Menulis Puisi dan Secangkir Kopi dalam Kenangan

Semalam, entah ada angin apa, seorang perempuan tiba-tiba meminta saya menuliskan untuknya sebuah puisi. Saya gamang, dan terutama ragu bagaimana harus menanggapi permintaannya. Sebetulnya saya ingin mengiyakan permintaan tersebut. Namun di lain sisi saya sadar betul tak pernah gape menulis puisi. Pun dia tak bilang harus menuliskan puisi tentang apa.

Seumur-umur laman blog ini, beberapa kali saya pernah iseng untuk menulis puisi, beberapa diantaranya saya unggah dan bahkan masih bisa dibaca hingga sekarang. Tapi kamu tak usah repot membacanya, sih. Saya beritahu satu hal sebelum kamu menyesal membacanya, puisi yang saya tulis begitu menyedihkan. Bukan, bukan isi puisinya tentu saja. Tapi puisinya itu sendiri. Duhh, jeleknya minta ampun. Continue reading “Menulis Puisi dan Secangkir Kopi dalam Kenangan”

Selamat Menjadi Tua dan Semoga Tetap Ceria !!!

Kau tahu doa apa yang sekiranya sering diucapkan ketika momen perayaan ulang tahun tiba dan membuatku ingin tertawa sekencangnya? Aku rasa beberapa hari yang lalu pun pasti ada juga yang mengucapkannya padamu; doa agar kau semakin dewasa.

Dewasa? Hahaha… Aku tak tau seperti apa kau memaknai kata itu. Tapi bagiku, bersikap dewasa tak lebih dari keharusan untuk semakin pintar dalam berpura pura. Pada titik ini kurasa aku tak perlu menjabarkannya lebih lanjut, sudah barang tentu kau mengerti maksudku bukan?

Ya sudahlah, aku sedang tak ingin menguliahimu macam macam. Di bawah ini telah aku pilih delapan lagu yang sengaja kususun sebagai hadiah ulang tahunmu. Kenapa delapan? Karena delapan itu tersusun dari lingkaran bulat, dan lingkaran bulat itu mengingatkanku padamu (seperti semua orang yang lain juga sepertinya).

Satu lagi, jangan protes dengan pilihanku. Bukankah pemberi hadiah punya hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat perihal apa yang akan diberikannya bukan? Dan lagi, telah berulang kali kau menyuruhku agar sekali kali bisa bersikap egois, anggap saja ini latihannya.

Jadi, mari kita mulai.

545ce-sigurros

Aku tahu kau tak pernah bisa merasa menjadi bagian dari kota ini. Mungkin pula benar kota ini bersikap tak ramah untukmu, membuatmu terasing dalam keriuhan. Maka, seperti yang diungkapkan Ben Gibbard, vokalis Death Cab For Cutie, dalam “You Are The Tourist”, aku rasa inilah waktu yang tepat untukmu beranjak pergi dari sini.

“When there’s doubt within your mind, because you’re thinking all the time. Framming right into wrongs. Move along, move along.”

Ohh iya, aku baru ingat, sebentar lagi kan kau memang akan pergi dari kota ini. Tapi ya sudahlah, biarkan saja Death Cab For Cutie tetap ada di mixtape. Anggap saja sebagai pengingat jika kau merasakan hal yang sama dengan tempat pindahmu kelak.

Pilihan kedua dalam mixtape yang kususun ini jatuh pada salah satu lagu Banda Neira yang berjudul “Di Beranda”. Lagu yang syahdu sekali menurutku, percakapan sepasang orang tua yang berusaha ikhlas dalam melepas kepergian anak kesayangannya.

“Dan jika suatu saat, buah hatiku, buah hatimu, untuk sementara waktu pergi, usahlah kau pertanyakan kemana kakinya kan melangkah.”

Tak perlu dipungkiri, memang berat rasanya melepas sementara waktu orang yang kita sayangi. Tapi kalau kepergian orang tersebut adalah hal yang memang harus dia lalui demi kebaikan, adakah hak kita untuk menghalanginya? Lagipula kau harus tahu, sama seperti yang orang tuamu rasakan terhadapmu, “Kita berdua tahu, dia pasti, pulang ke rumah.”

Lagu selanjutnya berasal dari salah satu band folk kesukaanku, Knee and Toes. Sejujurnya aku tak memiliki sedikitpun bayangan kemana lagi kau akan pergi setelah ini, ke negeri sakura kah, daratan berdebu di Amerika, atau malah kembali bertemu dengan musim dingin Eropa Utara sana?

Kemanapun itu, kurasa lagu berjudul “A Journey” ini pas sebagai pengantar kepergianmu yang tak akan lama lagi itu.

“Find the way, find the treasure. Listen to your heart and follow your dream,” terdengar familiar rasanya, mirip kata kata sang alchemist dalam buku karangan Paulo Coelho kesukaanmu.

Aku sudah lupa berapa kali kau bercerita padaku, hampir bosan sebenarnya, bahwa kau ingin sekali pergi ke tempatmu tinggal beberapa tahun yang lalu, ke tempat yang begitu dingin kurasa, negeri yang tak jauh dari Kutub Utara sana. Tapi barangkali rasa cinta mu itu memang bisa mengalahkan apa saja, salju pun mungkin bisa meleleh dibuatnya. Dan “Northern Sky” yang dinyanyikan Mister And Missisippi ini mungkin pas dengan apa yang kau rasakan saat ini bukan?

