Musik Ala Beirut (Part 2)

Tulisan di bawah ini berisi beberapa lagu favorit saya dari Beirut, yang merupakan lanjutan dari tulisan berjudul sama yang telah diposting beberapa hari sebelumnya. Ada baiknya anda membaca tulisan tersebut terlebih dahulu. Dan seperti biasa, jika tulisan di bawah ini terlihat sangat overrated, sepenuhnya merupakan penilaian objektif saya sendiri. Terimakasih.

1. Beirut – Postcard From Italy

Salah satu lagu Beirut yang paling Beirut. Errr, maksud saya lagu ini adalah representasi sempurna dari apa yang disebut sebagai musik Beirut pada awalnya dulu. Perkawinan lintas genre yang secara sempurna termaktub dalam lagu ini, dari balkan folk hingga nuansa mariachi yang sangat kental Meksiko nya. “Postcard From Italy” yang masuk dalam daftar lagu album Gulag Orkestrar adalah salah satu track awal yang ikut menaikan popularitas Beirut hingga akhirnya dikenal banyak orang seperti saat ini.

Satu kelebihan lain dari Beirut adalah perihal liriknya yang puitis, menimbulkan kesan mendalam. Salah satu contohnya adalah pada Postcard  From Italy ini. Saya tak akan mencoba mengintrepretasikannya di sini. Terlampau indah hingga tak perlu lagi coba ditafsirkan macam macam, cukup dibaca dan kita akan tahu betapa romantisnya Zach dalam menulis lagu.

Dan pastinya ini adalah lagu yang ingin kau mainkan di hari pernikahanmu kelak.

And I will love to see that day
That day is mine
When she will marry me outside with the willow trees
And play the songs we made
They made me so
And I would love to see that day.

Her day was mine.

2. Beirut – Santa Fe

Salah satu track favorit saya yang diambil dari album terakhir Beirut, The Rip Tide. Mengenai pemberian judulnya, ini adalah hal yang jamak ditemui pada setiap album Beirut. Zach Condon, frontman sekaligus penulis lirik Beirut, sepertinya memang gemar memberikan nama suatu tempat sebagai judul lagu yang ia buat, “City names tend to have a certain power.”

Santa Fe sendiri adalah kota dimana Zach berasal. Kota terbesar keempat yang sekaligus merupakan ibukota negara bagian New Mexico, US. Lokasinya yang berada di dekat perbatasan dengan Meksiko menyebabkan terjadinya akulturasi budaya hispanic di sini. Hal yang bisa menjelaskan adanya influence musik Meksiko, terutama mariachi, pada banyak lagu lagu Beirut.

Santa Fe adalah lagu mengenai pertalian Zach terhadap kota tempatnya beranjak dewasa. Setelah menghabiskan sebagian masa mudanya untuk bertualang di penjuru Eropa, kemudian konser dari satu kota ke kota yang lainnya, pada akhirnya Zach merasakan kerinduan yang teramat besar terhadap semua yang telah beberapa lama ia tinggalkan. Maka kemudian kerinduan tersebut ia tumpahkan dalam lirik yang begitu jujur dalam lagu ini. Dibalut dengan musik riang yang tidak biasa, Santa Fe sungguh menyenangkan untuk diputar dan didengarkan berkali kali.

Lagu ini terdengar begitu sentimentil di telinga saya, mengingatkan saya bahwa sejauh dan selama apapun saya bepergian, pada akhirnya selalu ada tempat bernama rumah dimana saya harus kembali pulang.

Your days in one
This day undone
(The kind that breaks under)
All day at once
(for me, for you)
I’m just too young
(And what of my heart)
This day was once
(Silence before)
All grace of lost
Can’t wait at all
(Can’t wait at all)
Temptation won.”

And what ever comes through the door
I’ll see it face to face
All by your place.

“Sign me up Santa Fe
And call your son
Sign me up Santa Fe
On the cross Santa Fe
And all I want
Sign me up Santa Fe
And call your son.

3.9.06 Noah and Beirut

3. Beirut – Rhineland(Heartland)

Ini adalah satu lagu dengan empat kalimat yang nendang tepat ke ulu hati. Saya membacanya seperti seseorang yang sudah tak lagi merasa nyaman dengan kondisi kehidupannya, bahwa ada hal tidak benar yang  sedang terjadi. Sayang tak ada keberanian darinya untuk menghadapi kenyataan tersebut.

Dia tahu harus pergi, namun tidak berani. Hanya kegamangan. Ahh sial.

