Shoegazing With Themilo

Dalam banyak hal yang ada di dunia, keseimbangan menjadi sebuah keadaan yang berusaha dicapai oleh setiap manusia. Ketika kondisi keseimbangan yang sudah ada mengalami sebuah gangguan, maka akan dilakukan sebuah mekanisme diri untuk melakukan perbaikan terhadap kondisi tersebut. Konsep ini berlaku pula pada kejiwaan manusia, ketika hati dan otak tidak mampu bekerja sama secara seimbang, maka kondisi kejiwaan yang labil (atau bahkan galau) adalah sebuah konsekuensi yang harus ditanggung.

Sejak kemunculannya sekitar akhir periode 1980an, shoegaze sering mendapat label sebagai musik yang bernuansa galau. Suara vokal yang mengambang tanpa emosi dan bebunyian aneh yang dimunculkan dari efek delay dan reverb menimbulkan kesan dalam yang gelap. Shoegaze seolah memainkan emosi pendengarnya sampai ke titik paling jauh yang bisa dirasakannya.

Hari minggu kemarin adalah pengalaman pertama saya menyaksikan sebuah pertunjukkan genre musik ini. Tidak tanggung tangung, saya berkesempatan untuk menonton satu band yang dianggap sebagai pelopor shoegaze di Indonesia, Themilo. Oiya, jangan beripikir saya sedang galau.

***

Gedung Sate tampak ramai sore itu. Ruas Jalan Diponegoro diblokir untuk pelaksanaan event LA Light Streetball. Tapi bukan itu acara tujuan saya. Tepat di halaman depan gedung yang menjadi landmark Kota Bandung ini sedang berlangsung sebuah acara bertajuk mOalbebeja, sebuah bazar event yang diadakan oleh myOyeah. Ada berbagai macam kios dengan aneka jualannya. Karena Themilo baru akan naik pentas pukul 20.00, saya pun berkeliling terlebih dahulu.

Langkah kaki saya terhenti di stand subterrestril. Seorang biduan wanita sedang berteriak teriak di belakang standup mic, scream yang diiringi cabikan liar pembetot bass dan gitar dibelakangnya, dengan dentuman penuh tenaga sang penggebuk drum. Sekumpulan penonton mulai saling bertubrukan, moshing. Saya mengambil jarak aman, tidak terlampau jauh untuk menikmati raungan musik namun tak terlampau dekat pula dengan kerumunan penonton yang menggila.

Beralih ke panggung utama, kru tampak berlalu lalang menyiapkan alat alat musik. Saya melihat jam, sudah pukul delapan lewat, sebentar lagi pertunjukan yang saya tunggu akan dimulai. Akhirnya lampu panggung mulai dinyalakan, dengan gitar yang tersampir Ajie Gergaji, vokalis Themilo sudah berdiri di depan mic.

Penonton pun merapat ke depan panggung, termasuk saya. “Light” dipilih menjadi lagu pembuka show malam itu. Langsung dilanjut dengan “Dream” dan “Romantic Purple”. Suasana gelap mulai menyeruak, terhembus pada udara yang mengalir di antara puluhan penonton yang mulai terhanyut pada distorsi nada yang mengalun dari pengeras suara. Magis.

“Malam ini mau ngegalau apa senang senang?” sapa Ajie kepada penonton.

“Galau.” jawab penonton sambil tertawa.

Lalu salah satu lagu andalan di album Photograph pun mulai terlantun, “Don’t Worry For Being Alone”.

c7473-_dsc0160

***

There’s something you could found
In the dark.
The beat that you can feel inside
And it won’t make you sad
You will know.
Don’t Worry For Being Alone.

***

Ahh saya ikut terhanyut. Sesuatu yang bergelora mulai mengaduk aduk perasaan, seiring dengan ambient yang sedang terdendangkan. Mungkin ini yang sering disebut oleh penggemar shoegaze sebagai “Eargasme”. Bukan hanya terhanyut, saya mulai terlarut.

Saya belum pernah menonton konser shoegaze sebelumnya, tapi dibandingkan dengan konser yang lain, para personel Themilo memang tidak terlalu banyak mengumbar emosi. Mukanya datar-datar saja. Mungkin lewat musiklah ekspresi emosi mereka disampaikan. Lalu dengan sedikit orasi mengenai penyesalan yang disampaikan oleh Ajie, “So Regret” menjadi lagu selanjutnya yang mereka mainkan. Betapa lagu ini semakin mengaduk aduk emosi saya. Liriknya yang dalam tentang penyesalan terasa begitu menohok.

Awalnya saya ingin banyak mengabadikan konser ini lewat kamera yang sudah saya bawa. Tapi karena baterai yang sudah tiris dan malas untuk beranjak dari posisi saya saat itu, foto-foto yang saya ambil hanya berasal dari satu angle saja.

Kemudian salah satu lagu favorit saya akhirnya mengalun. Saya mendengar lagu ini pertama kali di acara Radioshow, dan bermula dari lagu inilah saya mulai mendengarkan lagu lagu dari Themilo. Sepertinya saya wajib bersyukur malam itu menonton penampilan mereka.

382f0-4

***

Hadapi hidup yang remuk  hapus semua kenangan yang kelam
Semua nyata hati pun terluka
Gerak ini telah terdiam hati telah tertoreh pisau yang keji
Semua nyata akankah kau percaya?

