Surgo 2006, Menyusuri Kedalaman Gua Seropan dan Gua Semuluh

Seperti tahun tahun sebelumnya, Surgo 2006 dilaksanakan di Gua Seropan dan Gua Semuluh, dua buah gua yang teletak di Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta. Gua Seropan dan Gua Semuluh memang memiliki nilai historik bagi organisasai pecinta alam kami, Teladan Hiking Association, sispala SMA Negeri 1 Yogyakarta.

Penelusuran kedua buah gua ini saat itu menjadi semacam kegiatan rutin yang diadakan setiap tahunnya. Kami memberikan nama kegiatan tersebut dengan nama “Surgo”, singkatan dari susur gua. Nama yang sederhana memang.

69495-100_8253

Lokasi Gua Semuluh terletak di Desa Semuluh, kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Jogyakarta. Gua Semuluh adalah gua horizontal, dengan waktu penelusuran sekitar 2 – 3 jam. Sedangkan Gua Seropan terletak tidah jauh dari lokasi mulut Gua Semuluh, sekitar 20 menit perjalanan jalan kaki. Selain terkenal dengan aliran sungai bawah tanahnya, mulut Gua Seropan juga biasa digunakan sebagai lokasi panjat tebing, terbukti dengan adanya beberapa hanger yang telah terpasang. Continue reading “Surgo 2006, Menyusuri Kedalaman Gua Seropan dan Gua Semuluh”

Penelusuran Gua Kraton dan Gua Cikaray

“Goa, ibarat suatu buku yang merekam berbagai episode geologi-bioarkeologi. Setiap langkah didalamnya ibarat melintasi halaman yang berisi sejarah dalam bahasa dan ucapan yang memikat.”

Instroduksi Karstospeleologi – R.K.T Ko.

Kesunyian ini terasa semakin mengerikan saja. Sendirian pada kedalaman  sekitar 30 meter di bawah permukaan tanah adalah sebuah pengalaman yang baru bagiku. Apalagi terbayang bayang dalam benakku cerita yang tadi dituturkan oleh Bang Loreng mengenai kemunculan ular jejadian yang menghuni goa ini.

“Beuh, semoga aja gak ada apa apa yang muncul,” kataku menenangkan diri sendiri.

Duduk di  teras goa yang hanya selebar 4 meter persegi dengan mengenakan sebuah harness sebagai pengaman semakin membuatku tidak nyaman saja.

fd2a2-n1619529633_200157_6477847

 

“Wid, widi!!!” teriakku pada Widi yang berada satu pitch di atasku.

“Yo”  terdengar jawaban Widi beberapa saat kemudian. Rasa ngantuk yang luar biasa besarnya memaksaku untuk selalu berkomunikasi dengan anggota tim yang lain.

Malam itu kami sedang mengadakan penelusuran ke dalam Goa Kraton dalam rangka Pendidikan Lanjut Caving yang sedang aku ikuti. Goa Kraton adalah sebuah goa vertikal dengan kedalaman sekitar 80-100 meter yang terletak di daerah Bogor. Berangkat dari Bandung pada pagi harinya, kami sampai di lokasi sekitar pukul 15.00. Setelah mendirikan mengurus perijinan, mendirikan camp dan makan malam, kami segera saja bergerak memulai penelusuran.

Kami memulai penelusuran sekitar pukul 20.00. Anggota tim yang turun adalah aku, Widi dan Boleng sebagai instruktur kami. Sedang yang bertugas sebagai tim Basecamp adalah Kresna, Handung dan Widdha.

Karena Gua Kraton adalah gua vertikal, maka terlebih dahulu dilakukan proses pembuatan anchor atau rigging lintasan SRT (Single Rope Technique).  Yang membuat rigging saat itu adalah Boleng dengan Widdha sebagi secondman-nya.

Seusai melakukan rigging, satu persatu kami mulai turun ke bawah. Yang pertama turun adalah Boleng, kemudian aku dan Widi. Karena keterbatasan alat yang kami miliki, kami terpaksa melakukan sistem transfer alat.

