Mendengarkan Musik di Kereta

Ia berdiri di dekat pintu. Tangan kirinya berpegangan pada gelang plastik berwarna kuning yang menggantung dari atap kereta. Satu tangan yang lain, ia menggunakannya untuk memegang sebuah buku; jempol dan jemari telunjuknya diregangkan guna menyangga halaman buku yang terbuka seperti sayap kupu-kupu tersebut.

Jika kau ada di dekatnya, kau bisa melihat ia membaca dengan kecepatan yang tinggi, matanya bergerak cekat sekali. Seperti melompat-lompat dari satu kata langsung ke beberapa kata di depannya.

Kau tentu paham bagaimana ramainya kereta pagi-pagi di Jakarta. Apalagi pada hari Senin seperti ini. Orang-orang yang berjejalan di dalam gerbong, dengan tatapan mata kosong seperti tak punya semangat hidup, mirip dengan para Yahudi yang hendak dibawa ke Auschwitz oleh Pemerintah NAZI. Continue reading “Mendengarkan Musik di Kereta”

Sudahkah Kamu Minum Obat?

Joni datang lagi ke pangkalan dengan wajah yang kemrungsung–yang tak enak betul dilihat. Sebelah tangannya memegangi bagian samping kepalanya yang peyang seperti telur asin. Sweater pudar yang tadi dipakainya kini ia lingkarkan di leher.

Sekira satu jam yang lalu ia bilang kepadaku kalau sudah dua malam terakhir ini badannya terasa menggigil. Seperti disiram air es, katanya.

“Mendingan kau ke klinik saja. Kau cobalah itu kartu yang bulan lalu dibagikan oleh Pak Narmo. Katanya kan gratis buat berobat.” Sesungguhnya aku menyarankan hal tersebut karena penasaran ingin tahu apakah kartu-kartu itu betulan bisa gunakan. Continue reading “Sudahkah Kamu Minum Obat?”

Mendidihkan Air

Dalam sebuah ceruk kecil ia bersembunyi. Menyamarkan tubuhnya dengan kegelapan.

Darah segar masih mengucur dari paha sebelah kirinya. Pecahan mortir bersarang seperti ikan candiru. Ia mafhum harus segera menyingkirkannya.

Ia membuka tas punggungnya dengan perlahan, mengeluarkan survival kit dan misting kecil. Pisau tergenggam erat di tangan kirinya. Meski gelap, ia masih bisa melihat sekilas kilatan tajamnya. Juga sebungkus rokok yang menyelinap dari dalam saku kiri di depan. Rokok kretek, mengikuti kebiasaan ayah dan kakeknya dulu.

“Wahh, jangan salah. Ini bukan rokok biasa, obat ini obat,” kata kakeknya dulu suatu kali di masa yang sudah lampau. Continue reading “Mendidihkan Air”

Lima Buku Terbaik Yang Saya Baca di Tahun 2014

Bulan-bulan belakangan, dalam beberapa kali kesempatan, terutama ketika sedang malas untuk makan siang, saya biasa menghabiskan waktu istirahat di kantor dengan membaca buku-buku yang memang dengan sengaja saya bawa dari kost-an. Oleh sebab hampir sebagian besar rekan kerja yang lain menghilang dari meja kerjanya, satu jam waktu istirahat kerja tersebut menjadi momen yang lumayan menyenangkan untuk membaca. Karena sepinya.

Pada sebuah siang dimana hujan lagi deras-derasnya turun mengguyur kota Jakarta, saya sedang membaca laki-laki pemanggul goni (Cerpen Pilihan Kompas 2012) ketika rekan kerja sedivisi saya datang menghampiri dan bertanya mengenai judul buku yang sedang saya baca tersebut.

Ketika kemudian dia bertanya bagus atau tidak bukunya, saya, secara luar-biasa-bodoh-yang-tidak-pada-tempatnya, malah berucap seperti berikut : “Sastra sih, Buk. Ya begitu, bahasa plus ceritanya muter-muter bikin bingung.”

Luar biasa bodoh karena kalimat tersebut telah membikin jarak yang seperti mengaminkan pendapat kebanyakan orang bahwa sastra adalah sesuatu yang sulit untuk dinikmati.

Tapi ya sudahlah. Tahun ini adalah tahun yang lumayan seru buat saya perihal kegiatan baca-membaca. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya kebanyaan buku yang saya baca genre-nya adalah fantasi, tahun 2014 menjadi sedikit lebih beragam. Pun beruntung tahun 2014 ini alokasi dana untuk menambah perbendaharaan jumlah buku mendapatkan jatah lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.

IMG_20141020_225812

Namun begitu–ini adalah cliche yang sudah kita dengar berulangkali–kecepatan saya dalam menambah jumlah perbendaharaan buku ini jauh melebihi kemampuan (atau kemauan sebetulnya) saya untuk membaca kesemua-muanya. Yang mlangkrak dan tak tersentuh, atau yang nasibnya sedikit lebih baik, sudah tersentuh namun gagal ditamatkan, proporsinya menjadi jauh lebih banyak dari yang terbeli dan terbaca hingga selesai.

Dari proporsi yang sedikit itu, ada beberapa buku yang lumayan berkesan begitu saya membacanya hingga saya baca berulang kali. Ada juga buku yang saya baca dengan kecepatan yang sedemikian lambat karena kemampuan otak yang tidak mampu mencernanya isinya dengan tepat. Duh.

Berikut adalah lima di antara nya : Continue reading “Lima Buku Terbaik Yang Saya Baca di Tahun 2014”