Inginan bisikan terdalam, celoteh gagak terdengar
Apakah kau kan percaya?
Semua telah usai tak terbayang, celoteh gagak terdengar
Daun dan Ranting menuju surga.

Hadapi hidup yang remuk  hapus semua kenangan yang kelam
Semua nyata hati pun terluka.

***

Lagu yang dipilih sebagi penutup pentas malam itu adalah “For All The Dreams That Wings Could Fly”. Dengan baterai kamera yang sudah berkedip, saya mengabadikan penampilan terakhir Themilo itu pada video di bawah ini. Dalam hati saya masih berharap “Apart” akan dimainkan, mungkin ini pertanda bagi saya untuk menonton Themilo lagi di waktu waktu selanjutnya. Semoga.

***

a1758-_dsc0189

Dalam siklus kehidupan seorang manusia, ada kalanya kita akan mengalami tekanan yang begitu beratnya. Ada saatnya kita merasa jatuh dan terjerumus dalam lubang keputusasaan yang teramat dalam. Namun bukan berarti kita harus berakhir di titik tersebut. Bangkit dari keterpurukan dan lawanlah semua yang menghadang. Seperti kata Themilo, saatnya menghadapi hidup yang remuk dan menghapuskan semua kenangan yang kelam.

Bandung, Juni 2012

Pendakian Gunung Burangrang Pada Diklan Search And Rescue JR

Udara terasa semakin panas aku rasakan ketika kami berjalan melintasi sebuah jalan yang dipenuhi dengan batu batu itu. Maklum, beban berat dan jalan menanjak membuat tubuh kami terus menerus mengeluarkan keringat. Siang  itu, kami berlima, Aku, Kresna, Blasius, Yovie dan Sigit baru saja meninggalkan sebuah kampung kecil di kaki Gunung Burangrang, sebuah desa yang sekaligus juga menjadi pintu masuk ke kawasan pelatihan TNI Situ Lembang.

18426-dsc05681

Siang itu kami sedang menjalani pendidikan lanjur SAR. Sesuai dengan namanya, dalam kegiatan ini kami akan mempelajari dan mempraktekkan bagaimana sebuah operasi SAR dilaksanakan, khususnya adalah operasi SAR di medan gunung hutan. Kami akan melakukan simulasi pencarian korban yang hilang ketika melakukan pendakian. Pendidikan lanjut SAR ini diadakan pada 30 Mei – 2 Juni 2008, berlokasi di Kawasan Gunung Burangrang, Lembang, Jawa Barat. Continue reading “Pendakian Gunung Burangrang Pada Diklan Search And Rescue JR”

Selamat Pagi, Selamat Datang di Pecel Lele Lela

Sore ini saya mendapat sebuah pengalaman yang cukup menarik. Sepulang dari toko buku, melihat waktu berbuka puasa yang tinggal beberapa saat lagi, saya segera bergegas untuk mencari tempat untuk berbuka puasa.

Setelah beberapa saat saya berkendara, akhirnya saya berhenti di salah satu warung makan di daerah Buah Batu. Pecel Lele Lela namanya.

“Selamat Pagi, Selamat Datang di Pecel Lele Lela,” begitulah sapaan yang di ucapkan seluruh karyawan di warung Pecel Lele Lela ketika saya memasuki warung tersebut. Agak kaget dan salah tingkah sendiri saya disambut ucapan seperti itu.

Seperti tertera di salah satu poster di dinding warung tersebut, nampaknya baik siang atau malam hari, pengunjung akan tetap di sambut dengan sapaan selamat pagi, yang diucapkan serentak secara bersama-sama oleh seluruh karyawan warung.

daac0-iy0x07

Kata-kata memiliki kekuatan sugesti yang sangat kuat kepada seseorang, baik disadari ataupun tidak. Nampaknya ini disadari betul oleh pemilik warung makan Pecel Lele Lela ini. Ucapan “Selamat Pagi” yang diucapkan kepada pengunjung akan membentuk pikiran positif kepada mereka.

Seyogyanya ucapan “Selamat Pagi” menandakan saat hari masih pagi, saat untuk memulai aktivitas, dengan semangat baru, pikiran yang fresh dan ide-ide yang cemerlang. Dan memang seperti itulah yang mungkin diharapkan oleh si pemilik warung. Bahwa ketika pengunjung menginjakkan kaki keluar dari warung, telah tertanam di benaknya, bahwa saat itu masih “pagi”. Saatnya menyongsong hari dengan semangat baru, seperti ketika kita memulai beraktivitas di pagi hari tadi.

***

“Mau pesan apa, Mas?” lamunan saya mendadak terhenti.

“Liat menunya, Mas?”

Lantas diulurkannya selembar kertas berisi menu kepada saya. Sejurus kemudian mata saya telah tertuju pada salah satu menu yang tertera di kertas tersebut. Lele goreng kremes dan sebotol air mineral menjadi menu buka puasa saya sore ini.

Perut telah terisi, saatnya melanjutkan aktifitas lagi, dengan semangat pagi hari. Seperti kata Pecel Lele Lela “Selamat Pagi, Selamat Datang di Pecel Lele Lela”.

Bandung, Agustus 2011.