Life, life is all right on the Rhine
No, but I know, but I know
I would have nowhere to go
No, but there’s nowhere to go, to go

4. Beirut – Nantes

Pernahkah kau merakan kerinduan yang teramat besar pada seseorang? Seseorang yang karena satu dan lain hal tidak bisa lagi kau temui? Seseorang yang keberadaanya sangat berarti bagimu? Maka saya yakin lagu ini akan menggambarkan perasaan itu dengan sempurna.

Nantes adalah satu dari sekian lagu yang paling awal saya dengar, yang akhirnya membuat saya benar benar jatuh hati pada Beirut. Komposisi dari akordeon, piano, drum, violin dan horns yang sangat catchy, bahkan untuk telinga yang awam terhadap musik “tidak populer” sekalipun. Zach mampu meramu berbagai bebunyian tersebut dengan momen yang pas, saling bergantian dalam mengisi partitur nadanya. Lagu ini masuk pada album The Flying Club Cup yang dirilis pada bulan Oktober 2007.

Yang unik dari lagu ini adalah dimasukkanya percakapan (baca pertengkaran) sepasang pria dan wanita berbahasa Prancis yang muncul di tengah lagu. Hal yang tidak original memang karena sebelumnya sudah banyak lagu lain yang memasukkan pula percakapan dalam sebuah komposisinya, namun tetap saja dialog ini mampu meniupkan kesan tersendiri ketika didengarkan, pun mempertebal suasana Prancis sebagai latar pada lagu ini.

Dialog singkat tersebut diambil dari film Prancis produksi tahun 1938 yang berjudul “La bete humaine“. Film yang merupakan karya sutradara legendaris asal Prancis Jean Renoir ini adalah sebuah film klasik bergenre drama psikologis yang oleh beberapa pihak seringkali dianggap “cult“.

Nantes bagi saya adalah mengenai perasaan bersalah yang teramat dalam kepada seseorang. Yang saking dalamnya hingga bahkan kau pun tak sanggup untuk bertemu lagi dengan orang tersebut dan lebih memilih untuk memendam dalam saja kerinduanmu itu. Tragis betul.

Well it’s been a long time, long time now
Since I’ve seen you smile.
And I’ll gamble away my fright.
And I’ll gamble away my time.
And in a year, a year or so
This will slip into the sea.

Well it’s been a long time, long time now
Since I’ve seen you smile.

5. Beirut – Goshen

Barangkali perpisahan adalah suatu keharusan, jika dirasa itu memang yang terbaik. Dan Goshen adalah tentang perpisahan tersebut, perpisahan yang pahit tepatnya. Tentang dua orang yang tak lagi saling percaya. Tentang kejujuran yang tak lagi bisa terucapkan.

Berbeda dengan lagu lagu Beirut yang lain, Goshen sederhana jika dilihat dari jumlah instrumen yang ikut bermain. Didominasi oleh piano dan vokal berat nan getir dari Zach yang kemudian di sepertiga akhir lagu ikut diramaikan oleh bunyi drum dan terompet. Sederhana, namun tetap mengena.

Dan sungguh saya tidak berbohong, lagu ini benar benar menyayat hati. Sungguh.

But you never found it home
A Fair price I’d pay to be alone
What would you hide from such a glory ?
If I had only told you so.

Jakarta, Januari 2013.

Musik Ala Beirut

Barangkali merupakan pekerjaan yang sulit untuk menentukan bagus atau tidaknya sebuah musik. Tidak ada patokan jelas yang jadi justifikasinya. Ada yang mengacu pada jumlah penghargaan yang berhasil diraih. Ada pula yang mempergunakan jumlah penjualan album sebagai parameter ukurnya. Dan bermacam lagi pertimbangan lainnya.

Perbedaan background pendengar pun bisa menghasilkan penilaian yang berbeda pula. Dari kalangan aktivis, mungkin musik yang bagus adalah yang dinilai mampu memberi dan menyuarakan perubahan. Bagi pengusaha label rekaman, musik bagus jelas adalah yang dia rasa akan mampu menghasilkan banyak keuntungan.

Maka tidak lah mengherankan ketika misalnya ada satu pihak yang telah memberikan penilaian terhadap kualitas sebuah karya musik, bisa jadi pihak lain akan memberikan penilaian yang berkebalikan. Toh memang ada banyak hal yang bisa menjadi point pertimbangan, tidak fix, berada pada domain grey area jika kita ingat dengan teorema fuzzy.

Pada akhirnya semua punya pendapat masing masing. Maka oleh tiap pendengarnya sendiri lah bagus atau tidaknya suatu musik akan ditentukan.

