Rigging Di Gua Macan, Menikmati Ketakutan Pada Pekatnya Kegelapan

There’s something you could found, in the dark.
Don’t Worry For Being Alone – Themilo.

Sembari menarik untaian tali kernmantel static putih dari dalam drybag, sekali lagi kuarahkan pandangan mataku ke back up anchor itu, sebuah pilar pendek tempat kutambatkan carabiner oval yang terpasang pada ikatan simpul delapan.

Masih ada sedikit keraguan apakah back up anchor yang telah kubuat itu memiliki perhitungan fall factor yang tepat.

Saat itu aku teringat pada pertanyaan salah seorang seniorku ketika masa pendidikan lanjut dulu, “Mana yang harusnya lebih kuat, Mut, main anchor atau back up anchor?”

Back up anchor. Soalnya kalau main anchor-nya aja gak kuat apalagi back up-nya. Iya ga sih?” jawabku ketika itu.

“Bikin main anchor sekuat mungkin, dan bikin back up anchor-nya lebih kuat lagi.” Itulah jawaban yang kudapat dari pertanyaanku. Tidak masuk akal secara teori, namun itulah yang harus aku praktekkan mulai saat itu.

be30d-100_3140

Sekitar dua meter panjang tali kernmantle telah kukeluarkan dari dry bag. Tidak membuang waktu, bergegas aku bergerak untuk segera menyelesaikan lintasan SRT ini. Cepat-cepat kupasang peralatan lain untuk menuruni gua vertikal ini.

Sebagai seorang riggingman, pekerjaan rigging baru bisa dikatakan selesai ketika sudah mencoba menuruni dan menaiki sendiri lintasan SRT yang telah dibuat, memastikan bahwa lintasan SRT sudah aman untuk dilalui seluruh anggota tim penelusur.

Satu set SRT ditambah dua buah carabiner snap dan sling webbing segera saja menempel di badanku. Beberapa alat tambahan ini sengaja kubawa untuk membuat variasi deviation anchor, mencegah terjadinya friksi tali pada tebing goa, 2 meter di bawah tempatku berdiri saat itu.

Jumar kutambatkan pada tali kermantle. Kupindahkan carabiner cowstail dari webbing pengaman ke loop main anchor.Perlahan mulai kumasukkan tali kernmantle ke dalam descender. Kubuat simpul untuk menguncinya, mencegah agar aku tidak langsung merosot ketika melepas cowstail nanti.

Pelan pelan aku mencoba membebani lintasan. Setelah dirasa cukup oke, satu per satu kulepas pengaman yang masih terikat, diawali dengan jumar, cowstail kemudian terakhir simpul penguci pada autostop. Beban tubuhku kini berpindah sepenuhnya pada perangkat descender.

Huhh. Sambil tetap memegang descender, kupakai bahuku untuk menyeka keringat di muka. Keringat hampir sepenuhnya membasahi baju coverall merah yang kupakai. Bukan karena gerah namun karena kegugupan sudah mulai mendominasi perasaanku saat itu.

“Engkong, liatin talinya, kalo ada yang friksi langsung kasi tau gw!” teriakku pada Engkong, secondmand yang dari tadi membantuku rigging.

“Sipp, Muth,” jawab Engkong.

Bismillah, ucapku sambil mulai kuturuni lintasan slap ini menuju bibir tebing.

Sesampainya di bibir tebing, aku berhenti. Kubuat simpul pengunci pada descender. Dengan dipandu oleh cahaya headlamp, mataku bergerak untuk menemukan dua buah lubang tembus yang akan kugunakan sebagai tempat menambatkan sling webbing dan carabiner snap, guna membuat deviasi pada lintasan.

Sekitar dua puluh menit kemudian, dua buah carabiner snap telah terpasang pada sling webbing. Aku segera memasukkan tali ke dalam dua buah carabiner itu. Dua buah carabiner yang saling tarik menarik memindahkan arah lintasan menjauhi bibir tebing.

Kutarik sekitar lima meter tali dari dalam dry bag, kubiarkan menggantung begitu saja. Kemudian kubuka kait pengunci pada autostop, mulai kutekan tuas descender autostop biru Petzl itu.

Diiringi deras suara aliran sungai bawah tanah di bawah sana, perjalananku segera dimulai. Kegelapan total telah menungguku di bawah sana. Cahaya headlamp tidak mampu mencapai dasar gua.

Perlahan pasti tubuhku bergerak ke bawah. Sedikit ada hentakan, mulai kuatur ritme turunku. Tangan kiri mengontrol tuas, tangan kanan mengulur tali, sambil sesekali menarik untaian sisanya dari dalam dry bag.