Satu demi satu pitch dengan lancar kami lewati. Namun menginjak pitch ketiga, masalah muncul. Terbentur oleh keadaan goa, sistem transfer tidak dapat dilakukan. Kemudian diputuskan bahwa aku dan Boleng yang selanjutnya meneruskan penelusuran. Namun akhirnya hanya Boleng sendiri yang mencapai dasar goa. Aku sendiri terhenti di pitch 4.

Setelah selesai melakukan penelusuran di bawah, kami segera SRTan naik ke atas. Boleng naik pertama, kemudian Widi, Aku sendiri menjadi orang terakhir yang naik ke atas sembari melakukkan cleaning alat. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi ketika kami memulai pergerakan keluar dari dalam gua.

Ketika keluar dari gua, matahari sudah menyingsing di atas kepala kami. Begitu sampai di camp yang terletak di mulut goa, kami segera beristirahat karena malam harinya kami masih akan melakukan penelusuran lagi. Kali ini ke Goa Cikaray. Sebuah  goa horizontal yang letaknya tidak jauh dari situ.

Berjalan terbungkuk bungkuk, jongkong, merayap dan merelakan air membasahi coverall kami terpaksa kami lakukan untuk dapat menikmati setiap sudut dari Goa Cikaray. Malam ini, kami melanjutkan penelusuran kami di kawasan karst Tajur. Penelusuran sendiri kami mulai sekitar pukul 21.00. personel penelusuran adalah Aku, Kresna, Handung dan Boleng. Berbeda dengan Goa Kraton, kali ini kami hanya membawa peralatan penelusuran gua horizontal.

db627-n1619529633_200160_5480840

Rupanya Boleng sebagai instruktur kami ingin semaksimal mungkin dalam mengeksplor goa ini. Setiap sudut, sekecil dan sesempit mungkin kami jelajahi. Bagi Handung hal ini tersa sangatlah menakutkan. Maklum saja, ukuran badan Handung memang agak besar sehingga menyulitkannya melalui celah celah sempit.

Setelah beberapa lamanya melakukan penelusuran, kami memutuskan untuk segera mengakhirinya, namun sebelum itu kami akan melakukan sebuah hal yang menyenangkan. Mandi di goa. Berendam kami dengan puasnya di sana, apalagi dengan rasa gatal yang sedari tadi telah menyerang kami, berendam terasa sangat menyenangkan.

Kami keluar dari goa pada pukul 01.30. Setelah membersihkan diri, kami segera beristirahat. Paginya, setelah berpamitan, kami memulai perjalanan pulang menuju sekre. Pukul 15.00 kami telah sampai sekre dengan selamat.

Tajur, Februari 2009.

ps : Pendidikan Lanjut Caving Jejak Rimba Astacala, 13-15 Februari 2009.

Memetakan Gua Ronggeng, Aroma Misteri Dalam Kegelapan Gua

“Dan di dalam kegelapan itu, tersimpan sejuta misteri, menunggu untuk dipahami.”

Crash, crash, crash. Demikian bunyi batang ilalang yang terpotong oleh kuat ayunan golokku. Sudah sekitar 10 menit aku membuka jalur di sekitar tempat itu, mengayunkan golok sambil berusaha memutar balik ingatanku, mencoba mengingat ingat lagi jalur perjalanan yang telah aku lewati 4 hari sebelumnya.

Kudongakkan kepalaku ke atas, coba kulihat pohon pohon di sekeliling tempatku berdiri. Meskipun nampak berbeda dari yang bisa aku ingat, namun perasaanku berkata bahwa aku memang telah berada di dekat tempat tujuanku saat itu.

Sejenak berisitirahat, kutancapkan golokku ke tanah, kuraih GPS dari saku celana pendekku, segera kunyalakan. Suasana yang gelap oleh tebalnya kanopi pepohonan cukup membuat bulu kudukku merinding, mencoba untuk tidak mempedulikan, kualihkan penglihatanku ke layar GPS.