***

Semua berawal dari sebuah situs internet yang kala itu sering dibuka oleh kawan saya Oca, www.vimeo.com. Vimeo ini merupakan situs video sharing yang sekilas mirip dengan youtube.com, namun dengan koleksi video yang dari beberapa segi menurut saya jauh lebih bagus dari yang ada di youtube kebanyakan. Hampir saban hari saya membuka vimeo, sekadar browsing video sambil sesekali mengunduhnya untuk dijadikan koleksi.

Jadi ceritanya pagi itu saya ingin menonton video dari salah satu soundtrack film “500 Days of Summer”. Namun karena lupa siapa penyanyi dari video yang ingin ditonton tersebut, maka saya pun mengetikkan begitu saja satu kata yang seingat saya adalah judul lagu di fasilitas pencari situs vimeo.

Ternyata saya salah. Kata “vagabond” justru membawa saya kepada sebuah video dengan musik yang terdengar aneh dan janggal. Musik yang seolah menyeret alam pikiran saya kembali ke masa lalu. Pun dengan videonya yang berformat B/W itu, makin mempertegas kesan kuno yang saya rasakan. Selama hampir empat menit kemudian saya hanya tercenung begitu saja menatap layar komputer, meresapi tiap detik durasinya.

Dan beberapa menit kemudian saya tahu, band aneh itu bernama Beirut.

331c4-8064074349fc842a6cbc3cadc32d

***

Beirut banyak dikenal orang sebagai nama ibukota salah satu negara di Timur Tengah, Libanon. Kota ini berusia cukup senja, sudah dikenal dalam perpetaan dunia sejak tahun 3000 SM. Sebelum perang saudara Lebanon pecah, kota ini mendapat julukan “The Paris of The Middle East” karena suasana kosmopolitannya yang mirip dengan kota Paris. Beirut adalah kota dengan diferensiasi penduduk yang bermacam macam jika dilihat dari masalah kepercayaan agamanya, yang kondisinya menjadi semakin tersegregasi seiring perang yang berkecamuk.

Namun tak ada pretensi khusus apapun bagi Zach Condon, frontman sekaligus vokalis dan penulis lirik dari Beirut ketika akhirnya dia memilih nama kota ini sebagai nama band yang ia bentuk.

“It wasn’t a political thing. I wanted to hide behind a moniker and not be introduced as a singer-songwriter. I wanted there to be confusion as to whether it was all coming from one person. City names tend to have a certain power.”

Beirut adalah sebuah kolektif bermusik yang pada awalnya merupakan proyek pribadi Zachary Francis Condon, pemuda yang pada rilisan album pertama dulu masih berusia 20 tahun. Zach menghabiskan sebagian masa kecilnya Newport News, Virginia sebelum berpindah ke Santa Fe, New Mexico. Ketika menginjak usia remaja Zach memainkan terumpet di sebuah band jazz, sesuatu yang ikut mempengaruhi referensi musiknya. Zach bersekolah di Santa Fe High School, namun tidak selesai. Ia drop out pada usia 17 tahun.

Pada usia 17 tahun pula Zach, bersama kakaknya Rian, memutuskan untuk melakukan perjalanan melintasi Eropa. Satu hal yang banyak mengejutkan orang orang di sekitarnya mengingat dia bahkan dikenal tak pernah bepergian jauh dari rumahnya. Perjalanan yang oleh banyak media dibungkus secara romantis sebagai “exploration of a world music”, sebuah perjalanan yang kemudian berpengaruh besar pada aliran musik Beirut. Sesuatu yang memang sulit untuk disangkal karena kita bisa mendengar banyak sound Eropa daratan di lagu lagu Beirut. Namun dalam sebuah wawancara Zach berusaha meluruskan kisah legendarisnya tersebut :

“Are you looking for the honest story? Yeah, I travelled. What I think it is they mix up is that they want this big, fantastical story of this big voyage through Europe, of soul searching and finding this music, and having a purpose in life. But it wasn’t like that. It was me being a 17, 18 year old kid, and just being a hooligan in Europe, drinking and hanging out with kids on the riverside and not doing anything responsible or that interesting for that matter. I did discover the sound when I was over there, so it’s a half truth but I don’t feel like pushing the romantic aspect of it.”

Sungguh jawaban yang begitu jujur dan rendah hati dari pria yang lahir pada 13 Februari 1986 ini, mengingat kisah seperti ini berpotensi besar untuk lebih menjual musiknya kepada kalangan yang lebih luas.

Sepulang dari Eropa, Zach kemudian merekam album pertamanya, The Gulag Orkestrar. Rekaman yang ia lakukan sendirian di dalam kamar tidurnya di rumah sebelum akhirnya disempurnakan di studio atas bantuan Jeremy Barnes dari kolektif Neutral Milk Hotel. Jeremy ikut mengisi part drum dalam album ini.

