Sebuah Foto dan Ingatan Tentang Kawan Baik

Karena membaca tulisan Yasser siang tadi, malam ini saya jadi kepingin melihat lagi foto-foto pendakian gunung yang saya lakukan semasa duduk di bangku SMA. Album foto yang pernah saya unggah di laman Facebook pun segera jadi jujukan.

Pada sebuah foto, tiba-tiba keasyikan saya malam ini terhenti. Sekejap kemudian perca-perca itu seperti hadir di dalam kepala dan mulai menyusun detil-detil peristiwa yang dulu pernah terjadi.

Saya pun menutup mata dan membiarkan momen ini bekerja dengan sendirinya.

Barangkali ini serupa dengan kejadian yang pernah ditulis oleh Zen RS dalam salah satu esainya, Madelaine. Mengenai “involuntary memory” : kenangan yang muncul tiba-tiba karena dipicu suatu hal yang dengan serta merta membangun kembali satu bagian atau totalitas dari masa lalu.

Processed with VSCOcam with f2 preset Continue reading “Sebuah Foto dan Ingatan Tentang Kawan Baik”

Bersendiri di Rinjani (bagian 2)

IV. Melalui Malam yang Gigil.

Karena siang tadi tak banyak pendaki lain yang kutemui, kupikir tidak akan terlampau ramai pendaki yang hari ini akan bermalam di Pelawangan Sembalun. Nyatanya dugaanku salah besar. Begitu sampai di Pelawangan Sembalun, tenda-tenda dengan berbagai macam warna terlihat sudah berdiri dan berjejeran dengan rapi.

Toh begitu, ketika aku melewati barisan tenda-tenda tersebut, tetap saja tak banyak sosok yang aku temui. Hanya satu dua porter saja yang kulihat masih berada di luar, mengelilingi api unggun kecil di depan tenda mereka yang berbahankan kain terpal itu.

Padahal malam belum larut terlampau jauh. Bulan dan bintang saja masih belum terlihat di atas langit sana. Hawanya juga masih cukup nyaman, tidak terlampau dingin rasanya dibandingkan ketika tiga tahun lalu aku bermalam di sini.

Di bawah sebuah pohon pinus aku mendirikan tenda tempatku bermalam nanti, sebuah dome kecil berkapasitas dua orang yang kondisinya sudah agak menyedihkan. Lantas memasang kayu pasak kuat-kuat di keempat sisinya, menguatkan posisinya agar tak bergerak kemana-mana.

Berdasarkan pengalamanku dulu, terjangan angin di Pelawangan Sembalun akan semakin hebat-hebatnya menjelang waktu tengah malam. Continue reading “Bersendiri di Rinjani (bagian 2)”

Bersendiri di Rinjani (bagian 1)

I. Yang Terjadi Selama Perjalanan Tadi.

Kalau ia adalah manusia seperti kita, Kota Mataram tampaknya sudah bangun dan mengawali aktivitasnya hari itu ketika mobil yang kami tumpangi mulai menyusuri jalan raya.

Pada pagi itu, di sepanjang jalan, kau bisa melihat rumah-rumah–tempat dimana orang-orang menyembunyikan dirinya dari kegelapan malam–membuka matanya kembali lewat pintu pagar yang digeser atau tirai gorden yang tidak lagi menutup jendela; dan satu dua manusia yang terlihat hadir di depannya, menyapu halaman atau sekedar berdiri saja–mungkin sedang memperhatikan sesuatu.

Lampu-lampu penerang yang terpasang di tiang sepanjang jalanan pun telah dipadamkan–matahari perlahan bersinar semakin terang–dan selama setengah hari ke depan, manusia tak lagi membutuhkan mereka untuk bercahaya.

Dari jendela mobil yang terbuka separuh aku bisa melihat berbagai macam kendaraan yang berlalu lalang; mobil, sepeda motor, dokar yang ditarik oleh seekor kuda dan kereta angin yang melaju pelan di bagian paling kiri lajur kendaraan–yang terakhir ini sedikit mengingatkanku pada kota asalku, Jogjakarta, dan membuatku tiba-tiba terpikir bagaimana kabar para pesepeda yang ada di sana sekarang.

Hari ini hari Senin dan upacara bendera terlihat di halaman sekolah yang telah dipenuhi murid-muridnya. Continue reading “Bersendiri di Rinjani (bagian 1)”

Rekursif

Hari ini, memandang wajah-wajah penuh kelelahan dan nafas yang terengah-engah di bawah derasnya hujan itu membuatku kembali terkenang sebuah memori yang sudah lama tersimpan rapi di kotak ingatan.

Aku kembali teringat, dulu sekali, sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada kami saat itu. Saat yang tak jauh beda dengan suasana saat ini, tepat disaat guyuran hujan dan terpaan angin malam mencapai klimaksnya, di tengah tengah kegelapan rimba belantara yang terasa menyeramkan.

Beberapa pasang mata dengan nanar memandang perapian yang lidah apinya menjilat tinggi, tidak mampu menahan rasa nyeri karena hawa dingin yang sudah begitu merasuk ke dalam tulang. Sudah hampir dua puluh menit kami berdiri terdiam di sini.

“Untuk apa kalian berada di sini?”

“Enakan juga di kostan, anget, nggak basah, nggak kehujanan. Makanan banyak, nggak perlu survival.”

Tak ada jawaban, hanya terdengar desis kayu basah yang terbakar dan tetesan air hujan yang makin menggila.

“Jawab siswa!!!”

Kami tetap terdiam, perlahan menundukkan kepala, tak mampu menatap si empunya pertanyaan.

Api

***

Sudah hampir empat tahun sejak aku mendengar pertanyaan itu, belum juga kudapatkan rangkaian jawaban tepat yang bisa kuberikan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pertanyaan yang tak ubahnya seperti fungsi rekursif, ketika aku telah berpuas diri dan mengira sudah menemukan jawabannya, akan muncul tanda tanya kembali, seolah tetap meminta jawaban, yang lebih dari sebelumnya. Proses yang mungkin akan terus berulang sepanjang perjalanan hidupku. Tapi tak apalah, aku bersyukur telah mendapat pertanyaan tersebut.

Lagipula, bukankah hidup ini selalu penuh dengan pertanyaan yang terus berulang?

Bandung, Januari 2012.