Memetakan Gua Ronggeng, Aroma Misteri Dalam Kegelapan Gua

“Dan di dalam kegelapan itu, tersimpan sejuta misteri, menunggu untuk dipahami.”

Crash, crash, crash. Demikian bunyi batang ilalang yang terpotong oleh kuat ayunan golokku. Sudah sekitar 10 menit aku membuka jalur di sekitar tempat itu, mengayunkan golok sambil berusaha memutar balik ingatanku, mencoba mengingat ingat lagi jalur perjalanan yang telah aku lewati 4 hari sebelumnya.

Kudongakkan kepalaku ke atas, coba kulihat pohon pohon di sekeliling tempatku berdiri. Meskipun nampak berbeda dari yang bisa aku ingat, namun perasaanku berkata bahwa aku memang telah berada di dekat tempat tujuanku saat itu.

Sejenak berisitirahat, kutancapkan golokku ke tanah, kuraih GPS dari saku celana pendekku, segera kunyalakan. Suasana yang gelap oleh tebalnya kanopi pepohonan cukup membuat bulu kudukku merinding, mencoba untuk tidak mempedulikan, kualihkan penglihatanku ke layar GPS.

Dan ternyata benar, titik yang akan aku tuju sudah terletak 60 meter dari tempatku duduk saat itu. Bergegas aku berdiri, sambil memicingkan mata menajamkan daya lihat, aku menuju arah yang tadi ditunjukkan oleh GPS.

Setelah beberapa saat aku berjalan, dengan melompati beberapa kelokan aliran sungai kecil dan diiringi ganasnya kerumunan nyamuk hutan, sampai juga aku di tempat itu, sebuah bentukan yang sangat aku kenali, lorong gelap dengan pintu masuk cukup besar yang tidak lain dan tidak bukan adalah entrance sebuah gua. Seraya berucap alhamdulillah, aku bersyukur akhirnya telah sampai di entrance Gua Ronggeng.

Dengan mengikuti jalur tempatku datang tadi, aku lari-lari kecil menghampiri mereka yang sedang beristirahat, angota timku, Tim B Ekspedisi Caving Nusakambangan Astacala.

“Woeii, ayo buruan, guanya di depan tuh, uda ada tempat camp-nya juga. Biar buruan istirahat,” kataku pada mereka. Mendengar ajakanku, segera mereka berdiri dan mulai berjalan kembali.

901e8-img_8604

Tak seberapa lama kemudian, seluruh anggota tim telah sampai di sekitar mulut gua. Kami segera membongkar packing-an dan menyiapkan camp.

Siang itu dihabiskan oleh sebagian tim atlet dengan tidur, menyiapkan fisik untuk pemetaan malam nanti. Sedangkan tim pengolah data, mereka mulai disibukkan dengan alat tulis, kalkulator dan woksheet data pemetaan dua gua sebelumnya.

Gua Ronggeng, begitulah nama gua yang rencananya akan kami petakan hari itu. Titik mulut gua yang cukup tersembunyi, terletak di lembahan yang tertutup oleh rimbun pepohonan dan rumput ilalang, sedikit mempersulit akses kami menuju tempat tersebut.

Menurut cerita Pak Narsid, penduduk Kampung Laut yang dulu pernah mengantarkan tim survei ekspedisi ke gua ini, kadangkala dari dalam Gua Ronggeng sering terdengar bunyi keriuhan, mirip orang-orang sedang “ronggengan”. Sehingga oleh penduduk sekitar akhirnya gua ini diberi nama Gua Ronggeng.

Dari bentuknya, gua ini termasuk jenis gua horizontal. Tinggi entrance sekitar dua meter dengan lebar empat meter dihitung dari dinding terluar. Dari dalam gua mengalir sebuah sungai kecil dengan kedalaman sekitar lima centimeter. Hasil survei yang telah dilakukan sebelumnya, menunjukkan data bahwa kebanyakan gua di daerah Nusakambangan Barat memang merupakan gua berair.

Di sekitar entrance banyak ditemukan tumbuhan menjalar dan pohon bambu yang tumbuh dengan suburnya. Hewan yang terlihat mondar-mandir di entrance gua adalah burung dan kelelawar. Selain itu menurut keterangan Pak Narsid, sering ditemukan juga beberapa spesies ular dari dalam gua, misalnya adalah jenis sanca kembang.

