Malam Terang di Student Centre

Tentu saja berjalan dengan gerak tubuh yang seperti siput tak akan membuang waktu; begitu bola mati, waktu pertandingan otomatis akan diberhentikan.

Tapi ya ndak masalah, toh saya hanya ingin memperlambat tempo permainan, itu saja. Kami butuh sedikit jeda, sekedar menghela nafas akibat serangan beruntun yang mengalir seperti tak habis-habis.

Saat itu, aslinya ya saya ndak menyangka kami bisa bertahan sampai sejauh ini: skor masih imbang, dan bahkan, kami masih punya peluang untuk menang. Lawan kami adalah sang juara bertahan. Sementara tim kami, sampai final pun rasanya sama sekali tak ada yang menduganya. Jelaslah kami dalam posisi yang tak diunggulkan di final ini.

7944d-dsc_2952-644x430 Continue reading “Malam Terang di Student Centre”

Di Depan Mistar Gawang, Lagi

Begitu terbangun di dalam komuter, badan saya langsung terasa remuk. Pegalnya tidak karuan, sendi-sendi tulang seperti dilolosi. Plus kantuk yang masih mengetuk-ngetuk ingin menyelinap lagi masuk ke dalam kelopak mata. Praktis saya tidur kurang dari satu jam selama tiga puluh delapan jam terakhir ini. Maka ketika petang itu saya bisa duduk nyaman di dalam komuter, tanpa sadar saya tertidur. Dan terbangun ketika seseorang tak sengaja terantuk pada kaki saya.

Saya melihat ke arah luar. Stasiun Serpong. Saya terlewat sampai stasiun paling ujung dari komuter yang saya naiki. Sial. Haha..

Sambil menunggu komuter berangkat kembali ke arah sebaliknya, saya menyalakan handphone. Ada pesan masuk, kiriman beberapa foto dari seorang kawan. Banyak muka-muka yang berseri tergambar dalam foto-foto tersebut.

Hari ini sungguh berjalan tak terduga sekali.

IMG-20150215-WA0040

Continue reading “Di Depan Mistar Gawang, Lagi”

Di Depan Mistar Gawang

Kalau harus menyebut kawan yang paling sering kena omel saya, bisa jadi Kresna adalah orangnya. Bukan, ini tidak seperti jenis omelan yang bisa jadi sudah sering kamu alami sebelumnya, seperti ketika bos mengomel pada karyawan, misalnya.

Kresna adalah kawan sepermainan futsal sewaktu kuliah dulu. Kami berdua berada dalam satu tim yang sama, sejak awal mahasiswa hingga lulus jadi sarjana. Saya berposisi sebagai kiper, dan Kresna bermain sebagai bek–posisi yang persis berada di depan saya.

Meskipun hanya tim futsal kelas kambing, tim kami tentu punya strategi ketika sedang mengikuti kompetisi. Tim kami biasa menggunakan pola 1-3, satu pemain belakang dan tiga pemain menyerang. Peran Kresna amat sentral dalam formasi ini. Dia adalah lini pertahanan terakhir, dan sekaligus titik awal dalam memulai serangan.

Untuk yang pertama, saya sama sekali tak ragu dengan kemampuan kawan saya ini. Kresna punya tipikal pemain bertahan asal Indonesia: lugas dan keras–versi abal-abal tentunya. Nahh, untuk yang kedua inilah yang seringkali bikin saya harus teriak teriak seperti orang parno dalam sebuah pertandingan. Atau kalau celetukan penonton yang sering tak sengaja saya dengar, seperti tukang parkir atau kernet kendaraan umum. Haha.

Selain karena gemar coba-coba menggocek bola, Kresna punya kebiasaan untuk melepas umpan terobosan mendatar yang melipat garis lapangan menjadi lebih pendek. Kalau berhasil, memang sangat mematikan. Tapi kalau gagal, justru tim kami yang akan berada dalam jurang bahaya yang sangat besar.

