Lima Buku Terbaik Yang Saya Baca di Tahun 2014

Bulan-bulan belakangan, dalam beberapa kali kesempatan, terutama ketika sedang malas untuk makan siang, saya biasa menghabiskan waktu istirahat di kantor dengan membaca buku-buku yang memang dengan sengaja saya bawa dari kost-an. Oleh sebab hampir sebagian besar rekan kerja yang lain menghilang dari meja kerjanya, satu jam waktu istirahat kerja tersebut menjadi momen yang lumayan menyenangkan untuk membaca. Karena sepinya.

Pada sebuah siang dimana hujan lagi deras-derasnya turun mengguyur kota Jakarta, saya sedang membaca laki-laki pemanggul goni (Cerpen Pilihan Kompas 2012) ketika rekan kerja sedivisi saya datang menghampiri dan bertanya mengenai judul buku yang sedang saya baca tersebut.

Ketika kemudian dia bertanya bagus atau tidak bukunya, saya, secara luar-biasa-bodoh-yang-tidak-pada-tempatnya, malah berucap seperti berikut : “Sastra sih, Buk. Ya begitu, bahasa plus ceritanya muter-muter bikin bingung.”

Luar biasa bodoh karena kalimat tersebut telah membikin jarak yang seperti mengaminkan pendapat kebanyakan orang bahwa sastra adalah sesuatu yang sulit untuk dinikmati.

Tapi ya sudahlah. Tahun ini adalah tahun yang lumayan seru buat saya perihal kegiatan baca-membaca. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya kebanyaan buku yang saya baca genre-nya adalah fantasi, tahun 2014 menjadi sedikit lebih beragam. Pun beruntung tahun 2014 ini alokasi dana untuk menambah perbendaharaan jumlah buku mendapatkan jatah lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.

IMG_20141020_225812

Namun begitu–ini adalah cliche yang sudah kita dengar berulangkali–kecepatan saya dalam menambah jumlah perbendaharaan buku ini jauh melebihi kemampuan (atau kemauan sebetulnya) saya untuk membaca kesemua-muanya. Yang mlangkrak dan tak tersentuh, atau yang nasibnya sedikit lebih baik, sudah tersentuh namun gagal ditamatkan, proporsinya menjadi jauh lebih banyak dari yang terbeli dan terbaca hingga selesai.

Dari proporsi yang sedikit itu, ada beberapa buku yang lumayan berkesan begitu saya membacanya hingga saya baca berulang kali. Ada juga buku yang saya baca dengan kecepatan yang sedemikian lambat karena kemampuan otak yang tidak mampu mencernanya isinya dengan tepat. Duh.

Berikut adalah lima di antara nya : Continue reading “Lima Buku Terbaik Yang Saya Baca di Tahun 2014”

Bagaimana Dia Akhirnya Melarikan Diri dari Beberapa Draf yang Menghantui Rumahnya

Ada beberapa hal yang membuat sedih, sekaligus juga kecewa ketika membuka tab admin laman blog ini. Sedih karena melihat ada beberapa belas draf tulisan yang belum terselesaikan. Kecewa karena sepertinya saya tidak akan menyelesaikannya.

Biasanya saya menulis karena mendapatkan kesan akan sesuatu, dan karena kesan jarang melekat pada ingatan–kukira dia melekat pada kenangan, dan hei, kita semua tahu kenangan bekerja dengan cara yang tak pernah bisa kita duga–saya sudah lupa perihal apa yang hendak disampaikan pada beberapa draf tersebut.

Oke, saya menggumam saja dan benar, pembuka di atas sungguh membosankan. Ketika menulis kalimat ini, di bawah sana sudah ada tiga draf yang saya kopi begitu saja dari tempatnya berasal, ruangan lain, anasir lain rumah maya ini. Dan karena petang ini hawanya gerah sekali, pun penjual nasi goreng di dekat kostan saya tutup, lebih baik saya berdiam diri di kamar saja, dan mulai memainkan permainan mengingat, dan atau melanjutkan. Iya, tidak nyambung memang. Continue reading “Bagaimana Dia Akhirnya Melarikan Diri dari Beberapa Draf yang Menghantui Rumahnya”