Sekitar pukul delapan malam, kami mulai bergerak untuk memulai pemetaan. Personel yang bertugas menjadi tim atlet untuk mapping adalah Muhammad Kautsar Ocha, Ilham Kamil Pilat, Vidya Haryati dan aku sendiri. Ocha berposisi sebagai stasioner, Pilat compassmen, Vidya descriptor dan aku sebagai notulen.

Grade pemetaan yang kami lakukan adalah 3C standard BCRA, dengan sistem pemetaan  Top To Bottom dan metode Forward Method. Pemilihan stasiun dilakukan di dalam gua dengan memperhitungkan syarat syarat penentuan stasiun sesuai materi pemetaan gua yang telah kami pelajari sebelumnya.

Pemetaan kami mulai dari entrance gua sebagai stasiun nol. Seperti sudah terbiasa, pengukuran pada stasiun nol ini berjalan dengan cukup singkat. Kemudian terjadi sedikit keanehan, seharusnya stasioner melanjutkan pergerakan maju masuk ke dalam gua untuk menetukan stasiun selanjutnya.

Namun Ocha tiba tiba berhenti. “Muth lu depanan dong,” katanya kepadaku.

“Emang kenapa Cak?” tanyaku sedikit keheranan.

“Gak papa,” jawabnya singkat saja.

Notulen yang biasanya di dekat compassmen dan descriptor akhirnya bergerak ke depan untuk menemani stasioner. Semenjak tadi siang memang sedikit ada rasa takut dalam diri kami. Hawa di sekitar gua terasa menyeramkan. Dari cerita tim survei, memang Gua Ronggeng ini kabarnya yang paling terasa aroma mistisnya.

Pemetaan kami lanjutkan kembali menuju stasiun berikutnya. Karena bentukan lorong yang cukup sederhana, sampai sekitar lima stasiun kemudian pemetaan berlangsung cepat sekali. Untuk menenangkan pikiran, kami melakukan pemetaan sambil sesekali mengobrol bersama. Sedikit mengendurkan urat ketegangan di tubuh kami.

d82b3-img_1576

Di stasiun 7 akhirnya kami harus mulai menundukkan kepala, bukan untuk mengheningkan cipta tapi karena tinggi lorong hanya sekitar sepinggang saja. Supaya dapat melewati lorong ini, kami harus merangkak di genangan air. Cess. Rasa dingin terasa menusuk tulang.

“Huhh, dari kemaren gw dapet yang basah basahan mulu dah,” kataku saat itu.

“Sama, Nuk, kita kemarin juga basah kok,” Pilat menimpali kata kataku.

Aku memang sedikit parno dengan air dalam gua. Riwayat penelusuranku dalam gua berair selalu berakhir dengan gatal gatal di sekujur tubuh.

Selepas lorong merayap itu, kami sampai di sebuah aula yang cukup luas. Di ujung aula, terlihat dua pencabangan lorong. Suara gemuruh yang cukup kencang terdengar dari tempat tersebut. Tidak tahu apakah karena angin atau gema kepakan sayap kelelawar.

Di dalam aula terdapat beberapa ornamen gua, seperti stalaktit, stalakmit, pillar dan flowstone. Pemetaan di aula kami lakukan dengan menggunakan metode pemetaan kurva terbuka. Setelah pemetaan kurva selesai, kami memutuskan untuk terlebih dahulu memetakan lorong di sebelah kanan.

Setelah sekitar dua jam melakukan pemetaan, kami sepakat untuk beristirahat. Sambil mengobrol, kami menikmati beberapa bungkus snack dan kopi hangat. Saat itu kami berada di lorong yang dindingnya berupa rekahan. Aliran air sudah tidak kami temui lagi, menghilang di bawah permukaan gua. Kelelawar hilir mudik di atasa kepala, bahkan kadang kadang menabrak helm yang kami pakai.

Pemetaan kemudian kami lanjutkan kembali. Lorong mulai menyempit. Tidak hanya merayap, kadang kami bahkan juga harus sedikit memanjat untuk melanjutkan pemetaan.

Pada stasiun 40, akhirnya pemetaan lorong tersebut kami hentikan. Celah yang ada sangat sempit. Selain itu dinding lorong yang berupa rekahan sangat rapuh. Terbukti dengan banyaknya boulder yang berserakan di lantai gua. Kami memutuskan kembali ke aula untuk melanjutkan pemetaan lorong kiri.

