Jatuh dan Tertawa

Sudah jatuh, tertimpa tangga.

Sering sekali saya mendengar orang menggunakan peribahasa barusan untuk menggambarkan nasib sial yang datang beruntun. Belakangan, entah kenapa, begitu mendengar atau membaca peribahasa tersebut, sosok yang kemudian terlintas di benak saya adalah seorang tukang bangunan dari kampung saya dulu.

Di kampung saya, sudah jamak jika orang pergi merantau. Tidak terkecuali tukang bangunan yang baru saja saya sebutkan itu. Maka pada suatu hari yang cerah selepas Lebaran, atas ajakan beberapa tetangganya, pergilah ia merantau ke kota. Melempar harap, mengadu nasib, atas kehidupan yang lebih baik.

Untitled

Lagipula, jika hanya bertahan di kampung, penghasilannya tidak pernah menentu. Kebutuhan terhadap pekerja bangunan tidak selalu ada setiap harinya. Continue reading “Jatuh dan Tertawa”

Bersendiri di Rinjani (bagian 2)

IV. Melalui Malam yang Gigil.

Karena siang tadi tak banyak pendaki lain yang kutemui, kupikir tidak akan terlampau ramai pendaki yang hari ini akan bermalam di Pelawangan Sembalun. Nyatanya dugaanku salah besar. Begitu sampai di Pelawangan Sembalun, tenda-tenda dengan berbagai macam warna terlihat sudah berdiri dan berjejeran dengan rapi.

Toh begitu, ketika aku melewati barisan tenda-tenda tersebut, tetap saja tak banyak sosok yang aku temui. Hanya satu dua porter saja yang kulihat masih berada di luar, mengelilingi api unggun kecil di depan tenda mereka yang berbahankan kain terpal itu.

Padahal malam belum larut terlampau jauh. Bulan dan bintang saja masih belum terlihat di atas langit sana. Hawanya juga masih cukup nyaman, tidak terlampau dingin rasanya dibandingkan ketika tiga tahun lalu aku bermalam di sini.

Di bawah sebuah pohon pinus aku mendirikan tenda tempatku bermalam nanti, sebuah dome kecil berkapasitas dua orang yang kondisinya sudah agak menyedihkan. Lantas memasang kayu pasak kuat-kuat di keempat sisinya, menguatkan posisinya agar tak bergerak kemana-mana.

Berdasarkan pengalamanku dulu, terjangan angin di Pelawangan Sembalun akan semakin hebat-hebatnya menjelang waktu tengah malam. Continue reading “Bersendiri di Rinjani (bagian 2)”

Bersendiri di Rinjani (bagian 1)

I. Yang Terjadi Selama Perjalanan Tadi.

Kalau ia adalah manusia seperti kita, Kota Mataram tampaknya sudah bangun dan mengawali aktivitasnya hari itu ketika mobil yang kami tumpangi mulai menyusuri jalan raya.

Pada pagi itu, di sepanjang jalan, kau bisa melihat rumah-rumah–tempat dimana orang-orang menyembunyikan dirinya dari kegelapan malam–membuka matanya kembali lewat pintu pagar yang digeser atau tirai gorden yang tidak lagi menutup jendela; dan satu dua manusia yang terlihat hadir di depannya, menyapu halaman atau sekedar berdiri saja–mungkin sedang memperhatikan sesuatu.

Lampu-lampu penerang yang terpasang di tiang sepanjang jalanan pun telah dipadamkan–matahari perlahan bersinar semakin terang–dan selama setengah hari ke depan, manusia tak lagi membutuhkan mereka untuk bercahaya.

Dari jendela mobil yang terbuka separuh aku bisa melihat berbagai macam kendaraan yang berlalu lalang; mobil, sepeda motor, dokar yang ditarik oleh seekor kuda dan kereta angin yang melaju pelan di bagian paling kiri lajur kendaraan–yang terakhir ini sedikit mengingatkanku pada kota asalku, Jogjakarta, dan membuatku tiba-tiba terpikir bagaimana kabar para pesepeda yang ada di sana sekarang.

Hari ini hari Senin dan upacara bendera terlihat di halaman sekolah yang telah dipenuhi murid-muridnya. Continue reading “Bersendiri di Rinjani (bagian 1)”

Menulis Puisi dan Secangkir Kopi dalam Kenangan

Semalam, entah ada angin apa, seorang perempuan tiba-tiba meminta saya menuliskan untuknya sebuah puisi. Saya gamang, dan terutama ragu bagaimana harus menanggapi permintaannya. Sebetulnya saya ingin mengiyakan permintaan tersebut. Namun di lain sisi saya sadar betul tak pernah gape menulis puisi. Pun dia tak bilang harus menuliskan puisi tentang apa.

Seumur-umur laman blog ini, beberapa kali saya pernah iseng untuk menulis puisi, beberapa diantaranya saya unggah dan bahkan masih bisa dibaca hingga sekarang. Tapi kamu tak usah repot membacanya, sih. Saya beritahu satu hal sebelum kamu menyesal membacanya, puisi yang saya tulis begitu menyedihkan. Bukan, bukan isi puisinya tentu saja. Tapi puisinya itu sendiri. Duhh, jeleknya minta ampun. Continue reading “Menulis Puisi dan Secangkir Kopi dalam Kenangan”