Dan ternyata benar, titik yang akan aku tuju sudah terletak 60 meter dari tempatku duduk saat itu. Bergegas aku berdiri, sambil memicingkan mata menajamkan daya lihat, aku menuju arah yang tadi ditunjukkan oleh GPS.

Setelah beberapa saat aku berjalan, dengan melompati beberapa kelokan aliran sungai kecil dan diiringi ganasnya kerumunan nyamuk hutan, sampai juga aku di tempat itu, sebuah bentukan yang sangat aku kenali, lorong gelap dengan pintu masuk cukup besar yang tidak lain dan tidak bukan adalah entrance sebuah gua. Seraya berucap alhamdulillah, aku bersyukur akhirnya telah sampai di entrance Gua Ronggeng.

Dengan mengikuti jalur tempatku datang tadi, aku lari-lari kecil menghampiri mereka yang sedang beristirahat, angota timku, Tim B Ekspedisi Caving Nusakambangan Astacala.

“Woeii, ayo buruan, guanya di depan tuh, uda ada tempat camp-nya juga. Biar buruan istirahat,” kataku pada mereka. Mendengar ajakanku, segera mereka berdiri dan mulai berjalan kembali.

901e8-img_8604

Tak seberapa lama kemudian, seluruh anggota tim telah sampai di sekitar mulut gua. Kami segera membongkar packing-an dan menyiapkan camp.

Siang itu dihabiskan oleh sebagian tim atlet dengan tidur, menyiapkan fisik untuk pemetaan malam nanti. Sedangkan tim pengolah data, mereka mulai disibukkan dengan alat tulis, kalkulator dan woksheet data pemetaan dua gua sebelumnya.

Gua Ronggeng, begitulah nama gua yang rencananya akan kami petakan hari itu. Titik mulut gua yang cukup tersembunyi, terletak di lembahan yang tertutup oleh rimbun pepohonan dan rumput ilalang, sedikit mempersulit akses kami menuju tempat tersebut.

Menurut cerita Pak Narsid, penduduk Kampung Laut yang dulu pernah mengantarkan tim survei ekspedisi ke gua ini, kadangkala dari dalam Gua Ronggeng sering terdengar bunyi keriuhan, mirip orang-orang sedang “ronggengan”. Sehingga oleh penduduk sekitar akhirnya gua ini diberi nama Gua Ronggeng.

Dari bentuknya, gua ini termasuk jenis gua horizontal. Tinggi entrance sekitar dua meter dengan lebar empat meter dihitung dari dinding terluar. Dari dalam gua mengalir sebuah sungai kecil dengan kedalaman sekitar lima centimeter. Hasil survei yang telah dilakukan sebelumnya, menunjukkan data bahwa kebanyakan gua di daerah Nusakambangan Barat memang merupakan gua berair.

Di sekitar entrance banyak ditemukan tumbuhan menjalar dan pohon bambu yang tumbuh dengan suburnya. Hewan yang terlihat mondar-mandir di entrance gua adalah burung dan kelelawar. Selain itu menurut keterangan Pak Narsid, sering ditemukan juga beberapa spesies ular dari dalam gua, misalnya adalah jenis sanca kembang.

Sekitar pukul delapan malam, kami mulai bergerak untuk memulai pemetaan. Personel yang bertugas menjadi tim atlet untuk mapping adalah Muhammad Kautsar Ocha, Ilham Kamil Pilat, Vidya Haryati dan aku sendiri. Ocha berposisi sebagai stasioner, Pilat compassmen, Vidya descriptor dan aku sebagai notulen.

Grade pemetaan yang kami lakukan adalah 3C standard BCRA, dengan sistem pemetaan  Top To Bottom dan metode Forward Method. Pemilihan stasiun dilakukan di dalam gua dengan memperhitungkan syarat syarat penentuan stasiun sesuai materi pemetaan gua yang telah kami pelajari sebelumnya.