Barangkali kenyataan dalam hidup tak selalu ber-ending seperti cerita FTV, dimana setiap tokoh akhirnya tersenyum bahagia dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Kau tau, kadang percintaan bisa kandas di tengah jalan, seperti juga mimpi indah yang akhirnya berakhir dalam tong sampah.

“Oh someday sometime, youll stuck in loneliness and disappointment, and you cried loud. Oh someday sometime, things turn bad and you will be upset and crying loud,” begitu kata Aurette and The Polska Seeking Seeking Carnival pada lagu berjudul “Someday Sometime” yang termuat dalam album perdana mereka. Toh memang ada beberapa hal yang terjadi di luar kuasa kita.

Kukira wajar jika suatu saat kelak kau tiba tiba merasa sendirian, merasa terpisah dengan orang orang lain yang bertingkah seperti orang aneh dan tak wajar di matamu.

“Why’s everybody actin funny? Why’s everybody look so strange?” seperti ratap penuh emosi Dean Wareham dari kolektif Galaxy 500 dalam lagunya yang berjudul “Strange”.

Ada kalanya kau memang harus melawan, tapi mungkin juga ada waktu kau harus menerima kenyataan dan berdamai dengannya. Saat itu tiba, luangkan waktumu untuk melakukan hal hal kecil yang bisa membuatmu merasa lebih enakan, dan tunggulah sampai semua mereda.

“I stood in line and ate my twinkies. I stood in line, I had to wait.”

Ketika kau terjatuh, seorang teman mungkin bisa membantumu berdiri, tapi sebenar-benarnya yang bisa membuatmu berdiri tegak kembali adalah dirimu sendiri.

“Mungkin kini ku lelah, tak berarti mudah tuk terlelap. Saat semua berjalan lambat, saat banyak hal yang dikorbankan, saat tak ada yang bersuara. Tersenyumlah, tersenyumlah lebar, dan tunjuk ke atas.”

Aku tak perlu bercerita apa apa tentang lagu yang barusan saja kau baca liriknya, cukuplah kau dengarkan saja lagu berjudul “#1” dari The Morning After ini, dan tentukan sendiri bagaimana kau akan memaknainya.

Rasanya aku harus kembali pada bahasan pertama yang kupakai untuk membuka tulisan ini, tentang pertambahan usia. Benar bahwa semakin bertambah usia kita maka akan bertambah pula tanggung jawab kita, kenyataan yang tak akan pernah bisa kita hindari.

Tapi kurasa seharusnya hal tersebut tak boleh mengurangi keceriaan kita dalam menjalani kehidupan bukan? Dan dalam hal ini, tak pernah ada lagu lain yang cocok selain “Hoppippola/Med Bloodnasir” milik band post rock yang baru saja kutonton di Jakarta, Sigur Ros.

Coba kau lihat video clip nya, setelahnya aku yakin kau pun setuju bahwa menjadi tua tak boleh membuat kita menjadi terlalu serius dan akhirnya berubah membosankan.

Selamat bertambah tua! Tetaplah bersenang senang!! Hahaha…

Bintaro, Mei 2013.

ps: lagu lagu di atas diartikan seenaknya saja oleh saya, kalau salah silahkan artikan sendiri.

Dongeng Tentang Nusantara

Seperti hari hari sebelumnya, malam ini pun hawa udara di Jakarta begitu panasnya. Gerah, tak sedikit pun terasa ada angin yang berhembus. Bahkan hujan deras yang sempat turun sore tadi seakan tiada berbekas kesejukan yang biasa tertinggalkan, alih alih malah menyebabkan Ciliwung kembali meluap, banjir melanda daerah Jatinegara sana.

Saat itu sudah lewat tengah malam, di sebuah rumah – bangunan kumuh berbilik bambu beratapkan lembaran seng di pinggiran rel kereta komuter Bogor Jakarta – tampak penghuninya masih sibuk beraktivitas. Seorang perempuan sedang membuat rajutan, ditemani lampu 5 watt yang bersinar temaram. Dia kelihatan lelah. Kerut kerut di wajahnya telah semenjak lama bersekongkol dengan jalannya roda waktu yang terus melaju. Tak ada yang tau berapa usia perempuan tersebut, mungkin sudah tersembunyi di bawah permukaan kulitnya.

Tiba tiba terdengar bunyi engsel yang berdecit pelan, daun pintu perlahan terbuka. Seorang anak tampak berdiri di sana. Matanya sayu, rambutnya acak – acakan. Sambil menguap pelan dia pun mulai berbicara.

“Bunda, aku tidak bisa tidur. Maukah engkau menceritakan sebuah dongeng kepadaku?” pintanya dengan manja.

Perempuan yang dipanggil bunda itu pun segera menghentikan kesibukkannya. Diletakkannya kain rajutan setengah jadi dan beranjak menghampiri si kecil yang berdiri di ujung sana. Continue reading “Dongeng Tentang Nusantara”