Tenggelamnya Jeff Buckley

Dari yang pernah kudengar, tenggelam adalah salah satu cara kematian yang paling menyakitkan. Jika kau tenggelam, kematian tidak akan datang padamu dalam masa yang seketika itu juga. Selama beberapa waktu, sampai akhirnya malaikat maut datang menjemputmu, kau terlebih dahulu harus merasakan penderitaan yang begitu mengerikan.

Apalagi jika tenggelam yang kau alami bukanlah tenggelam yang sengaja kau persiapkan.

Bayangkan jika kau sedang berenang dengan asyik di pantai dan sebuah ombak besar tak kau duga menggulungmu ke perairan yang lebih dalam, sejumlah besar air akan membanjiri paru-parumu secara tiba-tiba. Secara refleks, tubuhmu yang tidak siap akan terbatuk-batuk karena hal itu. Udara yang sebelumnya tersimpan di dalam paru-parumu pun hilang sudah.

Kau dilanda kepanikan dan mekanisme alami dalam tubuhmu pun kemudian bekerja tanpa kau minta; sebisanya menghirup udara lain sebagai gantinya. Hidungmu menarik nafas dan mulutmu megap-megap seperti ketika kau sedang berlari mengejar bus kota; lantas air semakin membanjir masuk ke dalam tubuhmu, mengalir deras seperti bah di musim penghujan.

Begitu berulang-ulang kali sampai akhirnya lampu bioskop dimatikan dan tirai di depan panggung teater menutup episode kehidupanmu kali ini. Continue reading “Tenggelamnya Jeff Buckley”

Mendengarkan Nick Drake di Hari Kematiannya

Dalam rentang malam itu, di antara tanggal 24 hingga 25 November 1974, pada sebuah keheningan yang barangkali memang ia ciptakan sendiri–pun itu disengaja atau pula tidak, tak akan pernah ada yang bisa memastikannya lagi kecuali ia–dalam tidurnya, pemuda pemalu dengan suara vokal yang seringkali terdengar terlampau lirih itu menghembuskan ujung nafas penghabisannya yang terakhir. Nick Drake meninggal dunia di usianya yang belum lagi genap 27 tahun.

Di dalam kamarnya, terlentang di atas dipan tempat tidur yang telah ia pakai sejak ia kecil dulu, pada keesokan harinya, sekitar pukul dua belas siang, ibunya menemukan penyanyi yang juga sekaligus penulis lagu itu sudah tak lagi bernyawa.

Anti-depresan yang selama beberapa waktu terakhir–setidaknya sejak tahun 1971 ketika keluarganya menganjurkan ia untuk pergi ke psikiater–Nick konsumsi untuk membantunya tertidur, selesai mengakhiri masa hidupnya yang bisa dibilang terlalu singkat itu. Overdosis. Entah karena “kecelakaan” atau memang kesengajaan yang ia lakukan.

zz039r6

Dan hari ini, berselang empat puluh puluh tahun semenjak tanggal kematiannya itu, musik yang Nick Drake ciptakan masih sama semenakjubkannya seperti ketika ia pertama kali memetikannya di udara.

Ihwal yang tragisnya tak banyak orang sadari pada masa itu, tatkala ia masih hidup dan bisa memainkan melodi surgawinya itu di depan mereka.

Sesuatu yang terdengar begitu jernih. Sesesekali terdengar gelisah, bertanda rapuh. Begitu lirih. Terasa gundah. Seperti menggumamkan entah. Dan indah. Ahh bukan indah, tetapi teramat indah.

Continue reading “Mendengarkan Nick Drake di Hari Kematiannya”

Indonesian Folk Duo

Pada World Cup 2006 lalu, dunia seolah dikejutkan dengan keluarnya skuad Italia sebagai juara dunia. Bagaimana tidak, tim Azzuri datang dengan background kondisi yang carut marut, kompetisi di negeri pizza itu diguncang skandal calciopoli. Mayoritas punggawa timnas adalah pemain pemain yang timnya diduga terlibat kasus tersebut. Juventus, Milan dan beberapa tim yang lain tengah diusut dan bersiap menghadapi ketuk palu vonis yang seperti hanya tinggal menunggu waktu saja. Namun kemudian kita semua tahu pada akhirnya Italia berhasil menjadi kampiun, mengalahkan Prancis lewat adu penalti dalam laga final yang kontroversinya akan terus diperbincangkan hingga beberapa puluh tahun ke depan.