Pemetaan kami mulai dari entrance gua sebagai stasiun nol. Seperti sudah terbiasa, pengukuran pada stasiun nol ini berjalan dengan cukup singkat. Kemudian terjadi sedikit keanehan, seharusnya stasioner melanjutkan pergerakan maju masuk ke dalam gua untuk menetukan stasiun selanjutnya.

Namun Ocha tiba tiba berhenti. “Muth lu depanan dong,” katanya kepadaku.

“Emang kenapa Cak?” tanyaku sedikit keheranan.

“Gak papa,” jawabnya singkat saja.

Notulen yang biasanya di dekat compassmen dan descriptor akhirnya bergerak ke depan untuk menemani stasioner. Semenjak tadi siang memang sedikit ada rasa takut dalam diri kami. Hawa di sekitar gua terasa menyeramkan. Dari cerita tim survei, memang Gua Ronggeng ini kabarnya yang paling terasa aroma mistisnya.

Pemetaan kami lanjutkan kembali menuju stasiun berikutnya. Karena bentukan lorong yang cukup sederhana, sampai sekitar lima stasiun kemudian pemetaan berlangsung cepat sekali. Untuk menenangkan pikiran, kami melakukan pemetaan sambil sesekali mengobrol bersama. Sedikit mengendurkan urat ketegangan di tubuh kami.

d82b3-img_1576

Di stasiun 7 akhirnya kami harus mulai menundukkan kepala, bukan untuk mengheningkan cipta tapi karena tinggi lorong hanya sekitar sepinggang saja. Supaya dapat melewati lorong ini, kami harus merangkak di genangan air. Cess. Rasa dingin terasa menusuk tulang.

“Huhh, dari kemaren gw dapet yang basah basahan mulu dah,” kataku saat itu.

“Sama, Nuk, kita kemarin juga basah kok,” Pilat menimpali kata kataku.

Aku memang sedikit parno dengan air dalam gua. Riwayat penelusuranku dalam gua berair selalu berakhir dengan gatal gatal di sekujur tubuh.

Selepas lorong merayap itu, kami sampai di sebuah aula yang cukup luas. Di ujung aula, terlihat dua pencabangan lorong. Suara gemuruh yang cukup kencang terdengar dari tempat tersebut. Tidak tahu apakah karena angin atau gema kepakan sayap kelelawar.

Di dalam aula terdapat beberapa ornamen gua, seperti stalaktit, stalakmit, pillar dan flowstone. Pemetaan di aula kami lakukan dengan menggunakan metode pemetaan kurva terbuka. Setelah pemetaan kurva selesai, kami memutuskan untuk terlebih dahulu memetakan lorong di sebelah kanan.

Setelah sekitar dua jam melakukan pemetaan, kami sepakat untuk beristirahat. Sambil mengobrol, kami menikmati beberapa bungkus snack dan kopi hangat. Saat itu kami berada di lorong yang dindingnya berupa rekahan. Aliran air sudah tidak kami temui lagi, menghilang di bawah permukaan gua. Kelelawar hilir mudik di atasa kepala, bahkan kadang kadang menabrak helm yang kami pakai.

Pemetaan kemudian kami lanjutkan kembali. Lorong mulai menyempit. Tidak hanya merayap, kadang kami bahkan juga harus sedikit memanjat untuk melanjutkan pemetaan.

Pada stasiun 40, akhirnya pemetaan lorong tersebut kami hentikan. Celah yang ada sangat sempit. Selain itu dinding lorong yang berupa rekahan sangat rapuh. Terbukti dengan banyaknya boulder yang berserakan di lantai gua. Kami memutuskan kembali ke aula untuk melanjutkan pemetaan lorong kiri.

Sesampainya di aula, kami segera melanjutkan pemetaan. Ternyata lorong kiri juga tidak bisa ditelusuri lebih jauh. Tinggi lorong hanya sekitar 30 centimeter dengan lebar berukuran sebadan. Namun yang menjadi masalah utama adalah adanya aliran air setinggi kira kira 20 centimeter yang cukup deras di lorong tersebut. Karena tidak mau mengambil resiko, akhirnya pemetaan Gua Ronggeng kami hentikan di situ.