IMG_20150208_170652

Bayangkan saja, jika umpan itu terpotong di tengah jalan, maka tim lawan bisa melakukan serangan balik dengan cepat dan hanya tinggal menghadapi satu bek saja. Sebagai kiper, tentu keamanan di lini belakang adalah hal yang lebih utama. Memulai serangan dengan umpan macam tersebut buat saya teramat riskan. Pertaruhannya besar. Terlalu berisiko. Bikin cemas.

Tapi sejujurnya, kalau diingat-ingat, saya toh menikmati momen-momen seperti itu. Continue reading “Di Depan Mistar Gawang”

Sepasang Sarung Tangan Tua

“Ini sarung tangannya emang masih bisa dipakai? Udah bolong bolong begini.”

c4edd-196254_1706981431933_7436434_n

Jujur saya paling tidak nyaman (sebal) jika harus mendengar pertanyaan tersebut, terlebih bila harus menjawabnya. Maka jalan keluar yang paling sering saya ambil adalah menyunggingkan senyum lalu beranjak pergi sejauh mungkin dari si empunya pertanyaan.

Rasanya akan membuang waktu dengan percuma untuk menjabarkan jawaban yang selalu ada di benak saya. Bahwa terkadang sesuatu yang sifatnya immaterial bisa mengalahkan nilai material suatu benda, ada yang lebih penting dari sekedar ujudan bentuk.

***

Kamis pagi 2 Agustus 2012. Tak ada kejadian yang terlalu istimewa pagi itu. Ruang utama sekretariat yang masih gelap temaram, sepasang burung merpati yang mulai berisik di halaman belakang dan tentu beberapa sosok yang terbaring di bawah dekapan selimut tebal. (Ahh baru beberapa saat di kampung halaman, sudah terasakan sensasi merindu pada suasana ini).

Ada beberapa list penting yang harus saya selesaikan dalam hari itu. Meminta tanda tangan dosen pembimbing, mengurus perihal revisi ke admin fakultas, membereskan barang barang yang masih tersisa di kamar kost dan lalu malamnya mempergunakan tiket kereta api yang sudah dibeli dengan sebagaimana mestinya. Apa yang sudah tertunda selama setahun belakangan.

Dan pagi itu, di antara mata yang masih terkantuk, tanpa sengaja tertarik keluar bungkusan hitam dari dalam loker lemari. Sepasang sarung tangan yang sudah teramat lusuh, warna hitam yang mulai pudar berpadu dengan corak putih yang mengeruh. Seberkas memori mau tak mau terlintas, ada haru yang perlahan menyeruak. Rasanya lima tahun belakangan akan terasa hambar tanpa keberadaan benda ini.

Masih jelas dalam ingatan, ketika pertama kali menebusnya dari etalase salah satu toko olahraga ternama. Dengan rasa puas ketika pertama kali mendekap bola, lesakan pertama yang terlewat darinya, pahitnya menerima kekalahan dan tentu betapa membagiakan sebuah kemenangan.

Dan walau berulangkali tercampakkan begitu saja, pun dengan kondisi yang makin tercabik seiring waktu yang berjalan, selalu saja ada ketenangan tersendiri ketika berada di bawah mistar sambil memakainya, kepercayaan diri yang entah berasal dari mana, padanya yang terpasang dengan kedodoran di kedua belah tangan.

Sayang waktu tak pernah berdusta. Tak bisa dipungkiri pada akhirnya datang satu ketika di mana masa beristirahat tiba. Kala purna tugas telah hadir pada saatnya.

Maka seperti layaknya pusaka yang dijamas dengan tirta suci bersemerbak wangi melati, sebagai penghormatan terakhir saya pun membasuh sahabat setia saya di lini paling belakang lapangan ini dengan guyuran air segar dan detergen paling wangi yang bisa ditemui. Menjemur dan lalu menyimpan dengan sebaik baiknya, seraya memori yang terlebih dahulu telah tersimpan baik baik dalam kepala.

Duh, betapa absurd-nya.

Bandung, Agustus 2012.