Salah satu kunci utama yang menjadi inti keperkasaan Italia adalah komposisi maut yang menghuni lini tengah mereka. Bilangan dua yang memegang kunci kestabilan permainan, Gennaro Gattuso dan Andrea Pirlo adalah salah dua double pivot terbaik sepanjang sejarah sepak bola dunia.

Pirlo, sang regista, tentu membutuhkan pendamping untuk memberikan rasa aman dalam menjalankan tugasnya, diperankan secara sempurna oleh Gattuso. Pirlo sebagai dirigen pemegang metronom yang mengorkestrasi permainan tim, dengan senjata utama berupa passing bola kelas dewa. Gattuso adalah badak, dalam artian harfiah, mampu berlari konstan tanpa henti ke tiap inch lapangan, sambil melabrak tiap tiap apa yang ada di depannya, tanpa ampun sedikit pun.

Pirlo yang kalem bersanding dengan Gattuso yang kita semua tahu, explosif dan sangat meledak ledak. Namun toh ternyata, keduanya justru saling melengkapi, Rino menghancurkan serangan lawan, Pirlo menciptakan peluang bagi kawan. Keduanya adalah komposisi yang pas, saling melengkapi satu sama lain.

Ups, sebelum saya justru melantur terlalu jauh membicarakan sepakbola, di bawah ini adalah daftar berisi band, maksud saya duo beraliran folk yang beredar di skena musik indie di Indonesia. Kenapa folk? Karena saya hampir hampir selalu terpesona dengan komposisi yang bisa dimunculkan oleh genre yang kadang cukup dimainkan hanya dengan satu instrumen gitar kopong ini saja. Lalu kenapa duo? Karena terma pasangan adalah untuk suami-istri dan duet adalah untuk Anang-Syahrini.

Sayangnya karena referensi musik saya yang teramat cethek, mungkin se-cethek Kali Ciliwung yang dasarnya sudah dipenuhi sampah, maka urutan angka di bawah hanya berhenti di angka tujuh. Kalau mungkin ada yang berkenan menambahkan, sila tinggalkan komentar di laman ini.

fb941-about-piece-600x300

 

1. Banda Neira

Memproklamirkan diri sebagai pengusung genre nelangsa pop, Banda Neira membawakan lagu lagu yang teramat menyenangkan untuk didengarkan berulang ulang, cocok sebagai teman menyeduh teh, membaca buku kesukaan atau ketika duduk duduk santai di beranda rumah pada sore hari yang cerah.

Banda Neira adalah Rara Sekar dan Ananda Badudu, yang dibentuk sebagai proyek iseng mereka berdua. Terbentuk pada bulan Februari 2012, konsepnya sederhana, dua orang dan satu gitar. Rara bernyanyi dan Ananda bermain gitar mengiringinya, sambil sesekali terkadang xylophone ikut menyempil. Kedua personel Banda Neira ini tinggal terpisah kota, antara Jakarta dan Denpasar, seperti pacaran LDR saja ya.

Hahaa.. Oiya sepertinya mereka lebih memilih disebut sebagai band daripada duo, entah karena alasan apa.

Banda Neira telah melepas satu EP, Di Paruh Waktu yang dapat diunduh secara cuma cuma via internet. Pada Desember 2012 lalu, menurut situs tumblr mereka, Banda Neira masuk studio kembali. Kabarnya mereka sedang merekam album baru yang akan launching pada pertengahan April ini. Teaser album yang diberi judul Berjalan Lebih Jauh ini sudah dipublik secara luas sekitar sebulan yang lalu, bisa kalian simak di bawah ini.

2. Stars & Rabbit

Saling melengkapi. Mungkin itulah yang seharusnya dilakukan oleh dua orang yang berelasi. Sama seperti dua orang dalam Stars & Rabbit ini. Elda sebagai singer, dan Adi sebagai pengiringnya. Elda menulis lagu dan Adi membuat aransemennya.

Stars & Rabbit terbentuk pada medio awal 2011, di kota indah nan menetramkan, Yogyakarta. Kalau mungkin masih ada yang ingat, Elda adalah jebolan salah satu reality show pencarian vokalis band di sebuah stasiun televisi. Yang saya ingat dari Elda adalah karakter suaranya yang begitu unik, beda dengan biduan wanita kebanyakan.