Waktu seakan berjalan melambat, setiap detik terasa begitu lama. Ketakutan yang tak beralasan mulai menyapaku.

Setelah sekitar 20 meter kutiti lintasan, autostop mulai panas karena bergesekan dengan tali. Kuputuskan untuk berhenti sejenak. Kutarik nafas panjang, mencoba menghilangkan rasa ketakutanku. Kupalingkan mataku dari tebing yang masih lamat-lamat terlihat di depanku.

Aku melihat sekeliling, gelap. Kutengok ke bawah, tidak tampak apapun juga. Kemudian kutengadahkan kepalaku ke atas, hanya terlihat seutas tali, seutas kernmantle putih berdiameter 10,5mm tempatku bergantung saat itu, yang hilang ujungnya ditelan pekatnya gelap.

Kumatikan headlamp dalam kesendirian kegelapan yang pekat ini. Aku menyukai perasaan ini, sensasi yang semenjak dulu memang selalu aku cari. Ketakutan yang murni. Karena aku selalu percaya bahwa Tuhan memang sengaja memberikan rasa takut pada diri manusia agar mereka semakin berani, karena keberanian hanya akan muncul pada setiap hamba yang mampu mengalahkan rasa takutnya.

1 detik.

10 detik..

100 detik…

Cukup lama aku menimati kegelapan ini.

035e7-100_3144

Kunyalakan kembali headlamp. Kubuka simpul pengunci pada autostop-ku. Segera kulanjutkan perjalananku menuruni lintasan. Sekitar 10 meter kemudian simpul tali tempat aku menyambungkan static hijau telah keluar dari dry bag-ku.

“Okelah lima meter lagi nyampai bawah,” kataku pada diri sendiri.

Memang kernmantle yang saat itu aku pakai kurang panjang untuk mencapai dasar gua sehingga harus disambung dengan kernmantle yang lain.

Dengan bantuan jumar, chest dan foot loop, cepat saja kulewati dua buah simpul penyambung itu. Disambut dengan derasnya bunyi aliran sungai  bawah gua ini, sejurus kemudian kakiku akhirnya menapak dasar gua.

“Alhamdulillah,” ucapku bersyukur kala itu.

Tidak membuang waktu terlalu lama di dasar gua, kupasang sebuah hand ascender hijau bermerk Atlas. Berikut kemudian kukaitkan chest ascender kuning Petzl ke lintasan. Aku mulai menaiki lintasan yang baru saja aku turuni.

Sedikit terengah engah, sekitar dua belas menit kemudian aku telah sampai di atas lagi. Kulihat Engkong dan Sigit duduk di sekitar anchor yang kubuat.

“Gimana Kong, enggak ada friksi kan waktu gw turun tadi?” tanyaku pada Engkong.

“Nggak ada kok, Muth,” jawaban yang kuharapkan muncul dari mulut Engkong.

“Alhamdulillah,” ucapku sekali lagi bersyukur telah menyelesaikan proses rigging-ku.

***

Namun setelah tiga kali dipakai turun, ternyata ada sedikit friksi pada tali. Deviation anchor yang aku buat tidak mampu sepenuhnya menjaga arah pembelokan tali. Deviasi tidak mampu menahan goyangan yang terjadi bila menanggung beban yang terlalu berat. Akhirnya penelusuran dilanjutkan dengan menggunakan lintasan lain yang juga telah selesai pembuatannya.

Meskipun sudah beberapa kali aku bertindak sebagai riggingman, ternyata hari itu ada kesalahan yang kubuat dalam pembuatan anchor. Ada rasa penyesalan, karena sedikit saja kesalahan perhitungan yang aku lakukan mungkin saja berakibat fatal.

Aku sadar, dalam kegiatan caving yang dibutuhkan bukanlah pengalaman semata, tetapi juga perhitungan yang tanpa cela. Seperti kata salah seorang senior padaku dulu.

“Caving tidak mengenal toleransi kesalahan sekecil apapun, yang ada hanyalah zero error tolerance.”

Maret, Kebumen 2010.

ps : Rigging di Gua Macan pada Sekolah Caving Lembah Purnama Astacala, 12-14 Maret 2010.

Selamat Pagi, Selamat Datang di Pecel Lele Lela

Sore ini saya mendapat sebuah pengalaman yang cukup menarik. Sepulang dari toko buku, melihat waktu berbuka puasa yang tinggal beberapa saat lagi, saya segera bergegas untuk mencari tempat untuk berbuka puasa.