Beirut resmi terbentuk setelah penampilan pertama mereka di New York, pertengahan tahun 2006.

***

Musik Beirut terdengar seperti musik etnik yang bercampur baur, namun menghasilkan harmoni nada dalam porsi yang pas. Antara musik prancis, balkan folk hingga mariachi yang kental dengan budaya hispanic. Vokal bariton yang berat dari Zach ikut pula menjadi warna penting dari apa yang akhirnya boleh kita sebut sebagai “Beirut Sound”, musik ala Beirut.

Beirut adalah sebuah kolektif yang sangat kaya instrumen, beberapa bahkan saya sangat yakin tak banyak diketahui orang. Mulai dari ukulele, mandolin, piano, terumpet, akordeon hingga yang aneh aneh seperti french horn, glockenspiel, flugelhorn, tuba dan euphonium. Persis seperti orkestra.

f38f3-beirut-band-636x310

“I kind of wanted a ramshackle orchestra. This is gonna sound like a romantic story, but when I was in Paris I saw this band of kids that all bought pawn shop instruments like busted up tubas and trumpets and stuff, and they would all wander around Paris, playing. They weren’t great musicians or anything, but it sounded awesome and was a lot of fun. I kind of wanted to mimic that idea. That’s why I’m working with…basically we are all amateurs. No way in hell could I ever revert back to a guitar-bass-drum kind of band. I can’t write for that. I don’t really even like the sound that much.”

Di usianya yang masih teramat muda, Zach seperti telah memperoleh pencerahan yang lazimnya baru diperoleh pada umur yang jauh lebih tua darinya. Musik yang dihasilkan oleh Beirut terdengar sangat mapan, sangat dewasa.

***

Mendengarkan musik dari Beirut mampu membawa kita berpindah tempat, tidak hanya secara ruang, namun juga dalam dimensi waktu.

Mendengarkan Beirut akan membawa kita melanglang buana melintasi daratan Eropa, menikmati hangatnya matahari Prancis, menyeberangi suburnya dataran Jerman, berhenti sebentar di Italia dan lalu menikmati sepoi angin laut Mediterania, hingga kemudian berlanjut ke pedalaman negara negara Balkan yang penuh dengan misteri.

Mendengarkan Beirut akan membawa kita kembali ke masa beberapa puluh tahun yang lalu. Ke masa masa dimana Perang Dunia I baru saja usai, menikmati pertujukan musik di seputaran kota Paris yang dipenuhi oleh penduduk yang bercanda dan melepas rasa penat di akhir pekan. Atau kembali pada masa masa dimana kaum gypsi masih berkeliaran di bawah kabut pegunungan Balkan, dengan iringan musiknya yang bergema sepanjang perjalanan.

Mendengarkan Beirut adalah “travelling without moving”.

***

Bahwa apa yang sering kita sebut sebagai kebetulan tidaklah terjadi begitu saja. Peristiwa kebetulan ini bisa jadi merupakan perwujudan dari apa yang kita percayai akan terjadi, secara sadar ataupun tidak. Frekuensi pikiran yang kita keluarkan menyebar ke seluruh penjuru semesta, terhubung dalam satu rangkaian entitas sedemikian rupa yang akan mewujudkan pikiran kita tersebut pada sebuah kejadian yang nyata. Law Of Attraction, begitu nama kerennya kalu tidak salah.

Dan mungkin itulah yang melatarbelakangi penemuan saya dengan kolektif unik bernamakan Beirut ini. Sebuah band yang selama hampir setahun terakhir selalu mampu membius saya untuk lagi dan lagi mendengarkan lagu lagunya.

Meminjam kalimat dari Harlan Boer, pentolan dari unit musik C’mon Lemon, mungkin Beirut telah menculik saya, dan saya pun menculik Beirut. Kami berdua telah saling menculik.

Maka berawal dari kesalahan dalam mengetikkan keyword, saya justru menemukan dengan apa yang selama ini benar benar saya cari. Musik yang menawarkan alternatif lain dari hiruk pikuk nya musik populer yang selama ini kita (terpaksa) dengar.

Musik yang bagus, bagi saya setidaknya.

Jakarta, Januari  2013.

Balkan and Mariachi Music

Malam ini saya pergi ke sebuah padang luas yang berdebu,
berhiaskan pohon kaktus dan bukit bukit gersang.
Menyaksikan seorang pria berkumis lancip bertopi
sombrero sedang memainkan sebuah gitar.

Lalu ia mengeluarkan sepucuk pistol dari balik bajunya,
melepaskan peluru tepat ke arah jantung saya berdetak.

Maka bangunlah saya dari kematian.

7f741-untitled

Bandung, April 2013.