Lama tidak terdengar kabarnya, pertengahan tahun 2011 Elda bersama Adi merilis sebuah single yang menjadi theme song sebuah acara radio. Ternyata lagu yang berjudul “Worth It” tersebut banyak disuka orang, bahkan hingga mencapai pendengar di Inggris Raya sana. Mulai dari situ kemudian Stars & Rabbit mulai sibuk wara wiri di beberapa kota untuk menggelar gigs. Terakhir adalah tour “Suara Tujuh Nada” di tiga kota bersama White Shoes & The Couples Company dan Dialog Dini Hari.

Ada dua lagu yang menjadi favorit saya dari duo ini, “Man Upon The Hill” dan “Rabbit Run”. Lagu pertama, karakter vokal yang unik dari Elda benar benar terlihat secara maksimal. Sementara di lagu yang kedua, iramanya sungguh riang, petikan gitar yang seolah jenaka dan mengajak kaki untuk bergoyang goyang di bawah meja sana

3. Katjie & Piering

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berkicau di linimasa twitter mengenai Katjie & Piering. Saat itu saya baru menyimak satu lagu mereka yang berjudul Kinanti, dapat tau dari soundcloud yang entah darimana sangkut pautnya linknya. Kemudian seorang kawan saya menimpali kicauan tersebut, begini kira kira bunyinya.

“Jika orang Sunda berbicara tentang kerinduan, maka Katjie & Piering punya cara sendiri untuk membicarankannya.” – @rlinggai

Katjie & Piering adalah proyek antara Sigit dan Ayayay Si Kelinci. Namanya diambil dari bahasa Belanda, katjiepiering, bunga kaca piring. Dua orang di belakang Katjie & Piering sendiri bukanlah orang baru, Sigit dengan main project-nya Tigapagi dan Ay dengan Baby Eats Crackers nya. \

Mereka berdua, berfokus untuk melakukan covering terhadap lagu lagu, terutama dari band band indie di skena lokal Bandung. Hingga saat ini, Katjie & Piering sudah merilis lima lagu (merupakan hadiah ulang tahun bagi Ay), yang dibagikan secara free dan bisa diunduh secara cuma cuma.

Musik folk yang akarnya adalah musik tradisional, menjadi definitif di tangan Katjie & Piering. Menyimak beberapa lagunya dan akan sangat, sangat, sangat terasa nuansa tanah Sunda. Vokal merdu Ay yang diiringi petikan steel guitar Sigit, berpadu dengan suara kecapi dan tiupan karinding, membawa saya kembali ke tanah pasundan, sambil menikmati beberapa potong ubi panas dan segelas bajigur hangat di tengah hawa dinginnya pegunungan.

Zakelijk, benar sekali kicauan kawan saya di atas itu ternyata.

4. Tristan

Bahwa pembagian gelar Liga Spanyol hanya diperuntukan bagi Real Madrid dan Barcelona saja? Jangan membuat saya tertawa. Awal medio 2000, muncul satu kekuatan lain yang mengacaukan adu cepat dua kuda pacu bergelimang dolar ini, Deportivo La Couruna dengan gemilang menjadi pemuncak Liga Spanyol di musim 1999/2000, dan runner up di dua musim setelahnya. Salah satu komponen penting Super Depor adalah sang goal getter bernama Diego Tristan. Koleksi 21 gol bahkan menjadikan dirinya sebagai top skor pada musim 2001-2002.

Begitulah yang sebelumnya biasa teringat dalam pikiran saya ketika pertama membaca kata Tristan; sebelum kemudian semua itu berubah semenjak saya mulai berkenalan dengan Tristan yang lainnya. Tristan yang membawa saya pada kesenduan yang dalam, merenungi kesedihan yang tidak murahan dan kemudian bersyukur atas sebuah kegetiran. Silahkan sebut saya masochist, tapi begitulah yang saya rasa ketika mendengarkan lagu lagu mereka.

