Di Dalam Hutan Tjiwidej

I.

Pada mulanya adalah tanah, lantas hujan membuatnya menjadi basah. Angin mengalir dan sesekali terbawa bersamanya serbuk-serbuk tetumbuhan; menyebar tak tentu arah, berterbangan tak tentu ke mana tempat tujuan. Pada satu waktu nasib menghendaki perjalanan mereka berakhir dan di atas tanah basah itulah mereka berjatuhan. Lalu bertumbuh menjadi benih, menjadi bibit, menjadi tunas. Semakin tinggi, semakin besar, semakin luas. Demikian berlalu mengikuti lajunya sang waktu.

1

Di atas tanah, berserakan daun-daun yang berguguran, ranting kering yang patah, kulit kayu yang terkelupas, akar menjalar dan satu dua batang pepohonan yang tumbang atas sebab yang entah. Tahun demi tahun berlalu mengubah rupa mereka menjadi seresah, membuatnya hancur, mengubahnya menjadi hara, menyuburkan tanah, bekal untuk yang bertumbuh setelah mereka.

Dari waktu itu, kelak, di sana, di tempat itu, barangkali kau akan menemukan tiga ekor serangga sedang bergerak di bawah kakimu, mendengarkan kicau burung yang sedang bernyanyi, atau tergelak pada serombongan monyet-monyet yang memandangmu dengan tatapan mata mereka yang penuh rasa ingin tahu itu.

Kau tahu, hutan adalah rumah, hutan adalah ruang hidup, hutan adalah tempat dimana banyak hal dahulu barangkali pernah bermu…

“Yuk! Jalan!”

Saya belum selesai melamunkan beberapa hal di atas ketika waktu istirahat kami dirasa sudah cukup dan kami harus melanjutkan perjalanan kembali. Belum ada separuh jarak yang kami tempuh menuju Leuweng Jero; Puncakan 2002 pun belum. Sebagai tim pendarat mestinya kami harus bergerak secepat mungkin menuju titik camp yang telah ditentukan. Ada banyak tugas yang harus diselesaikan. Continue reading “Di Dalam Hutan Tjiwidej”

Barbel Ebol

Ebol duduk di bangku panjang belakang sekre. Tangannya memegang sebatang rokok yang tinggal separuh. Mulutnya tak berhenti mengoceh, lagaknya mencandai setiap orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Pada dasarnya ia memang tak bisa diam, isengnya tak kepalang lagi.

Karena sudah memasuki masa-masa Pendidikan Dasar, hampir di setiap minggu ada anggota yang berangkat ke lapangan. Macam-macam keperluannya, mulai dari survei jalur hingga sekedar mengurus perijinan untuk tempat penutupan.

Rencananya hari ini Arnan, Rendy dan Ebol akan berangkat untuk melakukan survei jalur di daerah Pegunungan Ciwidey. Di dalam ROP (Rencana Operasional Perjalanan) tertulis bahwa mereka akan mengadakan perjalanan selama dua hari, bermalam satu kali saja di dalam hutan. Continue reading “Barbel Ebol”

Di Depan Mistar Gawang, Lagi

Begitu terbangun di dalam komuter, badan saya langsung terasa remuk. Pegalnya tidak karuan, sendi-sendi tulang seperti dilolosi. Plus kantuk yang masih mengetuk-ngetuk ingin menyelinap lagi masuk ke dalam kelopak mata. Praktis saya tidur kurang dari satu jam selama tiga puluh delapan jam terakhir ini. Maka ketika petang itu saya bisa duduk nyaman di dalam komuter, tanpa sadar saya tertidur. Dan terbangun ketika seseorang tak sengaja terantuk pada kaki saya.

Saya melihat ke arah luar. Stasiun Serpong. Saya terlewat sampai stasiun paling ujung dari komuter yang saya naiki. Sial. Haha..

Sambil menunggu komuter berangkat kembali ke arah sebaliknya, saya menyalakan handphone. Ada pesan masuk, kiriman beberapa foto dari seorang kawan. Banyak muka-muka yang berseri tergambar dalam foto-foto tersebut.

Hari ini sungguh berjalan tak terduga sekali.

IMG-20150215-WA0040

Continue reading “Di Depan Mistar Gawang, Lagi”

Di Depan Mistar Gawang

Kalau harus menyebut kawan yang paling sering kena omel saya, bisa jadi Kresna adalah orangnya. Bukan, ini tidak seperti jenis omelan yang bisa jadi sudah sering kamu alami sebelumnya, seperti ketika bos mengomel pada karyawan, misalnya.

Kresna adalah kawan sepermainan futsal sewaktu kuliah dulu. Kami berdua berada dalam satu tim yang sama, sejak awal mahasiswa hingga lulus jadi sarjana. Saya berposisi sebagai kiper, dan Kresna bermain sebagai bek–posisi yang persis berada di depan saya.

Meskipun hanya tim futsal kelas kambing, tim kami tentu punya strategi ketika sedang mengikuti kompetisi. Tim kami biasa menggunakan pola 1-3, satu pemain belakang dan tiga pemain menyerang. Peran Kresna amat sentral dalam formasi ini. Dia adalah lini pertahanan terakhir, dan sekaligus titik awal dalam memulai serangan.

Untuk yang pertama, saya sama sekali tak ragu dengan kemampuan kawan saya ini. Kresna punya tipikal pemain bertahan asal Indonesia: lugas dan keras–versi abal-abal tentunya. Nahh, untuk yang kedua inilah yang seringkali bikin saya harus teriak teriak seperti orang parno dalam sebuah pertandingan. Atau kalau celetukan penonton yang sering tak sengaja saya dengar, seperti tukang parkir atau kernet kendaraan umum. Haha.

Selain karena gemar coba-coba menggocek bola, Kresna punya kebiasaan untuk melepas umpan terobosan mendatar yang melipat garis lapangan menjadi lebih pendek. Kalau berhasil, memang sangat mematikan. Tapi kalau gagal, justru tim kami yang akan berada dalam jurang bahaya yang sangat besar.

IMG_20150208_170652

Bayangkan saja, jika umpan itu terpotong di tengah jalan, maka tim lawan bisa melakukan serangan balik dengan cepat dan hanya tinggal menghadapi satu bek saja. Sebagai kiper, tentu keamanan di lini belakang adalah hal yang lebih utama. Memulai serangan dengan umpan macam tersebut buat saya teramat riskan. Pertaruhannya besar. Terlalu berisiko. Bikin cemas.

Tapi sejujurnya, kalau diingat-ingat, saya toh menikmati momen-momen seperti itu. Continue reading “Di Depan Mistar Gawang”