Total kami memetakan gua ini sampai kedalaman 200 meter yang terbagi menjadi 40 stasiun. Pukul dua belas malam kami mulai bergerak keluar dari dalam gua.

Sekitar beberapa meter menjelang entrance gua, tiba tiba Ocha berlari. Tak sempat kami bertanya, kami ikut berlari di belakangnya. Sesampainya di luar akhirnya kami tahu kenapa Ocha tiba tiba berlari. Dia melihat kepala ular dalam sebuah lubang di dinding gua. Ukurannya cukup besar, sekitar sekepalan tangan.

Tidak ingin berlama lama berada di sekitar entrance gua, kami beranjak menuju camp untuk berisitirahat. Sesampainya di camp, suasana sangat sepi. Biasanya masih ada satu dua orang anggota tim yang masih terjaga menunggu tim atlet melakukan pemetaan. Sambil masih diliputi keheranan, kami membereskan peralatan pemetaan untuk kemudian berganti pakaian tidur. Kondisi fisik dan mental yang lelah dengan cepat mengantarkan kami semua ke alam mimpi

***

Keesokan harinya, kami diberitahu bahwa ada keganjilan yang terjadi di camp tadi malam. Ketika salah seorang anggota tim masih terjaga untuk melakukan pengolahan data pemetaan Gua Sawah dan Gua Nyamuk, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba tiba sebuah botol minuman energi yang berserak di samping camp pecah dengan suara yang cukup keras. Karena merasa ketakutan, akhirnya dia memilih untuk tidur. Mendengar cerita tersebut, pagi itu kami segera bergegas membongkar camp, packing dan menuju ke lokasi gua berikutnya.

08630-img_8612

Dua hari kemudian, setelah selesai melakukan pemetaan di gua keempat, kami sempatkan untuk mampir di sebuah warung langganan kami selama di Nusakambangan. Sambil bercengkerama dengan beberapa penduduk Kampung Laut, kami bercerita mengenai kegiatan kami beberapa hari terakhir. Mendengar bahwa kami melakukan pemetaan di Gua Ronggeng, tiba tiba salah seorang penduduk bertanya kepada kami.

“Di Gua Ronggeng kemarin ngeliat apa,Mas?”

“Gak ngeliat apa apa kok Pak. Biasa aja kayak gua yang lain.”

Kemudian bapak itu berkata kembali, “Masa ga ngeliat apa apa, rame itu di sana. Ada ratusan rumah lho di dalem gua.”

Mendengar jawaban tersebut kami hanya terdiam. Kami paham apa maksud penduduk tersebut. Antara percaya dan tidak. Kami sadar bahwa di dalam pekatnya kegelapan gua memang selalu tersimpan misteri. Dan itulah yang mungkin akan selalu menjadi daya tariknya.

Nusakambangan, Februari 2011.

ps : Pemetaan di Gua Ronggeng pada Ekspedisi Caving Nusakambangan Astacala IT Telkom, 09 – 17 Februari 2011.

Rigging Di Gua Macan, Menikmati Ketakutan Pada Pekatnya Kegelapan

There’s something you could found, in the dark.
Don’t Worry For Being Alone – Themilo.

Sembari menarik untaian tali kernmantel static putih dari dalam drybag, sekali lagi kuarahkan pandangan mataku ke back up anchor itu, sebuah pilar pendek tempat kutambatkan carabiner oval yang terpasang pada ikatan simpul delapan.

Masih ada sedikit keraguan apakah back up anchor yang telah kubuat itu memiliki perhitungan fall factor yang tepat.

Saat itu aku teringat pada pertanyaan salah seorang seniorku ketika masa pendidikan lanjut dulu, “Mana yang harusnya lebih kuat, Mut, main anchor atau back up anchor?”

Back up anchor. Soalnya kalau main anchor-nya aja gak kuat apalagi back up-nya. Iya ga sih?” jawabku ketika itu.