Tristan terdiri dari Andrie Ridwan sebagai penyanyi dan penulis lagu; Andrew Hutasoit sebagai komposer yang juga multi instrumentalist. Keduanya adalah sepasang kawan SMA yang sempat terpisah dan kemudian bertemu kembali. Bertemu, bergabung atas kesamaan visi bermusik dan lalu kemudian merilis EP pertama mereka yang bertajuk We Are Tristan, We Are Aeronauts, berisi lima lagu yang salah satunya merupakan favorit saya dari duo folk asal Jakarta ini, berjudul “Jelang Malam”.

Sekitar pertengahan tahun 2012 lalu, Tristan merilis full album pertama mereka, HOME, yang dirilis di bawah bendera demajors. Berisi sebelas lagu, yang beberapa di antaranya telah ada di EP pertama mereka. Bolehlah dibeli dan disimak sebagai teman menikmati tengah malammu yang senyap dan mungkin penuh tanya itu.

5. Knee &Toes

Kota Malang yang sudah terstigma dengan skena musiknya yang cadas dan keras ternyata punya sisi lembut yang  begitu menyenangkan. Sisi lembut tersebut bisa saya sebut ada pada Knee & Toes, duo folk yang gemar memainkan lagu lagu riang dengan tempo yang sedang sedang saja namun tetap penuh semangat.

Duo yang terbentuk pada tahun 2010 ini terdiri dari Bie Paksi dan Ristri Putri. Keduanya sama sama bernyanyi juga memainkan instrumen musik; terdiri dari dua jenis gitar yakni gitar steel dan gitar nylon, dan beberapa instrumen lain seperti ukulele, piano, harmonika, glockenspiel, dan lain-lain.

Knee & Toes sudah merilis dua album, sebuah mini album berjudul A Journey dan full album bertitel Dammit I’m Mad (khas arek malang, boso walikan). Yang keren dan banyak terlewatkan banyak orang adalah kenyataan bahwa ternyata Knee & Toes pernah melakukan tur internasional, tepatnya ketika mereka menggelar tur ke 30 tempat di Inggris selama bulan Juni hingga September 2011 lalu.

Tampaknya berita go international @agnezmo yang entah itu memang lebih menarik bagi media.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=m-SRb917pKo]

6. Teman Sebangku

Ketika saya SD, ada anekdot menarik yang sering muncul menjelang ulangan, posisi menentukan prestasi. Bukan posisi juga sebenarnya, melainkan siapa teman yang duduk sebangku dengan kita. Semakin dekat dan lekat relasi dan kerjasama dengan teman sebangku, biasanya akan berkorelasi dengan keberhasilan dalam mengerjakan soal ulangan. Aduh kenapa malah buka kartu. Hahhaa

Teman Sebangku adalah duo folk yang berasal dari Bandung, terdiri dari  Doly Harahap di departemen gitar dan Sarita Lahmi Listya pada bagian vokal. Terbentuk sejak pertengahan 2010, Teman Sebangku sukses mengolah sebuah kesederhanaan menjadi hal yang indah dan menarik untuk dipersimakkan.

Lagu “Menari” misalnya, begitu mendengarnya saya kok terasa kembali menjadi anak umur sekolah dasar, bebas bermain dan tidak usah terlalu memusingkan banyak hal menyebalkan di luar sana. Apalagi dengan karakter vokal Sarita yang terdengar merdu laiknya anak kecil, semakin menambah seru perjalanan waktu ke masa beberapa belas tahun silam tersebut.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=DNfton1orwo]

7. Indie Art Wedding

Leonardo da Vinci sudah mati beratus ratus tahun yang lalu, namun hingga kini orang masih sibuk memperdebatkan tentang lukisan Monalisa yang misterius itu. Pun demikian misalnya dengan Nick Drake, hampir 40 tahun yang lalu dia menjemput ajal dan sekarang orang masih terus saja mengagumi keindahan lagu “Pink Moon” yang syahdu itu.

Dan Pak Pramudya pun pernah mengucapkan kalimat terkenalnya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

“Ya, karena hidup itu pendek, seni itu panjang,”

Demikian nama yang dipakai oleh Indie Art Wedding sebagai nama albumnya yang pertama dan mungkin juga akan jadi satu satunya untuk selamanya. Indie Art Wedding adalah duo yang terdiri dari Cholil Machmud  beserta sang istri Irma Hidayana.