Setelah beberapa saat saya berkendara, akhirnya saya berhenti di salah satu warung makan di daerah Buah Batu. Pecel Lele Lela namanya.

“Selamat Pagi, Selamat Datang di Pecel Lele Lela,” begitulah sapaan yang di ucapkan seluruh karyawan di warung Pecel Lele Lela ketika saya memasuki warung tersebut. Agak kaget dan salah tingkah sendiri saya disambut ucapan seperti itu.

Seperti tertera di salah satu poster di dinding warung tersebut, nampaknya baik siang atau malam hari, pengunjung akan tetap di sambut dengan sapaan selamat pagi, yang diucapkan serentak secara bersama-sama oleh seluruh karyawan warung.

daac0-iy0x07

Kata-kata memiliki kekuatan sugesti yang sangat kuat kepada seseorang, baik disadari ataupun tidak. Nampaknya ini disadari betul oleh pemilik warung makan Pecel Lele Lela ini. Ucapan “Selamat Pagi” yang diucapkan kepada pengunjung akan membentuk pikiran positif kepada mereka.

Seyogyanya ucapan “Selamat Pagi” menandakan saat hari masih pagi, saat untuk memulai aktivitas, dengan semangat baru, pikiran yang fresh dan ide-ide yang cemerlang. Dan memang seperti itulah yang mungkin diharapkan oleh si pemilik warung. Bahwa ketika pengunjung menginjakkan kaki keluar dari warung, telah tertanam di benaknya, bahwa saat itu masih “pagi”. Saatnya menyongsong hari dengan semangat baru, seperti ketika kita memulai beraktivitas di pagi hari tadi.

***

“Mau pesan apa, Mas?” lamunan saya mendadak terhenti.

“Liat menunya, Mas?”

Lantas diulurkannya selembar kertas berisi menu kepada saya. Sejurus kemudian mata saya telah tertuju pada salah satu menu yang tertera di kertas tersebut. Lele goreng kremes dan sebotol air mineral menjadi menu buka puasa saya sore ini.

Perut telah terisi, saatnya melanjutkan aktifitas lagi, dengan semangat pagi hari. Seperti kata Pecel Lele Lela “Selamat Pagi, Selamat Datang di Pecel Lele Lela”.

Bandung, Agustus 2011.

Cerita Pendidikan Lanjut Navigasi Darat Jejak Rimba Astacala

Hujan yang turun dengan lebatnya tidak serta merta menghentikan kegiatanku dan Danang untuk mencari poin yang masih tersisa. Mata kami berdua masih sibuk mencari di antara semak belukar sungai. Menurut orientasi yang telah kami lakukan, harusnya kami sudah berada pada titik di mana seharusnya poin berada.

Namun apa daya, telah lebih dari setengah jam kami mencari, dan hasilnya masih juga nihil. Sebal juga sih, tapi apa lacur.

e3f6d-s3010051

Siang itu, kami sedang mengikuti pendidikan navigasi darat. Sebagai seorang penggiat alam, kemampuan navigasi darat adalah salah satu kemampuan yang wajib untuk kami miliki. Bayangkan saja apa jadinya nasib kami ketika berkegiatan di alam bebas tapi menentukan posisi diri sendiri saja tidak bisa, ibarat naek motor tapi pakai tutup mata, bunuh diri. Continue reading “Cerita Pendidikan Lanjut Navigasi Darat Jejak Rimba Astacala”

Pulang

Perlahan tapi pasti, udara panas semerbak mengalir di antara celah-celah kecil jendela halte. Panas memang. Tapi entah kenapa ia terasa sangat nyaman, menyejukkan bahkan. Kehadirannya serasa memutar kembali semua memori tentang tempat ini.

Ini hari, setelah sekian lama, akhirnya tiba juga waktuku untuk pulang. Mudik, seperti kebanyakan masyarakat kita menyebutkannya demikian. Berbulan bulan melewati segala persoalan, hari ini menjadi teramat sangat istimewa.

Lama aku menunggu, akhirnya ia datang juga. Sebuah bus berukuran sedang bercat hijau berhenti tepat di depanku. Secara perlahan pintu pun terbuka, dan seketika itu pula kutemui seulas senyum kecil tersungging dari wajah seorang pemuda yang berdiri tepat di samping pintu bus. Pemuda itu tampak canggung. Namun aku tahu dari wajahnya terpancar semangat. Apapun semangat itu, terasa sangat menyenangkan. Continue reading “Pulang”