama tak pahami dengan benar

Saya meraih segelas besar kopi es yang tadi saya pesan. Meneguknya dalam-dalam sembari mengingat-ingat sudah berapa gelas kopi yang saya minum hari ini. Empat atau lima saya tak ingat dengan pasti. Continue reading “Warung Ayam Bewok”

Sebuah Foto dan Ingatan Tentang Kawan Baik

Karena membaca tulisan Yasser siang tadi, malam ini saya jadi kepingin melihat lagi foto-foto pendakian gunung yang saya lakukan semasa duduk di bangku SMA. Album foto yang pernah saya unggah di laman Facebook pun segera jadi jujukan.

Pada sebuah foto, tiba-tiba keasyikan saya malam ini terhenti. Sekejap kemudian perca-perca itu seperti hadir di dalam kepala dan mulai menyusun detil-detil peristiwa yang dulu pernah terjadi.

Saya pun menutup mata dan membiarkan momen ini bekerja dengan sendirinya.

Barangkali ini serupa dengan kejadian yang pernah ditulis oleh Zen RS dalam salah satu esainya, Madelaine. Mengenai “involuntary memory” : kenangan yang muncul tiba-tiba karena dipicu suatu hal yang dengan serta merta membangun kembali satu bagian atau totalitas dari masa lalu.

Processed with VSCOcam with f2 preset Continue reading “Sebuah Foto dan Ingatan Tentang Kawan Baik”