Detik Terakhir

Langit tampak mulai gelap, empat buah lampu sorot yang telah dinyalakan tidak begitu berpengaruh. Lapangan tetap temaram. Dari kejauhan sayup sayup terdengar bunyi adzan maghrib mulai saling bersahutan. Sementara di lapangan gerimis air hujan masih berjatuhan dari atas langit sana, aku rasa semakin deras saja turunnya. Badanku sudah basah sepenuhnya.

Sambil menatap beberapa orang penonton yang masih berada di pinggir lapangan, aku berseru kepada orang berbaju hitam hitam yang tengah memimpin pertandingan.

“Wasit, masih berapa menit lagi?”

Sang wasit melihat jam tangannya seraya tetap mengamati jalannya pertandingan, tepat ketika bola bergulir pelan melewati garis luar lapangan.

“Setengah menit lagi,” katanya penuh ketegasan.

Aku panik. Benar benar panik. Tinggal 30 detik lagi pertandingan ini akan  segera berakhir. Masih ada satu gol yang harus dikejar untuk menyamakan kedudukan. Hitungan mundur 30 detik ini mulai terngiang di kepalaku.

Dua puluh sembilan.
Dua puluh delapan.
Dua puluh tujuh.

Bola kembali bergulir di tengah lapangan.

Dua puluh lima.
Dua puluh empat.

Bola dengan cepat berpindah dari satu kaki ke kaki yang lainnya.

Dua puluh dua.
Dua puluh satu.

Aku tak mau berputus asa, walau juga tak mau terlalu berharap. Kutegakkan kepalaku ke atas, sambil bergumam pelan.

“Satu gol lagi Tuhan. Tidak peduli hasil akhirnya menang atau kalah, hanya satu gol lagi aku mohon. Aku tidak mau peduli lagi apa yang orang katakan tentang kami. Aku sadar kami tidak perlu membuktikan apapun, pada siapapun juga. Berikan kesempatan kami untuk berjuang sampai detik terakhir, itu saja. Bantu kami Tuhan. Satu gol lagi dan biarkan kami berjuang sampai saat terakhir.”

Hitungan mundur masih berjalan.

Delapan belas.
Tujuh belas.
Enam belas.

Perlahan gerimis makin beranjak dewasa, menjadi hujan. Sepuluh orang itu masih penuh semangat berlari ke sana kemari mengikuti arah bola yang bergerak semakin acak tak beraturan. Penonton tampak tegang.

Empat belas.
Tiga belas.

Seperti peluru yang terlepas dari moncong sebuah revolver, bola meluncur deras ke arah lapangan. Dengan sisa sisa tenaga yang ada, aku melemparkan tubuhku ke samping. Aku julurkan tangan kananku sekenanya saja.

Priiiit.. Wasit menunjuk tendangan sudut. Hitungan mundur tetap berjalan.

Sepuluh.
Sembilan.
Delapan.

Bola ditendang, terjadi perebutan di depan gawang yang berakhir dengan sebuah tendangan yang tidak begitu kencang. Bola tepat berada di pelukanku.

Tujuh.
Enam.

Aku melihat sekeliling. Samar.

Tapi tanganku tau harus melempar kemana. Tepat ke arahnya. Sudah tiga tahun ini kita melakukannya bersama sama. Tanpa melihat dengan jelas pun aku tau dia ada di sana. Kepercayaan tanpa sedikitpun ada keraguan.

Empat.
Tiga.

Aku menghela napas. Berakhir sudah.

Satu.

Priiiitttt.  Wasit meniup peluit.

Tapi hey, itu bukan peluit panjang. Penonton tiba tiba riuh kembali. Wasit menunjuk titik putih. Tepat di detik terakhir kesempatan itu datang.

“Terima kasih Tuhan,” kataku pelan sambil berlari menghambur ke  tengah lapangan. “Kami tidak akan menyiakannya.”

Bandung, April 2010.