Sultan, Pangeran dan Saripati Kehidupan

Tahukah salah satu adegan paling romantis yang bisa dilakukan seorang ayah kepada anaknya? Yaitu ketika hari sudah beranjak gelap, di dalam sebuah kamar sang ayah duduk di samping tempat tidur anaknya, sambil memegang sebuah buku. Lalu mulai mendongengkan sebuah cerita sebagai pengantar tidur, juga sebagai pengantar kehidupan bagi anaknya di masa depan kelak.

***

Alkisah, pada suatu waktu di masa lampau, terdapat sebuah kerajaan yang sedang berada dalam puncak kejayaannya. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang sultan yang bijaksana. Semua rakyat di kerajaan tersebut hidup saling berdampingan dengan damai dan bahagia, rasa syukur selalu terpancar di wajah mereka.

Terkecuali satu orang, yaitu sang pangeran, putra mahkota dari sultan kerajaan tersebut. Berkebalikan dengan semua orang, sang pangeran justru tidak pernah merasa bersyukur dengan segala kekayaan yang ada di sekitarnya. Dia merasa tidak bahagia terhadap apa yang telah dimilikinya.

Suatu hari, sang sultan yang mengetahui perihal tersebut memanggil sang pangeran untuk datang ke hadapannya.

“Ayahanda, ada apakah gerangan sehingga ananda dipanggil ke sini?” tanya sang pangeran.

“Begini putraku, umur ayahandamu ini sudah lanjut. Mungkin tidak lama lagi akan menjadi giliranmu bertahta di kursi ini,” kata sang sultan.

“Tapi putraku, sebelum kuberikan mahkota ku ini kepadamu, ada satu tugas yang harus kau lakukan terlebih dahulu. Ada sesuatu yang harus kau cari. Sesuatu yang penting untuk digunakan pada saat penobatanmu nanti?”

“Benda apakah itu ayah?” tukas cepat sang pangeran penasaran dengan tugas yang akan diberikan ayahandanya.

“Engkau harus mencari saripati pohon yang berkayu tiga warna, berdaun empat warna dan berbunga lima warna. Saripati tersebut harus kau sebarkan di tiap penjuru kerajaan, tepat di hari penobatanmu, agar kebahagian selalu berada di kerajaan kita ini anakku,” jawab sang sultan.

“Tapi dimanakah aku harus mencarinya ayah?” tanya sang pangeran dengan bingung.

“Kau harus menemukannya sendiri anakku. Carilah, jelajahilah setiap penjuru dunia kalau perlu !!!” demikian kata sang sultan kepada putranya.

Esok harinya, sang pangeran berangkat meninggalkan kerajaan dan mulai mencari benda yang diminta ayahandanya tersebut.

***

Lima tahun berselang, akhirnya sang pangeran kembali dari pengembaraannya. Bajunya compang camping, tubuhnya pun kurus kering. Namun wajahnya tampak penuh kebahagiaan, senyum tersungging di ujung bibirnya.

Sang sultan segera menyambut kedatangan putra mahkotanya tersebut, dipeluknya sang pangeran.

“Maaf ayah, aku tidak bisa menemukan apa yang engkau minta.” Sang pangeran berkata kepada ayahnya.

Sang sultan hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar kata sang pangeran. “Lalu apakah yang kau temukan dalam pengembaraanmu ini anakku?” tanya sang sultan.

Pangeran menjawab, “Aku menemukan kebahagiaan ayah.”

“Apa maksudmu anakku?”

Sambil tersenyum, berkatalah sang pangeran, “Semua orang sudah kutanya, semua tempat sudah kujelajah, namun tak juga kutemukan apa yang aku cari. Aku berbicara kepada para pedagang, rakyat jelata, bahkan kepada seorang pengemis, tak ada dari mereka yang tau.”

Pangeran melanjutkan lagi, “Semua negeri telah kujelajah, dari negeri yang makmur sampai yang sedang dilanda bencana, dari yang paling kaya sampai yang paling miskin, tak ada juga di sana. Tapi lama kelamaan aku menikmati pengembaraanku ini ayahku. Banyak hal baru yang aku lihat sepanjang perjalananku, yang tidak pernah aku lihat di kerajaan kita ini. Aku menyadari betapa berlebihnya semua yang telah kita miliki ayahku. Perlahan aku jadi merasa bersyukur atas hal tersebut. Dan ternyata, bersyukur membuat hatiku menjadi bahagia ayah. Itulah yang aku temukan dalam perjalanan ayah.”

Sang raja tersenyum, merasa bangga dengan jawaban putranya.

“Memang pohon itu tak ada di dunia anakku. Tapi engkau telah menemukan yang jauh lebih penting dari itu sepanjang perjalananmu anakku. Rasa syukur yang engkau temukan, itulah saripati kehidupan, kunci dari kebahagiaan.”

“Iya ayahanda, sekarang aku telah memahaminya. Terimakasih telah menyadarkanku ayah,” jawab sang pangeran.

Tidak lama kemudian, sang pangeran pun diangkat sebagai sultan. Dan kejayaan pun tetap berlanjut di kerajaan tersebut.

***

Dewasa ini sepertinya kebiasaan ini semakin jarang kita temui, sama seperti fenomena menghilangnya lagu anak anak dari blantika musik negeri ini. Diakui atau tidak, mayoritas anak anak sekarang besar di tengah gempuran berbagai macam acara televisi, berisi cerita cerita yang penuh dengan kekerasan, juga beragam lagu menye menye yang belum saatnya mereka dengarkan. Jadi jangan heran kalau generasi muda Indonesia di masa depan adalah kaum pemuja kekerasan ataupun generasi bermental lembek yang mendayu-dayu.

Semoga saja tidak.

Bandung, Desember 2011.

Dongeng Tentang Nusantara

Seperti hari hari sebelumnya, malam ini pun hawa udara di Jakarta begitu panasnya. Gerah, tak sedikit pun terasa ada angin yang berhembus. Bahkan hujan deras yang sempat turun sore tadi seakan tiada berbekas kesejukan yang biasa tertinggalkan, alih alih malah menyebabkan Ciliwung kembali meluap, banjir melanda daerah Jatinegara sana.

Saat itu sudah lewat tengah malam, di sebuah rumah – bangunan kumuh berbilik bambu beratapkan lembaran seng di pinggiran rel kereta komuter Bogor Jakarta – tampak penghuninya masih sibuk beraktivitas. Seorang perempuan sedang membuat rajutan, ditemani lampu 5 watt yang bersinar temaram. Dia kelihatan lelah. Kerut kerut di wajahnya telah semenjak lama bersekongkol dengan jalannya roda waktu yang terus melaju. Tak ada yang tau berapa usia perempuan tersebut, mungkin sudah tersembunyi di bawah permukaan kulitnya.

Tiba tiba terdengar bunyi engsel yang berdecit pelan, daun pintu perlahan terbuka. Seorang anak tampak berdiri di sana. Matanya sayu, rambutnya acak – acakan. Sambil menguap pelan dia pun mulai berbicara.

“Bunda, aku tidak bisa tidur. Maukah engkau menceritakan sebuah dongeng kepadaku?” pintanya dengan manja.

Perempuan yang dipanggil bunda itu pun segera menghentikan kesibukkannya. Diletakkannya kain rajutan setengah jadi dan beranjak menghampiri si kecil yang berdiri di ujung sana. Continue reading “Dongeng Tentang Nusantara”