Album Hidup Itu Pendek, Seni Itu Panjang sendiri bukanlah album yang ditujukan selayaknya album musik yang lainnya. Ini merupakan bingkisan pernikahan yang diberikan kepada para undangan yang hadir pada acara pernikahan Cholil dan Irma di pertengahan 2008 lalu. Album ini direkam hanya dalam dua shift saja, atau setara kurang lebih selama dua belas jam ini.

Lirik dalam album ini diciptakan berdua oleh Cholil dan Irma, sementara untuk instrumen musik dimainkan sendiri oleh Cholil. Dan selayaknya lirik ciptaan Cholil di ERK, ada kejenakaan tersendiri yang muncul dalam tiap lagu Indie Art Wedding. Sila temukan sendiri di bawah ini.

Jakarta, April 2013.

Musik Ala Beirut (Part 2)

Tulisan di bawah ini berisi beberapa lagu favorit saya dari Beirut, yang merupakan lanjutan dari tulisan berjudul sama yang telah diposting beberapa hari sebelumnya. Ada baiknya anda membaca tulisan tersebut terlebih dahulu. Dan seperti biasa, jika tulisan di bawah ini terlihat sangat overrated, sepenuhnya merupakan penilaian objektif saya sendiri. Terimakasih.

1. Beirut – Postcard From Italy

Salah satu lagu Beirut yang paling Beirut. Errr, maksud saya lagu ini adalah representasi sempurna dari apa yang disebut sebagai musik Beirut pada awalnya dulu. Perkawinan lintas genre yang secara sempurna termaktub dalam lagu ini, dari balkan folk hingga nuansa mariachi yang sangat kental Meksiko nya. “Postcard From Italy” yang masuk dalam daftar lagu album Gulag Orkestrar adalah salah satu track awal yang ikut menaikan popularitas Beirut hingga akhirnya dikenal banyak orang seperti saat ini.

Satu kelebihan lain dari Beirut adalah perihal liriknya yang puitis, menimbulkan kesan mendalam. Salah satu contohnya adalah pada Postcard  From Italy ini. Saya tak akan mencoba mengintrepretasikannya di sini. Terlampau indah hingga tak perlu lagi coba ditafsirkan macam macam, cukup dibaca dan kita akan tahu betapa romantisnya Zach dalam menulis lagu.

Dan pastinya ini adalah lagu yang ingin kau mainkan di hari pernikahanmu kelak.

And I will love to see that day
That day is mine
When she will marry me outside with the willow trees
And play the songs we made
They made me so
And I would love to see that day.

Her day was mine.

2. Beirut – Santa Fe

Salah satu track favorit saya yang diambil dari album terakhir Beirut, The Rip Tide. Mengenai pemberian judulnya, ini adalah hal yang jamak ditemui pada setiap album Beirut. Zach Condon, frontman sekaligus penulis lirik Beirut, sepertinya memang gemar memberikan nama suatu tempat sebagai judul lagu yang ia buat, “City names tend to have a certain power.”

Santa Fe sendiri adalah kota dimana Zach berasal. Kota terbesar keempat yang sekaligus merupakan ibukota negara bagian New Mexico, US. Lokasinya yang berada di dekat perbatasan dengan Meksiko menyebabkan terjadinya akulturasi budaya hispanic di sini. Hal yang bisa menjelaskan adanya influence musik Meksiko, terutama mariachi, pada banyak lagu lagu Beirut.

Santa Fe adalah lagu mengenai pertalian Zach terhadap kota tempatnya beranjak dewasa. Setelah menghabiskan sebagian masa mudanya untuk bertualang di penjuru Eropa, kemudian konser dari satu kota ke kota yang lainnya, pada akhirnya Zach merasakan kerinduan yang teramat besar terhadap semua yang telah beberapa lama ia tinggalkan. Maka kemudian kerinduan tersebut ia tumpahkan dalam lirik yang begitu jujur dalam lagu ini. Dibalut dengan musik riang yang tidak biasa, Santa Fe sungguh menyenangkan untuk diputar dan didengarkan berkali kali.

Lagu ini terdengar begitu sentimentil di telinga saya, mengingatkan saya bahwa sejauh dan selama apapun saya bepergian, pada akhirnya selalu ada tempat bernama rumah dimana saya harus kembali pulang.

