Kandas di Kapal Rafelia II

Barangkali, ketika musibah sudah di depan mata dan seperti tak bisa terhindarkan lagi, seketika itu manusia lantas berubah 180 derajat dari perilaku kesehariannya. Atau setidaknya, begitulah yang kebetulan saya saksikan lewat mata kepala sendiri sore itu.

Sesaat setelah sirine bahaya dibunyikan, dari pengeras suara yang ada di beberapa sudut kapal, terdengar instruksi agar semua penumpang berkumpul di dek utama.

Luap emosi pun pecah.

5a24f-rafelia

4a9e3-dsc08252

55ca6-dsc08253

Penumpang yang tadinya terlihat sabar sekarang jadi blingsatan. Yang seharian tadi cuek jadi penuh perhatian. Ada pula yang sebelumnya ramah, mendadak kok jadi pemarah. Seorang laki-laki bertopi hitam–sebetulnya kami sudah berkenalan tapi saya lupa namanya–yang tadinya banyak sekali berbicara, mulutnya lantas seperti terkunci dan hanya terbuka untuk beberapa kata saja, hanya seperlunya.

Dramatis. Persis seperti penggambaran para sineas di film-film produksi Hollywood itu. Continue reading “Kandas di Kapal Rafelia II”

Ende, Kota Lahirnya Pancasila

Saya sampai di Terminal Ende hampir tengah hari. Ketika itu matahari sedang bersinar dengan teriknya. Ditambah dengan posisi kotanya yang memang berada di pinggir laut, hawa panas siang itu terasa benar benar menyengat. Keringat mengalir deras membasahi pakaian yang saya pakai.

Kota Ende yang sedang saya kunjungi ini merupakan ibukota dari Kabupaten Ende. Letak geografis kotanya terbilang strategis, berada di bagian tengah Pulau Flores. Tak heran, sepanjang perjalanan saya sering berpapasan dengan truk-truk fuso besar yang membawa berbagai macam barang kebutuhan pokok masyarakat.

Kotanya cukup ramai, dihuni beberapa etnis penduduk. Saya sempat bercakap dengan seorang warga asal Sumatera Barat yang saya temui di dekat pelabuhan. Darinya saya tau banyak pula pendatang dari berbagai daerah lain yang mengadu nasib hingga ke kota ini.

Ende, punya satu tempat penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Di kota inilah presiden pertama kita, Sukarno, merumuskan cikal bakal dasar negara Indonesia yang sekarang ini kita kenal sebagai Pancasila.

e194a-ende5

*** Continue reading “Ende, Kota Lahirnya Pancasila”

Satu Pagi di Gunung Kelimutu

Gelapnya langit malam perlahan pun mulai memudar. Pendar keemasan mulai tergambar di ufuk sebelah timur. Berkas cahaya matahari, pelan namun pasti mulai menembus dan muncul dari balik bukit di depan sana.

9399b-1

Desir sepoi angin yang mengalir pelan,¬† angin musim kemarau, menyambar ujung ujung pohon pinus yang bergoyang seperti seirama. Kepak sayap serangga serangga kecil ikut hilir mudik berlalu lalang. Kicau burung burung kemudian seperti¬† tak mau ketinggalan, sayup mulai ikut menyahut dan bersuara.¬† Continue reading “Satu Pagi di Gunung Kelimutu”

Melangkah ke Timur, Melangkah ke Flores

Pergilah ke timur.

Saya tidak ingat benar semenjak kapan tepatnya kalimat tersebut mulai bersemayam dalam otak saya. Begitu saja merasuk dan mulai terngiang di dalam pikiran. Pun dengan maksudnya pula. Hingga akhirnya kemudian suara tersebut perlahan mulai hilang tenggelam di tengah hiruk pikuk skripsi dan teman-temannya.

ef464-tessss

Waktu pun berlalu, tibanya pada suatu hari, beberapa saat setelah resmi tidak menjadi mahasiswa lagi, saya mendapati diri mendapatkan pertanyaan yang sungguh klasik. Satu pertanyaan yang pastinya sering dialami pula oleh orang yang berada pada momen ini. Sesuatu yang hanya bisa dijawab oleh diri sendiri. Continue reading “Melangkah ke Timur, Melangkah ke Flores”