Serigala Menyeringai di AtAmerica

Saya keluar dari kerumunan, menepi ke pinggir panggung di sebelah kiri yang sedikit lebih renggang, melegakan nafas yang terasa sesak. Sekujur badan terasa begitu gerah, kombinasi hoodie dan kemeja yang berwarna hitam membuat keringat mengucur menjadi lebih deras. Hawa pendingin udara yang keluar dari atap ruangan pun seperti sudah kehilangan efeknya. Kalah oleh amukan segerombolan serigala di sekeliling saya.

Di dekat pintu masuk yang dijaga beberapa orang berbadan tegap, berpotongan cepak dan berseragam hitam-hitam, sesosok perempuan berambut panjang yang tadi membuka acara terlihat memegang plakat lebar bertuliskan “@america”. Ahh, ini tanda bahwa penghujung acara tampaknya memang sudah tidak lama lagi.

Saya pun merapat lagi ke dalam kerumunan yang terlihat masih bersemangat itu; kau bisa melihat tangan-tangan yang mengepal dan tatapan mata yang dipenuhi gejolak emosi. Gerombolan generasi menolak tua. Persis seperti kelakuan empat orang yang sedang berada di depan sana itu.

Dan ternyata benar dugaan saya. Dari atas panggung yang sebagian sisinya dibiarkan gelap, terdengar Arian13 berkata bahwa lagu yang akan segera dimainkan adalah lagu terakhir untuk malam ini.

Tapi sebelum itu, ia meminta kami yang berdiri tepat di depannya untuk duduk berjongkok. Iya, berjongkok dalam posisi yang itu.

“Wahh, mau ngapain lagi ya?” Batin saya dalam hati. Continue reading “Serigala Menyeringai di AtAmerica”

Marjinal yang Bersemangat dan Dia yang Bersuara Sisir Tanah

Di samping sebuah rumah kaca yang terdapat di dalam taman kota, panggung itu diletakkan. Tidak besar, hanya seukuran kamar kost barangkali, sekitar empat kali lima meter luasnya. Di atasnya terlihat beberapa alat musik dan kelengkapannya–satu set drum, gitar, cajoon, stand up mic dan amplifier berwarna hitam di kedua sisi depan panggung. Enam buah lampu di belakangnya bersinar terang dan menyorot ke arah penonton, warnanya berubah secara berkala, merah, biru, putih dan hijau.

Malam itu saya sedang berada di Taman Menteng Jakarta. Seorang teman baik mengajak untuk datang ke sebuah acara bertema lingkungan yang digelar di sana. Pameran lukisan, pemutaran film “Silent Heroes” dan penampilan beberapa musisi; Social Kids, Marjinal dan Sisir Tanah. Continue reading “Marjinal yang Bersemangat dan Dia yang Bersuara Sisir Tanah”

Float, Payung Teduh, Mocca dan Seorang Kawan yang Datang Dari Tanah Seberang

Jika pada suatu hari kawanmu datang bertandang dari tempat yang jauh; katakanlah bahwa beda pulau termasuk dalam kategori itu misalnya, dan dalam kasus ini, sudah lama kalian tak bersua juga tentunya; apa yang sekiranya akan kau lakukan guna menyambut kedatangan kawanmu tersebut?

Ajaklah ia melakukan apa yang ia suka–sebagai seorang kawan tentu kau tahu apa yang kawanmu ini sukai–dan selama ini–karena satu dan berbagai hal–jarang ia lakukan. Continue reading “Float, Payung Teduh, Mocca dan Seorang Kawan yang Datang Dari Tanah Seberang”