Serigala Menyeringai di AtAmerica

Saya keluar dari kerumunan, menepi ke pinggir panggung di sebelah kiri yang sedikit lebih renggang, melegakan nafas yang terasa sesak. Sekujur badan terasa begitu gerah, kombinasi hoodie dan kemeja yang berwarna hitam membuat keringat mengucur menjadi lebih deras. Hawa pendingin udara yang keluar dari atap ruangan pun seperti sudah kehilangan efeknya. Kalah oleh amukan segerombolan serigala di sekeliling saya.

Di dekat pintu masuk yang dijaga beberapa orang berbadan tegap, berpotongan cepak dan berseragam hitam-hitam, sesosok perempuan berambut panjang yang tadi membuka acara terlihat memegang plakat lebar bertuliskan “@america”. Ahh, ini tanda bahwa penghujung acara tampaknya memang sudah tidak lama lagi.

Saya pun merapat lagi ke dalam kerumunan yang terlihat masih bersemangat itu; kau bisa melihat tangan-tangan yang mengepal dan tatapan mata yang dipenuhi gejolak emosi. Gerombolan generasi menolak tua. Persis seperti kelakuan empat orang yang sedang berada di depan sana itu.

Dan ternyata benar dugaan saya. Dari atas panggung yang sebagian sisinya dibiarkan gelap, terdengar Arian13 berkata bahwa lagu yang akan segera dimainkan adalah lagu terakhir untuk malam ini.

Tapi sebelum itu, ia meminta kami yang berdiri tepat di depannya untuk duduk berjongkok. Iya, berjongkok dalam posisi yang itu.

“Wahh, mau ngapain lagi ya?” Batin saya dalam hati. Continue reading “Serigala Menyeringai di AtAmerica”

Lima Gig Paling Berkesan di Tahun 2014

Kita semua tahu bahwa ada banyak cara untuk menikmati sebuah karya musik. Kita bisa mendengarkannya lewat kaset, memutarnya di atas turntable, memilih channel MTV di layar televisi, berselancar di layanan streaming kanal video youtube atau mungkin, menyaksikannya langsung di atas panggung.

Untuk sebagian orang, bisa jadi yang akan menimbulkan kesan dan pengalaman dengan rasa yang paling kaya adalah menyaksikannya langsung di atas panggung. Menonton konser. Gig.

Di sana, kita tidak hanya menikmati musik secara “audio“, tetapi dari sisi “visual” juga. Tata panggung, kostum pemain dan atau performance art yang sengaja dihadirkan untuk mengiringi penampilan musiknya sebagai sebuah kesatuan cerita yang berkelindan.

Kasus khusus untuk beberapa band, sesi orasi yang “mencerdaskan”.

P1020521

Lain itu, ada kedekatan personal yang tercipta lewat tatap mata antara pemain dan penonton. Ini terutama pada gig yang diadakan di tempat yang berukuran relatif kecil seperti studio, bar atau cafe.

Plus, bonus-bonus kecil lain yang akan kita dapati seperti lengkingan vokal yang tidak sampai nadanya, petikan gitar yang fals atau tempo drum yang tidak pas pada waktunya.

Buat saya, justru bonus-bonus kecil ini yang seringkali menjadi penting karena perihal inilah yang membuat kita memahami bahwa pada dasarnya musik adalah soal tentang manusia juga, bukan hal mekanik seperti robot yang selalu berjalan tanpa cela.

Tahun 2014 lalu saya lumayan banyak mendatangi gig. Belasan kali mungkin. Dari yang gratis sampai yang harus merogoh kocek agak dalam untuk membeli tiketnya. Dari yang penontonnya ramai sekali hingga gig yang hanya ditonton beberapa gelintir orang saja. Dari band yang sudah terkenal hingga antero mancanegara sampai band-band yang sedang meniti karir dan baru sekali-dua kali naik panggung. Pokoknya macam-macam, tergantung ke-selo-an saya buat mendatangi gig-gig tersebut.

Dan inilah lima yang paling berkesan diantaranya : Continue reading “Lima Gig Paling Berkesan di Tahun 2014”