“Bikin main anchor sekuat mungkin, dan bikin back up anchor-nya lebih kuat lagi.” Itulah jawaban yang kudapat dari pertanyaanku. Tidak masuk akal secara teori, namun itulah yang harus aku praktekkan mulai saat itu.

be30d-100_3140

Sekitar dua meter panjang tali kernmantle telah kukeluarkan dari dry bag. Tidak membuang waktu, bergegas aku bergerak untuk segera menyelesaikan lintasan SRT ini. Cepat-cepat kupasang peralatan lain untuk menuruni gua vertikal ini.

Sebagai seorang riggingman, pekerjaan rigging baru bisa dikatakan selesai ketika sudah mencoba menuruni dan menaiki sendiri lintasan SRT yang telah dibuat, memastikan bahwa lintasan SRT sudah aman untuk dilalui seluruh anggota tim penelusur.

Satu set SRT ditambah dua buah carabiner snap dan sling webbing segera saja menempel di badanku. Beberapa alat tambahan ini sengaja kubawa untuk membuat variasi deviation anchor, mencegah terjadinya friksi tali pada tebing goa, 2 meter di bawah tempatku berdiri saat itu.

Jumar kutambatkan pada tali kermantle. Kupindahkan carabiner cowstail dari webbing pengaman ke loop main anchor.Perlahan mulai kumasukkan tali kernmantle ke dalam descender. Kubuat simpul untuk menguncinya, mencegah agar aku tidak langsung merosot ketika melepas cowstail nanti.

Pelan pelan aku mencoba membebani lintasan. Setelah dirasa cukup oke, satu per satu kulepas pengaman yang masih terikat, diawali dengan jumar, cowstail kemudian terakhir simpul penguci pada autostop. Beban tubuhku kini berpindah sepenuhnya pada perangkat descender.

Huhh. Sambil tetap memegang descender, kupakai bahuku untuk menyeka keringat di muka. Keringat hampir sepenuhnya membasahi baju coverall merah yang kupakai. Bukan karena gerah namun karena kegugupan sudah mulai mendominasi perasaanku saat itu.

“Engkong, liatin talinya, kalo ada yang friksi langsung kasi tau gw!” teriakku pada Engkong, secondmand yang dari tadi membantuku rigging.

“Sipp, Muth,” jawab Engkong.

Bismillah, ucapku sambil mulai kuturuni lintasan slap ini menuju bibir tebing.

Sesampainya di bibir tebing, aku berhenti. Kubuat simpul pengunci pada descender. Dengan dipandu oleh cahaya headlamp, mataku bergerak untuk menemukan dua buah lubang tembus yang akan kugunakan sebagai tempat menambatkan sling webbing dan carabiner snap, guna membuat deviasi pada lintasan.

Sekitar dua puluh menit kemudian, dua buah carabiner snap telah terpasang pada sling webbing. Aku segera memasukkan tali ke dalam dua buah carabiner itu. Dua buah carabiner yang saling tarik menarik memindahkan arah lintasan menjauhi bibir tebing.

Kutarik sekitar lima meter tali dari dalam dry bag, kubiarkan menggantung begitu saja. Kemudian kubuka kait pengunci pada autostop, mulai kutekan tuas descender autostop biru Petzl itu.

Diiringi deras suara aliran sungai bawah tanah di bawah sana, perjalananku segera dimulai. Kegelapan total telah menungguku di bawah sana. Cahaya headlamp tidak mampu mencapai dasar gua.

Perlahan pasti tubuhku bergerak ke bawah. Sedikit ada hentakan, mulai kuatur ritme turunku. Tangan kiri mengontrol tuas, tangan kanan mengulur tali, sambil sesekali menarik untaian sisanya dari dalam dry bag.

Waktu seakan berjalan melambat, setiap detik terasa begitu lama. Ketakutan yang tak beralasan mulai menyapaku.