Sesampainya di aula, kami segera melanjutkan pemetaan. Ternyata lorong kiri juga tidak bisa ditelusuri lebih jauh. Tinggi lorong hanya sekitar 30 centimeter dengan lebar berukuran sebadan. Namun yang menjadi masalah utama adalah adanya aliran air setinggi kira kira 20 centimeter yang cukup deras di lorong tersebut. Karena tidak mau mengambil resiko, akhirnya pemetaan Gua Ronggeng kami hentikan di situ.

Total kami memetakan gua ini sampai kedalaman 200 meter yang terbagi menjadi 40 stasiun. Pukul dua belas malam kami mulai bergerak keluar dari dalam gua.

Sekitar beberapa meter menjelang entrance gua, tiba tiba Ocha berlari. Tak sempat kami bertanya, kami ikut berlari di belakangnya. Sesampainya di luar akhirnya kami tahu kenapa Ocha tiba tiba berlari. Dia melihat kepala ular dalam sebuah lubang di dinding gua. Ukurannya cukup besar, sekitar sekepalan tangan.

Tidak ingin berlama lama berada di sekitar entrance gua, kami beranjak menuju camp untuk berisitirahat. Sesampainya di camp, suasana sangat sepi. Biasanya masih ada satu dua orang anggota tim yang masih terjaga menunggu tim atlet melakukan pemetaan. Sambil masih diliputi keheranan, kami membereskan peralatan pemetaan untuk kemudian berganti pakaian tidur. Kondisi fisik dan mental yang lelah dengan cepat mengantarkan kami semua ke alam mimpi

***

Keesokan harinya, kami diberitahu bahwa ada keganjilan yang terjadi di camp tadi malam. Ketika salah seorang anggota tim masih terjaga untuk melakukan pengolahan data pemetaan Gua Sawah dan Gua Nyamuk, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba tiba sebuah botol minuman energi yang berserak di samping camp pecah dengan suara yang cukup keras. Karena merasa ketakutan, akhirnya dia memilih untuk tidur. Mendengar cerita tersebut, pagi itu kami segera bergegas membongkar camp, packing dan menuju ke lokasi gua berikutnya.

08630-img_8612

Dua hari kemudian, setelah selesai melakukan pemetaan di gua keempat, kami sempatkan untuk mampir di sebuah warung langganan kami selama di Nusakambangan. Sambil bercengkerama dengan beberapa penduduk Kampung Laut, kami bercerita mengenai kegiatan kami beberapa hari terakhir. Mendengar bahwa kami melakukan pemetaan di Gua Ronggeng, tiba tiba salah seorang penduduk bertanya kepada kami.

“Di Gua Ronggeng kemarin ngeliat apa,Mas?”

“Gak ngeliat apa apa kok Pak. Biasa aja kayak gua yang lain.”

Kemudian bapak itu berkata kembali, “Masa ga ngeliat apa apa, rame itu di sana. Ada ratusan rumah lho di dalem gua.”

Mendengar jawaban tersebut kami hanya terdiam. Kami paham apa maksud penduduk tersebut. Antara percaya dan tidak. Kami sadar bahwa di dalam pekatnya kegelapan gua memang selalu tersimpan misteri. Dan itulah yang mungkin akan selalu menjadi daya tariknya.

Nusakambangan, Februari 2011.

ps : Pemetaan di Gua Ronggeng pada Ekspedisi Caving Nusakambangan Astacala IT Telkom, 09 – 17 Februari 2011.

Cerita Pendidikan Lanjut Navigasi Darat Jejak Rimba Astacala

Hujan yang turun dengan lebatnya tidak serta merta menghentikan kegiatanku dan Danang untuk mencari poin yang masih tersisa. Mata kami berdua masih sibuk mencari di antara semak belukar sungai. Menurut orientasi yang telah kami lakukan, harusnya kami sudah berada pada titik di mana seharusnya poin berada.

Namun apa daya, telah lebih dari setengah jam kami mencari, dan hasilnya masih juga nihil. Sebal juga sih, tapi apa lacur.

e3f6d-s3010051

Siang itu, kami sedang mengikuti pendidikan navigasi darat. Sebagai seorang penggiat alam, kemampuan navigasi darat adalah salah satu kemampuan yang wajib untuk kami miliki. Bayangkan saja apa jadinya nasib kami ketika berkegiatan di alam bebas tapi menentukan posisi diri sendiri saja tidak bisa, ibarat naek motor tapi pakai tutup mata, bunuh diri. Continue reading “Cerita Pendidikan Lanjut Navigasi Darat Jejak Rimba Astacala”