Your days in one
This day undone
(The kind that breaks under)
All day at once
(for me, for you)
I’m just too young
(And what of my heart)
This day was once
(Silence before)
All grace of lost
Can’t wait at all
(Can’t wait at all)
Temptation won.”

And what ever comes through the door
I’ll see it face to face
All by your place.

“Sign me up Santa Fe
And call your son
Sign me up Santa Fe
On the cross Santa Fe
And all I want
Sign me up Santa Fe
And call your son.

3.9.06 Noah and Beirut

3. Beirut – Rhineland(Heartland)

Ini adalah satu lagu dengan empat kalimat yang nendang tepat ke ulu hati. Saya membacanya seperti seseorang yang sudah tak lagi merasa nyaman dengan kondisi kehidupannya, bahwa ada hal tidak benar yang  sedang terjadi. Sayang tak ada keberanian darinya untuk menghadapi kenyataan tersebut.

Dia tahu harus pergi, namun tidak berani. Hanya kegamangan. Ahh sial.

Life, life is all right on the Rhine
No, but I know, but I know
I would have nowhere to go
No, but there’s nowhere to go, to go

4. Beirut – Nantes

Pernahkah kau merakan kerinduan yang teramat besar pada seseorang? Seseorang yang karena satu dan lain hal tidak bisa lagi kau temui? Seseorang yang keberadaanya sangat berarti bagimu? Maka saya yakin lagu ini akan menggambarkan perasaan itu dengan sempurna.

Nantes adalah satu dari sekian lagu yang paling awal saya dengar, yang akhirnya membuat saya benar benar jatuh hati pada Beirut. Komposisi dari akordeon, piano, drum, violin dan horns yang sangat catchy, bahkan untuk telinga yang awam terhadap musik “tidak populer” sekalipun. Zach mampu meramu berbagai bebunyian tersebut dengan momen yang pas, saling bergantian dalam mengisi partitur nadanya. Lagu ini masuk pada album The Flying Club Cup yang dirilis pada bulan Oktober 2007.

Yang unik dari lagu ini adalah dimasukkanya percakapan (baca pertengkaran) sepasang pria dan wanita berbahasa Prancis yang muncul di tengah lagu. Hal yang tidak original memang karena sebelumnya sudah banyak lagu lain yang memasukkan pula percakapan dalam sebuah komposisinya, namun tetap saja dialog ini mampu meniupkan kesan tersendiri ketika didengarkan, pun mempertebal suasana Prancis sebagai latar pada lagu ini.

Dialog singkat tersebut diambil dari film Prancis produksi tahun 1938 yang berjudul “La bete humaine“. Film yang merupakan karya sutradara legendaris asal Prancis Jean Renoir ini adalah sebuah film klasik bergenre drama psikologis yang oleh beberapa pihak seringkali dianggap “cult“.

Nantes bagi saya adalah mengenai perasaan bersalah yang teramat dalam kepada seseorang. Yang saking dalamnya hingga bahkan kau pun tak sanggup untuk bertemu lagi dengan orang tersebut dan lebih memilih untuk memendam dalam saja kerinduanmu itu. Tragis betul.

Well it’s been a long time, long time now
Since I’ve seen you smile.
And I’ll gamble away my fright.
And I’ll gamble away my time.
And in a year, a year or so
This will slip into the sea.

Well it’s been a long time, long time now
Since I’ve seen you smile.

5. Beirut – Goshen

Barangkali perpisahan adalah suatu keharusan, jika dirasa itu memang yang terbaik. Dan Goshen adalah tentang perpisahan tersebut, perpisahan yang pahit tepatnya. Tentang dua orang yang tak lagi saling percaya. Tentang kejujuran yang tak lagi bisa terucapkan.

Berbeda dengan lagu lagu Beirut yang lain, Goshen sederhana jika dilihat dari jumlah instrumen yang ikut bermain. Didominasi oleh piano dan vokal berat nan getir dari Zach yang kemudian di sepertiga akhir lagu ikut diramaikan oleh bunyi drum dan terompet. Sederhana, namun tetap mengena.

Dan sungguh saya tidak berbohong, lagu ini benar benar menyayat hati. Sungguh.

But you never found it home
A Fair price I’d pay to be alone
What would you hide from such a glory ?
If I had only told you so.

Jakarta, Januari 2013.