Setelah sekitar 20 meter kutiti lintasan, autostop mulai panas karena bergesekan dengan tali. Kuputuskan untuk berhenti sejenak. Kutarik nafas panjang, mencoba menghilangkan rasa ketakutanku. Kupalingkan mataku dari tebing yang masih lamat-lamat terlihat di depanku.

Aku melihat sekeliling, gelap. Kutengok ke bawah, tidak tampak apapun juga. Kemudian kutengadahkan kepalaku ke atas, hanya terlihat seutas tali, seutas kernmantle putih berdiameter 10,5mm tempatku bergantung saat itu, yang hilang ujungnya ditelan pekatnya gelap.

Kumatikan headlamp dalam kesendirian kegelapan yang pekat ini. Aku menyukai perasaan ini, sensasi yang semenjak dulu memang selalu aku cari. Ketakutan yang murni. Karena aku selalu percaya bahwa Tuhan memang sengaja memberikan rasa takut pada diri manusia agar mereka semakin berani, karena keberanian hanya akan muncul pada setiap hamba yang mampu mengalahkan rasa takutnya.

1 detik.

10 detik..

100 detik…

Cukup lama aku menimati kegelapan ini.

035e7-100_3144

Kunyalakan kembali headlamp. Kubuka simpul pengunci pada autostop-ku. Segera kulanjutkan perjalananku menuruni lintasan. Sekitar 10 meter kemudian simpul tali tempat aku menyambungkan static hijau telah keluar dari dry bag-ku.

“Okelah lima meter lagi nyampai bawah,” kataku pada diri sendiri.

Memang kernmantle yang saat itu aku pakai kurang panjang untuk mencapai dasar gua sehingga harus disambung dengan kernmantle yang lain.

Dengan bantuan jumar, chest dan foot loop, cepat saja kulewati dua buah simpul penyambung itu. Disambut dengan derasnya bunyi aliran sungai  bawah gua ini, sejurus kemudian kakiku akhirnya menapak dasar gua.

“Alhamdulillah,” ucapku bersyukur kala itu.

Tidak membuang waktu terlalu lama di dasar gua, kupasang sebuah hand ascender hijau bermerk Atlas. Berikut kemudian kukaitkan chest ascender kuning Petzl ke lintasan. Aku mulai menaiki lintasan yang baru saja aku turuni.

Sedikit terengah engah, sekitar dua belas menit kemudian aku telah sampai di atas lagi. Kulihat Engkong dan Sigit duduk di sekitar anchor yang kubuat.

“Gimana Kong, enggak ada friksi kan waktu gw turun tadi?” tanyaku pada Engkong.

“Nggak ada kok, Muth,” jawaban yang kuharapkan muncul dari mulut Engkong.

“Alhamdulillah,” ucapku sekali lagi bersyukur telah menyelesaikan proses rigging-ku.

***

Namun setelah tiga kali dipakai turun, ternyata ada sedikit friksi pada tali. Deviation anchor yang aku buat tidak mampu sepenuhnya menjaga arah pembelokan tali. Deviasi tidak mampu menahan goyangan yang terjadi bila menanggung beban yang terlalu berat. Akhirnya penelusuran dilanjutkan dengan menggunakan lintasan lain yang juga telah selesai pembuatannya.

Meskipun sudah beberapa kali aku bertindak sebagai riggingman, ternyata hari itu ada kesalahan yang kubuat dalam pembuatan anchor. Ada rasa penyesalan, karena sedikit saja kesalahan perhitungan yang aku lakukan mungkin saja berakibat fatal.

Aku sadar, dalam kegiatan caving yang dibutuhkan bukanlah pengalaman semata, tetapi juga perhitungan yang tanpa cela. Seperti kata salah seorang senior padaku dulu.

“Caving tidak mengenal toleransi kesalahan sekecil apapun, yang ada hanyalah zero error tolerance.”

Maret, Kebumen 2010.

ps : Rigging di Gua Macan pada Sekolah Caving Lembah Purnama Astacala, 12-14 Maret 2010.